
Sepuluh orang centeng berewokan bertubuh gempal itu segera bergerak maju ke arah rombongan Panji Tejo Laksono. Melihat situasi ini, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Song Zhao Meng dan Dyah Kirana.
"Meng Er, Kirana..!!
Lindungi Dyah Sawitri dan Anggana. Biar mereka aku yang menghadapi..!!".
Dyah Kirana dan Song Zhao Meng langsung mengangguk setuju. Sembari menggeram kesal, Panji Tejo Laksono langsung melompat ke arah salah seorang centeng Mahananda. Satu dengkulan keras pada rahang lawan dari Panji Tejo Laksono langsung membuat lelaki bertubuh gempal itu tersungkur ke tanah.
Kawan nya yang lain pun segera mengepung Panji Tejo Laksono begitu kawan mereka di jatuhkan dengan mudah. Dua orang berewokan bersenjata golok langsung melompat ke arah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan senjata mereka masing-masing ke arah tubuh sang pangeran muda dari Kadiri ini.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!
Panji Tejo Laksono melompat mundur ke arah dua orang yang hendak bergerak maju. Sembari memutar tubuhnya, Panji Tejo Laksono dengan cepat melayangkan dua tendangan keras beruntun kearah perut mereka.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!
Aaauuuuggggghhhhh!!
Dua orang centeng Mahananda itu langsung tersungkur sembari memegangi perutnya yang baru saja di hajar oleh Panji Tejo Laksono. Begitu menjejak tanah, Panji Tejo Laksono langsung menerjang maju ke arah para centeng Mahananda itu. Gerakan tubuhnya yang secepat kilat membuat para centeng Mahananda seperti para bocah kecil yang ingin berkelahi dengan orang dewasa.
Hanya dalam hitungan beberapa kejap mata saja, seluruh anak buah Mahananda terkapar tak berdaya di tanah. Ada yang rompal gigi nya usai pukulan keras Panji Tejo Laksono menghantam wajah nya, ada yang patah tulang tangan usai hantaman tangan sang pangeran muda menyasar ke lengan mereka. Beberapa orang bahkan pingsan karena di hajar habis-habisan oleh Panji Tejo Laksono.
Kecepatan tinggi gerakan sang pangeran membuat Dyah Sawitri dan Anggana tercengang melihat nya. Mereka sampai tidak bisa berkata apa-apa lagi selain melongo melihat kehebatan ilmu kanuragan sang pangeran.
Mahananda apalagi. Putra Akuwu Kumitir ini langsung lemas kakinya saking takutnya. Apalagi saat Panji Tejo Laksono melangkah mendekati lelaki berwajah bopeng sembari mendelik kereng pada Mahananda. Pria muda itu langsung jatuh terduduk sembari mengesot berusaha untuk menjauhi Panji Tejo Laksono sebisa mungkin.
"Ja-jangan mendekat...
Jauh-jauh dari ku. Jangan mendekat k-kau..", Mahananda terbata-bata sambil menatap wajah Panji Tejo Laksono dengan penuh ketakutan.
"Kau masih ingin meneruskan ambisi mu untuk membawa Dyah Sawitri bersama mu??
Kau benar benar sudah siap untuk aku hajar?!!", ucap Panji Tejo Laksono sembari mengepalkan tangannya ke depan wajah Mahananda. Bunyi gemerutuk terdengar dari jari jemari tangan Panji Tejo Laksono. Ini sungguh membuat Mahananda ketakutan setengah mati.
"T-tidak tidak...
A-aku tidak akan membawa Sawitri bersama ku, Pendekar. Aku mohon, jangan sakiti aku..!!", air mata Mahananda perlahan mengalir keluar dari sudut matanya. Saking takutnya, tak terasa celana nya basah oleh air kencing yang keluar tanpa sadar.
Memang, Mahananda tidak memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni. Selama ini dia hanya mengandalkan kekuatan uang dan kekuasaan dari bapaknya untuk berbuat semena-mena terhadap rakyat Pakuwon Kumitir. Para centeng pribadinya lah yang menjadi perisai pelindung untuk setiap tindak tanduknya yang sering membuat resah para penduduk. Dan saat mereka semua di jatuhkan dengan mudah oleh Panji Tejo Laksono, tentu saja kepercayaan diri dari seorang putra Akuwu Kumitir ini runtuh seketika.
"Jangan lepaskan dia semudah itu, Pendekar..
Bajingan itu sering memperkosa para wanita di Pakuwon Kumitir untuk bersenang-senang. Berilah pelajaran yang akan dia ingat seumur hidupnya!!", teriak keras Dyah Sawitri yang sontak membuat Mahananda pucat pasi. Apalagi saat melihat Panji Tejo Laksono menyeringai lebar menatap tajam kearah nya.
"A-ampun pendekar ampun..
Aku bersumpah untuk tidak akan mengulangi perbuatan bejat ku lagi. Aku akan di sambar petir jika sampai mengulang kembali hal itu..", hiba Mahananda memelas.
Hemmmmmmm..
"Penjahat busuk seperti mu tidak akan kapok sampai di buat cacat. Rasakan tendangan penghancur keturunan dari ku!!", ujar Panji Tejo Laksono sembari melayangkan sepakan keras ke arah sela sela paha Mahananda.
Bhhhuuuuuuggggh..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Mahananda menjerit keras saat sepakan keras Panji Tejo Laksono menghajar telur burung nya. Laki laki berwajah bopeng itu terlempar jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Dia langsung pingsan seketika.
Setelah itu, Panji Tejo Laksono segera melangkah ke arah kuda tunggangan nya dan mengambil air minum yang terikat pada pelana kuda. Dyah Kirana yang penasaran dengan sikap Panji Tejo Laksono buru-buru bertanya, "Kau kenapa Kangmas? Kog tergesa-gesa mencuci kaki mu?".
"Bajingan itu mengompol. Kaki ku jadi kena air kencingnya. Dasar brengsek, ingin ku hajar lagi dia gara-gara mengotori kaki ku..", omel Panji Tejo Laksono sambil mengguyur air ke kaki kanannya yang terkena air kencing Mahananda.
Dyah Kirana dan Song Zhao Meng mengulum senyumnya mendengar gerutu sang suami. Sedangkan Dyah Sawitri dan Anggana menarik nafas lega setelah melihat Mahananda sudah terkapar di tanah. Setidaknya kini mereka bisa menjalani kehidupan dengan tenang.
Usai membereskan kelompok Mahananda, Panji Tejo Laksono langsung melompat ke atas kuda nya dan memimpin rombongan itu bergerak menuju ke arah barat.
Saat langit barat telah memerah di ufuk barat, mereka sudah memasuki tepi Kali Lawor yang menjadi batas alam antara Jenggala dan Panjalu. Sungai kecil yang pernah menjadi saksi bisu tentang kecerdikan Panji Tejo Laksono mengalahkan pasukan Blambangan di bawah pimpinan Prabu Menak Luhur itu gemericik air nya. Beberapa nelayan yang baru saja selesai mencari ikan di tepian sungai kecil itu sempat menoleh ke arah rombongan Panji Tejo Laksono yang melintas di dekat mereka.
Rombongan itu terus bergerak menuju ke arah barat. Karena hari itu sebentar lagi akan gelap, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya yang baru saja memasuki Kota Pakuwon Lawor langsung menuju ke arah sebuah bangunan besar yang ada di tepi jalan raya menuju ke arah barat. Panji Tejo Laksono mengenali tempat itu sebagai Istana Akuwu Lawor, Mpu Subali.
Empat orang prajurit penjaga gerbang istana Pakuwon Lawor langsung menyilangkan tombaknya begitu melihat kedatangan mereka sebagai tanda larangan untuk mereka meneruskan niat memasuki wilayah istana ini.
"Berhenti kalian!!
Yang tidak punya kepentingan tidak di perkenankan untuk masuk ke dalam istana Pakuwon Lawor. Gusti Akuwu Mpu Subali sedang tidak enak badan!", ucap salah satu dari mereka segera.
Hemmmmmmm..
Dua orang prajurit penjaga gerbang istana setengah berlari memasuki istana Pakuwon Lawor. Mpu Subali, sang Akuwu Lawor sedang duduk bersantai menikmati pemandangan sore hari yang indah sembari menyeruput secangkir siddhu dan camilan pisang raja bakar saat dua orang itu mendekat.
"Ada apa ini? Kenapa kalian berdua seperti baru saja melihat hantu begitu ha? Apa tidak lihat aku sedang bersantai?", bentak Akuwu Mpu Subali sambil meneguk siddhu.
"Mohon ampun Gusti Akuwu..
I-itu di depan gerbang istana, ada orang yang mengaku sebagai Panji Tejo Laksono datang berkunjung", lapor si prajurit penjaga gerbang istana segera.
Brrreewwwwwrrrrrrrrrrhh...
Siddhu di mulut Akuwu Mpu Subali langsung muncrat keluar dari dalam mulutnya dan menyembur ke arah dua orang penjaga gerbang istana itu. Sang Akuwu sampai batuk-batuk beberapa kali karena tersedak minuman keras itu.
Uhukkk uhukkk uhukkk!!
"A-apa kau bilang?
Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono datang berkunjung??!!
Kampret buntung...!!! Kenapa kau tidak bilang dari tadi? Dasar brengsek, kalau sampai Gusti Pangeran Adipati murka karena sikap kurang ajar kalian, akan ku buat kalian semua menderita!!", teriak Akuwu Mpu Subali sembari bergegas menuju ke arah pintu gerbang Istana Pakuwon Lawor. Dua orang prajurit penjaga gerbang itu pun segera mengikuti langkah sang pimpinan.
Begitu sampai di depan pintu gerbang istana, mata sang Akuwu langsung membeliak lebar tatkala ia melihat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya sedang duduk di atas kuda mereka masing-masing. Akuwu Mpu Subali segera bergegas mendekati sang pangeran.
"Sembah bakti hamba, Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono.
Mohon ampun atas sikap kurang ajar dari para prajurit penjaga gerbang istana ini", ujar Mpu Subali sembari berlutut dan menyembah pada Panji Tejo Laksono.
"Sudahlah, itu bukan salah mereka. Ini adalah kewajiban mereka, jadi sudah sepatutnya mereka berlaku seperti itu.
Kedatangan ku kali ini untuk menumpang bermalam, Ki Kuwu. Sediakan tempat bagi kami semua", perintah Panji Tejo Laksono segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati ", jawab Akuwu Mpu Subali dengan penuh hormat.
Di pandu pimpinan Pakuwon Lawor ini, rombongan Panji Tejo Laksono memasuki istana Pakuwon Lawor ini. Segera semua penghuni istana ini di sibukkan dengan penyambutan tamu agung mereka.
"Ja-jadi pendekar Tejo adalah seorang Adipati?", ucap Anggana gagap karena dia tidak menyangka bahwa kawan seperjalanan yang baik hati ini adalah seorang penguasa daerah.
"Bukan itu saja, Anggana..
Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono juga seorang calon raja Panjalu selanjutnya karena dia adalah putra sulung Prabu Jayengrana", urai Dyah Kirana yang membuat Dyah Sawitri dan Anggana semakin terkejut mendengar kenyataan ini. Mereka semakin kagum dengan sikap Panji Tejo Laksono yang tetap rendah hati dan berjiwa besar meskipun tidak menerima penghormatan saat pertama kali memasuki istana Pakuwon Lawor ini.
****
Jauh di barat, di wilayah tengah selatan Kerajaan Panjalu, tepatnya di Kota Kadipaten Bhumi Sambara Mataram yang merupakan salah satu wilayah dengan penduduk yang cukup besar.
Malam itu, sebuah pertemuan diadakan oleh Adipati Bhumi Sambara, Arya Natakusuma, untuk membahas tentang rencana yang telah lama menjadi pikiran semua orang. Arya Natakusuma adalah seorang lelaki muda yang tampan. Pria bertubuh kekar dengan kumis tipis ini menjadi penguasa Kadipaten Bhumi Sambara Mataram menggantikan kedudukan ayahnya Rakai Kumara yang tutup usia 3 tahun yang lalu.
Di Balairung Pendopo Agung Istana Kadipaten Bhumi Sambara telah berkumpul para petinggi Kadipaten, diantaranya Patih Tundungwaja, Senopati Danuraja, Tumenggung Sindunegara dan beberapa orang wredamantri serta pejabat kehakiman dan para pemuka agama. Mereka duduk bersila dengan tenang menunggu titah sang penguasa Kadipaten Bhumi Sambara ini.
"Apa kau yakin dengan apa yang baru saja kau katakan, Paman Patih Tundungwaja?", Adipati Arya Natakusuma sambil mengelus dagunya. Pandangan mata Adipati muda itu tertuju pada Patih Tundungwaja, seorang punggawa sepuh yang telah menjadi warangka praja sejak masa pemerintahan Adipati Rakai Kumara.
"Sepenuhnya hamba yakin, Gusti Adipati..
Panjalu tentu ingin menguatkan kedudukan nya dengan berbesan di wilayah-wilayahnya. Kita ambil contoh dari Kalingga. Putri Adipati Aghnibrata bukankah sudah menjadi menantu Prabu Jayengrana? Hamba paham maksud dari pernikahan itu adalah untuk memperkuat hubungan Daha dengan wilayah-wilayah sekitarnya.
Jika Gusti Adipati Arya Natakusuma sampai meminang Dewi Sekar Kedaton, ini tentu saja akan membuka langkah Gusti Adipati Arya Natakusuma untuk menjadi salah satu dari calon raja Panjalu selanjutnya? Walaupun masih ada Pangeran Panji Tejo Laksono, Pangeran Mapanji Jayawarsa, Pangeran Mapanji Jayagiri dan Pangeran Panji Manggala Seta, apa salahnya jika kita ikut serta dalam persaingan untuk duduk di singgasana Daha? Toh sampai saat ini, Gusti Prabu Jayengrana belum menentukan pilihan siapa yang akan di angkat menjadi Yuwaraja Panjalu selanjutnya bukan?", ujar Patih Tundungwaja sembari tersenyum penuh arti.
"Hamba setuju dengan pendapat Kakang Patih Tundungwaja, Gusti Adipati..
Ini adalah kesempatan bagus untuk Gusti Adipati Arya Natakusuma. Lagipula Dewi Sekar Kedaton adalah perempuan yang cantik. Di samping itu, dia adalah putri Prabu Jayengrana dari Gusti Ratu Pertama Kerajaan Panjalu, Nararya Ayu Galuh. Dengan adanya kedudukan ini, tentu saja peluang untuk mendapatkan tahta Kerajaan Panjalu lewat jalur pernikahan akan mudah", sambung Senopati Danuraja sembari menghormat pada Adipati Arya Natakusuma.
Adipati Arya Natakusuma nampak mengerutkan keningnya dalam-dalam pertanda bahwa dia sedang berpikir keras. Banyak pertimbangan yang ada di kepala sang Adipati, mengingat bahwa dia juga ingin segera membina rumah tangga.
"Saran saya, Gusti Adipati..
Tak baik seorang pimpinan daerah terlalu lama sendiri. Mumpung Gusti Adipati masih muda, masa depan juga masih panjang. Ingatlah bahwa Gusti Adipati Arya Natakusuma juga harus memiliki keturunan untuk meneruskan tugas memimpin Kadipaten Bhumi Sambara ini. Mohon ampun bila Gusti Adipati kurang berkenan..", imbuh seorang Wredamantri yang bernama Mpu Wirya.
Hemmmmmmm...
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari Adipati Arya Natakusuma sebelum Penguasa Kadipaten Bhumi Sambara ini bicara.
"Baiklah, aku ikuti saran dari kalian semua. Aku akan melamar Dewi Sekar Kedaton untuk menjadi pendamping ku memimpin Kadipaten Bhumi Sambara ini.
Paman Patih Tundungwaja, siapkan segala sesuatu nya untuk seserahan lamaran ke Kadiri. Jangan membuat malu pihak Istana Kadipaten Bhumi Sambara meskipun kita dari daerah.
Besok kita berangkat ke Daha.."