
****
Whhhuuutthh whhhuuutthh. .
Shhrrraaakkkkkhh.....
Aaauuuuggggghhhhh!!!!
Jerit panjang terdengar. 4 orang lelaki bertubuh gempal dengan baju serupa yakni atasan hijau dan celana pendek selutut berwarna hitam legam kelojotan bersimbah darah. Di tubuh mereka masing-masing terdapat bekas cakaran sedalam satu ruas jari yang merobek kulit mereka. Selain itu, bekas sayatan itu menghitam yang menjadi pertanda bahwa mereka tewas bukan hanya karena luka tapi juga kena racun.
Melihat kawannya tewas hanya dalam satu kali gebrakan saja, 18 orang kawannya yang lain tercekat saat itu juga. Tanpa sadar mereka mundur selangkah ke belakang saking takutnya. Mata lelaki tua berkumis putih dengan janggut sepanjang satu jari telunjuk itu yang menatap tajam ke arah mereka, menebarkan ancaman yang sanggup membuat orang bergidik ngeri.
"Ayo siapa lagi yang ingin mampus?! Cepat maju!!"
Bentakan keras lelaki tua yang mengenakan sebuah mantel kain hitam tanpa baju dan memakai celana pendek warna merah selutut dengan hiasan benang hitam kusam ini membuat para pengepung yang kini mengambil jarak 3 tombak di sekelilingnya terkaget juga.
"Iblis Bukit Manoreh!!
Jangan kira kami takut pada mu. Hari ini kami pasti akan mencincang tubuh mu!!".
Teriak keras salah satu dari 8 orang lelaki bertubuh gempal yang mengepung lelaki tua berjanggut sepanjang satu ruas jari telunjuk itu membangkitkan semangat kawan-kawan yang lain. Rupanya mereka ingin mengandalkan jumlah yang banyak untuk mengalahkan sosok pendekar tua golongan hitam yang sangat di takuti pada wilayah Kadipaten Bhumi Sambara Mataram, Lewa dan Kembang Kuning ini.
Ya, sosok lelaki tua bertubuh kekar itu adalah pendekar yang berjuluk Iblis Bukit Manoreh. Dedengkot pendekar dunia persilatan dari golongan hitam yang terkenal kejam dan tidak takut pada siapapun. Sepuluh tahun yang lalu, Iblis Bukit Manoreh mengacak-acak Istana Kadipaten Lewa dan membunuh sang Adipati Lewa Pu Wijaya yang membuatnya menjadi buronan semua pihak baik dari Pemerintah pusat di Daha maupun Pemerintah daerah yang di singgahi perjalanannya. Kepalanya berharga tinggi. Sebanyak 1000 kepeng emas akan di hadiahkan kepada siapapun yang bisa membawa kepala sang iblis.
Karena itu pula, ratusan pendekar baik dari golongan hitam maupun golongan putih memburunya. Ada yang sekedar ingin menjadi terkenal, ada yang ingin sekedar menjajal kemampuan beladiri pendekar berambut gondrong ini bahkan ada juga yang ingin balas dendam. Tapi yang terbanyak adalah mereka yang menginginkan hadiah besar yang di siapkan untuk kepala lelaki bertubuh gempal itu.
Mereka bahkan membentuk sebuah persekutuan dengan maksud untuk melenyapkan Iblis Bukit Manoreh yang di anggap sebagai biang kerok segala gonjang ganjing di dunia persilatan Tanah Jawadwipa. Berbagai taktik dan siasat jitu digunakan untuk membuat sang pendekar takluk namun harapan mereka tinggal angan belaka. Iblis Bukit Manoreh tak ubahnya seperti seorang monster yang mengerikan. Dia sanggup bertarung melawan ratusan pendekar hingga berhari-hari tanpa kelelahan. Ini karena Jimat Merah Delima yang sudah di lebur menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh nya.
Yang paling akhir dari petualangan nya adalah kala menghadapi Pimpinan Padepokan Gunung Gangsir, Mpu Sastrarukmi dan seluruh anggota padepokan dari Kadipaten Lasem ini. Mpu Sastrarukmi terbunuh oleh Iblis Bukit Manoreh, begitu juga dengan seluruh orang yang mengikuti sang guru. Namun sesaat sebelum kematiannya, Mpu Sastrarukmi berhasil menghancurkan Jimat Merah Delima yang di tanamkan pada pergelangan tangan kiri Iblis Bukit Manoreh yang bernama asli Mpu Waluya dengan mengorbankan nyawa nya sendiri lewat Ajian Panglebur Jiwa yang hanya bisa digunakan sekali seumur hidup.
Konon katanya, akibat pertarungan itu Iblis Bukit Manoreh terluka parah meskipun masih hidup. Telapak tangan kirinya juga bolong sebesar biji nangka yang menjadi tanda bahwa Jimat Merah Delima telah di musnahkan dari dalam tubuh nya.
Selepas pertarungan sengit itu, Iblis Bukit Manoreh menghilang dari dunia persilatan. Dia raib begitu saja seperti amblas di telan bumi. Semua tempat pun di jelajahi tapi mereka tidak berhasil menemukan jejak keberadaan sang pendekar yang telah banyak membunuh orang. Hingga dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah tengah pun akhirnya tenang dengan sendirinya. Cerita tentang seorang pendekar yang menjadi momok bagi para petualang dunia persilatan pun perlahan di lupakan seiring berjalannya waktu.
Namun satu purnama terakhir, dunia persilatan Tanah Jawadwipa kembali di gemparkan dengan kemunculan kembali Iblis Bukit Manoreh yang kini bersama dengan sepasang muda-mudi yang berusia sekitar 2 dasawarsa. Mereka mendatangi sebuah wanua kecil yang menjadi perbatasan wilayah antara Kadipaten Lewa dan Anjuk Ladang. Mereka membantai seluruh anggota keluarga dari Lurah Wanua itu berikut orang yang mencoba untuk membantu sang lurah. Tak hanya itu saja, mereka bertiga pun tak segan-segan membakar kediaman penduduk yang tinggal di wanua kecil itu. Ini menyebabkan terjadinya pengungsian ke beberapa wilayah terutama ke wilayah Kadipaten Anjuk Ladang.
Perlahan tapi pasti, banyak penjahat yang bergabung dengan Iblis Bukit Manoreh dan kedua muridnya. Dalam waktu satu purnama saja, pengikutnya telah berjumlah sekitar 70 orang. Mereka pun menyebarkan ketakutan pada wilayah di antara Lewa dan Anjuk Ladang. Mereka merampok wanua wanua lainnya yang ada di dekat tempat awal mereka beraksi. Pun juga menjadikan kampung kecil itu sebagai markas pergerakan mereka.
Pemerintah Kadipaten Lewa dan Anjuk Ladang pun sebenarnya tidak tinggal diam melihat ulah Iblis Bukit Manoreh ini. Dua pihak wilayah ini telah mengirimkan ratusan orang prajurit dan perwira tangguh untuk menumpas kelompok pengacau keamanan ini. Namun tak satupun dari mereka ada yang pulang hidup-hidup. Semuanya tewas terbunuh oleh kelompok Iblis Bukit Manoreh.
Tak berhenti sampai disitu, baik pemerintah Kadipaten Lewa maupun Kadipaten Anjuk Ladang mengeluarkan sayembara yang isinya barangsiapa bisa membunuh Iblis Bukit Manoreh dan seluruh pengikutnya, akan mendapatkan hasil besar dan pangkat tinggi dalam keprajuritan. Ini membuat banyak pendekar mencoba peruntungan dengan mengikuti sayembara itu. Namun semuanya tak ada yang berhasil pulang dengan selamat.
Termasuk juga yang saat ini sedang berhadapan dengan Iblis Bukit Manoreh, murid murid Perguruan Pedang Perak dan Emas. Mereka menyerbu tempat kediaman Iblis Bukit Manoreh setelah guru mereka yang ikut serta dalam upaya pembunuhan terhadap Iblis Bukit Manoreh justru terbunuh oleh sang iblis. Mereka datang ke tempat itu untuk balas dendam.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!!
Iblis Bukit Manoreh menyeringai lebar menatap pergerakan para murid Perguruan Pedang Perak dan Emas. Meski kedelapan belas murid yang tersisa itu semuanya memegang dua pedang yang berwarna perak dan keemasan, namun itu tidak membuat ciut Nyali Iblis Bukit Manoreh.
Kakek tua menggeser posisi kaki kirinya mundur setengah langkah. Kaki kanan nya lalu menjejak tanah dengan keras. Tubuh gempal nya langsung melenting tinggi ke udara hingga tusukan 36 pedang di tangan kedelapan belas murid Perguruan Pedang Perak dan Emas hanya menusuk tanah kosong.
Di udara, Iblis Bukit Manoreh merubah gerakan tubuhnya hingga posisi terbalik dengan kepala di bawah. Tangan kanan kakek tua itu memancarkan cahaya kuning kehitaman lalu dengan cepat ia menghantamkan nya pada para murid Perguruan Pedang Perak dan Emas.
"Tapak Iblis Beracun...
Selarik cahaya kuning kehitaman berselimut angin kencang berbau busuk yang sanggup membuat perut mual bila mengendusnya, menerabas cepat kearah pedang pedang para para pengepung nya.
Si lelaki yang menjadi kakak seperguruan tertua di Perguruan Pedang Perak dan Emas sempat melihat itu lalu segera berteriak keras.
"Awas ada serangan..!!!!"
Sembari berteriak keras demikian, dia dengan cepat melompat mundur. Beberapa murid yang lain langsung mengikuti langkah sang pimpinan namun sebagian besar terlambat menyadari.
Blllaaammmmmmmm!!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Jerit jerit kesakitan terdengar memilukan hati saat hantaman Ajian Tapak Iblis Beracun menghantam mereka. Beberapa tubuh langsung hancur berantakan sedangkan yang lain separuh tubuhnya menghitam dan membusuk seperti mayat. Dari delapan belas murid Perguruan Pedang Perak dan Emas hanya tersisa 4 orang saja. 14 lainnya meregang nyawa di tangan Iblis Bukit Manoreh.
Keempat orang murid yang tersisa langsung melompat mundur beberapa tombak ke belakang sembari menatap wajah Iblis Bukit Manoreh yang menyeringai lebar saat baru saja mendarat di tanah.
Belum sempat mereka hilang rasa was-was nya akibat selamat dari kematian, terdengar suara teriakan keras dari arah belakang Iblis Bukit Manoreh.
"Biarkan kami juga ikut bersenang-senang Guru!!"
Dua bayangan berkelebat cepat kearah 4 murid Perguruan Pedang Perak dan Emas. Tiba-tiba saja...
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!
Chhreepppppph...
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Hanya dalam waktu beberapa kejap mata saja, keempat orang murid Perguruan Pedang Perak dan Emas tersungkur ke tanah dengan leher nyaris putus. Darah segar pun segera menggenang di bawah mayat mayat itu.
Sekejap berikutnya, dua orang muda mudi berpakaian rapi yang mengenakan pakaian warna coklat tua tanpa lengan sudah berjongkok di depan Iblis Bukit Manoreh sembari menghormat pada nya.
"Hormat kami Guru...", ucap dua orang muda mudi itu segera. Iblis Bukit Manoreh menyeringai sembari mengusapkan jenggotnya yang memutih.
"Bangun kalian Cendana dan Cendani..
Perkembangan ilmu kanuragan kalian berdua benar-benar pesat. Aku senang melihatnya", puji Iblis Bukit Manoreh segera.
Dua orang muda mudi yang merupakan anak kembar ini langsung tersenyum menatap pujian guru mereka. Keduanya segera berdiri di hadapan Iblis Bukit Manoreh.
"Ini semua adalah didikan dari guru. Tentu saja tidak akan mengecewakan.
Oh iya guru, semua pendekar yang menjadi lawan mu sudah kau bunuh. Di Panjalu ini tentu guru adalah pendekar nomor satu. Apakah di kerajaan ini sudah tidak ada lagi orang yang bisa menakuti mu Guru?", tanya si gadis muda yang bernama Cendani itu sembari menatap wajah tua gurunya.
Hehehehe...
Terdengar suara tawa kecil dari mulut Iblis Bukit Manoreh. Pujian dari Cendani muridnya benar benar membuatnya besar kepala. Sembari menepuk dadanya yang membusung penuh keangkuhan, Iblis Bukit Manoreh berkata,
"Tentu saja aku adalah pendekar nomor satu di Kerajaan Panjalu ini. Siapapun orangnya yang ingin menghadapi ku, akan ku hajar sampai mampus.
Sekalipun itu adalah Prabu Jayengrana!"