
Lelaki bertubuh gempal itu menatap bengis ke arah Sriati yang segera berusaha untuk bersembunyi di balik tubuh Gayatri. Seorang lelaki tua berjanggut lebat dengan ikat kepala yang terbuat dari kulit ular dengan pakaian berwarna coklat tua segera berdiri di samping lelaki bertubuh gempal itu. Sorot mata lelaki tua berjanggut lebat itu begitu menakutkan, mirip seperti tatapan mata seekor ular yang sedang mengincar mangsa.
"Cuma seorang perempuan saja, dan kau gagal menghadapinya, Danarjati? Apa kata Kakang Mpu Sawer jika tahu calon pimpinan Padepokan Ular Siluman tak berdaya menghadapi para perempuan cantik?
Kau benar-benar memalukan!", maki lelaki tua berjanggut lebat itu segera.
Mendengar makian dari lelaki tua berjanggut lebat itu, Danarjati terdiam tanpa berkata apa-apa. Bagaimanapun juga, lelaki tua berjanggut lebat itu adalah adik seperguruan ayahnya yang memiliki nama besar di dunia persilatan wilayah timur Jawadwipa. Ki Kesawasidi atau yang lebih di kenal sebagai Pendekar Tongkat Ular adalah salah seorang pendekar golongan putih namun sering bertindak semaunya sendiri hingga lebih mirip golongan pendekar golongan hitam. Sepak terjangnya begitu terkenal di kalangan masyarakat Kadipaten Kanjuruhan karena pernah membantu Adipati Narapati sang penguasa Kadipaten Kanjuruhan melawan para perampok.
"Mereka di kawal oleh seorang pendekar muda berilmu tinggi, Paman.. Pedang Ular Siluman ku saja tidak mampu menggores kulitnya.
Nah itu dia orangnya", Danarjati segera menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono yang baru saja memasuki rumah makan bersama dengan Tumenggung Ludaka dan Naratama.
"Oh aku ingat sekarang. Kau adalah orang yang berusaha untuk menculik Sriati tempo hari ya?
Kenapa ha? Masih belum kapok kau di hajar oleh Kakang Tejo?", ucap Gayatri dengan cepat. Danarjati menyeringai lebar sembari menatap ke arah mereka.
"Kemarin, aku memang kalah dengan pengawal pribadi mu itu, tapi keadaan hari ini berbeda.
Ada paman ku yang pastinya akan menghajar pengawal mu itu sampai mampus, perempuan cantik hehehehe. Setelah dia modar, akan ku bawa kalian berempat ke Karang Gomeng untuk ku jadikan gundik ku".
Chuuuihhhhhh...
"Siapa yang sudi menjadi wanita mu, pria cabul? Lebih baik aku bertarung sampai mati daripada menjadi wanita simpanan mu", Luh Jingga kali ini meradang mendengar ucapan Danarjati.
"Dasar wanita murahan!
Siapa yang kau sebut pria cabul ha? Mulut mu pantas aku beri pelajaran!", Danarjati yang marah mendengar ucapan Luh Jingga, melesat cepat kearah Luh Jingga. Naratama yang sedari tadi hanya diam, langsung menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.
"Bajingan ini bagian ku, Adhi Tejo. Waktunya aku untuk membalas dendam pada nya atas perlakuannya tempo hari", ujar Naratama sembari mencabut Golok Angin di punggungnya. Pria bertubuh kekar itu segera memutar-mutar senjatanya sebelum akhirnya menerjang maju menyambut kedatangan Danarjati dengan sabetan senjatanya.
Shreeeeettttthhh !!!
Keributan di rumah makan itu segera terjadi. Para pelanggan yang memadati tempat itu segera berhamburan keluar dari dalam rumah makan karena takut menjadi korban serangan nyasar. Para pelayan rumah makan yang ketakutan segera bersembunyi di balik meja dapur, sedangkan sang pemilik terlihat waspada dan bersembunyi di balik pintu belakang.
Danarjati yang melihat sabetan senjata Naratama buru buru merubah gerakan tubuhnya dan dengan cepat menjatuhkan diri nya ke lantai rumah makan hingga sabetan Golok Angin milik Naratama menghajar meja makan yang ada di belakang Danarjati.
Brruuaaaakkkkkkkh !!
Meja makan yang terbuat dari kayu jati itu langsung hancur berantakan setelah terkena sabetan senjata Naratama yang berukuran besar. Usai berhasil menghindar, Danarjati segera berguling ke tanah menjauhi Naratama. Dengan cepat ia mencabut Pedang Ular Putih di pinggangnya dan menyambut serangan cepat dari Naratama.
Thhhrrriiiiinnnnngggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!
Benturan senjata mereka menimbulkan bunyi nyaring dan percikan bunga api. Kendati memegang senjata pusaka milik Padepokan Ular Siluman, nyatanya tak membuat Danarjati dengan mudah mengatasi serangan Naratama yang menggunakan golok besar miliknya. Golok itu memiliki lobang lobang kecil sebesar biji merica hingga setiap gerakannya menciptakan bunyi angin yang aneh. Bunyi-bunyian itu sanggup membuyarkan konsentrasi lawannya hingga perhatian mereka selalu terpecah jika menghadapinya.
Tebasan Golok Angin hanya berjarak satu ruas jari di atas kepala Danarjati. Pria ini merunduk cepat sembari membabatkan Pedang Ular Putih nya kearah pinggang Naratama.
Shhrreeettthhh !!
Naratama dengan cepat menjejak lantai rumah makan. Tubuhnya melenting tinggi ke udara dan sambil bersalto dia mengayunkan Golok Angin yang sudah di lambari tenaga dalam.
Whhuuunnnggggghh..!!
Hawa dingin Golok Angin disertai angin ribut yang memekakkan telinga langsung menerabas cepat kearah Danarjati. Putra Mpu Sawer itu buru-buru melompat keluar dari dalam rumah makan untuk menghindari hawa dingin berdesir kencang yang mengincar nyawanya. Melihat lawannya lolos dari tebasan goloknya, Naratama yang baru saja menginjak lantai rumah makan langsung mengejarnya keluar.
Setelah Naratama dan Danarjati keluar dari dalam rumah makan dan bertarung di halaman, Ki Kesawasidi atau juga dikenal sebagai Pendekar Tongkat Ular menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang berdiri di samping kanan Gayatri.
"Jadi kau orang nya yang menghajar keponakan ku tempo hari, pemuda bercaping?!", hardik Ki Kesawasidi sambil menghentakkan tongkat nya ke lantai. Tongkat dengan ujung atas berbentuk kepala ular kobra itu melesak kedalam lantai rumah makan hingga sejengkal dalamnya. Ini membuktikan bahwa tenaga dalam yang dimiliki oleh Ki Kesawasidi sangat tinggi.
"Benar, aku orangnya..
Keponakan mu hendak mencelakai orang tak bersalah. Sebagai pamannya seharusnya kamu bisa menasehati nya untuk tidak berbuat kejahatan, Kakek tua. Bukan malah membelanya seperti ini. Orang tua macam apa kau ini?", ujar Panji Tejo Laksono tanpa merasa takut sedikitpun pada lelaki berjenggot lebat itu.
"Simpan ceramah mu itu untuk orang lain. Aku membela keponakan ku, itu urusan ku bukan urusanmu, Pemuda bercaping..
Sekarang yang terpenting kau harus bertanggung jawab karena sudah melukai keponakan ku", Ki Kesawasidi mencabut tongkat nya dari lantai.
"Apa mau mu orang tua? Ingin bertarung dengan nya? Huhhhhh, kau belum pantas untuk menghadapi Kakang Tejo", sahut Gayatri segera.
"Perempuan sundal !!
Aku akan menghancurkan mulut sombong mu itu agar tidak sembarangan bicara", Ki Kesawasidi segera memutar tongkatnya lalu dengan cepat menghantam kursi kayu yang ada di dekat nya.
Dhhaaaassshhh !!
Kursi kayu itu langsung melayang cepat kearah Gayatri. Panji Tejo Laksono tidak tinggal diam. Segera dia memutar telapak tangan kanannya dan menghantamkan nya ke arah kursi kayu itu.
Blllaaaaaarrr !!
Kursi kayu itu langsung hancur berkeping keping dan serpihan nya tersebar ke ruang rumah makan. Gayatri segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.
"Tua bangka tidak tahu tata krama itu biar aku yang menghadapi nya, Kakang..
Sudah lama aku tidak menghajar orang bodoh seperti dia", mendengar ucapan Gayatri, Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti sambil berkata, "Hati-hati menghadapi nya, Nyi".
Setelah memperoleh ijin dari Panji Tejo Laksono, Gayatri merogoh balik bajunya dan mengeluarkan dua buah pisau belati berwarna keperakan. Secepat kilat dia melemparkan dua pisau belati itu kearah Ki Kesawasidi.
"Saatnya menguliti seekor ular!"
Shrrriinnnggg shhhrriinggg !!
"Jangan jumawa dulu, Tua Bangka!
Lihat di belakang mu!!", teriak Gayatri sambil menggerakkan jari jemari tangan kanannya. Ki Kesawasidi segera menoleh ke belakang. Mata orang tua itu terbelalak lebar begitu melihat pisau belati yang di lemparkan oleh Gayatri berbalik arah seperti memiliki nyawa. Dua pisau belati itu kembali melesat cepat kearah Ki Kesawasidi.
Dengan cepat Ki Kesawasidi segera mengayunkan tongkat berkepala ular itu memapak pisau belati yang mengarah kepada nya.
Whuuthhh.. Thrrraaannnnggggg !!
Satu pisau belati terhantam tongkat kayu berkepala ular milik Ki Kesawasidi dan terpental menancap di dinding kayu rumah makan. Namun satu pisau belati yang tidak sempat untuk di hadang, langsung menancap di punggung kiri orang tua itu.
Chhreepppppph.. Aaauuuuggggghhhhh !!
Ki Kesawasidi melengguh tertahan saat pisau belati keperakan itu melesak sedalam 2 ruas jari di punggungnya. Kakek tua itu mendengus keras penuh amarah.
"Perempuan kurang ajar!!
Akan ku buat kau mati mengenaskan!!", Ki Kesawasidi segera memutar tongkat berkepala ular nya. Sinar hijau tua itu segera tercipta di kepala ular yang terbuka pada pangkal tongkat. Dengan cepat Ki Kesawasidi segera mengayunkan tongkatnya dan sinar hijau tua itu segera menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
Shhhiiiuuuuuuuutttttttth..
Melihat kedatangan serangan maut Ki Kesawasidi, Luh Jingga segera menyambar tubuh Sriati dan melesat cepat keluar dari dalam rumah makan bersama Dyah Kirana. Panji Tejo Laksono, Gayatri dan Tumenggung Ludaka pun juga melakukan hal yang sama.
Blllaaammmmmmmm !!
Ledakan keras terdengar saat sinar hijau tua itu menghantam lantai rumah makan. Melihat lawannya lolos, Ki Kesawasidi segera mengejar Gayatri yang melesat keluar dari dalam tempat itu. Begitu melihat Gayatri berada di halaman samping rumah makan, Ki Kesawasidi kembali mengayunkan tongkat berkepala ular nya kearah selir pertama Panji Tejo Laksono ini.
Shhhiiiuuuuuuuutttttttth !!
Blllllllaaaaaaaaaaaarrrrrrrr..!!!
Gayatri terus bergerak cepat menghindari setiap serangan Ki Kesawasidi yang menggunakan tongkat berkepala ular miliknya. Putri Tumenggung Sindupraja itu bergerak lincah kesana-kemari mencari kesempatan untuk mendekati Ki Kesawasidi yang terus membuat jarak dengan nya. Begitu menemukan apa yang diinginkannya, Gayatri melesat cepat kearah lelaki tua berjanggut lebat itu dengan tangan kanan memegang sebilah pisau belati sedangkan tangan kirinya tercipta sebuah sinar berwarna biru kemerahan layaknya petir yang menyambar.
Dengan sekuat tenaga, Gayatri mengayunkan pisau belati di tangan kanannya ke arah dada Ki Kesawasidi.
Shhrreeettthhh !!
Thhraaaangggggggg !!
Ki Kesawasidi langsung memegang tongkat berkepala ular miliknya dengan kedua tangan. Dia berhasil menahan serangan cepat Gayatri. Namun lelaki tua itu langsung kaget bukan main melihat tangan kiri Gayatri yang telah di lambari Ajian Gelap Sayuto yang berhawa panas menyengat. Buru-buru orang tua itu segera memapak hantaman telapak tangan kiri Gayatri dengan tangan kiri nya.
Blllaaammmmmmmm..!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH !!!
Ki Kesawasidi menjerit keras saat ledakan keras itu terdengar. Lelaki sepuh berjenggot lebat itu terseret mundur hampir 4 tombak jauhnya dan baru berhenti setelah tubuhnya menghantam tiang kandang kuda. Lelaki tua itu meraung-raung kesakitan karena tangan kiri nya putus hingga siku dan hancur menjadi serpihan daging yang tersebar di tempat pertarungan mereka. Ada bau hangus seperti daging terbakar tercium oleh semua orang. Darah segar mengalir keluar dari pangkal siku nya. Ki Kesawasidi segera menotok beberapa jalan darah di lengan kiri nya hingga darah segar berhenti keluar.
Dengan tertatih berdiri, Ki Kesawasidi menatap wajah cantik Gayatri sembari meringis menahan rasa sakit akibat kehilangan sebelah lengannya. Dia sungguh tidak menduga bahwa perempuan cantik yang terlihat klemar-klemer seperti seorang putri bangsawan ini mampu membuatnya harus menderita.
"Si-siapa kau sebenarnya ha?", tanya Ki Kesawasidi sambil berusaha untuk berdiri tegak.
"Siapa aku? Aku hanya seorang pedagang kain keliling yang sudah berdagang di seluruh penjuru Tanah Jawadwipa ini.
Kenapa? Apa kau masih ingin meneruskan pertikaian antara kita ini? Aku siap untuk membuntungi satu tangan mu yang tersisa jika kau mau", Gayatri menimang-nimang sebuah pisau belati keperakan sembari tersenyum mengejek ke arah Ki Kesawasidi.
"Su-sudah cukup!! Aku mengaku kalah..
Maaf sudah mengganggu urusan mu. Aku permisi!!", Ki Kesawasidi segera menjejak tanah dengan keras lalu melesat cepat kearah selatan. Melihat paman nya kabur, Danarjati yang sudah memiliki beberapa luka sayatan pada tubuhnya, berusaha untuk mengejar nya. Namun, Naratama yang tidak membiarkan hal ini terjadi. Secepat kilat, dia segera melayangkan tendangan keras kearah perut Danarjati.
Dhhiiieeeeesssshhh..
OOUUUGGHHHHHH!!!
Putra Mpu Sawer itu langsung jatuh terduduk di atas tanah halaman rumah makan setelah terkena tendangan keras Naratama. Perutnya sakit bukan main. Belum sempat dia bangkit, Golok Angin milik pendekar muda bertubuh kekar itu telah menempel di lehernya.
"Aaaamm..puu..nii aa-aku...!!! A-aku menyerah !!", ujar Danarjati sambil melepaskan genggaman tangannya pada gagang Pedang Ular Putih nya hingga pedang itu terjatuh di tanah.
"Bukan aku yang perlu memberikan mu pengampunan tapi Sriati yang berhak melakukan nya.
Sriati..
Apa lelaki ini masih layak hidup? Jika kau bilang tidak, maka sekali tarikan napas, lehernya akan putus", Naratama menoleh ke arah Sriati yang bersembunyi di belakang punggung Luh Jingga. Perempuan cantik berkulit sawo matang itu segera menoleh ke arah Dyah Kirana seolah meminta pertimbangan.
"Kau tenang saja, Sriati.. Kami semua disini ada untuk melindungi mu", Dyah Kirana tersenyum untuk menenangkan perasaan Sriati. Setelah menghirup udara segar, Sriati segera berbicara.
"Lepaskan saja dia, Kakang Naratama. Membunuh orang seperti dia hanya akan menodai senjata mu saja", teriak Sriati dengan cepat. Mendengar jawaban itu, Naratama menjauhkan bilah Golok Angin nya dari leher Danarjati lalu berjalan mendekati Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.
Danarjati menggeram sesaat sebelum menyambar gagang pedangnya dan melesat cepat kearah Naratama yang memunggungi nya dengan pedang terarah ke punggung sang Pendekar Golok Angin. Semua orang terkejut melihat kejadian itu. Namun Panji Tejo Laksono yang menyadari ada sesuatu yang tidak beres, berkelebat cepat menghadang laju pergerakan Danarjati dengan tangan kanan yang berwarna merah menyala seperti api yang berkobar.
Blllaaammmmmmmm !
Ledakan keras kembali terjadi. Danarjati terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Dada putra Mpu Sawer itu gosong seperti terbakar api setelah menerima hantaman Ajian Tapak Dewa Api milik Panji Tejo Laksono.
Semua orang langsung menarik nafas lega karena kesigapan Panji Tejo Laksono. Sambil menatap mayat Danarjati yang tergeletak di halaman rumah makan itu, Sriati berkata,
"Kau layak mendapatkan nya, bajingan!"