Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Hutan Larangan


"Kalian para lelaki hanya berani mengeroyok seorang perempuan. Apa itu tindakan seorang pendekar?


Phhuuuiiiiiihhhhh..


Para pengecut seperti kalian tidak pantas di sebut sebagai pendekar", Dewi Lembah Wilis yang kesal karena melihat seorang wanita di keroyok 4 laki-laki itu langsung melesat cepat kearah pendekar yang baru saja mengumpat keras pada nya.


Satu tebasan pedang dari Ilmu Pedang Tarian Badai Laut Selatan langsung menusuk ke arah dada lelaki berbaju hijau gelap ini.


Shhhrrrrreeeeeeeeeeetttttth!!


Si pendekar berbaju hijau gelap yang merupakan salah anak buah Ki Taksaka Si Racun Tua itu segera menjejak tanah untuk mundur sembari menangkis sabetan pedang Dewi Lembah Wilis.


Thrrraaannnnggggg thhrraaanggg!!


Satu kawan nya langsung melompat tinggi ke udara dan membabatkan senjata taring ular milik nya ke arah Dewi Lembah Wilis alias Endang Patibrata. Dari ekor matanya, Endang Patibrata yang melihat itu segera menjejak tanah dengan keras lalu bersalto mundur beberapa langkah ke belakang.


Satu pendekar berbaju hijau gelap lainnya segera melesat cepat kearah Dewi Setyawati dengan menyabetkan senjata di tangan kanannya. Pertarungan sengit pun segera terjadi di antara mereka.


Bersenjatakan busur panah yang selalu menemani perjalanan nya, Dewi Setyawati langsung menangkis sabetan senjata taring ular itu segera. Busur panah yang terbuat dari kayu rotan hitam itu mampu menahan sabetan senjata andalan anak buah Ki Taksaka. Dewi Setyawati pun segera tarik benang busur panah nya sembari menyalurkan tenaga dalam nya.


Begitu terlepas dari jepitan jari jemari tangan kanan Dewi Setyawati, tiba-tiba gelombang tipis namu sangat kuat terlontar dari lentingan benang busur panah itu.


Chlllaaaaasssshhh...!!


Gelombang ini langsung menghantam dada si pendekar berbaju hijau gelap itu segera.


Aaauuuuggggghhhhh!!


Terdengar suara lengguh kesakitan dari mulut si lelaki bertubuh gempal itu saat tubuhnya terpental ke belakang. Belum sempat dia menjejak tanah dengan sempurna, Dewi Setyawati langsung memutar tubuhnya dan dengan cepat menghantam dada lawannya dengan tangan kiri yang di lambari cahaya ungu kemerahan.


Blllaaammmmmmmm!!


Si lelaki bertubuh gempal itu segera terjatuh ke tanah dan menyusruk hampir dua tombak jauhnya. Saat tubuh lelaki itu berhenti, dia tidak pernah bergerak lagi untuk selamanya. Pendekar berbaju hijau gelap itu tewas dengan bekas kepalan tangan yang menghitam tercetak di dadanya.


Usai menyaksikan lawan nya terbunuh, Dewi Setyawati langsung melompat ke arah dua orang yang sedang mengeroyok Dewi Lembah Wilis. Tanpa ragu lagi, dia menarik benang busur panah nya dan gelombang tipis berkekuatan tinggi langsung menerjang maju ke arah lawan Endang Patibrata.


Chlllaaaaasssshhh...


Lawan Endang Patibrata yang melihat serangan itu, segera menarik tangan kawannya yang membuat mereka selamat dari maut saat gelombang kejut itu menghantam tempat mereka berada.


Blllaaaaaarrr!!


Dewi Setyawati pun segera berdiri di samping kanan Endang Patibrata.


"Kau baik-baik saja, Nisanak?", tanya Dewi Setyawati pada Endang Patibrata tanpa mengalihkan pandangannya pada kedua orang pendekar berbaju hijau gelap itu.


"Aku tidak apa-apa Nisanak..


Sebaiknya kita cepat sudahi saja dua orang cecunguk ini. Aku masih ada urusan penting untuk di selesaikan di Kotaraja Daha", jawab Endang Patibrata yang mulai menggenggam erat gagang pedang nya.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi Nisanak? Kau orang di sebelah kanan. Si tahi lalat besar itu bagian ku", setelah berkata seperti itu, Dewi Setyawati langsung melompat maju ke arah pendekar berbaju hijau gelap di sebelah kiri. Tak ingin membuang waktu lama-lama, Endang Patibrata pun segera melesat cepat kearah kanan.


Pertarungan sengit pun kembali terjadi.


Di sisi lain, Ki Taksaka Si Racun Tua terus bergerak cepat menjauhi Panji Tejo Laksono. Sebagai petarung jarak jauh yang mengandalkan kekuatan senjata beracun nya, Ki Taksaka tidak mau bertarung dalam jarak dekat dengan Panji Manggala Seta. Ini adalah kelemahan utama nya.


Setelah 15 jurus berlalu, Panji Manggala Seta mulai menyadari hal ini. Maka dengan cepat, ia segera melemparkan beberapa jarum berwarna merah hitam yang mengandung Racun Kelabang Neraka ke arah Ki Taksaka.


Shhhrriinggg shhhrriinggg!!


Si Racun Tua itu terkekeh kecil sembari melompat mundur dan melemparkan beberapa pisau belati kecil berwarna kehitaman. Pisau kecil yang mengandung Racun Ular Hitam itu segera memapak serangan jarum beracun Panji Manggala Seta.


Thrrraaannnnggggg thhrraaanggg!!


"Kau masih belum cukup umur untuk menantang ku lempar senjata rahasia, bocah busuk!!


Saat kau masih ******* di susu ibu mu, aku sudah malang melintang di dunia persilatan", cemooh Ki Taksaka Si Racun Tua sembari kembali melemparkan pisau belati kecil milik nya ke arah Panji Tejo Laksono.


"Kalau begitu, biar aku lihat sampai di mana kemampuan mu Racun Tua..!!


Panji Manggala Seta segera kibaskan tangan kirinya ke arah Ki Taksaka. Setelah itu, ia merapal mantra Ajian Langkah Dewa Angin yang membuat pergerakan tubuhnya menjadi seringan kapas. Sekali tarikan nafas, ia melesat cepat kearah belakang Ki Taksaka sambil kembali mengibaskan tangan kirinya.


Whhuuuuuuuggggh!!


Shhhrriinggg shhhrriinggg..!!


Puluhan jarum beracun milik Panji Manggala Seta langsung menerabas cepat dari belakang tubuh Ki Taksaka. Kakek tua renta itu terkejut bukan main melihat perubahan kecepatan Panji Manggala Seta yang meningkat puluhan kali lipat. Tak sempat mencabut senjata andalannya, Ki Taksaka langsung hantamkan tapak tangan kanan nya ke arah jarum beracun milik Panji Manggala Seta.


Selarik cahaya hijau gelap berhawa dingin yang merupakan wujud dari Ajian Tapak Raja Ular itu langsung memapak serangan senjata rahasia dari putra Prabu Jayengrana itu.


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!


Namun saat Ki Taksaka berbalik badan, tiba tiba Panji Manggala Seta sudah muncul di hadapan nya sembari membabatkan pedang pendek berwarna merah kehitaman yang menjadi senjata andalan nya selama ini ke arah leher si Racun Tua.


Sadar senjata milik Panji Manggala Seta adalah senjata beracun, Ki Taksaka langsung menjatuhkan diri ke tanah. Panji Tejo Laksono langsung merubah gerakan tubuhnya dan melompat tinggi ke arah tubuh Ki Taksaka sambil menghujamkan Pedang Kelabang Neraka milik nya ke arah dada Ki Taksaka. Namun lagi-lagi kakek tua renta itu berguling menjauh hingga Pedang Kelabang Neraka hanya menghujam ke tanah.


Tak ingin lawannya lolos dari sergapan nya, Panji Manggala Seta segera gunakan Pedang Kelabang Neraka sebagai tumpuan lalu secepat kilat dia melayangkan tendangan keras kearah perut Ki Taksaka.


Bhhhuuuuuuggggh..!!


Oouuugghhhhhh!!!


Si Racun Tua itu langsung terpental jauh saat tendangan keras kaki kanan Panji Manggala Seta telak menghajar perutnya. Kakek tua renta itu merasakan sakit yang teramat sangat seperti seluruh organ dalam tubuh nya berpindah tempat.


Dengan badan dan pakaian yang penuh tanah dan rumput, Ki Taksaka berupaya bangkit dari tempat jatuhnya. Namun itu adalah kesalahan terbesar yang pernah di lakukan oleh nya. Dia lupa bahwa lawan yang dihadapi oleh nya memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.


Panji Manggala Seta langsung menjejak tanah dengan keras lalu tubuhnya melesat cepat kearah Ki Taksaka yang baru saja berdiri. Pedang Kelabang Neraka di tangan kanannya langsung membabat ke arah dada Ki Taksaka yang tidak siap dengan serangan cepat nya.


Shhrrraaakkkkkhh!!


AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!


Ki Taksaka langsung menjerit keras saat Pedang Kelabang Neraka menebas dada kanannya. Meskipun dia sempat beringsut menghindar namun pedang pendek beracun milik Panji Manggala Seta ini masih sempat merobek dada kanannya yang tertutup baju hijau gelap.


Rasa panas menyengat langsung menyebar ke seluruh tubuh Ki Taksaka. Ini adalah kemampuan mengerikan Racun Kelabang Neraka milik Panji Manggala Seta yang sanggup membunuh seekor gajah hanya dengan satu goresan kecil saja. Ki Taksaka langsung roboh ke tanah dengan mulut yang mulai mengeluarkan busa tanda keracunan.


"K-kau bo-caaahhh be..raaa..cuuunnn..!!".


Setelah berucap demikian, kepala Ki Taksaka langsung terkulai dengan mata melotot lebar seolah merasakan sakit yang luar biasa. Dia tewas dengan mulut terbuka dan mengeluarkan busa, darah segar mengalir keluar dari hidung dan telinganya.


Bersamaan dengan tewasnya Ki Taksaka, Endang Patibrata dan Dewi Setyawati pun berhasil menyudahi perlawanan dua orang pengikut Ki Taksaka. Mereka tewas dengan tubuh terpotong menjadi beberapa bagian.


Panji Manggala Seta segera mendekati mereka berdua.


"Terimakasih atas bantuannya, Nisanak. Kalau kau tidak membantu kami, belum tentu kami bisa mengalahkan para penjahat beracun ini", ujar Panji Manggala Seta dengan sopan.


"Hanya bantuan kecil, tak usah di besar-besarkan. Sebenarnya tanpa campur tangan ku pun kalian berdua bisa mengatasi mereka semua bukan? Hehehehe...", Endang Patibrata terkekeh kecil karena merasa geli dengan sikap rendah hati pemuda tampan di depan nya itu.


"Ah Nisanak ini terlalu memandang tinggi kemampuan kami..


Oh iya, perkenalkan nama ku Panji Manggala Seta dan ini kekasih ku, namanya Dewi Setyawati. Kalau Nisanak ini siapa kalau boleh tau?", tanya Panji Manggala Seta segera.


"Panji Manggala Seta ya? Hemmmmmmm..


Kenapa tiba-tiba aku teringat dengan Kakang Tejo Laksono ya setelah bertemu dengan mu, Panji Manggala Seta? Apa kau mengenal atau mungkin bersaudara dengan Kakang Panji Tejo Laksono?", berondong pertanyaan terlontar dari mulut Endang Patibrata alias Dewi Lembah Wilis.


"Eh Nisanak kenal dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono? Wah dunia ini ternyata sempit ya..


Nisanak, ini adalah Pangeran Panji Manggala Seta. Salah satu dari keempat putra Gusti Prabu Jayengrana dari Panjalu", sahut Dewi Setyawati segera.


"Kalau begitu maaf jika saya kurang sopan pada pangeran.


Nama saya Endang Patibrata, keponakan dari Cempluk Rara Sunti selir keempat Gusti Prabu Jayengrana. Saya berasal dari Kadipaten Wengker dan ayah saya adalah kakak dari Bibi Cempluk Rara Sunti ", balas Endang Patibrata dengan sopan.


Terkejut Panji Manggala Seta dan Dewi Setyawati dengan pengakuan dari Endang Patibrata. Mereka berdua segera saling berpandangan sejenak sebelum Panji Manggala Seta tersenyum simpul.


"Ah rupanya keponakan Biyung Cempluk Rara Sunti. Pantas saja aku pernah melihat jurus pedang yang kau mainkan tadi. Adik Kencanawangi juga bisa menggunakan ilmu pedang itu loh, Nini Endang Patibrata..


Rupanya ini sudah menjadi garis takdir Dewata agar kita bertemu disini. Oh iya Nini Endang, ada urusan apa hingga kau sampai jauh-jauh dari Wengker di tempat ini?", kembali Panji Manggala Seta melontarkan pertanyaan.


"Kangmas Seta, kau ini benar-benar tidak memahami perasaan seorang perempuan. Kita baru saja bertarung hidup mati tadi. Pertanyaan seperti itu tanyakan saja nanti.


Nini Endang Patibrata, sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini. Di depan sana adalah Kota Kabupaten Gelang-gelang. Nanti sampai di sana, kita baru bercakap-cakap lagi", potong Dewi Setyawati yang langsung membuat Panji Manggala Seta garuk-garuk kepala. Tanpa menunggu lama, mereka pun segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah Kota Kabupaten Gelang-gelang.


****


Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng, Dyah Kirana dan Ki Jatmika terus menggebrak kuda mereka melintasi jalan raya di Kota Kadipaten Dinoyo.


Setelah keluar dari gerbang kota, mereka terus menggebrak kuda tunggangan mereka masing-masing menuju ke arah selatan.


Cuaca yang cerah dengan pemandangan indah terhampar di depan mata memanjakan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan melintasi jalan raya menuju ke arah Kadipaten Kanjuruhan yang ada di wilayah selatan. Gunung gunung tinggi menjulang di arah barat seolah berdiri kokoh menjadi benteng pertahanan alam yang sangat besar. Gunung Kawi dan Gunung Kelud nampak berdiri berdekatan seolah saling bergandengan menjadi batas wilayah antara Jenggala dan Panjalu.


Begitu hendak memasuki tapal batas wilayah antara Kadipaten Dinoyo dan Kanjuruhan, rombongan kecil Panji Tejo Laksono ini harus melewati sebuah hutan lebat yang sangat di takuti kaum pedagang maupun pelancong yang ingin ke Kanjuruhan.


Bukan hanya binatang buas saja yang menjadi momok bagi mereka tapi juga banyaknya makhluk halus yang membuat hutan ini terkenal angker di wilayah selatan Jenggala. Hutan ini bernama Hutan Larangan.


Seolah tak peduli dengan cerita rakyat tentang keangkeran Hutan Larangan, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan terus memacu kuda mereka memasuki hutan angker itu. Begitu sampai di tengah Hutan Larangan, tiba-tiba saja muncul angin kencang yang menderu kencang ke arah mereka. Kuda-kuda mereka meringkik keras seperti sedang ketakutan dengan sesuatu.


Saat Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya sibuk dengan kuda tunggangan mereka, tiba-tiba saja sebuah suara berat terdengar dengan nada penuh ancaman terhadap mereka.


"Hei manusia...


Berhenti kalian..!!!"