
"Gusti Pangeran, apa yang dia tanyakan?", Luh Jingga yang sedang kesal pada Huang Lung langsung berdiri dari tempat duduknya dan menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Dia benar-benar ingin tahu apa pertanyaan yang diajukan oleh Huang Lung.
Panji Tejo Laksono langsung tersenyum lebar mendengar pertanyaan dari Luh Jingga, "Dia tanya, apakah kita sedang berpacaran?".
"Lantas, Gusti Pangeran menjawab apa?", tak sabar rasanya Luh Jingga mendengar jawaban dari Sang Putra sulung Prabu Jayengrana ini.
"Sabarlah Luh, aku kan belum jawab omongan pendekar Huang..
Jangan marah duluan", Panji Tejo mencoba menenangkan hati Luh Jingga yang kadung kesal karena merasa terganggu dengan kehadiran Huang Lung alias Putri Wanyan Lan. Sekalipun Huang Lung memakai pakaian penyamaran laki laki, tapi Luh Jingga dapat melihat gelagat nya yang ingin mendekati Panji Tejo Laksono. Lagipula, kemarin Demung Gumbreg sudah menceritakan tentang kecurigaan nya terhadap kebenaran jati diri Huang Lung yang memang mirip dengan wanita. Tambahan lagi, Luh Jingga tidak melihat jakun di leher Huang Lung hingga menguatkan sekali kecurigaan nya.
'Luh Jingga seperti nya marah dengan Huang Lung. Kalau sampai mereka ribut dan Huang Lung pergi, aku sendiri yang susah karena aku butuh pemandu jalan menuju ke arah Ibukota Kekaisaran Song. Ini tidak boleh dibiarkan berlarut larut'
"Sekarang kau tenang dulu, Luh.. Biar aku jawab pertanyaan Huang Lung. Sekarang kau duduk lagi ya", bujuk Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis. Mendengar perkataan Panji Tejo Laksono, meski masih sedikit kesal, Luh Jingga pun memilih menuruti kemauan sang pangeran muda. Setelah Luh Jingga duduk kembali, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah Huang Lung yang masih duduk di samping kanan nya sembari berusaha keras untuk memahami apa yang terjadi.
"Pendekar Huang Lung,
Bisa di katakan bahwa kami ini berhubungan dekat. Luh Jingga adalah orang yang di tugaskan untuk merawat ku selama aku disini. Hubungan antara kami lebih dari sekedar teman dekat.
Apa jawaban ini cukup memuaskan mu?".
Huang Lung langsung manggut-manggut mengerti setelah mendengar penuturan Panji Tejo Laksono.
"Satu lagi Pendekar Thee,
Di negeri mu apa seorang lelaki sudah biasa beristri lebih dari satu? Di Daratan Tengah ini, lelaki kalau punya kedudukan tinggi dan punya harta banyak pasti punya istri lebih dari satu", Huang Lung kembali bertanya.
"Tentu saja sudah biasa. Karena para raja dan penguasa daerah di negeri kami juga begitu.
Bahkan ayah ku pun punya istri 3 dan selir 4 orang", jawab Panji Tejo Laksono dengan sejujurnya.
"Aku mengerti Pendekar Thee. Terimakasih banyak atas jawaban mu. Aku permisi dulu. Sudah waktunya untuk beristirahat", usai berkata demikian, Huang Lung alias Putri Wanyan Lan segera menghormat pada Panji Tejo Laksono lalu bergegas pergi meninggalkan mereka berdua. Panji Tejo Laksono menoleh sekilas pada Huang Lung yang terus berjalan menuju ke arah kamar tidur nya. Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera duduk kembali di samping Luh Jingga.
Setelah kepergian Huang Lung, Pendeta Wang Chun Yang pun datang menghampiri mereka berdua. Rupanya sedari tadi ia mendengar percakapan antara Panji Tejo Laksono dan Huang Lung dari balik pintu tembusan.
"Selamat malam Pendekar Thee..
Maaf bukannya aku ingin ikut campur dalam urusan pribadi mu tapi saran ku saja, sebaiknya kau berhati-hati dengan Huang Lung", ucap Pendeta Wang Chun Yang sambil tersenyum tipis.
"Apa maksud mu, Tuan Wang?"
"Kau nanti akan tahu sendiri. Aku permisi dulu", setelah bicara seperti itu, Pendeta Wang Chun Yang langsung bergegas menuju ke arah kamar tidur nya yang ada di ujung lantai dua Penginapan Danau Naga.
Ucapan Pendeta Wang Chun Yang langsung membuat Panji Tejo Laksono berpikir. Sudah pasti ada sebabnya Pendeta Tao ini berbicara seperti itu. Atau mungkin ada sesuatu yang di ketahui oleh Pendeta Wang Chun Yang tentang jatidiri Huang Lung. Berbagai pertanyaan melintas di kepala Panji Tejo Laksono hingga meski pandangan mata nya mengarah ke keramaian Desa Danau Naga namun sesungguhnya pikiran nya sedang terbang kemana-mana.
Malam semakin larut, perlahan keramaian di Desa Danau Naga surut. Para pedagang dan pengunjung sudah banyak yang kembali ke tempat mereka bermalam. Tinggal beberapa kedai arak yang masih buka dengan beberapa pengunjung yang tengah menenggak minuman keras. Meski sedikit kacau, namun tidak sampai terjadi keributan. Suasana terlihat aman dan damai di Desa Danau Naga.
Kokok ayam jantan bersahutan menandakan bahwa pagi telah tiba di wilayah Desa Danau Naga. Suara keras mereka membuat sebagian besar penduduk Desa Danau Naga menggeliat bangun dari tidur mereka. Hari itu adalah hari penting bagi mereka. Oleh karena itu, persiapan yang sudah di tata sedemikian rupa harus di jalankan sebaik mungkin. Puluhan orang sudah bersibuk ria dengan urusan dapur, terutama di kediaman Kepala Desa Danau Naga, Tuan Feng Yin.
Pagi itu, lelaki tua berjanggut panjang dengan jubah besar berwarna biru tua itu sudah terlihat mondar mandir mengecek apakah persiapan mereka untuk menyambut kedatangan Gubernur Wu Ming sudah sempurna. Dia yang sangat berambisi untuk menjadi bagian dari keluarga Wu dengan menikahkan Feng Hao dengan Wu Xiao Rong berusaha menjadikan acara perayaan ini untuk mencari muka di hadapan Gubernur Wu. Bahkan dia yang sebelumnya terkenal pelit, rela mengeluarkan ratusan tail perak agar semuanya terlihat sempurna. Bahkan demi menyenangkan Gubernur Wu Ming, dia rela merogoh kantong baju nya dalam dalam dengan membangun panggung yang megah di tepi Danau Naga sebagai tempat Gubernur Wu Ming melakukan sembahyang pada Dewa Naga sebagai pembukaan Perayaan Danau Naga tahun ini.
'Dengan ini, Gubernur Wu akan senang. Dan rencana perjodohan Feng Hao dan Rong Er akan lebih mudah. Aku memang cerdas', batin Kepala Desa Feng Yin.
Segera dia bergegas menuju ke tempat mandi untuk persiapan menyambut kedatangan tamu kehormatan nya. Hari ini dia akan mengenakan pakaian terbaiknya untuk menyambut kedatangan Gubernur Wu.
Saat matahari sepenggal naik di langit timur, dari arah barat Desa Danau Naga, sekitar 100 orang prajurit yang memakai baju zirah nampak mendekati Desa Danau Naga. Mereka mengawal sebuah kereta kuda mewah yang menggunakan bendera Wilayah Shou. Itulah kereta kuda yang di naiki oleh Gubernur Wilayah Shou, Wu Ming.
Begitu memasuki gerbang Desa Danau Naga, Feng Hao langsung menyambut kedatangan Gubernur Wu dan mengarahkan rombongan itu ke arah rumah Kepala Desa. Para penduduk Desa Danau Naga berjubel di pinggir jalan raya untuk melihat iring-iringan kendaraan yang di tumpangi oleh Gubernur Wu Ming. Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga pun ikut melihat keramaian itu dari atas balkon kamar tidur mereka di Penginapan Danau Naga.
Dari dalam kereta, wajah cantik Wu Xiao Rong nampak menyembul saat angin berhembus menggoyangkan tirai merah yang menutupi jendela kereta kuda itu. Rupanya gadis cantik itu sedang menemani perjalanan pamannya.
Begitu sampai di tempat yang di tuju, tarian barongsai dan suara petasan meledak langsung terdengar.
Dhung dhuunggg dhuunggg !!
Dorr ! dhorrr ! dhoorrr !!
Seorang prajurit dengan sigap membukakan pintu kereta kuda mewah ini dan yang pertama keluar dari dalam kereta adalah seorang lelaki bertubuh gempal dengan baju mahal yang terbuat dari bahan sutra halus terbaik. Sebuah gambar macan nampak menghiasi baju nya menandakan bahwa dia adalah seorang pejabat tinggi di Kekaisaran Song. Kumisnya tipis juga dengan janggut nya yang memanjang. Sebuah penutup kepala khas pejabat tinggi membuat penampilan lelaki itu semakin sempurna. Sekejap kemudian, Wu Xiao Rong muncul di belakang Gubernur Wu Ming. Wajahnya yang cantik terlihat seperti bulan purnama yang bersinar terang.
Kepala Desa Danau Naga, Feng Yin langsung menyambut kedatangan kedatangan lelaki bertubuh gempal itu dengan penuh hormat.
"Selamat datang di kediaman saya, Tuan Gubernur Wu .."
Feng Yin dan seluruh anggota keluarga Feng membungkukkan badannya pada Wu Ming, Gubernur Wilayah Shou.
"Terimakasih atas sambutan mu, Kepala Desa Feng. Kau sungguh sungguh menghargai ku", ujar Gubernur Wu Ming sambil mengelus jenggotnya.
"Gubernur Wu terlalu sungkan. Ini bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kemeriahan perayaan di Istana Shou..
Karena Gubernur Wu sudah datang, sebaiknya kita segera ke panggung sembahyang di tepi Danau Naga. Segala sesuatu nya sudah saya persiapkan", ujar Kepala Desa Feng Yin sembari menghormat pada Gubernur Wu.
Mendengar perkataan itu, Gubernur Wu Ming mengangguk setuju. Dengan di kawal ratusan prajurit, Gubernur Wu Ming, Wu Xiao Rong, Feng Hao dan Feng Yin segera menuju ke arah panggung kehormatan di tepi Danau Naga.
Setelah semuanya siap, Gubernur Wu Ming beserta seluruh orang yang ada di atas panggung kehormatan melakukan upacara sembahyang Dewa Naga penghuni Danau Naga dengan membakar dupa yang kemudian di letakkan pada bokor kuningan yang menjadi tempat menaruh dupa.
Usai menancapkan dupa pada bokor, Feng Yin menyerahkan sebuah pemukul gong pada Gubernur Wu. Lelaki paruh baya bertubuh gempal itu tersenyum lebar ketika menerima pemukul gong.
"Dengan ini, Perayaan Danau Naga aku buka!"
Dhhhiiiieeeeenggggg....!!
Ratusan petasan pun langsung di sulut begitu gong di pukul oleh Gubernur Wu. Bunyi nyaring ledakan keras petasan langsung diikuti oleh tarian barongsai yang menghibur orang orang yang memadati sekitar tempat itu. Delapan barongsai langsung bergerak cepat menuju ke arah panggung kehormatan dengan menghunus pedang. Rupanya mereka adalah orang-orang penyusup yang di persiapkan oleh Ye Bei untuk membunuh Gubernur Wu.
Melihat pergerakan dari berbagai penjuru menuju ke arah panggung, pimpinan prajurit Gubernur Wilayah Shou yang bertugas untuk menjaga keselamatan Gubernur Wu Ming langsung menyadari bahwa mereka sedang dalam masalah besar. Dengan lantang dia berteriak sekeras mungkin.
"Lindungi Gubernur Wu!!"