Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ulah Rara Kinanti


Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Rara Kinanti. Begitu melihat Endang Patibrata ada disana, penguasa Kadipaten Seloageng ini tersenyum tipis.


"Dia adalah istri ku, Nimas Kinanti. Namanya Endang Patibrata dari Kadipaten Wengker. Baik-baiklah kalian berdua karena sebentar lagi kalian akan menjadi saudara", ucap Panji Tejo Laksono tenang.


"Tapi dia dari tadi terus melotot ke arah ku, Kangmas.. Seperti orang mengajak berkelahi saja", adu Rara Kinanti yang masih merasa tidak nyaman dengan pandangan mata Endang Patibrata.


"Kalian baru bertemu jadi wajar jika butuh waktu untuk saling mengenal. Sudahlah jangan ribut dengan perkara sepele seperti ini.


Nimas Endang Patibrata, kau kurangi pandangan mata mu pada Nimas Kinanti. Kau juga Nimas Kinanti, jangan gampang tersinggung dengan tatapan mata orang lain. Aku capek, ingin beristirahat.


Nimas Endang Patibrata, kau temani aku..", ujar Panji Tejo Laksono sembari melangkah meninggalkan tempat itu menuju ke arah sebuah bilik kamar tidur yang khusus dipersiapkan untuk nya.


Dengan patuh, Endang Patibrata langsung bergegas mengikuti langkah sang suami. Sesaat waktu melewati Rara Kinanti, Endang Patibrata menoleh ke arah putri Pangeran Arya Tanggung itu. Dengan jahilnya Endang Patibrata menjulurkan lidahnya ke arah Rara Kinanti. Seketika itu juga Rara Kinanti langsung tersulut emosi nya melihat ulah perempuan cantik itu.


"Kauuu...


Awas kau nanti ya...", gerutu Rara Kinanti sambil mengepalkan tangannya erat-erat. Segera Rara Kinanti berbalik badan dan melangkah keluar dengan terburu-buru.


Dayang istana yang selalu mengikuti langkah sang putri sampai nyaris terjatuh karena tersandung ujung jarit.


"Gus-Gusti Putri tunggu...


Hooosshhh hooosshhh tunggu hamba", ujar si dayang istana sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya. Saat Rara Kinanti menghentikan langkahnya di depan pintu gerbang Keputran Lodaya, si dayang istana ini pun sampai sesak napas saking cepatnya gerakan sang putri yang diikuti nya.


"Tu-tunggu Gusti Putri hooosshhh hooosshhh..


Kenapa Gusti Putri jalan cepat sekali sih? Hamba sampai mau hooosshhh hooosshhh kehabisan nafas", ucap si dayang istana ini sambil memegangi dadanya yang megap-megap.


"Perempuan itu membuat ku kesal, Warni..


Ingin rasanya aku hajar saja dia karena berani mengejek ku tadi. Dasar perempuan iblis!", omel Rara Kinanti segera.


"Sabar Gusti Putri...


Jangan berbuat yang aneh-aneh. Ingat Gusti Putri itu mau menikah dan harus menjaga sikap agar Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono tidak berpikiran macam-macam", nasehat si emban istana Lodaya yang bernama Warni ini segera. Dia hapal betul dengan sifat junjungan nya itu karena dia telah bersamanya saat Kinanti masih kecil.


Rara Kinanti sejak kecil suka jahil dan iseng mengerjai orang lain. Bahkan hingga saat ini usianya yang menginjak dua windu, sifatnya ini nyaris tak berubah. Dia suka sekali membuat keusilan pada para dayang istana maupun para prajurit penjaga. Bahkan berulang kali dia kabur dari dalam istana Lodaya hanya untuk membuat para pengawal istana sibuk mencari-cari keberadaan sang putri tunggal Pangeran Arya Tanggung ini.


Maklum saja, Dewi Rara Kinanti adalah putri tunggal Pangeran Arya Tanggung yang selalu dimanjakan dengan memenuhi semua keinginan nya. Dia tidak pernah mendengar kata tidak untuk semua keinginannya. Pangeran Arya Tanggung selalu berusaha keras untuk memenuhi semua keinginan sang putri.


Persyaratan bantuan dari pemerintah Lodaya untuk membantu Panji Tejo Laksono, semata-mata hanya untuk memenuhi keinginan sang putri yang telah jatuh cinta pada Panji Tejo Laksono saat pertama kali bertemu di pasar besar Kota Lodaya. Ini pun sejalan dengan keinginan Pangeran Arya Tanggung yang ingin menyerahkan tahta Lodaya pada menantu yang bisa membesarkan nama Lodaya di jajaran kerajaan di Tanah Jawadwipa. Sebab meskipun wilayah Lodaya hanya seluas wilayah Kadipaten Seloageng, namun kepangeranan merdeka ini merupakan penghasil emas dan kerajinan kulit yang cukup besar. Banyak negara manca seperti Jenggala, Blambangan, Bedahulu dan Galuh Pakuan berhubungan baik dengan Lodaya hanya untuk bisa mendapatkan emas dan kulit hewan ternak terbaik dari wilayah yang memanjang di pesisir selatan Pulau Jawa ini.


Telah lama Pangeran Arya Tanggung mencari cara agar Lodaya bisa terikat dengan Panjalu secara kekeluargaan. Meskipun dia sendiri adalah ipar tiri Prabu Jayengrana, namun itu semua dirasa masih belum cukup kuat untuk keterikatan dengan kerajaan besar itu. Di tengah kebuntuan ini, muncul suatu hal yang sudah di nantikan oleh Pangeran Arya Tanggung sejak lama. Panji Tejo Laksono datang berkunjung ke Lodaya dan meminta bantuan kepada pihak Istana Lodaya untuk membantu menghadapi Jenggala. Dan ini dimanfaatkan oleh Pangeran Arya Tanggung dengan sebaik-baiknya.


Setali tiga uang dengan kebutuhan nya, Pangeran Arya Tanggung pun akhirnya bisa mengikat tali kekeluargaan dengan Panjalu. Pun dia juga bisa memenuhi keinginan putri semata wayangnya yang ingin di persunting oleh pangeran sulung Kerajaan Panjalu itu. Oleh karena itu, Istana Lodaya mempersiapkan acara besar-besaran untuk menyambut pernikahan sang putri Dewi Rara Kinanti dengan Panji Tejo Laksono. Pangeran Arya Tanggung bahkan sudah menyiapkan acara pesta rakyat yang akan di gelar selama 7 hari 7 malam di Alun-alun Kota Lodaya. Segala sesuatu nya sudah di persiapkan dengan matang dan penuh perhitungan.


Kembali pada Rara Kinanti, putri Pangeran Arya Tanggung itu mendengus dingin mendengar ucapan sang dayang istana karena tidak puas jika belum menjahili Endang Patibrata. Meskipun dia tidak menjawab omongan sang abdi setia, namun dia telah merencanakan sesuatu hal.


Siang itu, para juru masak istana sibuk menata aneka macam hidangan yang lezat untuk disajikan pada Panji Tejo Laksono dan kawannya. Di sela sela kesibukan itu, Rara Kinanti masuk ke dalam dapur istana. Lalu diam-diam dia menaburkan sesuatu pada piring makanan yang hendak di berikan kepada Endang Patibrata. Secara khusus dia meminta seorang pelayan untuk menaruh makanan itu di depan Endang Patibrata saat makan malam nanti.


Semua orang sudah berkumpul di sasana boga Istana Lodaya untuk menikmati makan malam setelah matahari terbenam di ufuk barat. Endang Patibrata yang selalu menempel pada Panji Tejo Laksono pun duduk di sebelah sang suami. Rara Kinanti mendengus dingin melihat itu semua.


'Tunggu saja kau ya? Siapa yang tertawa nanti tentu saja aku orang nya', batin Rara Kinanti.


Sebelum menikmati hidangan, Pangeran Arya Tanggung sempat mengobrol sebentar dengan Panji Tejo Laksono sebelum mempersilahkan kepada nya untuk bersantap. Juga pada semua orang yang ada di sasana boga. Endang Patibrata segera meraih piring makan yang ada di depannya dan mengisi nya dengan nasi putih hangat dan potongan ikan bakar yang menjadi makanan kesukaannya.


Panji Tejo Laksono yang melihat piring makan di tangan Endang Patibrata langsung meraih ujung piring makan itu sambil tersenyum penuh arti.


"Untuk ku saja.. Terimakasih atas pelayanannya Dinda Patibrata", ujar Panji Tejo Laksono sambil mulai memasukan potongan ikan bakar itu ke mulutnya. Endang Patibrata hanya menggeleng melihat ulah suaminya itu. Dia segera mengambil piring makan lainnya dan mengisinya dengan makanan yang tersaji di meja.


Baru beberapa suap ikan bakar masuk ke perutnya, Panji Tejo Laksono merasakan perutnya mulas bukan main. Segera dia meletakkan piring makan itu keatas meja. Ini dilihat oleh Pangeran Arya Tanggung.


"Kenapa Nakmas Pangeran? Apa ada yang salah dengan makanan ini?", tanya Pangeran Arya Tanggung yang melihat wajah Panji Tejo Laksono merah padam.


Semua orang langsung menoleh ke arah Panji Tejo Laksono. Termasuk Rara Kinanti yang duduk di sebelah Ratu Dewi Anggraeni. Betapa terkejutnya ia melihat Panji Tejo Laksono yang terkena obat pencuci perut yang dia pasang untuk Endang Patibrata.


"Ada racun di dalam makanan ini, Paman Pangeran Arya Tanggung..


Mohon maaf jika aku terpaksa harus mengeluarkan nya", ujar Panji Tejo Laksono sembari merentangkan kedua tangannya ke depan perut, memutar dua kali dan dengan cepat memegang kedua lututnya yang sedang duduk bersila.


APPAAAAAAAAAAAA?!!!!


Semua orang terkejut bukan main mendengar ucapan Panji Tejo Laksono. Pangeran Arya Tanggung bahkan langsung berdiri dari tempat duduknya saking kagetnya.


Krrriiiuuukkkkk!!


Terdengar suara perut Panji Tejo Laksono. Aliran tenaga dalam nya terkumpul pada lambungnya dan memaksa seluruh isi perut nya untuk keluar. Endang Patibrata yang cekatan, langsung menyambar bokor kuningan yang ada di pojokan ruangan.


Hhoooeeeeggggghhh!!


"I-itu obat pembersih perut. Meskipun tidak berbahaya tapi sangat menyakitkan. Siapa yang berani kurang ajar berbuat seperti ini?", ucap Pangeran Arya Tanggung dengan wajah merah padam menahan marah. Matanya nanar menatap ke arah para pelayan istana yang menyajikan makanan.


"Para pelayan dan juru masak istana!!!


Semuanya cepat kemari! Satupun jangan ada yang terlewat!!"


Suara keras Pangeran Arya Tanggung membuat para juru masak dan pelayan istana langsung ketakutan setengah mati. Semuanya langsung pucat seketika dan buru-buru berkumpul di dekat meja makan.


"Siapa yang memasak ikan bakar itu? Cepat jawab!", ucap Pangeran Arya Tanggung keras.


Seorang lelaki paruh baya bertubuh sedikit gemuk yang merupakan salah satu juru masak istana langsung melangkah maju ke depan.


"Mohon ampun Gusti Pangeran..


Hamba yang memasak ikan bakar itu. Tapi hamba berani bersumpah di sambar geledek jika hamba berani memasukkan obat pembersih perut di dalamnya. Dan selain Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, yang lain juga tidak apa-apa memakan ikan bakar masakan hamba. Itu artinya, bukan ikan bakar nya yang bermasalah Gusti Pangeran..", ucap juru masak istana itu sembari menyembah pada Pangeran Arya Tanggung.


Hemmmmmmm...


"Sepertinya kau benar, Ki Rengging..


Aku juga menyantap ikan bakar itu tapi aku tidak apa-apa. Pelayan, coba bawa piring makan itu kemari", Pangeran Arya Tanggung menunjuk ke arah piring makan yang di gunakan oleh Panji Tejo Laksono. Seorang gadis muda segera menghaturkan piring makan itu dengan kedua tangannya.


Begitu Pangeran Arya Tanggung memegang piring makan, hidungnya langsung membaui sesuatu yang harum di bibir piring makan itu. Matanya melotot lebar kala melihat sisa serbuk merah di bawah tumpukan nasi.


"Jahanam!!!


Siapa yang menata piring makan di sasana boga ini? Cepat maju!!!"


Sepuluh orang dayang istana melangkah maju dengan wajah pucat pasi. Mereka sungguh sangat ketakutan setengah mati akan menerima hukuman dari junjungan mereka.


"Sekarang katakan pada ku, siapa diantara kalian yang menaruh obat pembersih perut di piring makan ini?", Pangeran Arya Tanggung menatap wajah para pelayan istana itu satu persatu.


Seorang gadis muda yang menata piring makan itu dengan takut-takut melangkah maju.


"Hamba yang menata piring makan di tempat itu, Gusti Pangeran. Tapi hamba bersumpah, hamba tidak pernah menaruh obat pembersih perut itu disana", air mata si dayang istana ini berurai sambil menyembah pada Pangeran Arya Tanggung.


Belum sempat Pangeran Arya Tanggung bicara, juru masak istana tua itu maju ke depan sembari menghormat.


"Mohon ampun Gusti Pangeran jika hamba lancang. Tadi hamba melihat Gusti Putri Dewi Rara Kinanti masuk ke dalam dapur istana dan menyentuh piring makan itu", lapor sang juru masak tua itu segera.


Pangeran Arya Tanggung terhenyak mendengar ucapan itu. Dia segera sadar bahwa ini adalah ulah dari putri kesayangannya. Tanpa menunggu lama, Pangeran Arya Tanggung langsung melangkah ke arah Rara Kinanti yang tertunduk tanpa berani mengangkat kepalanya. Dan...


Plllaaaakkkkk!!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Sebuah tamparan keras di terima oleh Rara Kinanti dari ayahnya. Gadis cantik itu langsung terduduk sambil memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan sang ayah.


"Anak kurang ajar!!!


Apa mau mu dengan berbuat nakal seperti ini ha? Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono, Prabu Jayengrana akan menyerbu ke tempat ini. Apa otak mu tidak kau pakai???", murka sudah Pangeran Arya Tanggung.


Saat hendak melampiaskan kekesalannya lagi, Ratu Dewi Anggraeni langsung menahannya.


"Sudah Kangmas Pangeran sudah...


Kinanti sudah menerima hukuman dari mu dan menyadari kalau dia sudah berbuat salah. Jangan berbuat kasar lagi padanya", kata Dewi Anggraeni segera.


"Tapi Dinda Ratu..


Bocah ini sudah sangat keterlaluan sekarang. Dia harus ku beri pelajaran agar tidak berbuat nakal lagi di masa depan..", ujar Pangeran Arya Tanggung sembari hendak menampar lagi Rara Kinanti yang masih duduk bersimpuh di lantai sasana boga.


"Paman Pangeran Arya Tanggung, cukup!!"


Ucapan Panji Tejo Laksono itu seketika menghentikan langkah Pangeran Arya Tanggung. Dia segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang di bantu berdiri oleh Endang Patibrata.


"Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono, kau baik-baik saja bukan?", Pangeran Arya Tanggung segera mendekati Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata.


"Secara umum, aku tidak ada masalah Paman. Tapi perut masih mulas dan terasa sakit. Sebaiknya aku istirahat lebih dulu untuk memulihkan tenaga ku", setelah berkata demikian Panji Tejo Laksono langsung berbalik badan dan melangkah menuju ke arah Keputran Lodaya di iringi oleh Endang Patibrata yang menjadi tumpuan nya.


"Tunggu Nakmas Pangeran..


Kau tidak marah dengan ulah Rara Kinanti bukan? Kau tidak akan membatalkan rencana pernikahan kalian bukan?", berondong pertanyaan terlontar dari Pangeran Arya Tanggung. Bagaimanapun, ulah Rara Kinanti ini pasti menimbulkan kesan kekecewaan yang mendalam di hati Panji Tejo Laksono.


Sang pangeran muda dari Kadiri itu berhenti sejenak. Suasana menjadi hening. Sebelum mulai melanjutkan langkahnya ke Keputran Lodaya, Panji Tejo Laksono berkata,


"Itu semua bergantung pada sikapnya"