
"Saudara kecil,
Kau kenapa gegabah sekali? Apa kau benar benar sudah bosan hidup? Jangankan kau, aku saja belum tentu bisa menahan tiga pukulan Pendeta Chan San Fung", pekik Biksu Kong Bao yang kaget mendengar keberanian Panji Tejo Laksono.
Mendengar perkataan Ketua Kuil Shaolin ini, Panji Tejo Laksono tersenyum tipis.
"Tuan Biksu,
Aku berterimakasih atas semua kebaikan hati mu membela ku di depan Tetua ini. Tapi ajaran ayah ku tentang seorang ksatria sejati tidak bisa aku abaikan.
Menurut ayahku, seorang ksatria sejati adalah seorang yang menanggung beban hidupnya, keluarga dan negara nya diatas kepentingan pribadi. Seorang ksatria sejati tidak akan mengorbankan orang lain hanya untuk bisa menjadi yang terbaik. Dia harus berjuang keras sendiri, tidak mengandalkan bantuan nama besar keluarga juga mengandalkan kekuatan teman untuk bisa berdiri tegak. Dia harus berdiri di atas kakinya sendiri.
Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih atas semua kebaikan hati mu, Tuan Biksu. Mohon Tuan Biksu mengijinkan aku untuk menjadi seorang ksatria sejati seperti didikan ayah ku", Panji Tejo Laksono membungkuk hormat kepada Biksu Kong Bao.
"Amitabha...
Sungguh sebuah kehormatan besar bagi Kuil Shaolin menerima kedatangan mu. Rupanya hari ini ada seorang pria agung yang kelak akan menjadi seorang ksatria sejati.
Sancai sancai, kalau begitu aku tidak akan mengganggu jalan ksatria mu lagi, saudara kecil. Mengenai nasib mu, semoga Sang Buddha selalu melindungi mu", Biksu Kong Bao menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum melangkah ke arah tepi halaman Kuil Shaolin, dimana Biksu Hong Ki, Biksu Hong Jian dan Biksu Hong Yi bersama puluhan murid Kuil Shaolin berdiri menyaksikan pertandingan antara Panji Tejo Laksono dan para murid Gunung Wu Tang.
Setelah Biksu Kong Bao pergi, Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra Ajian Tameng Waja miliknya. Sebuah sinar kuning keemasan menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono lalu menghilang dari pandangan mata.
"Tetua,
Silahkan mulai saja. Aku sudah siap", ujar Panji Tejo Laksono sembari bersedekap tangan di depan dada.
Huuuuhhhhhh...
"Bocah, jangan salahkan aku bertindak kejam. Kau sendiri yang mencari perkara dengan Perguruan Gunung Wu Tang!", usai berkata demikian Chan San Fung segera mengumpulkan tenaga dalam nya pada telapak tangan kanannya hingga sinar biru redup berhawa dingin terkumpul di sana.
Usai siap, Guru besar Gunung Wu Tang itu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang masih berdiri tegak di tempat nya. Tapak tangan kanan Chan San Fung yang berwarna biru redup langsung menghantam dada Panji Tejo Laksono.
Blllaaammmmmmmm !!
Ledakan dahsyat terdengar saat tapak tangan kanan Chan San Fung bersentuhan dengan kulit Panji Tejo Laksono yang tiba-tiba muncul sinar kuning keemasan menutupinya. Asap putih tebal mengepul menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.
Ketua Sekte Gunung Wu Tang itu terhenyak kaget karena pukulan tapaknya membuat nya terpelanting jauh ke belakang. Tak ingin malu, Chan San Fung segera berjumpalitan di udara dan mendarat sembari terseret mundur beberapa tombak dengan kaki berlutut.
Semua orang terkejut bukan main melihat kejadian itu.
"Guru,
I-itu pemuda itu juga menguasainya", Biksu Hong Yi tergagap berbicara sembari menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono.
"Mata ku masih awas, Hong Yi.
Tak perlu kau tunjukkan pada ku, aku juga sudah melihatnya", sahut Biksu Hong Ki tanpa menoleh ke arah murid keduanya itu. Biksu Hong Ki yang pernah berhadapan langsung dengan Panji Watugunung saat menggunakan Ajian Tameng Waja hanya menghela nafas berat sembari melirik ke arah Chan San Fung yang terpana dengan kejadian yang dialami oleh nya.
"Pendeta tua itu akan segera mendapatkan pelajaran yang berharga", gumam Biksu Hong Jian lirih. Meskipun ucapan itu nyaris tak terdengar, namun Kepala Kuil Shaolin Biksu Kong Bao mendengar gumaman itu.
"Apa maksud dari ucapan mu itu, Hong Jian?
Apa kau tahu sesuatu tentang saudara kecil ini?", tanya Biksu Kong Bao segera.
"Amitabha..
Aku tidak berhak untuk menceritakan nya, Kepala Biara.. Guru ku yang berhak membicarakannya, mohon kepala biara bertanya langsung kepada nya. Mendengar perkataan itu, Biksu Kong Bao segera menoleh ke arah Biksu Hong Ki. Namun sebelum dia bicara, Biksu Hong Ki sudah lebih dulu mengangkat tangan kanannya dan bicara.
"Adik Kong Bao,
Aku tidak ingin menceritakan apapun sekarang. Setelah pertandingan ini berakhir, aku akan menceritakan semuanya pada mu".
Mendengar omongan Biksu Hong Ki, Biksu Kong Bao hanya menghela nafas panjang sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono dan Chan San Fung.
Guru besar Sekte Gunung Wu Tang itu nampak mengibaskan tangannya yang terasa kebas dan ngilu. Saat tangan kanannya bersentuhan dengan kulit Panji Tejo Laksono, rasanya seperti menghantam lempengan logam keras seperti baja.
'Dasar bedebah!
Rupanya dia sudah menyembunyikan ilmu beladiri nya untuk menahan pukulan ku. Tapi aku tidak percaya kalau aku tidak bisa menjatuhkan nya', batin Chan San Fung.
Saat asap putih tebal mulai menghilang, semua mata tertuju pada sosok Panji Tejo Laksono yang masih berdiri kokoh seperti sebongkah batu karang yang tetap saja tegak berdiri meski di hantam gelombang besar. Para penonton mulai berbisik bisik pada kawan di sebelah nya mengenai akhir pertandingan ini.
"Tetua,
Aku siap menerima pukulan kedua!", teriak Panji Tejo Laksono yang langsung disambut tepuk tangan oleh semua orang yang menyaksikan pertarungan hidup mati di halaman Kuil Shaolin. Untuk menutupi rasa malunya, Chan San Fung langsung berteriak keras.
"Anak muda,
Kau jangan sombong. Aku belum menggunakan separuh tenaga dalam ku. Sekarang waktunya kau untuk merasakan kekuatan sesungguhnya dari Chan San Fung".
Setelah berkata demikian, Chan San Fung mengerahkan hampir dua pertiga tenaga dalam nya pada tangan kanannya. Cahaya biru terang berhawa dingin yang sanggup membekukan tulang belulang tercipta di tapak tangan kanan pemimpin tertinggi Sekte Gunung Wu Tang itu.
Kang Xi Long, murid kedua Wu Tang langsung berseru keras, " Lihat, guru sudah menggunakan Tapak Pembeku Langit nya. Pemuda itu pasti mati".
Mendengar seruan itu, semua murid Perguruan Gunung Wu Tang langsung tersenyum lebar. Di pikiran mereka, Panji Tejo Laksono sudah bisa di pastikan kematiannya.
Setelah menjejak tanah dengan keras, tubuh Chan San Fung melenting tinggi ke udara dan meluncur turun secepat kilat ke arah Panji Tejo Laksono dan menghantam dada putra sulung Prabu Jayengrana itu segera.
Blllaaammmmmmmm !!!
Ledakan dahsyat kembali terdengar dari benturan Ajian Tameng Waja milik Panji Tejo Laksono dan Tapak Pembeku Langit dari Chan San Fung. Asap tebal kembali menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono dan Chan San Fung terdorong mundur kembali. Hampir saja dia jatuh, namun kali ini sebuah batu yang ada di halaman Kuil Shaolin menyelamatkan diri nya. Menggunakan batu sebesar kepala manusia itu sebagai pijakan, Chan San Fung merubah gerakan tubuhnya dan kembali mendarat di samping para murid nya.
"Tubuh Emas?"
Dua kata itu langsung keluar dari hampir semua mulut para penonton yang memadati tepi halaman Kuil Shaolin.
"Apa maksud omongan mereka, Purusoma?
Coba kamu terangkan pada ku kali ini saja", ujar Demung Gumbreg segera.
"Mereka semua berkata tentang Tubuh Emas, Mbreg..
Semua orang mengira bahwa Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memiliki tubuh istimewa seperti dalam cerita rakyat Kekaisaran Dinasti Song ini", jawab Rakryan Purusoma sembari terus mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Ah mereka semua tidak tahu apa apa, Purusoma..
Itu Ajian Tameng Waja. Gusti Prabu Jayengrana juga punya. Ketiga biksu tua itu juga pernah merasakan kehebatan nya saat bertarung melawan Gusti Prabu Jayengrana dulu. Dasar kurang wawasan..", sahut Gumbreg sambil mencebikkan bibir nya.
Chan San Fung langsung terkejut bukan main melihat Panji Tejo Laksono memiliki ilmu Tubuh Emas seperti dalam dongeng. Namun nama besar dan rasa gengsinya membuat nya tak bisa mengaku kalah pada Panji Tejo Laksono.
Segera dia mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki. Rupanya dia ingin mengadu kesaktian tertinggi melawan Panji Tejo Laksono. Seluruh tubuhnya membiru akibat sinar biru gelap yang melingkupi seluruh sembari mengeluarkan hawa dingin yang menakutkan.
Sekejap waktu terasa berhenti. Seluruh teriakan kecemasan dari para pendukung Panji Tejo Laksono pun langsung senyap. Disaat itulah, Roh Naga Api muncul di hadapan Panji Tejo Laksono.
"Panji Tejo Laksono,
.
Tenaga dalam orang tua ini hanya setingkat lebih rendah dari ayahmu. Gunakan seluruh tenaga dalam mu. Selebihnya biar aku yang mengurus", ujar Roh Naga Api sembari mengibaskan rambutnya.
"Aku mengerti, Naga Api. Terimakasih kau selalu melindungi ku", balas Panji Tejo Laksono yang segera mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada Ajian Tameng Waja miliknya. Sedangkan dari dalam tubuh Panji Tejo Laksono, kabut merah perlahan melapisi kulit sang pangeran muda.
Begitu selesai, waktu kembali berjalan seperti biasa.
Chan San Fung melesat cepat bagai kilat ke arah Panji Tejo Laksono. Sambil menggeram keras, dia menghantamkan tapak tangan kanan kirinya bertubi-tubi kearah Panji Tejo Laksono.
Blllaaammmmmmmm blllaammm....
Dhuuaaaaaaarrrrrr !!!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar, menciptakan gelombang kejut besar yang sanggup membuat hampir semua orang yang menyaksikan pertandingan ini terhempas jatuh.
Panji Tejo Laksono terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Seteguk darah segar mengalir keluar dari sudut bibirnya. Namun itu hanya luka dalam ringan.
Beda nasib dialami oleh Chan San Fung. Pemimpin Sekte Gunung Wu Tang itu terpental jauh ke belakang. Hampir 5 tombak jauhnya dari tempat nya beradu ilmu beladiri melawan Panji Tejo Laksono. Tubuh lelaki paruh baya itu baru berhenti setelah menghantam sebuah pohon persik yang tumbuh di sudut halaman Kuil Shaolin. Lelaki paruh baya itu muntah darah segar banyak sekali.
Para murid Perguruan Gunung Wu Tang langsung bergegas menuju ke guru mereka yang sedang dalam keadaan tidak berdaya di bawah pohon persik.
Biksu Kong Bao segera memerintahkan kepada para murid Shaolin untuk menyiapkan tempat bagi Chan San Fung agar bisa meringankan luka dalam nya. Para murid Perguruan Gunung Wu Tang segera memapah tubuh Chan San Fung ke tempat yang di sediakan.
Sementara itu, Panji Tejo Laksono langsung di kerubungi Putri Song Zhao Meng, Huang Lung dan Luh Jingga beserta para pengikut mereka.
"Kakak Thee...
Kau luka dalam ya? Kau baik baik saja bukan? Bajingan keparat Gunung Wu Tang, akan ku minta ayahanda Kaisar Huizong untuk melenyapkan mereka", umpat sang putri Kaisar Huizong sembari menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono dengan penuh kekhawatiran.
"Kenapa harus menunggu prajurit Kaisar? Hari ini juga aku akan balas dendam", Huang Lung hendak bergerak namun ucapan Panji Tejo Laksono langsung menghentikan nya.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku baik baik saja kog. Hanya luka kecil, di pakai untuk istirahat juga sudah bisa sembuh sendiri"..
Mendengar penuturan Panji Tejo Laksono, Putri Song Zhao Meng dan Huang Lung menarik nafas lega.
Setelah pertandingan ini, Putri Song Zhao Meng segera melakukan sembahyang pada Buddha di temani oleh Biksu Kong Bao dan beberapa tetua Kuil Shaolin. Karena Kuil Shaolin tidak menerima tamu bermalam untuk perempuan, maka setelah upacara sembahyang berakhir, Putri Meng Er dan Panji Tejo Laksono beserta para pengikut mereka, memutuskan untuk bermalam di penginapan tempat para prajurit mereka menunggu.
Di kaki Gunung Song sebelum mereka sampai di penginapan, tiba-tiba hujan deras mengguyur. Huang Lung yang melihat sebuah bangunan mengajak mereka untuk berteduh di sana. Hujan semakin deras mengguyur seluruh wilayah tempat itu.
Sepertinya tempat mereka berteduh merupakan bekas bangunan kuil. Terbukti ada sebuah patung Dewi Kwan Im di ruangan utama. Tempat itu begitu kotor dengan banyaknya debu dan sarang laba-laba dimana-mana.
Karena atap bangunan banyak yang bocor mereka terpaksa memilih beberapa tempat terpisah untuk menghindari air hujan yang merembes masuk.
Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga yang tak pernah jauh, terpaksa harus berbagi tempat dengan Putri Song Zhao Meng dan Huang Lung karena di sudut ruangan dekat patung Dewi Kwan tempat mereka berteduh adalah satu satunya tempat yang paling luas sebagai tempat untuk berlindung dari air hujan yang turun dengan derasnya.
Para pengikut mereka memilih tempat beristirahat sendiri sendiri di kuil tua ini, yang penting tidak terkena air hujan.
Hari semakin gelap. Pandangan mata pun menjadi terbatas. Huang Lung mengumpulkan beberapa lilin pendek dan menyulut nya agar menjadi penerangan senja itu.
Suara guntur tiba tiba menggelegar di langit berbarengan dengan kilat menyambar. Putri Song Zhao Meng yang ketakutan setengah mati langsung memeluk tubuh Panji Tejo Laksono yang sedang duduk di lantai kuil tua itu dengan erat.
"Tuan Putri, kau kenapa?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
Sambil terus memeluk tubuh Panji Tejo Laksono, Putri Song Zhao Meng dengan tubuh menggigil hebat menahan rasa takut, menjawab pertanyaan tersebut.
"Aku takut petir, Kakak Thee..."
Dua orang gadis cantik lainnya di dekat Panji Tejo Laksono menatap sebal kearah Putri Song Zhao Meng yang mereka anggap mencuri kesempatan untuk berdekatan dengan Panji Tejo Laksono.
Hujan deras terus mengguyur tempat itu seakan di tumpahkan semua dari langit. Cuaca terasa begitu dingin menusuk tulang. Tiba-tiba saja pintu depan kuil tua itu terbuka, dan sebuah bayangan terlihat muncul di sana.
"Wah ada banyak orang rupanya"