
"Benar Kakang..
Kita harus segera melaporkan tewasnya pimpinan ketujuh pada pimpinan kelima. Kabar ini harus segera sampai pada pimpinan utama kita", ujar si anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang bertubuh sedikit gempal itu sembari terus berlari cepat mengimbangi kecepatan kawannya.
"Iya adik, aku benar benar tidak menyangka bahwa pimpinan baru Kadipaten Seloageng adalah seorang yang sakti mandraguna. Dia dengan mudahnya di bunuh oleh orang itu, ini bisa berbahaya bagi kelompok kita jika sampai ada tindakan lanjutan", ujar si tubuh kurus yang berbicara sambil terus berlari cepat melintasi jalan setapak yang membelah hutan di wilayah timur Kadipaten Seloageng.
"Ayo kita cepat ke Tumapel, Kakang!", setelah berkata demikian, si tubuh gempal dengan segera menambah tenaga dalam nya hingga tubuhnya melesat cepat bagaikan terbang menapaki jalan sepi itu. Si tubuh kurus langsung bergegas mengejarnya.
Tumapel adalah sebuah Pakuwon yang terletak di tepi barat Kadipaten Kanjuruhan yang merupakan wilayah Kerajaan Jenggala. Daerah ini terletak di kaki sebelah tenggara Gunung Kawi. Tanahnya subur dengan persawahan yang luas. Karena itu Tumapel menjadi lumbung pangan bagi Kadipaten Kanjuruhan dan menjadi wilayah paling makmur diantara wilayah lainnya. Sungai Lawor menjadi batas alam dengan wilayah Pakuwon Weling yang masuk wilayah Panjalu. Di sisi selatan, ada Sungai Brantas yang juga menjadi batas alam dengan Kadipaten Singhapura yang juga merupakan wilayah Kerajaan Panjalu di tenggara.
Karena berada di perbatasan, Tumapel sering dijadikan tempat pelarian para penjahat yang di buru oleh para prajurit Panjalu. Karena itu banyak sekali kelompok kelompok penjahat yang bermukim di beberapa tempat tersembunyi di wilayah pakuwon itu. Mereka menyembunyikan harta rampasan mereka dan menyamar sebagai warga biasa.
Seorang perempuan paruh baya namun masih terlihat cantik terlihat sedang mengarahkan beberapa orang pekerja yang sibuk menjemur ikatan padi di halaman rumah nya. Meskipun sudah berumur, namun gurat kecantikan wanita itu masih kentara. Dandanan nya yang terlihat berbeda dengan orang kebanyakan, membuat semua orang langsung tahu bahwa dia adalah orang kaya. Giwang emas, tusuk konde bermata intan dan gelang emas serta pakaiannya yang berwarna biru muda dengan kemben berwarna hijau tua dan terbuat dari bahan mahal seakan menjadi penanda kekayaan yang dimilikinya.
Namanya Nyi Dadap Segara, entah itu nama asli atau samaran, yang jelas penduduk sekitarnya mengenalnya dengan sebutan itu. Perempuan cantik itu terkenal dermawan karena sering membagikan bahan makanan kepada penduduk sekitarnya hingga menganggapnya sebagai dewi penolong warga masyarakat Wanua Siganggeng. Perempuan itu datang ke Wanua Siganggeng sekitar 20 tahun yang lalu, dan perlahan tapi pasti masyarakat di sekitarnya segera mengenalnya sebagai pedagang hasil bumi yang kaya raya. Dia sering bepergian ke luar daerah dengan barang dagangan yang di beli dari para penduduk Wanua Siganggeng dan kembali dengan membawa uang yang banyak.
Namun anehnya, meski dia adalah seorang janda dengan seorang anak perempuan, tak ada satupun warga Wanua Siganggeng yang berani mendekati nya. Ki Suto yang terkenal sebagai orang kaya yang mata keranjang dan suka main perempuan saja tak berani untuk menggoda Nyi Dadap Segara.
"Wati... Balik saja ikatan padi yang di ujung itu supaya cepat kering..", ujar Nyi Dadap Segara pada salah seorang pekerja nya yang merupakan seorang gadis desa.
"Baik Nyi", jawab Wati sembari bergegas melaksanakan perintah majikannya.
"Ingat ya, mumpung cuaca sedang bagus jadi kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Padi padi ini harus kering karena besok pagi akan ku kirimkan ke luar daerah.
Kalian mengerti bukan?", Nyi Dadap Segara mengedarkan pandangannya pada 8 orang pekerja yang sedang sibuk mengatur posisi ikatan padi itu agar terkena sinar matahari.
"Kami mengerti Nyi", jawab kedelapan orang itu bersamaan. Nyi Dadap Segara tersenyum tipis mendengar jawaban kedelapan orang pekerjanya itu.
Seorang gadis remaja berusia satu setengah dasawarsa berlari mendekati Nyi Dadap Segara. Paras gadis ini cantik, mirip dengan Nyi Dadap Segara. Dengan pakaian nya yang berwarna hijau muda dan jarit selutut membuat penampilan gadis remaja itu benar-benar menarik perhatian. Dia adalah Mustikasari, putri semata wayang Nyi Dadap Segara.
"Biyung Biyung.. Aku baru saja menangkap belalang di belakang rumah. Biyung mau lihat tidak?", ujar Mustikasari sambil menggenggam seekor belalang di tangannya.
"Ckckckck...
Sari sari, kau ini sudah gede. Sebentar lagi kau akan menikah, kenapa kelakuan mu masih seperti anak kecil? Sampai kapan kau akan bermain-main terus?", Nyi Dadap Segara menggelengkan kepalanya melihat ulah putri semata wayangnya itu.
"Ah Biyung...
Aku belum mau menikah sekarang. Aku belum mau mengurus suami atau merawat bayi. Sekarang aku hanya mau menemani biyung saja", balas Mustikasari sambil meringis kecil. Mendengar jawaban itu, Nyi Dadap Segara tersenyum tipis saja.
Di saat yang bersamaan, ekor mata Nyi Dadap Segara melihat dua bayangan hitam berkelebat di balik rimbun pepohonan yang tumbuh di kebun samping rumahnya. Perempuan cantik paruh baya itu segera menoleh ke arah Mustikasari.
"Nduk Cah Ayu, sekarang masuk ke dalam rumah.. Nanti panas matahari akan menyengat kulit mu. Kalau sampai kau gosong seperti arang, tidak ada lagi lelaki yang mau memperistri mu. Cepat masuk ke dalam rumah sana..
Biyung ada urusan ke rumah Ki Joyo", perintah Nyi Dadap Segara pada Mustikasari. Gadis remaja cantik itu dengan patuh segera melangkah ke arah rumah, sementara itu Nyi Dadap Segara segera menoleh ke arah dua orang centeng bertubuh gempal yang selalu menjaga kediamannya.
"Wugu, Taliwangke..
Ikut aku sekarang!!", usai berkata demikian, Nyi Dadap Segara segera melangkah meninggalkan kediamannya dan dua centeng nya segera mengikuti langkah sang majikan. Setelah tak ada orang yang memperhatikan mereka, ketiganya segera melesat cepat mengejar dua bayangan hitam yang bergerak ke ujung Wanua Siganggeng.
Di tepi barat Wanua Siganggeng, tepatnya di tepi sebuah hutan kecil yang di belah oleh sungai kecil yang bermuara di Sungai Brantas, Nyi Dadap Segara dan kedua centeng nya menghentikan gerakan mereka. Dua orang bayangan hitam yang tak lain adalah anak buah Resi Mpu Wisesa itu sudah menunggu kedatangan mereka. Keduanya segera menghormat pada Nyi Dadap Segara.
"Berita apa yang kalian bawa? Kenapa berani sekali muncul di kediaman ku?", tanya Nyi Dadap Segara dengan nada dingin. Dia sama sekali tidak suka jika ada anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang datang ke tempat nya apapun itu alasannya.
"Ampuni kami, Pimpinan Kelima..
Ada berita buruk yang perlu segera Pimpinan Kelima tahu. Pimpinan ketujuh, Resi Mpu Wisesa terbunuh oleh penguasa baru Kadipaten Seloageng, Panji Tejo Laksono, putra sulung Prabu Jayengrana dari Kadiri", ujar si tubuh kurus segera.
Mendengar laporan itu, Nyi Dadap Segara terkejut bukan main. Bagaimanapun, meski Resi Mpu Wisesa hanya peringkat ketujuh, namun kemampuan beladiri yang dimiliki orang tua itu setara dengan nya. Diantara mereka bertujuh, hanya pimpinan kedua dan ketiga saja yang merupakan pendekar paling tinggi ilmunya sedangan sang pimpinan utama Si Malaikat Bertopeng Emas sama sekali belum pernah memamerkan kekuatannya, namun Si Malaikat Bertopeng Emas memiliki ilmu yang sanggup membuat pimpinan kedua dan ketiga gemetar ketakutan.
"Tua bangka itu...
Akhirnya ada yang bisa membunuhnya juga hihihi... Aku tidak perlu repot-repot lagi untuk bertarung melawan nya..
"Kami mengerti Pimpinan Kelima", ujar keduanya yang segera menghormat pada Nyi Dadap Segara. Dua orang itu kemudian melesat cepat ke arah barat untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Nyi Dadap Segara. Setelah keduanya pergi, Nyi Dadap Segara segera menoleh ke arah Taliwangke yang berdiri di belakangnya.
"Taliwangke, ku utus kau ke Lembah Kalong untuk mengabarkan berita ini pada pimpinan kedua. Usahakan secepat mungkin kau sampai kesana. Pergilah!".
Yang dimaksud segera menghormat pada Nyi Dadap Segara lalu secepat kilat berlari cepat kearah Utara. Dalam sekejap mata, Taliwangke sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.
"Wugu, kita kembali ke rumah. Kau urus semua perlengkapan kita. Besok pagi kita berangkat ke Seloageng", sambung Nyi Dadap Segara seraya menoleh ke arah Wugu si badan gempal.
"Tapi pimpinan, bukankah besok kita harus mengantar barang ke Juragan Karto di Kanjuruhan? Kita sudah berjanji padanya tempo hari ", bantah Wugu dengan penuh hormat.
"Turuti saja omongan ku, jangan membantah!Urusan Juragan Karto kita pikirkan nanti saja. Si Adipati baru Seloageng ini membuat ku penasaran. Kita tidak boleh berdiam diri saja karena dia berani mengusik Kelompok Bulan Sabit Darah.
Nanti malam aku akan menemui kakak seperguruan ku untuk meminta bantuan", ujar Nyi Dadap Segara segera.
"Baik Pimpinan Kelima", jawab Wugu sambil menghormat pada Nyi Dadap Segara. Keduanya segera bergegas kembali ke Wanua Siganggeng untuk bersiap-siap.
Saat malam menjelang tiba, Nyi Dadap Segara terlihat celingukan kesana-kemari di belakang rumah nya. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang yang melihatnya, perempuan cantik paruh baya itu komat kamit merapal mantra dan sebentar kemudian dia sudah menghilang dari pandangan mata.
Di lereng Gunung Kawi, tepatnya di sebuah pondok kayu yang terletak di tepi air terjun kecil yang mengalir dari atas tebing, seorang lelaki bertubuh gempal dengan mengenakan cawat pendek berwarna abu2 dan ikat kepala hitam sedang duduk di depan perapian yang berkobar. Terlihat dia sedang membolak-balik singkong di bara api perapian. Hebatnya, dia menggunakan tangannya langsung tanpa sedikitpun merasa kesakitan karena menyentuh bara api.
Mata lelaki paruh baya berjenggot lebat itu melirik ke arah samping kirinya. Secepat kilat dia melemparkan sepotong singkong bakar kearah kegelapan malam.
Whuuthhh !!
Praaakkkkkkkkk !!
Terdengar suara tepukan keras dan singkong bakar langsung hancur berantakan dan Nyi Dadap Segara keluar dari gelapnya malam sambil tersenyum.
"Kau masih tetap hebat seperti dulu, Kakang Pancatnyana", ujar Nyi Dadap Segara seraya berjalan mendekati sosok lelaki bertubuh gempal itu.
"Kau juga sama, Mustakaweni eh aku lupa jika nama mu sekarang adalah Nyi Dadap Segara hehehehe ", jawab lelaki bertubuh gempal yang dipanggil dengan nama Pancatnyana ini.
"Aku sudah mengubur dalam-dalam nama Mustakaweni, Kakang Pancatnyana. Bagiku, itu hanya bagian dari masa lalu yang tidak perlu lagi diingat. Kabar mu baik baik saja, Kakang Pancatnyana?", Nyi Dadap Segara segera duduk di atas potong kayu besar di dekat perapian untuk menghangatkan badan. Udara di sekitar lereng Gunung Kawi memang dingin.
"Seperti yang kau lihat, Nyi Dadap Segara. Aku baik-baik saja. Tapi kedatangan mu bukan hanya sekedar untuk menanyakan kabar ku bukan? Kalau kau sampai menggunakan Ajian Langkah Yaksa ajaran guru kita, tentu ada sesuatu yang penting", ujar Ki Pancatnyana yang ikut duduk berseberangan dengan Nyi Dadap Segara. Mendengar perkataan itu, Nyi Dadap Segara tersenyum tipis.
"Kau memang paling mengerti aku, Kakang.
Kedatangan ku kemari untuk meminta bantuan kepada mu. Adipati baru Seloageng, Panji Tejo Laksono putra sulung Prabu Jayengrana dari Panjalu baru saja membunuh kawan ku, Resi Mpu Wisesa. Jika Resi Mpu Wisesa saja tidak mampu melawannya, itu artinya aku pun tak sanggup untuk mengalahkan nya. Karena itu aku harap Kakang Pancatnyana bersedia untuk membalaskan dendam kepada nya", ujar Nyi Dadap Segara segera.
Hemmmmmmm
Terdengar dengusan nafas panjang dari mulut Ki Pancatnyana sebelum berbicara. Lelaki paruh baya bertubuh gempal itu terlihat mengingat sesuatu.
"Panji Tejo Laksono putra sulung Prabu Jayengrana ya?
Bapaknya sudah membunuh guru ku, Iblis Bukit Jerangkong. Jika Pedang Tulang Iblis bisa meminum darah bocah itu, tentu dendam guru ku akan sedikit terobati.
Baiklah aku bersedia untuk membantu mu, Nyi Dadap Segara. Tapi apa keuntungan nya untuk ku selain bisa membalas dendam?", ujar Ki Pancatnyana sembari tersenyum penuh arti.
"Apa yang kau inginkan Kakang? Emas? Intan permata? Kepeng perak dan emas? Atau bahan makanan yang kau butuhkan?
Aku bisa memberikannya kepada mu", ujar Nyi Dadap Segara seraya menatap ke arah kakak seperguruan nya itu.
"Itu semua tidak ada gunanya untuk ku, Nyi Dadap Segara. Aku sudah punya segalanya yang ku butuhkan disini", Ki Pancatnyana kembali tersenyum penuh arti seraya menatap tubuh Nyi Dadap Segara.
"Lantas apa yang kau inginkan Kakang? Katakan saja pada ku, jangan membuat ku kebingungan", ucap Nyi Dadap Segara segera. Dia benar-benar membutuhkan bantuan dari Ki Pancatnyana saat ini.
Sembari tersenyum nakal, Ki Pancatnyana menyapukan lidahnya ke bibirnya yang hitam sembari menyeringai lebar menatap tubuh Nyi Dadap Segara yang montok dan berisi. Dari mulutnya terucap kata,
"Tubuh mu Nyi Dadap Segara ".