Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Gerimis


Sepekan terakhir ini, Panji Tejo Laksono menghabiskan waktunya untuk bersama dengan para istri nya di Istana Kadipaten Seloageng. Sembari mengawasi jalannya pembangunan kembali beberapa bagian istana yang sempat rusak parah setelah pralaya yang hampir meruntuhkan pemerintah Kadipaten Seloageng, Panji Tejo Laksono melakukan pembenahan punggawa istana.


Tumenggung Sindupraja di angkat menjadi Patih Kadipaten Seloageng, menggantikan Patih Sancaka yang terbunuh oleh para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah tempo hari. Selain itu, dia juga membentuk sebuah dewan penasehat yang terdiri dari beberapa pejabat sepuh yang sebelumnya mengisi posisi sebagai punggawa utama. Sepertinya Sang Pamgat Mpu Suri dan Dharmadyaksa Mpu Ranabhaya. Keduanya kini menjadi anggota dewan penasehat utama Kadipaten bersama Mpu Sambara yang merupakan bekas Jaksa Negara.


Sedangkan jabatan kosong yang mereka tinggalkan diisi oleh orang orang muda namun memiliki kemampuan untuk membantu jalannya roda pemerintahan Kadipaten Seloageng seperti Jatiwangi yang menduduki jabatan Sang Pamgat. Bekas Akuwu Pakuwon Janti itu di nilai cocok mengisi jabatan itu karena ketegasannya. Sedangkan untuk Dharmadyaksa di jabat oleh Sindupati, bekas Akuwu Bedander sebelumnya. Selain mereka, Jangkung Sadewa di Lantik menjadi Jaksa Negara. Putra Akuwu Randu yang masih bersaudara dengan Demung Gumbreg itu sangat bisa diandalkan untuk mencari pemecahan masalah yang dihadapi oleh Kadipaten Seloageng. Bersama dengan Jatiwangi, mereka adalah pasangan punggawa yang tegas dan berani bersikap tanpa memandang derajat dan pangkat.


Untuk urusan keprajuritan Seloageng, Senopati Gardana tetap menjadi pimpinan tertinggi. Di bawahnya ada Tumenggung Kundana dan Juru Naratama yang membantu. Dengan tiga pilar utama ini pertahanan Seloageng menjadi kokoh dan kuat.


Pada hari kelima keberadaannya di istana Seloageng, Panji Tejo Laksono mengumpulkan para istri nya untuk membicarakan tentang tugas yang diberikan oleh Prabu Jayengrana kepadanya.


"Ada apa Kangmas Pangeran? Tidak biasanya kau mengumpulkan kami sepagi ini", tanya Ayu Ratna yang penasaran karena tidak biasanya Panji Tejo Laksono melakukannya.


"Diam dulu, Nimas Ayu..


Kau ini selalu saja tidak sabaran dan ingin cepat tahu. Biarkan Kangmas Pangeran baru nanti giliran kita menanggapi", potong Gayatri yang duduk di sebelah Song Zhao Meng. Dia kurang suka dengan sikap Ayu Ratna yang kadang kala membuat orang lain kesal.


Hemmmmmmm..


"Aku tidak mengumpulkan untuk ribut pagi-pagi begini, jadi diam dan dengarkan aku bicara.


Kemarin aku mendapat tugas dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk menjadi seorang duta ke Jenggala", ucap Panji Tejo Laksono yang langsung membuat semua orang yang ada di tempat itu terbelalak kaget.


HAAAAAAHHHHHHHH??!!!


"Bukankah itu sangat berbahaya, Kangmas Pangeran??


Masuk ke dalam istana musuh, jika tidak memiliki persiapan yang matang, sama dengan mengantar nyawa. Kenapa Gusti Prabu Jayengrana meminta Kangmas Pangeran untuk melakukan hal ini? Bukankah ini sama saja dengan memasukkan Kangmas Pangeran ke sarang macan?", protes keras dari Ayu Ratna terdengar.


"Aku justru tidak berpikir begitu, Nimas Ayu..


Alasan mengapa sebabnya Kangmas Pangeran di pilih untuk menjadi duta kesana, tentu karena beliau percaya dengan kemampuan beladiri Kangmas Pangeran. Jadi kita tidak boleh berpikir picik terhadap Gusti Prabu Jayengrana", sahut Luh Jingga segera.


"Kau benar, Jingga..


Itu adalah satu-satunya alasan yang masuk akal. Saat ini, selain Gusti Prabu Jayengrana sendiri dan Gusti Mapatih Warigalit, kemampuan beladiri para perwira tinggi prajurit Panjalu masih di bawah Kangmas Pangeran. Para pangeran yang lain apalagi.


Jadi sudah pasti, alasan Gusti Prabu Jayengrana mengutus Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono ke Jenggala adalah kemampuan beladiri nya, bukan yang lain", imbuh Gayatri yang membuat semua istri Panji Tejo Laksono terdiam termasuk Ayu Ratna.


"Lantas apa rencana Kakak Thee selanjutnya?", Song Zhao Meng yang sedari tadi hanya mendengar omongan para madu nya angkat bicara.


"Pertanyaan bagus, Meng Er..


Begini, aku berencana untuk berangkat ke Jenggala dengan menyamar sebagai pendekar. Tanpa pengawal dari pihak istana. Sekalian aku akan sowan ke Gunung Mahameru sebagai tanda bahwa aku memenuhi janji ku pada Resi Ranukumbolo. Jadi aku akan mengajak Kirana bersama ku", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum.


Ayu Ratna mendengus lirih sambil melirik ke arah Dyah Kirana yang tersenyum senang.


"Aku tidak setuju dengan pendapat mu Kangmas Pangeran..


Selain mengajak Kirana, kau harus juga membawa salah satu dari kami berempat untuk menemani perjalanan mu", sergah Ayu Ratna segera.


Luh Jingga, Gayatri dan Song Zhao Meng tersenyum lebar karena Ayu Ratna seperti mewakili isi hati mereka bertiga. Jujur saja, mereka berempat tidak rela jika Panji Tejo Laksono hanya berduaan saja dengan Dyah Kirana.


"Lantas siapa yang akan ikut dengan ku ke Jenggala? Kalian tahu sendiri bahwa perjalanan ini sangat berbahaya", Panji Tejo Laksono menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal karena ulah keempat istrinya.


"Kangmas Pangeran sebaiknya mengajak Wulandari saja..


Selain ilmu beladiri nya tinggi, dia juga pasti bisa membantu Kangmas Pangeran jika ada bahaya menghadang. Biar aku dan Ayu Ratna yang mengalah", ujar Gayatri sembari menatap ke arah Ayu Ratna yang mengangguk tanda setuju.


"Urusan makan dan kebutuhan Kangmas Pangeran, kau yang harus melakukannya Kirana. Kau tahu sendiri Wulandari belum bisa memasak masakan negeri kita", Ayu Ratna mengalihkan pandangannya pada Dyah Kirana.


"Saya akan melakukannya, Kangmbok Ratu", balas Dyah Kirana segera.


Setelah itu segala persiapan untuk perjalanan jauh di atur oleh Gayatri. Sedangkan Naratama yang di tugaskan untuk mencarikan tiga ekor kuda yang bagus sebagai tunggangan mereka hari itu.


Sepanjang hari itu, Luh Jingga, Ayu Ratna dan Gayatri yang tidak ikut berpetualang dengan Panji Tejo Laksono terus saja menempel di tubuh Panji Tejo Laksono seakan tak ingin jauh sebentar saja. Song Zhao Meng yang melihat ulah konyol ketiga madu nya itu hanya tersenyum tipis saja.


Waktu terus berjalan. Siang dengan cepat diganti malam dan malam pun segera di gusur oleh sang pagi.


Setelah selesai sarapan pagi bersama seluruh istrinya, Panji Tejo Laksono segera kembali ke kamar tidur nya dan berganti pakaian. Dengan gelang kayu dari akar gaharu, pelindung lengan dari kain tebal hitam dan pakaian tanpa lengan berwarna biru tua, tanpa sumping telinga emas dan hanya mengenakan ikat kepala biru tua, penampilan Panji Tejo Laksono kini lebih mirip dengan seorang pendekar pengelana. Kali ini untuk meyakinkan penampilan nya sebagai pendekar, Panji Tejo Laksono menyandang Pedang Naga Api di punggungnya.


Song Zhao Meng pun merubah keseluruhan tampilan nya. Meskipun kulit putih nya tak bisa di samarkan, namun putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok ini rela mengenakan kemben hitam dari kain murahan, gelang bahu dari kain tiga warna yang di pilin, ikat kepala dari kain sewarna dengan kemben, celana pendek selutut dan jarit lompong kali berwarna biru keunguan. Penampilan Song Zhao Meng benar-benar membuat pangling para istri Panji Tejo Laksono yang lain.


"Wah kau benar-benar mirip dengan seorang pendekar wanita negeri ini, Wulan.. Cantik sekali", puji Gayatri sambil tersenyum penuh arti melihat Song Zhao Meng berputar di depan nya dengan pakaian itu.


"Benarkah itu Ci? Alangkah senangnya..", ujar Song Zhao Meng riang.


Dyah Kirana sendiri tetap pada penampilannya sebelumnya. Namun dia mengurangi dandanan nya untuk menyesuaikan diri dengan dandanan Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng. Kini selain selendang putihnya menjadi hiasan di dada, di pinggir juga terselip Pedang Bulan Sunyi pemberian Resi Ranukumbolo.


Setelah siap, mereka bertiga pun segera melompat ke atas punggung kuda tunggangan mereka masing-masing usai berpamitan pada Ayu Ratna, Gayatri dan Luh Jingga. Tiga istri Panji Tejo Laksono itu mengantarkan kepergian suaminya hingga pintu gerbang istana Kadipaten Seloageng.


Cuaca mendung musim hujan ini benar-benar membuat udara terasa dingin apalagi angin dingin berdesir perlahan dari puncak Gunung Kelud membuat suasana terasa lebih segar lagi. Di tengah terpaan angin dingin ini, Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana terus menggebrak kuda tunggangan mereka meninggalkan Kota Kadipaten Seloageng menuju ke arah Utara.


Hampir setengah hari berkuda, mereka telah sampai di tepi tapal batas wilayah antara Kayuwarajan Kadiri dengan Kadipaten Seloageng yaitu Wanua Sanggur. Cuaca mendung telah berubah menjadi rintik gerimis yang sanggup membuat pakaian basah.


Pandangan mata Panji Tejo Laksono langsung tertuju pada sebuah warung makan yang terletak dekat sungai. Tak menemukan tempat lain untuk berteduh, Panji Tejo Laksono mengajak Song Zhao Meng dan Dyah Kirana ke tempat itu.


Segera mereka mengikat tali kekang kudanya di geladakan kuda yang ada di samping halaman. Setelah itu mereka bertiga pun segera masuk ke dalam warung makan itu. Panji Tejo Laksono langsung mengusap beberapa bagian tubuh nya yang basah untuk mengusir dingin. Begitu pula dengan Song Zhao Meng dan Dyah Kirana.


Warung makan ini cukup sepi. Hanya terlihat beberapa orang saja yang sedang menikmati makanan mereka. Kedatangan Panji Tejo Laksono dan dua orang wanitanya menarik perhatian para penikmat hidangan ini sebentar dan mereka pun segera kembali menikmati makanan mereka.


Seorang lelaki paruh baya segera mendekati mereka. Sepertinya dia adalah pemilik warung makan ini yang juga merangkap sebagai pelayan di tempat itu.


"Permisi Kisanak..


Kalian mau pesan apa? Disini tidak ada makanan mahal. Hanya ada nasi dan ikan bakar yang berasal dari sungai di sana itu", ujar si lelaki bertubuh sedikit pendek ini dengan ramah.


"Itu saja sudah cukup untuk mengisi perut kami, Ki. Jangan lupa dengan minuman nya ya", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis dan si pelayan segera bergegas menuju ke arah dapur.


Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana segera memilih tempat duduk di pojokan ruangan. Tak berapa lama kemudian, si lelaki paruh baya itu datang membawa pesanan mereka. Segera Panji Tejo Laksono menikmati makan siang nya bersama dengan kedua wanitanya.


Gerimis yang turun berubah menjadi hujan lebat yang mengguyur sekitar tempat itu dengan derasnya. Di tengah terpaan hujan deras itu, dari pintu masuk warung makan, masuk seorang lelaki bertubuh kekar berkumis tebal dengan kepala plontos menenteng sebilah pedang besar. Di belakangnya 4 orang yang memakai pakaian sewarna mengiring langkah si pria bertubuh kekar.


Mata lelaki itu berputar menyapu sekeliling ruangan warung makan itu. Seringai lebar terukir di wajahnya yang bengis. Sambil menunjuk pojok ruangan warung makan, dia berkata,


"Di sini kau rupanya, bajingan!"