Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pertempuran Sungai Lawor 3


Semua orang terkejut melihat kedigdayaan tinggi ilmu yang dimiliki oleh Panji Tejo Laksono terutama Senopati Kandasambu dari Kadipaten Singhapura.


'Ternyata Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi. Aku kemarin sempat meremehkannya dan berfikir kalau dia hanya pangeran muda yang manja saja', batin Senopati Kandasambu sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang di liputi oleh sinar kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja.


"Sudamantra,


Pemuda itu bukan orang sembarangan. Dia mampu menahan Ajian Cadas Geni ku tanpa terluka sedikitpun. Kita harus berhati-hati menghadapi nya", ujar Tumenggung Tambakwungkal sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang tersenyum tipis memandang mereka berdua.


"Kau benar, Tambakwungkal..


Bocah tengik ini tidak bisa di anggap remeh. Kita tidak boleh gegabah jika tidak ingin mati konyol di tempat ini", jawab Tumenggung Sudamantra sembari bersiaga.


"Kalian sudah menyerang ku, sekarang giliran ku untuk membalas!"


Usai berkata demikian Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah dua tumenggung andalan Kerajaan Jenggala itu. Menggunakan Ajian Sepi Angin, gerakan tubuh Panji Tejo Laksono seperti kapas yang begitu ringan. Tiba tiba saja, dia sudah muncul di hadapan mereka berdua dengan mengibaskan tangannya.


Whhuuuuuuuggggh!


"Keparat kau bocah tengik!", maki Tumenggung Tambakwungkal sembari berguling ke tanah menghindari kibasan tangan sang pangeran muda itu. Dia dengan cepat menghindar seraya kembali menghantamkan tangan kanannya yang di lambari Ajian Cadas Geni yang merupakan warisan gurunya yang berasal dari Kadipaten Pasuruhan.


Blllaaammmmmmmm!!


Sementara itu Tumenggung Sudamantra yang melompat menjauh dari kejaran Panji Tejo Laksono baru saja menarik nafasnya saat Senopati Kandasambu mengayunkan kepalan tangannya ke arah kepalanya.


Mereka berdua segera mengadu kepandaian ilmu silat mereka dan saling berusaha keras untuk menjatuhkan lawan masing-masing.


Panji Tejo Laksono menyeringai tipis sambil terus memburu Tumenggung Tambakwungkal. Kecepatan tinggi dari Ajian Sepi Angin membuat Panji Tejo Laksono berada di atas angin.


Tumenggung Tambakwungkal langsung menangkis dua hantaman beruntun dari tangan kanan dan kiri Panji Tejo Laksono.


Dhaaaasssshhh! Dhasshhh!


Namun pergerakan cepat Panji Tejo Laksono yang memutar tubuhnya membelakangi Tumenggung Tambakwungkal, membuat perwira prajurit Jenggala itu tidak siap saat sikut tangan kanan Panji Tejo Laksono menghajar rusuk kiri nya.


Bhuuukkkhhh...


Tumenggung Jenggala itu terhuyung huyung kesamping kanan. Belum sempat dia mengambil nafas, satu tendangan keras kaki kanan Panji Tejo Laksono menghajar pinggangnya.


Dhiesshhhhhhh!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Dengan keras Tumenggung Tambakwungkal jatuh terduduk ke tanah. Pinggangnya sakit sekali seperti baru di timpa batang kayu besar. Sembari meringis menahan rasa sakit, dia dengan cepat segera berdiri.


"Keparat kau bocah kemarin sore!


Akan ku hancurkan batok kepala mu", teriak Tumenggung Tambakwungkal sembari melotot tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


Segera perwira tinggi prajurit Jenggala itu merapal Ajian Cadas Geni andalannya. Melihat itu, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah Tumenggung Tambakwungkal sembari merapal Ajian Tapak Dewa Api. Tapak tangan kanan nya berwarna merah menyala seperti api yang di akibatkan oleh sinar merah yang bergulung gulung di kedua tangan nya.


Kecepatan tinggi Ajian Sepi Angin membuat pergerakan Panji Tejo Laksono begitu cepat hingga Tumenggung Tambakwungkal yang baru selesai merapal Ajian Cadas Geni dengan gugup menghantamkan tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono yang muncul tiba-tiba di hadapan nya.


Shhiiiuuuuuuttttt!


Selarik sinar kuning kemerahan menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Sembari tersenyum tipis, Panji Tejo Laksono menggeser tubuhnya sedikit untuk menghindari Ajian Cadas Geni yang di lepaskan oleh Tumenggung Tambakwungkal. Pangeran muda ini lantas dengan cepat menghantam dada Tumenggung Tambakwungkal dengan tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api.


Blllaaammmmmmmm!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Ledakan dahsyat diiringi dengan jerit kesakitan terdengar. Tubuh Tumenggung Tambakwungkal terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras dengan mulut mengeluarkan darah. Dia mengejang hebat sebentar sebelum diam untuk selamanya. Dada nya hangus seperti terbakar.


Di sisi lain gempuran Senopati Kandasambu benar benar menyudutkan Tumenggung Sudamantra di arena pertarungan.


Tak mau mati sia-sia, Tumenggung Sudamantra segera melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Dengan cepat ia merapal mantra Ajian Tapak Setan Neraka yang merupakan ilmu kedigdayaan tinggi andalannya.


Kedua tangan tangan Tumenggung Sudamantra langsung berputar cepat di depan dada lalu bersilang dengan cepat. Sinar hijau kemerahan yang di ikuti oleh angin berbau busuk menyengat segera meliputi seluruh lengan tangan Tumenggung Sudamantra.


Dengan cepat, Tumenggung Sudamantra menghantamkan tangan kanannya ke arah Senopati Kandasambu. Selarik sinar hijau kemerahan menerabas cepat kearah perwira tinggi prajurit Kadipaten Singhapura itu.


Shhiiiuuuuuuttttt!


Senopati Kandasambu pun melompat tinggi ke udara dan mendarat di atas tebing batu tepi Sungai Lawor untuk menghindari serangan lawan nya.


Blllaaammmmmmmm!!


Ledakan keras terdengar saat Ajian Tapak Setan Neraka menghantam pohon di belakang Senopati Kandasambu. Melihat serangan nya mentah, Tumenggung Sudamantra kembali melontarkan ajiannya ke arah tebing sungai tempat Senopati Kandasambu berdiri.


Shhiiiuuuuuuttttt!


Blllaaammmmmmmm!


Batu meledak dan hancur berkeping keping namun Senopati Kandasambu berhasil menghindar sebelum ledakan keras terjadi dan mendarat sejauh beberapa tombak dari Tumenggung Sudamantra.


Tapi perwira tinggi prajurit Jenggala itu tidak mau berhenti. Dengan cepat ia menghantamkan Ajian Tapak Setan Neraka kearah Senopati Kandasambu yang baru mendarat. Perwira prajurit Kadipaten Singhapura itu terlambat menghindar hingga terlempar beberapa tombak akibat ledakan dahsyat Ajian Tapak Setan Neraka dan menghantam tanah dengan keras.


Huuuuooogggghhh!


Senopati Kandasambu muntah darah segar. Meski Ajian Tapak Setan Neraka tidak telak mengenai tubuh nya, namun sang perwira masih menderita luka dalam yang cukup serius.


Melihat itu, Tumenggung Sudamantra menyeringai lebar dan melesat cepat kearah Senopati Kandasambu yang masih tergeletak di tanah.


Belum sempat ia mendekati Senopati Kandasambu, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah nya sembari melemparkan dua buah pisau ke arah Tumenggung Sudamantra.


Shriingg! Shrrriinnnggg!!


Dua pisau terbang melesat cepat mengincar nyawa. Tumenggung Jenggala itu urungkan niat untuk menghabisi nyawa Senopati Kandasambu dari Singhapura dan memilih merubah gerakan tubuhnya untuk mundur ke belakang.


"Jadi begini cara bertarung para perwira tinggi Panjalu? Dengan main keroyokan?", ucap Tumenggung Sudamantra saat melihat siapa yang menolong Senopati Kandasambu.


"Jangan sok suci..


Bukankah kau dan teman mu tadi juga mengeroyok Tumenggung Mpu Saka hingga dia tewas? Orang-orang Jenggala memang pandai bersilat lidah", ujar si bayangan yang tak lain adalah Tumenggung Ludaka, sang pimpinan Pasukan Lowo Bengi.


"Ludaka,


Aku sudah mendengar nama besar mu sebagai begundal Prabu Jayengrana. Hari ini akan ku lihat sejauh mana kau bisa menghadapi ku", ujar Tumenggung Sudamantra dengan cepat.


"Huh, kita lihat saja siapa yang berdiri di akhir nanti", balas Tumenggung Ludaka dengan santainya.


Dengan cepat Tumenggung Sudamantra mengumpulkan tenaga dalam nya untuk mengeluarkan Ajian Tapak Setan Neraka andalannya, sedangkan Tumenggung Ludaka mulai merogoh 8 pisau kecil nya yang merupakan senjata andalannya.


Shrrriinnnggg! shrrriinnnggg!


Delapan pisau melesat cepat kearah Tumenggung Sudamantra yang tangannya telah kembali berwarna hijau kemerahan.


"Huhhhhh, mainan anak-anak mu tidak bisa melukai ku, Tumenggung Ludaka!"


Dengan cepat Tumenggung Sudamantra segera menghantamkan kedua telapak tangan nya bertubi-tubi kearah pisau kecil yang di lemparkan oleh Tumenggung Ludaka.


4 pisau kecil hancur berantakan di udara saat beradu dengan sinar hijau kemerahan yang di lepaskan oleh Tumenggung Sudamantra.


"Masih belum selesai, hai wong Jenggala", teriak Tumenggung Ludaka yang berlari cepat mengelilingi Tumenggung Sudamantra sembari kembali melemparkan pisau pisau kecil yang baru di ambil dari balik bajunya.


"Hujan Pisau Dewa Kematian...!


Hiyyyyaaaaaaaatttttt.....!!"


Shhhrriinggg! shriingg!!


Tumenggung Sudamantra terus menghantamkan tapak tangan nya untuk menangkis serangan senjata yang di lemparkan oleh Tumenggung Ludaka dengan ilmu Hujan Pisau Dewa Kematian nya. Serangan itu seperti menghujani tubuh Tumenggung Sudamantra dari seluruh sisi seperti tidak ada habisnya.


Lama kelamaan tenaga dalam Tumenggung Sudamantra semakin melemah hingga akhirnya satu pisau lolos dari tangkisan Tumenggung Sudamantra dan menancap di dada kirinya.


Crreepppphhh!!


Aaaarrrgggggghhhhh!


Tumenggung Sudamantra menjerit keras. Dengan sekuat tenaga dia berguling ke tanah untuk menghindari serangan pisau Tumenggung Ludaka.


Saat yang bersamaan, Demung Gumbreg yang baru saja menghabisi nyawa seorang prajurit Jenggala pimpinan Tumenggung Sudamantra melesat cepat kearah sang perwira tinggi prajurit Jenggala itu sembari mengayunkan pentung sakti nya ke arah kepala sang tumenggung.


Prrraaaakkkkkkk!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Tumenggung Sudamantra menjerit keras dan tersungkur ke tanah. Kepalanya hancur berantakan di hantam pentung sakti milik Demung Gumbreg. Dia tewas bersimbah darah setelah kelojotan beberapa saat.


Tumenggung Ludaka langsung mendekati Demung Gumbreg yang menatap ke arah mayat Tumenggung Sudamantra.


"Kau ini benar-benar keterlaluan. Datang datang main kepruk kepala orang", omel Tumenggung Ludaka sembari mengusap peluh yang membasahi keningnya.


"Aku tidak suka dengan wajahnya yang mengesalkan itu Lu..


Kalau dia mampus, kita akan cepat membantu Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono untuk memenangkan pertarungan di sayap kiri ini.


Kau lihat, para prajurit Jenggala itu mulai kehilangan kepercayaan diri setelah si jelek ini mampus", ucap Demung Gumbreg sambil menunjuk ke arah para prajurit Jenggala yang mulai ciut nyalinya.


"Kalau begitu, tidak perlu tanggung lagi. Kita ngamuk lagi Mbreg", ujar Tumenggung Ludaka sambil melompat ke arah para prajurit Jenggala sambil mencabut pedang pendek nya.


Melihat itu, Demung Gumbreg tersenyum tipis.


"Dasar gila perang! Tunggu aku Lu, aku ikut", kata Demung Gumbreg sambil segera berlari cepat menyusul Tumenggung Ludaka yang sudah mengamuk di tengah medan tempur.


Kematian beberapa orang petinggi prajurit Blambangan membuat nyali dan semangat bertarung para prajurit pimpinan Prabu Menak Luhur ikut menurun. Mereka mulai bertahan di bawah gempuran para prajurit Panjalu.


Ribuan mayat mayat bergelimpangan di Sungai Lawor yang kini airnya menjadi amis darah.


Prabu Menak Luhur yang memimpin pasukan Blambangan, terus mengayunkan Gada Wesi Kuning nya ke arah para prajurit Panjalu yang mencoba menghadangnya.


Senopati Agung Narapraja melesat cepat kearah sang pimpinan pasukan Blambangan sembari mengayunkan Keris Pamegat Nyawa nya ke arah sang raja Blambangan.


Shreeeeettttthhh!


Merasakan hawa dingin yang mengancam nyawa, Prabu Menak Luhur langsung menghadang laju serangan Senopati Agung Narapraja dengan Gada Wesi Kuning nya.


Thrrraaannnnggggg!!


Melihat serangan nya berhasil di tangkis, Senopati Agung Narapraja langsung menghantamkan tangan kiri nya ke arah perut Prabu Menak Luhur.


Sang Raja Blambangan yang waspada terhadap lawan, dengan cepat menangkis hantaman tapak tangan kiri Senopati Agung Narapraja dengan tapak tangan kiri nya pula.


Blllaaaaaarrr!!


Dua orang pemimpin tertinggi kedua pasukan itu sama sama terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Tangan kiri Senopati Agung Narapraja terasa ngilu setelah berbenturan sedang tangan kiri Prabu Menak Luhur hanya sedikit sakit saja. Ini menandakan bahwa tenaga dalam Prabu Menak Luhur lebih tinggi setingkat di banding dengan Senopati Agung Narapraja.


"Antek Jayengrana,


Kau punya nyali juga rupanya berani menantang ku ha? Cecunguk seperti mu tak pantas untuk melawan ku", ujar Prabu Menak Luhur sembari menatap ke arah Senopati Agung Narapraja dengan penuh penghinaan.


"Jangan terlalu jumawa, Prabu Menak Luhur..


Ayo kita buktikan siapa yang tertawa paling akhir", balas Senopati Agung Narapraja sambil menggerakkan Keris Pamegat Nyawa untuk bersiap bertarung.


"Hahahaha..


Kau ingin cepat bertemu dengan Dewa Kematian rupanya. Akan ku kabulkan keinginan mu".


Usai berkata demikian, Prabu Menak Luhur segera memutar Gada Wesi Kuning nya dan melesat cepat kearah Senopati Agung Narapraja sambil mengayunkan gada nya ke arah kepala lawan nya.


Whhuuuuuuuggggh!


Dengan sigap, Senopati Agung Narapraja berkelit menghindari gebukan gada lawan hingga Gada Wesi Kuning di tangan Prabu Menak Luhur menghantam tanah dengan keras.


Bhhuuuuummmmmmhh!


Dengan cepat, Senopati Agung Narapraja menggenggam gagang Keris Pamegat Nyawa lalu mengayunkan senjata pusaka itu ke arah punggung lawan.


Shreeeeettttthhh!


Dengan lincah Prabu Menak Luhur melenting tinggi ke udara menghindari sabetan keris pusaka itu dan mendarat sejauh dua tombak ke belakang Senopati Narapraja. Raja bertubuh gempal itu segera berbalik arah dan melesat cepat kearah sang pimpinan pasukan Panjalu.


Pertarungan sengit antara mereka berlangsung cepat dan menegangkan. Puluhan jurus mereka lewati untuk mengadu nyawa.


Senopati Narapraja langsung mengayunkan keris pusaka di tangan nya namun Prabu Menak Luhur dengan cepat menangkisnya dengan Gada Wesi Kuning.


Thhraaaanggggggg!


Usai menangkis sabetan keris Senopati Agung Narapraja, Prabu Menak Luhur langsung menghantamkan tangan kiri nya yang berwarna biru kehitaman pada Senopati Agung Narapraja.


Dengan menggunakan Ajian Geledek Sewu, tangan kiri Senopati Agung Narapraja memapak gerakan sang penguasa Tanah Blambangan.


Blllaaammmmmmmm!!!


Ledakan dahsyat terdengar nyaring. Senopati Agung Narapraja terpelanting jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras. Pimpinan tertinggi prajurit Panjalu itu langsung muntah darah segar. Seorang prajurit Blambangan mencoba untuk memanfaatkan kesempatan itu untuk menghabisi nyawa sang pimpinan pasukan Panjalu namun sebuah bayangan berkelebat cepat kearah sang prajurit dengan menghantam dada nya.


Blllaaaaaarrr!!


Si prajurit Blambangan langsung terpental dan tewas seketika. Prabu Menak Luhur yang baru saja beradu nyawa dengan Senopati Agung Narapraja menatap sosok yang berdiri di depan Senopati Agung Narapraja dengan gagahnya. Dengan lantang dia bicara.


"Rupanya ada satu lagi yang ingin cepat mampus. Benar benar tidak tahu diri.


Hei bocah tengik,


Kenapa wajahmu mirip dengan Panji Watugunung?