Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Saudara Seperguruan


Pukulan sosok bayangan berkelebat cepat itu cukup keras hingga membuat Panji Tejo Laksono terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Sosok lelaki bertubuh kekar dengan rambut panjang yang diikat pada belakang punggungnya itu tersenyum penuh kesombongan saat menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


Para perusuh pasar besar Kota Gelang-gelang yang sebagian sudah babak belur di hajar oleh Panji Tejo Laksono, langsung sumringah karena merasa pelindung mereka sudah datang.


"Ah pimpinan kita Ki Warualas sudah datang..


Tiga orang bodoh itu akan di hajar oleh pimpinan karena berani menentang perintah nya", ucap salah seorang anak buah penguasa pasar besar itu seraya bangkit dari tempat jatuhnya.


"Benar, Ki Warualas pasti membalaskan dendam kita", sambung kawannya yang lain sembari memegangi pipinya yang bengkak.


Lelaki berusia sekitar 4 dasawarsa dengan wajah bengis berkumis tebal itu perlahan melangkah ke arah Panji Tejo Laksono. Dia melirik ke arah kiri kanan nya dan melihat hampir semua anak buah nya sudah terluka ataupun mengalami memar di beberapa bagian tubuh mereka. Semuanya tak mampu menghadapi Panji Tejo Laksono dan dua orang murid Padepokan Padas Putih ini.


"Kau yang menghajar anak buah ku?!", ucap lelaki bertubuh kekar itu yang tak lain adalah Ki Warualas, seorang bekas prajurit Gelang-gelang yang menjadi pendekar lalu membentuk kelompok keamanan untuk menguasai pasar besar Kota Gelang-gelang sebagai tempatnya mencari penghidupan. Sorot mata lelaki berambut panjang ini tajam ke arah Panji Tejo Laksono.


"Iya, itu benar..


Anak buah mu mengganggu kegiatan perdagangan di pasar besar ini. Mereka memaksa setiap orang membayar pajak jalan padahal sepengetahuan ku, tidak ada hal semacam itu disini.


Kalau ada yang bisa membela diri, tentu saja akan menolak permintaan tak masuk akal itu", jawab Panji Tejo Laksono dengan tenang.


"Huhhhhh...


Ini adalah wilayah kekuasaan ku, tentu saja aku bisa menetapkan peraturan sesuai dengan kemauan ku", ujar Ki Warualas sembari mendengus keras.


"Kata siapa ini adalah wilayah kekuasaan mu?!


Ini adalah wilayah Kabupaten Gelang-gelang, tentu saja ini adalah wilayah kekuasaan Bupati Sepuh Panji Gunungsari. Kau tidak berhak mengatur wilayah ini semau mu", balas sang pangeran muda ini tanpa ragu.


"Kekuasaan Bupati Sepuh??


Huahahahahahaha...


Orang tua itu sudah mau mampus. Para punggawa Istana Gelang-gelang juga sibuk menata masa depan mereka sendiri tanpa peduli dengan apa yang terjadi di masyarakat. Kalau bukan aku yang mengatur, mau jadi apa pasar ini he?


Lagipula, aku punya dukungan dari Tumenggung Banyubiru. Dia sepupu ku yang juga adalah pimpinan kedua prajurit Gelang-gelang. Apalagi yang perlu ku takuti? Cepat bayar pajak jalan ini, juga biaya pengobatan anak buah ku? Jika tidak.....", Ki Warualas mengepalkan tangannya erat-erat di depan Panji Tejo Laksono seolah ingin **********.


"Mulut mu tajam sekali...


Jika tidak apa?!", Panji Tejo Laksono yang mulai kesal dengan sikap Ki Warualas mulai bicara dengan nada tinggi.


"Akan ku hancurkan tubuh mu hingga keluarga mu pun sangat sulit mengenali mayat mu!", balas Ki Warualas sengit.


"Jumawa!!


Cobalah jika kau mampu melakukan nya", Panji Tejo Laksono langsung bersiap untuk bertarung.


"Tak tahu diri!


Hai kroco-kroco kecil, habisi dua anak muda berbaju putih itu. Bocah sok jagoan ini biar ku atasi sendiri", perintah Ki Warualas yang langsung membuat para anak buahnya kembali bersemangat. Sembari meringis menahan rasa sakit, mereka langsung kembali menerjang ke arah dua murid Padepokan Padas Putih. Sedangkan Ki Warualas sendiri langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sambil menghantamkan kepalan tangannya ke arah kepala sang pangeran muda.


Whhhuuuggghhhh!!


Panji Tejo Laksono berkelit ke samping kanan menghindari hantaman Ki Warualas lalu dengan cepat menghantam ke arah dada lelaki bertubuh kekar itu. Ki Warualas segera menangkisnya dengan pergelangan tangan kiri.


Dhhaaaassshhh!!


Kuatnya tenaga yang dilepaskan oleh Panji Tejo Laksono membuat Ki Warualas terhuyung mundur dua langkah ke belakang. Belum sempat dia berdiri tegak, Panji Tejo Laksono langsung merendahkan tubuhnya dan membuat gerakan cepat menyapu betis sang pimpinan kelompok pengganggu masyarakat ini.


Bhhhuuuuuuggggh!!


Tubuh besar Ki Warualas langsung roboh terjengkang ke belakang dan menghantam tanah. Panji Tejo Laksono tak membuang kesempatan. Menggunakan tangan sebagai tumpuan, Panji Tejo Laksono langsung memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah perut Ki Warualas.


Dhhiiieeeeesssshhh!!!


Aaauuuuggggghhhhh!!!


Ki Warualas terseret mundur beberapa tombak ke belakang saking kerasnya tendangan kaki kanan Panji Tejo Laksono. Tubuhnya baru berhenti setelah menabrak kaki lapak dagangan salah satu pedagang yang berjualan di sudut pasar.


Lelaki itu segera bergegas bangkit dari tempat jatuhnya. Sambil mendengus keras, dia mengusap darah yang meleleh keluar dari sudut bibirnya.


"Bangsaaaaaaaaattttt!!!


Akan ku hancurkan tubuh mu hingga abu mu pun tak bisa di kumpulkan!"


Ki Warualas segera merentangkan tangannya ke samping kanan dan kiri tubuhnya lalu bersilangan di depan dada. Cahaya merah kehitaman berhawa tercipta di kedua telapak tangannya.


"Ajian Cadas Ngampar..


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..!!!"


Selarik cahaya merah kehitaman langsung menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Dengan lincah, Panji Tejo Laksono melompat menghindari ajian yang di lepaskan oleh Ki Warualas.


Sebuah lapak dagangan di belakang Panji Tejo Laksono langsung meledak dan terbakar setelah terkena hantaman Ajian Cadas Ngampar. Melihat lawannya lolos dengan mudah, Ki Warualas kembali melepaskan ilmu kanuragan nya ke arah Panji Tejo Laksono untuk menghabisi nyawa sang pangeran.


Panji Tejo Laksono berjumpalitan kesana kemari dengan lincah dan gesit hingga semua serangan Ki Warualas terasa sia-sia belaka.


"Kangmas!!


Sudah cukup main-main nya! Kita masih punya urusan yang lebih penting!!", teriakan keras Endang Patibrata terdengar dari arah kerumunan penonton. Panji Tejo Laksono mengangguk mengerti.


Setelah menghirup udara segar, sang pangeran muda dari Kadiri itu segera melesat cepat kearah Ki Warualas. Pimpinan kelompok perusuh pasar besar itu langsung kembali menghantamkan tangan kanannya ke arah Panji Tejo Laksono. Larikan cahaya merah kehitaman ganas meluruk ke arah sang pangeran.


Whuuuggghh!


Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin sedikit mengubah gerakan tubuhnya hingga cahaya merah kehitaman itu hanya mampu menyambar udara kosong sejengkal di samping tubuh sang Adipati Seloageng. Gerakan cepatnya yang bagaikan kilat membuatnya tiba-tiba muncul di hadapan Ki Warualas. Sang pangeran muda langsung melayangkan pukulan tangan kanannya yang sudah di lambari Ajian Tapak Dewa Api.


Whhhuuuuuuuutttttth!!


Ki Warualas terkaget bukan main melihat itu semua. Dengan seluruh tenaga dalam yang masih tersisa, dia memapak hantaman cepat Panji Tejo Laksono dengan Ajian Cadas Ngampar nya.


Blllaaammmmmmmm!!!!


Ledakan keras terdengar saat kedua ajian ini beradu. Ki Warualas mencelat jauh ke belakang dan menyusruk tanah hampir 5 tombak jauhnya. Beruntung, dia masih hidup meskipun menderita luka dalam parah akibat beradu tenaga dalam ilmu kanuragan dengan Panji Tejo Laksono. Darah segar mengalir keluar dari mulut dan hidung nya. Sekuat tenaga dia mencoba untuk bangkit namun kakinya tak mampu menopang berat tubuhnya sendiri. Dia terduduk di atas tanah dengan keadaan mengenaskan.


Semua orang terkejut dengan apa yang mereka saksikan sendiri. Terkecuali dengan Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Endang Patibrata, semua penonton di pasar besar Kota Gelang-gelang itu awalnya menduga bahwa Panji Tejo Laksono akan dikalahkan oleh Ki Warualas dengan mudah. Tapi kenyataannya, justru Ki Warualas sendiri yang terkapar tak berdaya di tanah.


Panji Tejo Laksono sendiri sama sekali tidak terpengaruh dengan benturan keras baru saja. Maklum saja, dia memiliki tenaga dalam yang jauh lebih tinggi di bandingkan dengan Ki Warualas. Ajian Tapak Dewa Api yang baru saja dikeluarkan, hanya menggunakan seperempat tenaga dalam yang dia miliki.


Dengan langkah kaki penuh, dia berjalan mendekati Ki Warualas.


Kurang dari 8 langkah kaki jarak Panji Tejo Laksono dari tempat Ki Warualas berada, sang pangeran muda menghentikan langkahnya setelah melihat puluhan prajurit Gelang-gelang yang dipimpin oleh seorang lelaki bertubuh gempal dengan wajah berewokan mendekati tempat pertarungan mereka. Dilihat dari dandanannya, ia adalah seorang pejabat tinggi negara atau perwira dengan pangkat setingkat tumenggung.


Mata lelaki bertubuh gempal itu segera melirik ke arah Ki Warualas yang masih terduduk lemah di tanah lalu menoleh ke arah Panji Tejo Laksono segera.


"Kalian semua harus di tahan karena sudah membuat keributan di pasar ini..


Prajurit..!!!


Tangkap mereka semua!!!", perintah si lelaki bertubuh gempal yang ternyata adalah Tumenggung Banyubiru. Dia sengaja melakukan hal itu untuk menyelamatkan Ki Warualas sepupunya sekaligus menjaga kehormatan nya sebagai pejabat negara.


Puluhan orang prajurit Gelang-gelang langsung mengepung Panji Tejo Laksono bersama dengan dua murid Padepokan Padas Putih juga Ki Warualas bersama para pengikutnya.


"Tunggu sebentar!!!"


Teriak keras terdengar dari kerumunan penonton yang menyaksikan langsung pertarungan itu. Semua orang langsung mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Terlihat Endang Patibrata, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg melangkah maju ke tengah kepungan.


"Apa kau sudah bosan hidup, Tumenggung Gelang-gelang?!", tanya Tumenggung Ludaka sambil menatap tajam ke arah perwira prajurit Gelang-gelang itu.


"Apa maksud mu, Kisanak?", Tumenggung Banyubiru balik bertanya.


"Sepertinya kau adalah pejabat baru di lingkungan Istana Kabupaten Gelang-gelang hingga kau tidak mengenali siapa sosok lelaki ini.


Dia adalah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, putra sulung Prabu Jayengrana.."


Ucapan Tumenggung Ludaka itu ibarat petir di siang bolong yang langsung mengagetkan semua orang. Tak hanya Ki Warualas dan para pengikutnya yang kaget setengah mati, Tumenggung Banyubiru pun pucat seketika wajahnya mendengar nama besar putra sulung Prabu Jayengrana itu disebut.


Dua orang murid Padepokan Padas Putih itu pun segera percaya dengan apa yang baru saja diungkapkan oleh Tumenggung Ludaka karena tahu bahwa ilmu silat tangan kosong yang digunakan untuk melawan Ki Warualas juga Ajian Tapak Dewa Api milik Panji Tejo Laksono memang benar-benar berasal dari perguruan silat mereka.


"Terimakasih atas bantuannya, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..", ucap salah seorang murid Padepokan Padas Putih yang bernama Pangudi ini seraya menyembah pada Panji Tejo Laksono.


"Berdirilah..


Kita saudara seperguruan. Kau harusnya menyebut ku sebagai paman guru saja, tidak perlu melakukan hal itu", balas Panji Tejo Laksono sambil tersenyum penuh arti.


"Kami mengerti itu Gusti Pangeran, eh maksudnya Paman Guru Pangeran Panji Tejo Laksono..


Hamba Pangudi dan ini Widang. Kami murid guru Mpu Wiratama, pimpinan Padepokan Padas Putih yang sekarang", ujar Pangudi yang disambut dengan anggukan kepala cepat dari Widang adik seperguruan nya.


"Aku tahu Kakang Mpu Wiratama memang pantas menjadi seorang pimpinan Padepokan Padas Putih. Dia mendapatkan pengajaran dari Paman Mpu Sasi dengan baik.


Bagaimana dengan keadaan perguruan sekarang?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


Belum sempat Pangudi menjawab pertanyaan itu, Tumenggung Banyubiru berlutut dihadapan Panji Tejo Laksono sembari menyembah pada sang pangeran muda. Seluruh prajurit Gelang-gelang yang mengikuti nya langsung melakukan hal yang sama.


"Mohon ampuni ketidaktahuan hamba tentang Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Banyubiru sangat bodoh dan kurang pengalaman", ucap Tumenggung Banyubiru segera.


Panji Tejo Laksono menatap tajam ke arah perwira tinggi prajurit Gelang-gelang itu dengan tatapan mata penuh ketidaksukaan.


"Sudah diamlah. Aku masih belum selesai bicara dengan saudara seperguruan ku.


Aku urus kau nanti..."