
Para prajurit Shou langsung membentuk pagar betis di sekeliling panggung kehormatan. Latihan soal pengamanan darurat yang biasa mereka terapkan rupanya berguna juga di saat genting seperti ini. Para pemain barongsai yang bersenjatakan pedang langsung menerjang maju ke arah panggung kehormatan. Pertarungan sengit segera pecah.
Suasana tegang itu membuat kepanikan warga Desa Danau Naga yang ikut berkumpul untuk menyaksikan keramaian. Serta merta mereka langsung menjauhi tempat itu karena takut dengan serangan nyasar.
Dua orang prajurit Gubernur Wu langsung roboh bersimbah darah setelah para penyerang yang menggunakan barongsai sebagai penyamaran, menerjang maju ke arah mereka. Namun tempat yang kosong Langsung di gantikan oleh teman di belakangnya hingga ruang untuk menghabisi nyawa Gubernur Wu tertutup kembali.
Thrangg thhraaaangggggggg !
Dhasshhh!
Aaaarrrgggggghhhhh !
Raung kesakitan bercampur muncratnya darah segar mulai terdengar dari pertarungan sengit antara para prajurit Gubernur Wu dan para penyusup. Namun meski beberapa prajurit telah terbunuh, rapatnya pertahanan barisan pelindung Gubernur Wu sangat sulit di tembus.
"Feng Yin !
Apa kau berani berniat untuk menghabisi nyawa ku?!", Gubernur Wu Ming melotot matanya pada Kepala Desa Danau Naga karena geram dengan ulah para penyusup yang mencoba untuk mencelakai nya.
"Tidak berani tidak berani...
Feng Yin sama sekali tidak tahu menahu tentang keadaan ini. Aku adalah orang yang tahu membalas budi, Tuan Gubernur", ujar Kepala Desa Feng sembari menghormat pada Gubernur Wu Ming di tengah barisan pertahanan rapat yang mengelilingi panggung kehormatan.
Hemmmmmmm..
Gubernur Wu Ming mendengus keras sambil mendelik ke arah Feng Yin, "Kalau sampai aku menemukan kau terlibat dalam masalah ini, jangan harap kau bisa selamat Feng Yin!".
Dari arah tengah Danau Naga, muncul beberapa perahu kecil yang bergerak cepat ke arah panggung kehormatan. Perahu kecil ini berisi 4 orang, dua orang berdiri di haluan sedangkan 2 orang menggerakkan perahu. Hebatnya, perahu kecil ini sama sekali tidak menggunakan dayung. Dua orang yang ada di buritan perahu membuat gerakan tubuh yang aneh dan air danau ini bergerak mengikuti pergerakan tangan mereka.
Dari atas balkon Penginapan Danau Naga, Huang Lung yang melihat kejadian itu bersama Panji Tejo Laksono, Pendeta Wang Chun, Luh Jingga, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg, Rakryan Purusoma dan Tumenggung Rajegwesi nampak terkejut bukan main melihat itu.
Konon katanya di daerah Xi Xia, ada satu keluarga yang mampu mengendalikan air sesuka hati mereka sendiri. Mereka adalah salah satu keluarga terkenal di dunia persilatan, Klan Shui. Mereka termasyhur di dunia persilatan sebagai salah satu dari keluarga yang memiliki bakat khusus pada ilmu beladiri yang menggunakan air sebagai senjata. Beladiri khusus ini diajarkan secara turun temurun kepada generasi berikutnya oleh para tetua keluarga. Huang Lung pernah menghadapi kemampuan beladiri mereka. Meski berhasil bertahan hidup, namun andai saja tidak ada bantuan dari kawannya, pasti dia tewas di tangan anggota Klan Shui itu.
"Klan Shui.....
Bagaimana mereka bisa muncul di sini?", gumam Huang Lung lirih tapi masih terdengar di telinga Pendeta Wang Chun Yang.
"Kau kenal dengan mereka?", Wang Chun Yang bertanya tanpa menoleh ke arah Huang Lung. Tatapan mata pendeta Tao ini terus tertuju pada perahu perahu kecil yang melesat cepat kearah panggung kehormatan dimana Gubernur Wu Ming berada.
"Mereka dari Klan Shui, suatu klan keluarga yang tinggal di tepi Danau Bulan Sabit. Mereka di kenal luas sebagai keluarga pengendali air yang termasyhur di Xi Xia.
Untuk apa mereka jauh jauh datang kemari? Apa mereka di bayar oleh seseorang untuk membunuh Gubernur Wu?", Huang Lung mengerutkan keningnya berusaha memikirkan semua kemungkinan yang ada.
Mendengar perkataan Huang Lung itu, Pendeta Wang Chun nampak mengernyitkan dahinya. Dia mendengar bahwa Gubernur Wu banyak di benci oleh orang karena pendukung Kaisar Huizong yang naik tahta dengan cara licik. Sempat beredar kabar bahwa Gubernur Wu Ming mengirimkan pasukan militer nya untuk menekan para adik kaisar terdahulu lainnya agar mundur dari perebutan kekuasaan setelah Kaisar Song sebelumnya, Kaisar Shenzong meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan. Dia adalah adik ke 11 Kaisar Shenzong, yang sebenarnya paling tidak berhak naik ke atas singgasana Kekaisaran Dinasti Song.
Dukungan yang diberikan oleh Gubernur Wu Ming tentu saja membuat para pendukung adik Kaisar Shenzong yang lain sakit hati, dan berupaya keras untuk membunuh Gubernur Wu Ming dengan berbagai cara. Salah satunya adalah Ye Bei yang keluarganya tersingkir dari ibukota Kaifeng setelah di usir oleh Kaisar Huizong karena mendukung pangeran kelima.
"Apakah kita akan diam saja melihat pemandangan seperti ini terjadi di depan mata kita?"
Ucapan Panji Tejo Laksono sontak membuat Pendeta Wang Chun Yang dan Huang Lung tersentak kaget mendengar nya. Mereka berdua semula sedikit kebingungan menentukan pilihan siapa yang akan mereka bela. Namun, sebusuk apapun kelakuan Gubernur Wu Ming, dia tetap pejabat tinggi di Kekaisaran Song. Saat ini membela nya adalah satu satunya cara agar Panji Tejo Laksono mendapat simpati dari Kaisar Huizong dan bisa dengan cepat pulang kembali ke negeri asalnya.
Saat mereka masih sibuk menentukan pilihan, Ye Bei melenting tinggi ke udara dengan menggunakan perahu kecil sebagai pijakan sembari menghantamkan tinju tangan kanannya ke arah panggung kehormatan.
Whhhhuuuuggghhh...
Selarik sinar putih berbentuk tinju tangan melesat cepat kearah panggung kehormatan. Namun belum sempat sinar putih itu menghantam, selarik sinar pedang berwarna biru keperakan melesat cepat menghadang ilmu yang dilepaskan oleh Ye Bei.
Blllaaammmmmmmm !
Ledakan dahsyat terdengar saat dua ilmu ini beradu, menciptakan gelombang kejut dan angin kencang yang menyebar ke segala arah. Sampai sampai panggung kehormatan pun roboh dan pasukan Gubernur Wu Ming pun tercerai berai. Disisi lain, perahu kecil yang di kendalikan oleh Klan Shui pun sebagian ada yang terbalik karena hantaman gelombang besar akibat ledakan dahsyat itu.
Saat itu juga, Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Huang Lung langsung melesat turun dari langit dua Penginapan Danau Naga ke arah Gubernur Wilayah Shou menyusul Pendeta Wang yang sudah lebih dulu bergerak.
"Jangan ada yang bergerak! Mereka adalah kawan".
Gubernur Wu Ming langsung mengenali jubah hitam putih milik Wang Chun Yang karena dulu mereka pernah bertemu saat Kaisar Huizong yang sangat memuja Taoisme, mengundang ratusan pendeta Tao ke istana Kaifeng.
"Tuan Pendeta Wang,
Terimakasih banyak atas bantuan mu baru saja. Wu Ming sangat berterimakasih", ujar Gubernur Wu Ming sembari mengangguk. Wu Xiao Rong yang berdiri di belakangnya pun segera membungkuk ke arah Pendeta Tao itu.
"Gubernur Wu tidak perlu sungkan..
Saya tentu tidak akan membiarkan seorang penjahat melukai seorang pejabat tinggi Negara Song di depan mata. Saya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan ", jawab Pendeta Wang Chun Yang sedikit berbasa-basi.
Belum sempat Gubernur Wu Ming menanggapi ucapan Pendeta Wang, Ye Bei yang berhasil menghindari gelombang kejut dari benturan dua tenaga qi tadi, langsung melesat cepat kearah Pendeta Wang Chun sambil kembali menghantamkan kedua tangan nya beruntun ke arah lawan.
Whuuthhh whuuthhh whuuthhh !!
Tanpa menunggu persetujuan, Panji Tejo Laksono langsung melepaskan Ajian Tapak Dewa Api untuk menangkis serangan Ye Bei.
Enam larik sinar merah menyala seperti api langsung menerabas cepat menyongsong ke arah sinar putih yang di lepaskan oleh Ye Bei.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmmmmmm!
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar. Ye Bei terpelanting jauh ke tengah Danau Naga setelah salah satu Ajian Tapak Dewa Api telak menghantam pinggang nya.
Byyuuurrrrrrrrr !
Melihat Ye Bei tewas, anggota klan Shui langsung membuat gerakan tubuh mirip seperti menari. Namun ternyata itu menciptakan pusaran air yang memunculkan bentuk ular dari air Danau Naga. Mereka lalu mengayunkan kedua tangan nya ke arah panggung kehormatan di tepi danau. Puluhan pusaran air berbentuk ular langsung melesat ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.
Whhuuuuuuuggggh !!
Pendeta Wang Chun Yang langsung lompat tinggi ke udara sembari mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada pedangnya dan dengan cepat menebaskan pedangnya. Selarik sinar biru tipis melesat cepat kearah ular ular air ciptaan Klan Shui.
Shrraaaakkkkhhhh !
Chrasshh Byyuuurrrrrrrrr !!
Satu tebasan hawa pedang Wang Chun Yang langsung memutus dua leher ular air ciptaan Klan Shui. Namun setelah putus, ular air ciptaan Klan Shui ini memanjang lagi dan kembali mengancam ke arah Pendeta Wang Chun Yang. Berkali kali Pendeta Wang menghancurkan aliran air berbentuk ular itu namun mereka seperti tidak ada habisnya. Nafas Pendeta Wang Chun Yang mulai terlihat memburu.
Panji Tejo Laksono pun segera merapal mantra Ajian Dewa Naga Langit lalu menggabungkannya dengan Ajian Tapak Dewa Api. Seluruh tangan pangeran muda dari Kadiri itu bersinar terang merah menyala seperti api yang berkobar. Panji Tejo Laksono langsung melompat tinggi ke udara dan menghantamkan kedua telapak tangannya ke arah perahu perahu milik Klan Shui, " Tapak Dewa Api.....
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!!"
Empat larik sinar merah menyala berhawa panas menerabas cepat kearah perahu milik Klan Shui yang berjarak sekitar 5 tombak dari tepi Danau Naga.
Blllaaammmmmmmm blllaaammmmmmmm!
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!
Ledakan dahsyat beruntun terdengar bersamaan dengan asap tebal dan kayu papan kayu yang berhamburan hancur berantakan di udara. 8 perahu kecil langsung hancur berantakan terkena hantaman Ajian Tapak Dewa Api. Dua orang Klan Shui yang sempat melihat serangan itu, berhasil menyelamatkan diri dengan menjauhkan diri dari rangkaian perahu yang menyerang Pendeta Wang Chun Yang.
Semua orang terkejut melihat kejadian itu termasuk Gubernur Wu Ming dan keponakannya Wu Xiao Rong. Mereka berdua tahu bahwa hanya orang yang memiliki kemampuan beladiri tingkat tinggi saja yang bisa menghancurkan 8 perahu Klan Shui dengan sekali gebrakan.
Sementara itu, Pendeta Wang Chun Yang pun kembali di buat terkejut dengan keampuhan serangan Panji Tejo Laksono. Sembari menarik nafas lega karena ular air ciptaan Klan Shui menghilang, dia menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang terlihat seperti orang yang tidak terlihat berilmu tinggi.
'Kemampuan yang menakutkan'