Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Di Tepi Jurang Terjal


Wajah cantik Song Zhao Meng memerah pertanda bahwa dia setengah malu mengatakan nya. Tapi dia yang bukan wanita Tanah Jawadwipa memang tidak sungkan untuk mengatakan apa yang ada di dalam benaknya. Ini tentu saja jauh berbeda dengan sikap Ayu Ratna, Gayatri maupun Luh Jingga yang memang lahir dengan sikap dan budaya Tanah Jawadwipa. Panji Tejo Laksono pun memaklumi itu semua.


Hanya saja, hati pangeran muda dari Kadiri ini bimbang. Bukan karena Putri Song Zhao Meng kurang cantik atau tidak menarik, tapi Panji Tejo Laksono teringat pada Luh Jingga dan Gayatri serta Ayu Ratna yang sudah di pastikan akan menjadi istri dan selir nya.


Entah apa yang akan di lakukan oleh mereka bertiga andai saja mereka tahu bahwa Putri Song Zhao Meng menawari calon suami mereka dengan ajakan bercinta seperti ini.


Karena Panji Tejo Laksono masih terdiam tak bicara, Putri Song Zhao Meng pun akhirnya mendekati sang pangeran muda tanpa mempedulikan lagi dengan Yuan Luo dan Guan Lian Er. Melihat muridnya mendekati Panji Tejo Laksono yang sedang berpikir keras, Guan Lian Er langsung menyambar tangan Yan Luo dan menyeretnya keluar dari dalam tempat itu. Yan Luo senyum senyum sendiri dan mengikuti langkah sang istri.


'Guru memang pengertian', senyum tipis terukir di wajah cantik putri Kaisar Huizong ini begitu melirik ke arah perginya Guan Lian Er dan Yan Luo.


Perlahan Putri Song Zhao Meng terus bergerak mendekati Panji Tejo Laksono. Dan begitu mereka sudah sangat dekat, Putri Song Zhao Meng langsung mencium bibir Panji Tejo Laksono tanpa menunggu persetujuan dari sang pangeran muda dengan sedikit berjinjit.


Cuppphhhhh..!


Ciuman Putri Song Zhao Meng seketika membuat Panji Tejo Laksono seperti tersadar dari lamunannya. Mata sang pangeran muda sedikit melebar karena terkejut dengan keberanian Song Zhao Meng.


Belum hilang rasa keterkejutan Panji Tejo Laksono, tangan lembut Song Zhao Meng langsung merangkul leher Panji Tejo Laksono yang mempunyai badan lebih tinggi dari pada dia. Dengan lembut Song Zhao Meng segera menarik leher sang pangeran muda dari Kadiri itu. Tanpa basa-basi lagi, Song Zhao Meng segera memagut bibir Panji Tejo Laksono.


Segala kebimbangan di hati Panji Tejo Laksono hilang sudah bersamaan dengan ciuman yang dia terima. Dia mulai menikmati semua perlakuan Song Zhao Meng yang dia terima. Tubuh yang ramping dan menarik, di tambah wajah cantik alami tanpa dandanan dengan senyum menawan membuat Panji Tejo Laksono tidak bisa lepas dari pesona alami yang di miliki sang putri Kaisar Huizong ini.


Setelah cukup saling memagut bibir, Panji Tejo Laksono langsung menggendong tubuh Song Zhao Meng ke tempat yang dia gunakan untuk beristirahat selama tinggal di goa ini.


Dengan lembut, Panji Tejo Laksono meletakkan tubuh Song Zhao Meng ke atas tempat tidurnya. Namun sebelum Panji Tejo Laksono melakukan tindakan yang lebih jauh, tangan kanan Song Zhao Meng menahan tubuh kekar sang pangeran muda dari Kadiri itu segera. Dia lalu turun dari tempat tidur Panji Tejo Laksono dan berdiri membelakangi sang pangeran muda dari Kadiri itu.


"Kakak Thee..


Aku bersedia untuk menyerahkan kehormatan ku pada mu asal kau berjanji pada bumi dan langit dan atas nama para leluhur kita bahwa kau akan baik pada ku dan menjaga ku seumur hidup", kata kata halus dan lembut Song Zhao Meng yang berbalik badan segera membuat Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti.


"Tentu saja. Kenapa tidak?", ucap Panji Tejo Laksono segera. Dua orang muda mudi ini segera berlutut di lantai tempat tidur Panji Tejo Laksono. Mereka bersujud tiga kali sambil menyebut nama leluhur mereka dan berjanji untuk saling berbagi seumur hidupnya. Ini adalah pernikahan sederhana hanya di ketahui mereka berdua.


Selesai melakukan sembah langit dan bumi, Song Zhao Meng langsung menubruk tubuh Panji Tejo Laksono dan mencium bibir sang pangeran muda dengan penuh perasaan cinta.


Selanjutnya yang terdengar dari dalam tempat itu hanya lengguhan penuh cinta dan erangan nikmat. Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng melakukan penyatuan jiwa dan raga mereka sebagai syarat untuk mempelajari Ilmu Semesta Yin Yang.


Jauh di Istana Adipati Kalingga, Ayu Ratna yang sedang asyik menikmati keindahan taman sari istana tiba tiba melihat sepasang burung yang sedang berkejaran di ranting pohon.


Sang putri Adipati Aghnibrata ini langsung teringat pada Panji Tejo Laksono yang sedang ada jauh di negeri orang.


"Kangmas Pangeran,


Aku rindu padamu. Kau harus kembali untuk menikahi ku. Aku akan selalu setia menunggu kedatangan mu", ucap Ayu Ratna lirih sembari terus menatap ke arah sepasang burung yang bercumbu dengan mesranya di atas ranting pohon sawo yang rindang.


Andai saja Ayu Ratna tahu bahwa Panji Tejo Laksono sedang bercumbu dengan perempuan lain di Negeri Tiongkok, entah apa yang akan di lakukan oleh putri Adipati Aghnibrata itu.


Sementara itu Luh Jingga yang sedang mencari keberadaan Panji Tejo Laksono tiba-tiba saja menatap ke arah timur laut tempat mereka mencari saat hari telah menjelang sore. Tumenggung Ludaka yang ada di dekat nya, seketika bertanya kepada sang putri Resi Damarmoyo, " Ada apa Luh Jingga?".


"Ah tidak Paman,


Aku hanya merasa bahwa keberadaan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ada di arah sana", Luh Jingga menunjuk ke arah jurang dimana Panji Tejo Laksono berada.


Rakryan Purusoma yang mendengar ucapan itu segera bertanya kepada seorang biksu yang menjadi pemandu pencarian mereka. Sang biksu Kuil Shaolin ini dengan tegas mengatakan bahwa di arah yang ditunjukkan oleh Luh Jingga terdapat jurang yang dalam. Tak seorangpun pernah masuk kesana jadi tidak mungkin penculik itu membawa Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng kesana.


"Kata biksu Kuil Shaolin itu, tidak mungkin ada orang yang akan kesana. Tempat itu sangat berbahaya dengan banyaknya serigala dan hewan buas lainnya ", ujar Rakryan Purusoma menerjemahkan omongan biksu Kuil Shaolin.


Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi yang turut mendengar penuturan Rakryan Purusoma pun manggut-manggut saja, sedangkan Luh Jingga justru punya pikiran lain.


"Paman Purusoma,


Kalau menurut perasaan ku, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sangat mungkin di bawa ke tempat itu. Tempat itu semua orang tidak ada yang berani mendekati, sudah barang tentu itu merupakan tempat teraman bagi si penculik untuk menyekap Gusti Pangeran", ujar Luh Jingga segera.


"Lah kali ini aku setuju dengan mu, Luh Jingga.


Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Nyatanya selama hampir 6 hari kita mencari, hasilnya tidak ada bukan?", timpal Demung Gumbreg dengan gaya sok tahu nya.


"Tapi ini sudah sore..


Sebaiknya kita segera kembali ke Kuil Shaolin untuk beristirahat. Besok pagi kita cari Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ke arah yang ditunjukkan oleh Luh Jingga tadi. Kau setuju kan Luh?", Tumenggung Ludaka menengahi perdebatan mereka.


Luh Jingga sumringah mendengar ucapan Tumenggung Ludaka, sedangkan Gumbreg dan Rajegwesi langsung mengacungkan jempol nya. Rakryan Purusoma pun memilih untuk mengikuti kesepakatan bersama. Mereka semua kembali ke Kuil Shaolin dan akan melanjutkan pencarian keesokan harinya.


Langit barat semakin memerah. Ribuan ekor kelelawar nampak berbondong bondong keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Sedangkan para burung dan hewan siang telah kembali ke sarang mereka masing-masing untuk beristirahat.


Song Zhao Meng berjalan sedikit tertatih usai membersihkan diri nya di dekat goa tempat dia dan Panji Tejo Laksono berlatih. Meski merasakan nyeri dan perih selepas bercinta dengan Panji Tejo Laksono, namun senyum manis justru terukir di wajah cantiknya.


Terbayang kejadian tadi siang dimana dia baru saja bergumul dalam nafas cinta yang membara bersama dengan Panji Tejo Laksono. Sang pangeran muda dari Kadiri itu menumpahkan darah perawan nya diatas tempat tidur yang menjadi saksi bisu janji hidup bersama selamanya antara mereka. Panji Tejo Laksono begitu perkasa di ranjang hingga membuat Putri Song Zhao Meng terkapar tak berdaya setelah di gempur habis-habisan.


Panji Tejo Laksono yang melihat Putri Song Zhao Meng berjalan tertatih, langsung mendekati nya dan menyambut tangan sang putri Kaisar Huizong yang hampir saja jatuh.


Kau baik baik saja?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


Putri Song Zhao Meng tersenyum simpul sembari berpegangan tangan pada pria tampan berkulit putih ini. Meski sedikit meringis menahan rasa nyeri di daerah kewanitaannya, namun perempuan cantik itu tetap berusaha untuk tersenyum.


"Kakak Thee, apa yang kau katakan?


Tentu saja aku baik baik saja. Aku tadi hanya tersandung batu kog", ucap Song Zhao Meng dengan wajah penuh bahagia.


"Maafkan aku. Karena aku kau jadi seperti ini", ucap Panji Tejo Laksono sembari menuntun Song Zhao Meng memasuki pintu goa.


"Ah kau ini..


Aku tidak apa-apa kog. Nanti juga sembuh sendiri. Kakak Thee tidak perlu mengkhawatirkan ku. Sudah jadi tugas ku sebagai istri untuk melayani suami ku", Song Zhao Meng tersenyum manja.


"Harusnya aku tidak memaksa mu untuk melakukan itu tadi. Melihat mu begini aku jadi merasa bersalah", Panji Tejo Laksono merasa tidak enak hati melihat cara jalan Song Zhao Meng.


"Ah suami ku ini nakal juga..


Kau jangan terlalu banyak berpikir macam-macam. Ini sudah menjadi kewajiban setiap istri. Ingat malam ini kau tidur sudah tidak sendirian lagi", senyum manis merekah di bibir Song Zhao Meng.


"Siapa bilang malam ini kalian bisa tidur cepat?"


Mendengar perkataan Yan Luo yang berdiri di samping Guan Lian Er, Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng langsung menoleh ke arah sepasang orang tua yang senyum senyum memperhatikan gerak-gerik mereka berdua.


"Kakek Yan,


Apa maksud dari ucapan mu? Meng Er sedang seperti ini, dia harus cepat beristirahat", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah sepasang pendekar tua itu.


"Justru karena itu, kalian berdua harus cepat mempelajari Ilmu Semesta Yin Yang. Ini adalah waktu terbaik bagi kalian berdua. Ingat waktu kalian tidak banyak. Masih ada beberapa tugas yang perlu kalian selesaikan dan juga ingat, para pengikut kalian sedang kebingungan mencari keberadaan kalian. Apa kalian tega untuk berbulan madu sedangkan para pengikut kalian kelabakan mencari tahu dimana kalian berada?".


Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng saling berpandangan sejenak. Mereka hampir saja lupa dengan para pengikut mereka. Segera mereka berdua menyetujui permintaan Yan Luo dan Guan Lian Er untuk secepatnya mempelajari Ilmu Semesta Yin Yang.


Malam itu juga, Yan Luo dan Guan Lian Er menurunkan seluruh kemampuan beladiri mereka berdua pada Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng.


Setelah berlatih keras semalam suntuk, menjelang pagi Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng menguasai bagian terakhir dari Ilmu Semesta Yin Yang ajaran Yan Luo dan Guan Lian Er.


Karena kelelahan keduanya sama-sama tertidur pulas di tempat mereka latihan hingga pagi menjelang tiba.


Cahaya matahari pagi yang cerah menerobos masuk ke dalam goa lewat pintu goa yang lebar. Ini menandakan bahwa sebentar lagi akan siang hari karena sesungguhnya cahaya matahari telah sepenggal naik di langit timur.


Panji Tejo Laksono terbangun dari tidurnya begitu pula dengan Song Zhao Meng. Mata sang pangeran muda dari Kadiri ini mengerjap beberapa kali untuk melihat sekelilingnya.


Diatas meja batu, ada secarik surat yang di tindih dengan sebuah giok yang bergambar naga yang sedang melingkar.


Panji Tejo Laksono segera berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke arah secarik surat itu di letakkan. Song Zhao Meng mengekor langkah sang putra tertua Prabu Jayengrana ini. Segera Panji Tejo Laksono meraih kertas itu. Karena tak begitu memahami aksara Cina, Panji Tejo Laksono segera menyerahkan surat itu pada Song Zhao Meng. Segera putri Kaisar Huizong ini membacakannya.


"Murid ku, Thee Jo dan Song Zhao Meng..


Kalian berdua sudah menguasai ilmu beladiri yang kami miliki. Selanjutnya, kalian lah yang bertugas menjaga agar ilmu ini terus berlanjut hingga akhir jaman. Tugas kami sudah selesai. Kami akan menyepi di tempat dimana kami tidak perlu lagi berhadapan dengan dunia persilatan.


Sesungguhnya, aku tidak bisa berpisah dengan kalian. Tapi aku paling benci jika air mata menetes saat melihat kalian pergi jauh. Walaupun cuma berjodoh dalam waktu singkat, tapi kami berdua menyayangi kalian seperti putra putri kami sendiri.


Aku berikan Giok Naga Meringkuk pada kalian, sebagai tanda bahwa kalian adalah penerus selanjutnya Ilmu Semesta Yin Yang.


Selamanya, kalian berdua adalah kesayangan kami. Selamat tinggal. Guan Lian Er dan Yan Luo"


Merembes keluar air mata Song Zhao Meng membaca surat dari Guan Lian Er dan Yan Luo. Perempuan cantik itu terharu dengan sikap sepasang pendekar tua itu pada mereka.


"Adik Meng Er, sudahlah..


Biarkan Kakek Yan dan Nyonya Guan pergi. Mereka sudah berbahagia dengan jalan mereka sendiri. Ingatlah, kita juga harus segera menemui orang-orang kita. Sudah cukup lama kita pergi meninggalkan mereka", ujar Panji Tejo Laksono yang segera mendapat anggukan kepala dari Song Zhao Meng. Putri Kaisar Huizong itu segera mengusap sisa air mata yang sempat membasahi pipinya. Dia menyimpan Giok Naga Meringkuk di balik bajunya. Mereka berdua segera menoleh ke arah tempat itu sesaat sebelum melesat cepat mendaki jurang terjal di kaki Gunung Song.


Dengan kemampuan beladiri yang jauh meningkat tajam, dengan mudahnya mereka menapaki dinding batu curam jurang terjal ini.


Luh Jingga, Rakryan Purusoma, Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Tumenggung Rajegwesi beserta para prajurit Panjalu yang ikut melakukan pencarian sampai di dekat jurang terjal di kaki Gunung Song. Sejauh mata memandang, hanya kabut tebal saja yang terlihat. Biksu yang mendampingi mereka, hanya menggelengkan kepalanya melihat keras kepala nya Luh Jingga yang ingin mencari Panji Tejo Laksono hingga ke tepi jurang.


Di saat yang bersamaan, dari bawah dua bayangan bergerak lincah seperti terbang di antara ranting dan bebatuan terjal. Dalam satu tarikan nafas, dua bayangan yang tak lain adalah Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng melenting tinggi ke udara dan mendarat tepat di depan para prajurit Panjalu.


Wajah kuyu Luh Jingga langsung cerah begitu melihat kedatangan Panji Tejo Laksono. Putri Resi Damarmoyo itu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dan memeluk tubuh sang pangeran muda dari Kadiri itu erat-erat.


"Gusti Pangeran, akhirnya kau kembali", ujar Luh Jingga sembari berurai air mata. Sementara itu, Putri Song Zhao Meng yang berdiri di samping Panji Tejo Laksono langsung mendengus dingin.


"Gadis ini minta di hajar rupanya".