
Mendengar teriakan keras dari salah seorang prajurit pengawal rombongan Panji Tejo Laksono, semua orang langsung menoleh ke arah yang ditunjukkan. Mereka pun segera mencabut senjata mereka masing-masing sembari bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Sesosok mahluk yang wajahnya tak terlihat jelas nampak berdiri di ujung ranting sebuah pohon besar di tepi Rawa Seribu Teratai. Sebagian besar wajah nya tertutup oleh rambut warna putih keperakan, namun dia seperti menggunakan pupur putih dengan pewarna bibir yang merah merona. Melihat dari bajunya yang berwarna merah dengan hiasan sulaman benang emas berbentuk bunga teratai, dia adalah seorang perempuan. Kemampuan ilmu meringankan tubuh nya sangat tinggi karena untuk berdiri di ujung ranting pohon itu setidaknya ia sudah menguasai ilmu meringankan tubuh setingkat Ajian Sepi Angin.
Mata perempuan berbaju merah itu nampak menyapu ke barisan pertahanan rombongan Panji Tejo Laksono yang bersiap siaga. Dari tengah kerumunan itu, Panji Tejo Laksono menyeruak keluar sembari menatap ke arah sosok berpakaian merah yang masih mengawasi pergerakan mereka.
"Mohon maaf jika kehadiran kami disini mengganggu ketenangan Tetua.
Tapi kami hanya beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Mohon tetua berbesar hati mengijinkan kami beristirahat", ucap Panji Tejo Laksono dengan sopan. Dia menghormat pada sosok berbaju merah itu segera.
Hening sejenak. Tak ada jawaban yang keluar dari mulut sosok berpakaian serba merah ini kecuali desisan nafas nya yang aneh.
"Hihihihi...
Bocah tampan, aku tidak akan mengganggu kalian beristirahat di sini, kecuali... hihihihi", terdengar suara tawa kecil yang menakutkan dari mulut sosok berpakaian serba merah itu. Jelas itu adalah suara seorang perempuan.
"Kecuali apa Tetua? Tolong jangan berbelit-belit", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Kecuali kalau kau ikut bersama ku ke tempat tinggal ku dan menjadi pemuas nafsu ku hahahaha", usai berkata demikian, si sosok berpakaian serba merah itu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono berniat untuk menangkap Panji Tejo Laksono.
Panji Tejo Laksono yang sudah bersiap sedari tadi, langsung menyiapkan kuda-kuda ilmu kanuragan nya. Namun tiba-tiba saja dua bayangan hijau dan kuning kemerahan melesat cepat menghadang laju pergerakan sosok yang di juluki sebagai Siluman Rawa Seribu Teratai itu sembari menghantamkan tangan mereka ke arah lawan.
Whuuthhh whuuthhh !!
Dua larik sinar putih dan merah menerabas cepat kearah Siluman Rawa Seribu Teratai. Dua serangan yang berunsur panas dan dingin itu kontan membuat Siluman Rawa Seribu Teratai merubah gerakan tubuhnya untuk menghindari bahaya yang mengancam nyawanya.
Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr... !!
Krrraaaakkkkkk....
Bruuuuaaaakkkkhhh !!
Pohon besar di belakang Siluman Rawa Seribu Teratai langsung berderak dan roboh setelah meledak keras usai terkena hantaman sinar putih dan merah yang di lepaskan oleh sepasang bayangan hijau dan kuning kemerahan yang tak lain adalah Song Zhao Meng dan Luh Jingga. Separuh batang pohon gosong seperti terbakar api sedangkan separuh nya membeku bak tanaman di musim dingin.
Siluman Rawa Seribu Teratai terhenyak melihat kemampuan beladiri dua orang yang menghadang laju pergerakan nya. Dia yang berhasil menghindari serangan, kini mendarat di ujung ranting pohon bambu yang ada di tepi rawa. Matanya geram menatap ke arah Luh Jingga dan Song Zhao Meng yang kini berdiri di depan Panji Tejo Laksono.
"Keparat !
Ada yang cari mampus rupanya. Kalian berdua tidak tahu siapa aku ha?", teriak Siluman Rawa Seribu Teratai dengan lantang.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Kau hanya seorang perempuan tua cabul yang ingin menangkap suami ku. Kalau kau ingin menangkap nya, langkahi dulu mayat ku nenek tua!", jawab Song Zhao Meng sembari mendelik kereng pada Siluman Rawa Seribu Teratai.
Hihihihihihihi...
"Gadis busuk, kau sombong sekali ya...
Belum bisa menyentuh kulit ku sudah berani sombong di depan ku. Akan ku beri kau pelajaran", Siluman Rawa Seribu Teratai langsung melesat cepat sembari mengibaskan lengan bajunya.
Whhhuuuuusssshhh..!!
Angin kencang menderu tajam ke arah Song Zhao Meng. Melihat itu, Luh Jingga segera melompat ke depan sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya. Rupanya putri Resi Damarmoyo itu merapal mantra Ajian Tapak Dewa Bayu yang merupakan bagian kedua dari Kitab 5 Tapak Dewa.
Serangkum angin yang tak kalah mengerikan segera berhembus kencang memapak serangan Siluman Rawa Seribu Teratai.
Whhhuuuggghhhh..
BLLLAAAAAARRRRRRR!!!!
Beradunya dua angin kencang berhawa dingin tenaga dalam tingkat tinggi dari Siluman Rawa Seribu Teratai dan Luh Jingga menciptakan ledakan keras.
Melihat Luh Jingga maju, Song Zhao Meng melompat tinggi ke udara dan meluncur ke arah Siluman Rawa Seribu Teratai sembari membabatkan tapak tangan kanan nya yang diliputi sebuah sinar berwarna putih seperti es tipis yang dingin kearah leher wanita tua berbaju merah itu.
Shreeeeettttthhh !
Siluman Rawa Seribu Teratai yang baru saja terdorong mundur beberapa orang usai ilmu nya di tahan oleh Luh Jingga, terkejut bukan main melihat serangan cepat Song Zhao Meng. Perempuan tua itu buru-buru merendahkan tubuhnya untuk menghindari sabetan tangan kanan Song Zhao Meng.
Melihat serangan Song Zhao Meng mentah, Luh Jingga dengan cepat mencabut pedang di pinggangnya dan segera melesat maju ke Siluman Rawa Seribu Teratai dengan mengayunkan pedangnya. Pertarungan sengit satu lawan dua itu berlangsung menegangkan.
Sementara itu Panji Tejo Laksono terus mengawasi jalannya pertarungan antara Siluman Rawa Seribu Teratai melawan Luh Jingga dan Song Zhao Meng.
Demung Gumbreg yang hendak ikut campur dalam pertarungan sengit itu, langsung di cekal oleh Tumenggung Ludaka.
"Kenapa Lu? Aku ingin membantu Luh Jingga", ucap Gumbreg segera.
"Kau tidak perlu repot-repot ikut campur urusan ini, Mbreg. Kau lihat sendiri bukan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono saja masih tenang saja, itu artinya kita tidak perlu khawatir dengan keselamatan Putri Song Zhao Meng ataupun Luh Jingga.
Kalau kau ikut menyerang, itu malah membuat konsentrasi bertarung mereka akan pecah", jawab Tumenggung Ludaka sambil terus menatap ke arah pertarungan.
"Huhhhhh sial...
Hampir 15 jurus berlalu dan pertarungan sengit antara Siluman Rawa Seribu Teratai melawan Luh Jingga dan Song Zhao Meng sepertinya sudah hampir memasuki akhir. Tiga sayatan pedang Luh Jingga dan pedang es Song Zhao Meng sudah menghiasi tubuh dan lengan Siluman Rawa Seribu Teratai sedangkan baju Luh Jingga di bagian lengan kiri juga robek meski tidak melukai kulitnya.
BLLLAAAAAARRR!!
Luh Jingga dan Song Zhao Meng terdorong mundur beberapa langkah ke belakang setelah senjata mereka berdua beradu dengan tapak tangan Siluman Rawa Seribu Teratai yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi nya. Siluman Rawa Seribu Teratai sendiri juga terdorong untuk hampir 1 setengah tombak ke belakang. Jika satu lawan satu dengan mereka, dia akan mudah mengalahkan Luh Jingga maupun Song Zhao Meng yang tenaga dalam nya masih jauh di bawah nya. Namun saat mereka berdua bersatu, tenaga dalam gabungan mereka berdua setingkat lebih tinggi di banding dengan nya.
Sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya, dia menatap ke arah Luh Jingga dan Song Zhao Meng.
'Keparat !
Kalau begini terus terusan, bisa bisa aku di pecundangi oleh dua gadis bau kencur ini. Aku harus mencari cara untuk memecah kekompakan mereka', batin Siluman Rawa Seribu Teratai.
Tiba-tiba sorot mata Siluman Rawa Seribu Teratai itu tertuju pada Luh Jingga. Menurut perhitungannya, gadis itu adalah yang terlemah di bandingkan dengan Song Zhao Meng. Memang sedari tadi, Luh Jingga hanya menggunakan Ajian Tapak Dewa Bayu dan Tapak Dewa Agni saja untuk mendukung pergerakan Song Zhao Meng.
Siluman Rawa Seribu Teratai langsung melesat cepat kearah Luh Jingga sembari memusatkan seluruh tenaga dalam nya pada jari jemari tangan kanannya untuk sekali serang. Jari jemari tangannya berubah warna menjadi hitam legam sebagai tanda Ilmu Jari Iblis telah di gunakan.
Sadar Siluman Rawa Seribu Teratai mengincarnya, diam diam Luh Jingga merapal mantra Ajian Tapak Dewa Indra di tangan kirinya. Kilatan cahaya biru terang seperti warna petir menyambar perlahan tercipta di telapak tangan kirinya lalu perlahan membungkus telapak tangan kirinya.
Kecepatan tinggi Siluman Rawa Seribu Teratai yang mengagumkan, cukup mengagetkan semua orang. Luh Jingga dengan cepat membabatkan pedang nya ke arah leher Siluman Rawa Seribu Teratai.
Shreeeeettttthhh !
Melihat itu, Siluman Rawa Seribu Teratai menyeringai lebar sembari dengan sigap menangkap bilah pedang Luh Jingga dan memuntir nya.
Kreeetteeekkkkkkkkhhh !!
Terdengar suara seperti bunyi kayu patah. Bilah pedang Luh Jingga langsung terpilin seperti batang sirih membelit pohon randu. Siluman Rawa Seribu Teratai menyeringai lebar sembari melemparkan pedang Luh Jingga yang sudah berubah bentuk nya. Namun alangkah terkejutnya ia melihat Luh Jingga yang masih tetap tenang melihat pedangnya di rusak.
Sekejap kemudian Luh Jingga mengayunkan tapak tangan kiri nya yang berwarna biru terang kearah lengan kanan Siluman Rawa Seribu Teratai. Melihat serangan itu, Siluman Rawa Seribu Teratai yang yakin dengan kemampuan Ilmu Jari Iblis nya memapak serangan Ajian Tapak Dewa Indra.
Chhrrrraaaaaassss..
Aaaarrrgggggghhhhh !!!
Jari jemari tangan kanan Siluman Rawa Seribu Teratai langsung putus terkena tebasan Ajian Tapak Dewa Indra yang di pusatkan hingga menjadi senjata tajam yang mampu memotong apa saja oleh Luh Jingga.
Sembari membekap tangan kanannya yang hancur, Siluman Rawa Seribu Teratai terhuyung huyung mundur. Darah segar terus mengalir keluar dari luka nya. Melihat itu Song Zhao Meng melesat ke samping kiri kanan Siluman Rawa Seribu Teratai sembari menghantam pinggang wanita tua yang selama ini menjadi momok menakutkan bagi semua orang yang melintas di tempat ini.
Dhiiiieeeesssssshhhhhh !!
Raungan keras terdengar dari mulut Siluman Rawa Seribu Teratai. Tubuhnya melayang jauh ke belakang kearah para pengikut Panji Tejo Laksono.
Demung Gumbreg yang sedari tadi hanya menonton, langsung menyeringai lebar melihat Siluman Rawa Seribu Teratai yang menuju ke arah nya.
"Sekarang giliran ku hahay", ucap Demung Gumbreg kegirangan sembari mengayunkan pentung sakti nya kearah kepala Siluman Rawa Seribu Teratai.
Bruuuuaaaakkkkhhh !!!
Tubuh Siluman Rawa Seribu Teratai langsung terlempar ke dalam rawa. Sebentar kemudian tubuh nya mengambang dengan darah segar keluar dari dalam tubuh nya. Dia tewas mengenaskan.
Hari itu, salah nyawa satu momok menakutkan di dunia persilatan Tanah Tiongkok berakhir di tangan para pengikut Panji Tejo Laksono.
Selepas membersihkan diri dari bekas bekas bertarung, Luh Jingga dan Song Zhao Meng segera mengganti baju mereka. Begitu beres, perjalanan mereka pun di lanjutkan menuju ke arah Kota Qi. Sepanjang perjalanan, para prajurit Panjalu yang mengawal membicarakan tentang kehebatan ilmu kanuragan yang dimiliki oleh dua calon istri Panji Tejo Laksono itu hingga mereka memasuki gerbang kota Qi.
Suasana senja nampak begitu indah di langit barat saat rombongan Panji Tejo Laksono memasuki gerbang kota Qi. Karena sebelumnya Kaisar Huizong sudah memerintahkan kepada seluruh walikota dan gubernur yang akan di lewati oleh rombongan Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng untuk menyediakan tempat bermalam bagi mereka, kedatangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan di sambut dengan hangat oleh Walikota Qi, Sangguan Yu. Mereka pun mendapatkan tempat istirahat di sebuah penginapan terbesar di Kota Qi yang sudah di pesan oleh Walikota Sangguan sebelumnya.
****
Nun jauh di Nusantara, tepatnya di sisi Utara pulau Jawa.
Di kota Kadipaten Bojonegoro sedang di langsungkan pernikahan antara putra Panji Watugunung dan Ayu Galuh yang bernama Pangeran Mapanji Jayawarsa dengan putri Adipati Tunggaraja penguasa Kadipaten Bojonegoro yang bernama Dewi Rara Muninggar. Meski perjodohan mereka berlangsung singkat, namun Prabu Jayengrana alias Panji Watugunung ingin secepatnya mereka di nikahkan agar putra keduanya ini bisa segera memiliki rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri juga terhadap Kerajaan Panjalu.
Sepekan perayaan untuk pernikahan putra raja ini telah di gelar besar-besaran oleh Adipati Tunggaraja mengingat bahwa setelah ini dia akan mundur dari jabatannya sebagai penguasa Kadipaten Bojonegoro. Siang tadi telah di gelar acara pernikahan antara Pangeran Mapanji Jayawarsa dengan Dewi Rara Muninggar dengan khidmat dan malam ini acara penutup nya adalah pergelaran seni tayub dengan menghadirkan penari penari tledek yang tersohor dari seantero wilayah Kadipaten Bojonegoro. Suasana ini berlangsung sangat meriah.
Pangeran Mapanji Jayawarsa bahkan ikut menari bersama dengan para penari tledek yang cantik cantik. Salah satu diantaranya adalah seorang penari tledek yang bernama Selasih. Gadis muda nan jelita asal Pakuwon Jatiroto ini sangat terkenal dengan kecantikan nya dan tariannya yang konon mampu membius mata siapapun yang melihatnya. Dia selalu menjadi rebutan diantara mereka yang menari di gelanggang tari tledek. Namun saat Pangeran Mapanji Jayawarsa menari dengan nya, tak seorangpun berani berebut dengan nya.
Ini membuat Dewi Rara Muninggar, istri Pangeran Mapanji Jayawarsa yang menonton pertunjukan tayub itu meremas ujung jarit nya sebagai bentuk kekesalan yang luar biasa atas ulah suami yang baru saja menikahinya. Sembari merengut kesal, dia menoleh ke arah salah seorang emban istana kepercayaan nya.
"Surti,
Siapa perempuan itu?", tanya Dewi Rara Muninggar dengan penuh amarah. Surti sang dayang istana segera menjawab pertanyaan majikannya itu dengan cepat.
"Dia adalah Selasih, Gusti Ayu..
Kembang Tayub dari Pakuwon Jatiroto", Surti segera menghormat pada Dewi Rara Muninggar. Sambil menahan amarah penuh rasa cemburu, Dewi Rara Muninggar segera mendesis keras dan berkata dengan nada suara dingin,
"Malam ini dia harus mati!"