
Panji Tejo Laksono dan kedua istrinya terus memacu kuda mereka ke arah selatan. Walaupun masih belum bisa lepas dari bayang-bayang Ki Jatmika yang baru saja hilang di bawa makhluk halus ke kerajaan siluman Hutan Larangan, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Bukan tega terhadap kawan, namun berurusan dengan kerajaan siluman sangat berbahaya bagi mereka yang memiliki ilmu kebatinan tingkat rendah. Bisa mengalahkan Nyi Kembang Sore saja itu merupakan keberuntungan bagi mereka. Kalau pun memaksa untuk menolong Ki Jatmika, mereka mesti siap untuk kehilangan nyawa. Karena keberhasilan dalam upaya penyelamatan itu hanya kecil sekali karena mereka sepenuhnya buta dengan kekuatan kerajaan siluman di Hutan Larangan.
Melintasi jalan berbatu yang ada di wilayah Kadipaten Kanjuruhan, mereka terus bergerak menuju ke arah selatan. Menjelang sore, mereka bertiga pun sampai di Hutan Pancur yang merupakan salah satu wilayah Pakuwon Tumapel sebelum memasuki kota kecil ini.
"Sebaiknya kita segera beristirahat..
Lihatlah matahari senja sebentar lagi akan segera berakhir. Lebih baik segera menata tempat untuk beristirahat sebelum kita kemalaman di jalan", ujar Panji Tejo Laksono yang menghentikan kuda nya di dekat sungai kecil yang terletak di sebelah jalan raya.
"Aku sependapat dengan mu, Kangmas..
Kota Pakuwon Tumapel masih cukup jauh dari sini. Aku akan menyiapkan perbekalan kita untuk nanti makan malam", jawab Dyah Kirana segera.
"Ayo Adik Kirana..
Aku akan membantu mu untuk menyiapkannya", timpal Song Zhao Meng yang mendapat anggukan kepala dari Dyah Kirana. Keduanya segera melompat turun dari kuda mereka masing-masing dan berjalan ke balik sebongkah batu besar di dekat pohon bertambi besar. Tempat itu cukup terlindung dari angin malam yang biasanya berhembus dari arah selatan.
Song Zhao Meng segera mengumpulkan kayu kayu kering di sekitar tempat itu untuk membuat api unggun. Sedangkan Dyah Kirana mencari dedaunan yang bisa di jadikan sebagai alas tidur mereka.
Saat kedua istri nya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah pepohonan hutan untuk mencari sesuatu yang bisa di makan. Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi, Panji Tejo Laksono langsung memanjat pohon besar itu dengan mudah. Begitu sampai di atas ujung pohon, Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
Telinga Panji Tejo Laksono yang peka langsung menangkap suara babi hutan yang berada sekitar 50 tombak dari tempat nya berdiri. Panji Tejo Laksono tersenyum dan langsung melompat dari satu pucuk pohon ke pohon lainnya. Begitu sampai di tempat yang dituju, Panji Tejo Laksono langsung menajamkan penglihatan nya ke bawah.
Di bawah sana, serombongan babi hutan nampak sedang berjalan beriringan hendak pulang ke liang tempat tinggalnya. Panji Tejo Laksono yang membawa sebatang pohon bambu seukuran tombak dari tempat peristirahatan, langsung bersiap siap. Ujung bambu yang runcing pun di arahkan pada salah satu induk babi hutan.
Whhhuuuggghhhh...
Chhreepppppph..,,,!!
Nggguuiiikkkkkkkkk!!!
Jerit keras terdengar dari mulut babi hutan itu saat tombak bambu runcing yang di lemparkan oleh Panji Tejo Laksono menembus punggung hingga ke perutnya. Babi hutan yang lain langsung berhamburan menyelamatkan diri. Sedangkan babi hutan besar itu nampak meronta-ronta kesakitan namun dia tidak dapat melepaskan diri karena tombak bambu runcing yang di lemparkan Panji Tejo Laksono melesak kedalam tanah hampir sedengkul dalamnya.
Saat babi hutan besar itu mulai lemas karena mulai kehilangan tenaga setelah banyaknya darah yang keluar dari dalam tubuh nya, Panji Tejo Laksono melayang turun dari atas pohon. Melihat babi hutan besar itu sudah mati, Panji Tejo Laksono langsung memanggul nya dan segera meninggalkan tempat itu.
Begitu sampai di tempat bermalam yang sudah di siapkan oleh Song Zhao Meng dan Dyah Kirana, Panji Tejo Laksono segera melemparkan tubuh babi hutan itu ke samping tumpukan kayu kering untuk segera di olah. Mereka bertiga pun bekerjasama mengolah hewan liar itu.
Malam turun menutupi seluruh dunia. Para kelelawar sibuk mencari makan begitu keluar dari dalam goa tempat tinggalnya. Suara burung burung malam sesekali berbunyi dari balik kegelapan pada ranting pepohonan di hutan itu. Suara belalang dan jangkrik yang bersahutan semakin menambah suasana sepi di tempat itu.
Perapian yang di buat oleh Panji Tejo Laksono, ia gunakan untuk memanggang daging babi hutan yang telah mereka bersihkan di sungai kecil dekat tempat mereka bermalam. Song Zhao Meng membantu suaminya membolak-balik daging hewan liar itu sedangkan Dyah Kirana sesekali menambahkan kayu kering ke perapian agar nyala api tetap terjaga.
Bau harum daging babi hutan panggang menyebar ke sekeliling tempat itu. Ini memang bisa berbahaya karena dapat mengundang hadirnya binatang buas seperti harimau dan serigala. Sedikit saja lengah, bisa-bisa nyawa mereka berakhir di mulut para binatang buas ini.
Setelah daging babi hutan itu matang, Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng pun mulai memakan nya.
Tiba-tiba..
Klethheeekkk krreeekkkk..!!
Terdengar suara ranting kering yang patah karena diinjak oleh sesuatu. Telinga Panji Tejo Laksono yang peka, langsung menoleh ke arah sumber suara dengan penuh kewaspadaan. Dia segera menoleh ke arah Song Zhao Meng dan Dyah Kirana yang juga ikut berhenti makan karena mendengar suara itu.
"Ssstttttt...
Jangan berisik.. Ada sesuatu yang sedang mendekat kemari. Bersiaplah untuk menghadapi segala kemungkinan..", bisik Panji Tejo Laksono sambil menaruh telunjuk tangan kanannya ke depan mulut.
Song Zhao Meng dan Dyah Kirana mengangguk mengerti. Dyah Kirana segera meletakkan daging babi hutan panggang di sampingnya lalu memegang erat gagang Pedang Bulan Sunyi miliknya. Song Zhao Meng pun sama. Putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok ini pun perlahan mulai mengumpulkan tenaga dalam Bulan Es nya di telapak tangan kanan untuk bersiaga menghadapi apapun yang sedang mendekati mereka.
Suara langkah kaki itu semakin mendekat dan terus mendekati tempat mereka bermalam. Suasana pun semakin tegang di tempat itu.
"Siapa kalian? Mengapa mengendap-endap di tempat ini?", suara berat nan berwibawa Panji Tejo Laksono terucap.
"Eehh kami sedang mencari tempat perlindungan Kisanak..
Sungguh tidak ada maksud untuk mengganggu kalian", ujar si perempuan muda yang terlihat seperti sedang kecapekan karena memapah lelaki bertubuh kekar yang bersamanya.
Panji Tejo Laksono langsung memperhatikan mereka berdua mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sedangkan Song Zhao Meng dan Dyah Kirana urung bersiap untuk bertarung begitu melihat kedatangan tamu tak diundang itu.
Si perempuan muda yang memakai baju berwarna merah tua ini terlihat seperti seorang putri keluarga kaya ataupun juga seorang bangsawan. Menilik dari pakaian nya yang terbuat dari kain mahal meski telah robek di beberapa tempat ini menunjukkan bahwa dia bukanlah seorang rakyat jelata. Beberapa cunduk mentul di atas sanggul rambut nya yang tak karuan bentuknya itu adalah bukti lain bahwa dia adalah anak orang kaya.
Berbeda dengan si perempuan muda itu, si lelaki ini justru terlihat seperti seorang gembel. Beberapa bagian pakaiannya ada tambalan dan robek seperti bekas cambukan di punggungnya. Celana pendek selutut berwarna hitam yang dia kenakan terlihat lusuh, begitu pula dengan jarit lompong kali berwarna hitam yang melilit pinggang nya terlihat kotor seperti sudah lama tak di cuci.
Ini menarik perhatian Panji Tejo Laksono untuk mengetahui apakah sebabnya sepasang laki perempuan berbeda kasta ini bisa bersama hingga sampai di tempat ini.
"Sepertinya kawan mu ini terluka.. ", Panji Tejo Laksono menunjuk ke arah dada kiri bawah lelaki muda itu yang terlihat masih meneteskan darah meski telah di balut dengan beberapa sobekan kain.
"Iya, Kakang Anggana sedang terluka oleh sabetan pedang anak buah Lokeswara saat mencoba untuk menyelamatkan ku.
Kalau boleh, biarkan kami ikut berdiang bersama kalian untuk malam ini Kisanak. Aku mohon..", mata perempuan muda itu menatap penuh harap pada Panji Tejo Laksono.
Mendengar permintaan dari perempuan muda itu, Panji Tejo Laksono langsung menoleh ke arah kedua istrinya. Song Zhao Meng hanya diam sedangkan Dyah Kirana mengangguk cepat.
"Baiklah, karena mereka tidak keberatan maka aku pun tak ada alasan lagi untuk mengusir kalian. Silahkan cari tempat sendiri..", selepas berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung balik badan dan melangkah menuju ke arah Dyah Kirana dan Song Zhao Meng.
Perempuan muda itu segera berjalan mengekor di belakang Panji Tejo Laksono. Begitu sampai di depan perapian, dia segera merebahkan tubuh lelaki muda yang bersama nya itu ke sisa daun alas tidur Panji Tejo Laksono yang tidak terpakai. Dengan telaten dia menata tata letak tubuh si lelaki muda itu agar merasa nyaman.
"Terimakasih karena sudah mau membagi tempat dengan ku dan Kakang Anggana. Kisanak dan Nisanak sekalian, perkenalkan nama ku Dyah Sawitri. Ini Kakang Anggana.
Kami berdua adalah penduduk Wanua Sengguruh di Kadipaten Keling", ucap perempuan muda itu memperkenalkan diri nya.
Dyah Kirana terkejut mendengar cerita dari Dyah Sawitri. Keling adalah wilayah pecahan Kadipaten Kanjuruhan yang ada di sebelah tenggara, tepatnya dekat dengan Kerajaan Blambangan di ujung timur pulau Jawa.
"Dari Keling? Jauh sekali kalian..
Bagaimana ceritanya kalian bisa sampai di tempat ini?", tanya Dyah Kirana segera.
Dyah Sawitri menghela nafas panjang sebelum akhirnya. Dia melirik ke arah Anggana yang masih terbaring lemah karena luka yang dialami nya.
"Begini ceritanya...
Aku adalah seorang putri dari lurah Wanua Sengguruh, Ki Supandriya. Sejak kecil, aku berkawan dekat dengan Kakang Anggana yang putra seorang pekatik di rumah ku.
Entah bagaimana mula nya, kami berdua saling menyukai. Mungkin karena kami ini tumbuh bersama jadi kami tahu sifat kami masing-masing. Saat aku berusia dua windu, ayahku menjodohkan ku dengan putra Akuwu Kumitir yang bernama Mahananda. Tentu saja aku tidak mau di jodohkan dengan pemuda kaya itu karena hati ku telah menjadi milik Kakang Anggana.
Karena tak mau di jodohkan, aku dan Kakang Anggana memutuskan untuk kawin lari. Malam itu kami berdua kabur dari rumah ayah ku di Wanua Sengguruh. Namun sialnya, kami terpergok oleh para centeng Mahananda. Untungnya kami berhasil menyelamatkan diri.
Tapi Mahananda tidak membiarkan kami begitu saja. Dia terus memburu kami hingga ke tapal batas wilayah Kadipaten Kanjuruhan. Kemarin siang kami..."
Krrruuuukkkkkkk....!!
Suara perut Dyah Sawitri memotong omongan perempuan itu. Dyah Kirana menoleh ke arah Panji Tejo Laksono. Begitu melihat anggukan kepala dari sang suami, Dyah Kirana segera mengambil dua potong daging babi hutan panggang dan mengulurkannya pada Dyah Sawitri sambil tersenyum simpul.
"Makanlah dulu..
Cerita nya di sambung nanti.."