
Demung Gumbreg menggaruk kepalanya sebelum berbicara. Meski sedikit takut kena marah dari Panji Tejo Laksono, namun rasa penasaran nya yang besar membuat pria paruh baya bertubuh tambun itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran Adipati..
Itu, gadis berbaju putih yang duduk di sebelah Gusti Selir Gayatri itu siapa? Kog hamba belum pernah melihat nya", tanya Demung Gumbreg sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
Mendengar pertanyaan itu, semua orang yang ada di tempat itu juga langsung berpaling kepada Panji Tejo Laksono. Mereka juga penasaran dengan siapa gadis cantik berbaju putih yang ikut serta dalam pertemuan itu. Hanya Gayatri dan Luh Jingga saja yang terlihat biasa-biasa saja.
"Kau ini Mbreg.. Pertanyaan seperti itu kau tanyakan di Pendopo Agung. Apa tidak ada tempat lainnya?", geram Tumenggung Ludaka yang kesal dengan ulah kawannya itu.
"Daripada jadi bisul Lu.. Mending aku tanyakan saja biar tidak penasaran", Gumbreg keukeuh dengan omongan nya.
Panji Tejo Laksono tersenyum simpul sembari menatap ke arah sang abdi setia Kerajaan Panjalu itu. Sang pangeran muda dari Kadiri itu segera mengalihkan pandangannya pada Dyah Kirana yang masih diam saja di samping Gayatri.
"Kirana, perkenalkan dirimu pada mereka agar mereka bisa mengenal siapa dirimu", Panji Tejo Laksono mengangkat tangan kanannya ke depan sebagai tanda dia mempersilahkan kepada Dyah Kirana untuk berbicara. Mendengar perintah dari Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana pun bicara dari tempat duduknya.
"Nama saya Dyah Kirana, putra Resi Ranukumbolo pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru di wilayah Kadipaten Dinoyo Kerajaan Jenggala", ucap Dyah Kirana dengan sopan.
Kaget semua orang di tempat itu termasuk Ayu Ratna. Permaisuri pertama Panji Tejo Laksono itu segera menoleh ke arah suaminya.
"Kangmas Pangeran, dia orang Jenggala? Bagaimana bisa Kangmas Pangeran membawa orang dari Jenggala masuk ke dalam istana ini?", tanya Ayu Ratna seperti mewakili isi hati Tumenggung Ludaka, Demung Gumbreg dan Song Zhao Meng.
"Siapapun orangnya, entah dari Jenggala, Panjalu, Galuh Pakuan, Kerajaan Bedahulu atau bahkan dari negeri jauh seperti Tanah Tiongkok sekalipun, asal dia tidak ada niatan untuk memusuhi Panjalu, aku tidak akan mempermasalahkan nya dan pintu istana Kadipaten Seloageng selalu terbuka untuk siapa pun.
Sebagai amanat dari Maharesi Padmanaba yang sudah mengangkat ku sebagai penerus dari ilmu nya, aku sudah berjanji untuk selalu menjaga Kirana sebagai istri ku. Maaf jika ini terjadi, tetapi takdir dewata mungkin lah yang mengaturnya seperti ini, Dinda Ayu..", urai Panji Tejo Laksono panjang lebar tentang keberadaan Dyah Kirana.
"Berarti Gusti Pangeran Adipati dapat istri cantik lagi?? Duh aku jadi uhukkk...", belum sempat Demung Gumbreg menyelesaikan omongannya, sikut kiri Tumenggung Ludaka sudah lebih dulu mengenai rusuknya. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu langsung batuk batuk kecil.
"Uhukkk uhukkk..
Kenapa kau sikut aku Lu? Bukankah aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya?", protes Demung Gumbreg sembari mengusap rusuknya yang sakit.
"Mulutmu memang selalu nyerocos seperti kuali bocor, Mbreg..
Benar menurut mu, tapi apa kau tidak bisa melihat air muka Gusti Ayu Ratna? Sudah tua masih saja tidak bisa memahami perasaan orang ", bisik Tumenggung Ludaka yang membuat Demung Gumbreg segera melirik ke arah Ayu Ratna yang terlihat murung mendengar jawaban Panji Tejo Laksono. Perwira tinggi prajurit Panjalu itu pun segera sadar bahwa suasana di tempat itu sedang tidak enak.
Panji Tejo Laksono yang juga menyadari kalau istri nya sedang tidak enak hati, menghela nafas panjang. Diantara keempat orang istri nya, memang Ayu Ratna yang gampang sekali terbawa perasaan. Sedikit saja ada yang tidak berkenan, wajahnya tidak akan mampu menyembunyikan perasaannya.
"Sebelum aku melaksanakan tugas dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, aku ingin beristirahat di ruang pribadi ku. Aku undur diri dulu.
Dinda Jingga, tolong kau ajak Kirana ke Keputren Istana Kadipaten Seloageng", Panji Tejo Laksono beranjak dari singgasananya setelah berbicara demikian dan berjalan meninggalkan Pendopo Agung Kadipaten Seloageng. Semua orang yang ada di tempat itu langsung menyembah pada sang penguasa Kadipaten Seloageng yang jengkar kedaton ( masuk ke dalam istana nya ). Song Zhao Meng pun segera mengikuti langkah sang suami.
Setelah Panji Tejo Laksono pergi, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg segera kembali ke tempat peristirahatan yang di sediakan untuk mereka. Setelah kedua orang tua itu pergi, Gayatri segera menghampiri Ayu Ratna yang masih duduk di tempatnya.
"Nimas Ayu,
Seperti nya kau tidak suka dengan kehadiran Dyah Kirana bukan?", Gayatri langsung menatap ke arah Ayu Ratna yang terkaget mendengar pertanyaan madu nya itu. Buru-buru putri Adipati Aghnibrata ini berdiri dari tempat duduknya dan menoleh ke arah lain.
"Siapa bilang begitu, Kangmbok? A-aku tidak seperti itu", Ayu Ratna gugup juga saat menjawab pertanyaan Gayatri. Mendengar jawaban itu, Gayatri tersenyum penuh arti.
"Kau mungkin bisa mengelak, Nimas Ayu. Tapi kau tidak akan bisa menipu ku. Dari jawaban mu baru saja sudah kelihatan loh..
Sepertinya aku harus sedikit menyadarkan mu tentang apa saja peraturan yang berlaku di keluarga bangsawan seperti keluarga Istana Kotaraja Daha. Karena kau juga dari keluarga bangsawan, seharusnya kau pun sudah mengetahuinya.
Dengar Nimas Ayu,
Kita adalah istri dari seorang pangeran yang mungkin kelak akan menjadi seorang Maharaja Panjalu menggantikan posisi Gusti Prabu Jayengrana. Posisi yang sangat penting dan mungkin akan tercatat sebagai sejarah oleh keturunan kita nanti. Sudah wajar jika seorang raja ataupun adipati memiliki istri lebih dari satu di tatanan masyarakat kita sekarang ini. Entah itu karena cinta ataupun karena perjodohan, seorang pangeran yang mungkin akan menjadi raja harus menikah dengan banyak perempuan. Kita tidak bisa memaksa Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono untuk hanya memperistri kita saja. Di masa depan, untuk menguatkan posisi nya sebagai jalan politik nya bisa saja Kangmas Pangeran menikah lagi. Jadi kau harus terima kenyataan ini. Sudah menjadi resiko kita bersuamikan seorang calon raja", urai Gayatri panjang lebar. Mendengar ucapan itu, Ayu Ratna segera menoleh ke arah selir pertama Panji Tejo Laksono itu.
"Apa Kangmbok Gayatri tidak merasa cemburu pada perempuan itu setelah tahu dia akan diperistri oleh Kangmas Pangeran?", Ayu Ratna menatap wajah cantik Gayatri lekat-lekat seolah ingin mencari tahu isi hati dari sang putri Tumenggung Sindupraja.
Gayatri langsung tersenyum simpul sembari bersedekap tangan di depan dada.
Tapi sebagai seorang wanita yang harus mendukung penuh suaminya, aku lebih suka jika melihat suami ku tak perlu repot-repot mencari dukungan kesana-kemari untuk membantu kelancaran pengangkatan nya sebagai Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Aku sayang Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono dan atas dasar itu pula aku merelakan dirinya untuk menikahi dirimu, Wulandari dan Luh Jingga. Kalian bertiga sama-sama memiliki dukungan besar masyarakat di wilayah Panjalu dan juga pengesahan dari Kaisar Negeri Tiongkok. Asal Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono berlaku adil kepada ku, kenapa tidak? Toh tugas ku melayani kebutuhan nya juga menjadi ringan bukan?".
Ayu Ratna terlihat termenung sejenak setelah mendengar kata-kata dari Gayatri. Setelah itu, ia ikut tersenyum tipis sembari mengangguk mengerti.
"Kangmbok Gayatri ternyata yang paling bijak diantara kita. Terimakasih Kangmbok Gayatri sudah membuka mata hati dan pikiran ku", ujar Ayu Ratna sembari berjalan menuju ke arah Gayatri dan memeluk tubuh putri Tumenggung Sindupraja itu.
Di dalam serambi ruang pribadi Adipati Seloageng, Panji Tejo Laksono nampak duduk di kursi kayu jati sembari menatap ke arah langit barat yang biru. Entah apa yang dipikirkan oleh putra sulung Prabu Jayengrana itu. Perlahan dia mengelus dagunya sembari menghela nafas.
Hemmmmmmm..
Demung Gumbreg yang tidak jadi ke balai tamu kehormatan Kadipaten Seloageng karena di marahi oleh Tumenggung Ludaka karena kata-katanya yang membuat suasana menjadi keruh, nampak duduk bersila di lantai serambi dengan diam seribu bahasa. Bersama sang kawan karibnya, Demung Gumbreg memang menunggu jawaban dari Panji Tejo Laksono.
Setelah memikirkan tugas yang diberikan kepada nya masak-masak, Panji Tejo Laksono bangkit dari tempat duduknya. Belum sempat dia membuka mulut, dari arah samping kiri serambi ruang pribadi Adipati Seloageng, Gayatri dan Ayu Ratna nampak berjalan beriringan menuju ke tempat itu.
Kedua istri Panji Tejo Laksono itu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum duduk di dua kursi kayu yang lebih rendah di samping kursi kayu untuk Panji Tejo Laksono. Di sampingnya Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari pun sudah lebih dulu ada disana.
"Kenapa kalian berdua menyusul kemari? Apa ada sesuatu yang perlu dibicarakan, Dinda berdua?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Maafkan kami karena sudah mengganggu, Kangmas Pangeran.
Tapi hati ini rasanya tidak enak jika tidak segera berbicara dengan Kangmas. Ayu minta maaf pada Kangmas Pangeran atas sikap Ayu tadi Kangmas. Ayu memang sudah cemburu berlebihan saat mendengar Kangmas Pangeran akan menikah lagi. Tapi kini Ayu sudah sadar bahwa itu semua Kangmas Pangeran lakukan dengan alasan yang penting", ujar Ayu Ratna sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
Mendengar ucapan itu, Panji Tejo Laksono langsung tersenyum tipis.
"Memang siapa yang sudah mengingatkan mu, Dinda Ayu? Pasti kau tidak mungkin langsung mengerti bukan?".
"Kedewasaan Kangmbok Gayatri lah yang mengingatkan saya untuk selalu mendukung penuh setiap langkah yang dilakukan oleh Kangmas Pangeran. Saya masih harus banyak belajar dari nya tentang menata perasaan dan memilah kepentingan", jawab Ayu Ratna sembari menoleh ke arah Gayatri yang senyum-senyum sendiri.
"Cici Ayu Ratna benar, Kakak Thee..
Cici Gayatri memang yang paling dewasa diantara kami berempat. Aku juga harus belajar sama Cici Gayatri ", sahut Song Zhao Meng segera.
"Kalian terlalu memuji ku. Di bandingkan dengan kalian, pengetahuan ku bukanlah apa-apa. Kita nanti sama-sama belajar agar bisa menjadi istri yang baik untuk Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono ", balas Gayatri sembari tersenyum simpul.
"Bagus, kalau rukun begini aku jadi tidak perlu repot-repot banyak pikiran untuk memutuskan mengenai tugas yang Kanjeng Romo Prabu Jayengrana berikan kepada ku", Panji Tejo Laksono tersenyum lebar.
"Jadi Gusti Pangeran Adipati sudah menemukan jawabannya? Tolong segera beritahu kami, Gusti Pangeran", potong Demung Gumbreg segera.
Dhuuuggghhhh...
"Adduuuuuhhhhh...
Kenapa kau sikut lagi rusuk ku? Kalau patah bagaimana coba Lu?", Demung Gumbreg meringis kesakitan setelah di sikut lagi rusuk nya oleh Tumenggung Ludaka.
"Patah ya di sambung lagi, Mbreg..", jawab Tumenggung Ludaka acuh tak acuh.
"Kau pikir ini kayu atap rumah kalau patah disambung lagi, Lu? Belum hilang rasa sakitnya yang tadi pagi, sekarang sudah kau tambah lagi. Lama kelamaan patah semua rusuk ku jika berdekatan dengan mu Lu..", omel Demung Gumbreg seraya mengusap bekas sikutan Tumenggung Ludaka.
"Salahmu sendiri.. Coba kau bisa menahan diri untuk tidak memotong pembicaraan Gusti Pangeran Adipati dengan istrinya, pasti tidak ku sikut lagi rusuk mu..", Tumenggung Ludaka melengos kesal.
"Tapi kan..."
Belum sempat Demung Gumbreg menyelesaikan omongannya, Panji Tejo Laksono langsung bersuara tegas, "Sudah jangan ribut, Paman berdua.. Aku sudah memutuskan untuk pergi ke Jenggala untuk melaksanakan tugas dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana".
Mendengar itu, semua orang terkejut dan langsung menatap ke arah Panji Tejo Laksono seakan ingin meyakinkan diri bahwa Panji Tejo Laksono bersedia untuk berangkat. Panji Tejo Laksono tersenyum lebar sebelum melanjutkan omongan nya.
"Aku akan menyamar.."