Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ilmu Semesta Yin Yang


"Nama ku Tejo Laksono, Tetua Yan..


Aku bukan orang Han. Asal ku jauh dari sebuah Negeri yang ada di Laut Selatan", Panji Tejo Laksono tersenyum tipis.


"Jangan panggil aku Tetua Yan. Panggil saja aku dengan sebutan Kakek Yan anak muda..


Kalau gadis muda itu siapa namanya, Anak muda?", Yan Luo mengalihkan pandangannya pada Putri Song Zhao Meng.


"Dia adalah Putri Kekaisaran Song, Kakek Yan..


Namanya Zhao Meng, putri Kaisar Huizong yang berkuasa saat ini", jawab Panji Tejo Laksono segera.


Mendengar penuturan Panji Tejo Laksono, Yan Luo dan Guan Lian Er saling berpandangan sejenak. Mereka berdua benar-benar tidak menduga bahwa gadis cantik yang bersama Panji Tejo Laksono adalah putri dari Kaisar Huizong. Ini karena dandanan Putri Song Zhao Meng sama sekali tidak terlihat seperti seorang putri istana kekaisaran.


"Dia berjodoh dengan mu, Anak muda..


Mau itu putri kaisar, mau putri seorang bangsawan ataupun putri seorang pelayan sekalipun, aku tidak peduli. Yang penting ilmu beladiri yang kami miliki ada penerusnya.


Mulai sekarang kalian berdua akan kami ajari ilmu yang kami miliki. Menguasai ilmu ini juga menjadi kunci utama kalian untuk bisa keluar dari tempat ini, tempat ini sangat susah untuk di lalui dengan ilmu meringankan tubuh biasa", ujar Yan Luo yang di sambut anggukan kepala dari Guan Lian Er.


Mulai hari itu, di mulailah pelatihan Ilmu Sembilan Matahari untuk Panji Tejo Laksono dan Ilmu Bulan Es untuk Putri Song Zhao Meng.


Sementara itu, di Kuil Shaolin diadakan pertemuan antara para Tetua Kuil Shaolin. Dari berbagai sumber berita, mereka akhirnya mengetahui bahwa ada sepasang pendekar tua yang sering berkeliaran di sekitar kaki Gunung Song.


Mereka pun sepakat untuk mencari keberadaan sepasang pendekar tua ini untuk mencari keberadaan Putri Song Zhao Meng yang mereka culik. Para murid Gunung Wu Tang memilih untuk pulang ke tempat mereka tinggal sambil membawa gurunya yang belum sehat sepenuhnya setelah pertandingan melawan Panji Tejo Laksono. Mereka menolak untuk membantu melakukan pencarian.


Sedangkan para pengikut Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng yang serta Huang Lung yang terluka dalam, terus mendapat pengobatan agar bisa pulih seperti sedia kala.


Hari ini telah sepekan Huang Lung dan para pengikut Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng berada di Kuil Shaolin. Keadaan mereka telah membaik dan luka dalam mereka telah hampir sembuh keseluruhan. Pagi itu telah di sepakati bersama bahwa mereka akan berkumpul.


Di sebuah bangunan yang menjadi tempat peristirahatan mereka selama di Kuil Shaolin, mereka berkumpul untuk membahas langkah langkah yang akan di lakukan untuk mencari keberadaan Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng.


Demung Gumbreg yang duduk di dekat Rakryan Purusoma, terus mendesak perwira prajurit Panjalu itu untuk segera memulai pembicaraan.


"Ayo cepat kau bicara Purusoma..


Aku sudah tidak tahan berdiam diri di tempat ini tanpa tahu keberadaan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono", ujar Gumbreg sedikit memaksa.


"Kakang Gumbreg,


Bukannya aku tidak mau tapi kita juga menunggu kedatangan Jenderal Liu King lebih dulu. Putri Meng Er adalah kewajibannya, jadi kita tidak bisa sembarangan bertindak", balas Rakryan Purusoma sedikit dongkol dengan ulah Gumbreg. Memang diantara mereka, Gumbreg lah yang paling cepat sembuh nya hingga dua hari terakhir ini dia luntang lantung tak jelas di Kuil Shaolin. Sebenarnya Gumbreg tidak tahan dengan tempat itu bukan karena jenuh tapi karena di Kuil Shaolin tidak ada makanan dari daging. Semuanya hanya berasal dari tumbuhan dan sayuran. Ini yang membuatnya tidak betah berlama-lama di tempat itu.


"Huh kau ini...


Kalau aku bisa bahasa sang seng song mereka, tidak perlu menunggu mu untuk bicara Purusoma. Ingat, kita disini untuk mengawal Gusti Pangeran. Kalau sampai terjadi apa-apa, kita juga yang di salahkan oleh Gusti Prabu Jayengrana. Kita bisa di penggal kalau sampai Gusti Pangeran celaka", omel Demung Gumbreg segera.


Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi hanya menghela nafas berat mendengar omelan Demung Gumbreg yang ada benarnya juga. Dalam hati, mereka merasa gagal dalam tugas mengawal junjungan mereka di Negeri Tiongkok ini. Sedangkan Luh Jingga yang duduk di belakang mereka hanya diam seribu bahasa tanpa bicara sepatah katapun.


Belum sempat Rakryan Purusoma menjawab omongan Gumbreg, Jenderal Liu King datang bersama Chen Su Bing, Cai Yuan dan Qiao Er pelayan setia Putri Song Zhao Meng.


"Aku sudah bicara dengan Kepala Kuil Shaolin. Besok pagi, kita diijinkan untuk ikut melakukan pencarian terhadap Tuan Putri Song Zhao Meng dan Pangeran Thee..", ujar Jenderal Liu King membuka percakapan. Semua orang langsung sumringah mendengar perkataan Jenderal Liu King termasuk Huang Lung dan Luh Jingga yang sedari awal hilangnya Panji Tejo Laksono sudah murung saja.


Setelah itu mereka membahas pembagian tugas yang harus dilakukan secara berkelompok. Mereka di bagi menjadi dua kelompok besar. Yang satu di pimpin oleh Jenderal Liu King bersama para prajurit pengawal pribadi Putri Song Zhao Meng yang berdiam di kaki jalan masuk ke Kuil Shaolin, sedangkan satu kelompok lainnya di pimpin oleh Huang Lung yang juga melibatkan para pengikut Panji Tejo Laksono. Bersama dua kelompok ini, akan di pandu oleh beberapa biksu Kuil Shaolin yang hapal dengan sekitar tempat itu.


Keesokan harinya...


Hari telah beranjak siang. Suara kicau burung di dahan pohon yang tumbuh di sekitar tempat itu terdengar riuh bersahutan. Cuaca yang sedikit mendung, sama sekali tidak mengurangi indahnya suasana di sekitar kawasan Gunung Song.


Di dalam goa, Panji Tejo Laksono terus mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki. Ini membuat udara di dalam goa menjadi panas karena bola merah besar yang dia ciptakan berhawa panas.


Pada prinsipnya, Ilmu Sembilan Matahari hampir sama dengan Ajian Tapak Dewa Api. Hanya saja, ruang lingkup serangan nya jauh lebih luas. Panji Tejo Laksono sudah menguasai Ilmu Sembilan Matahari setelah hari kedua kedatangan nya di tempat ini. Yan Luo sangat kagum pada kecerdasan putra sulung Prabu Jayengrana ini dalam mempelajari ilmu yang dia berikan.


Blllaaaaaaammmmmmm !!


Batu besar itu meledak dan hancur lebur menjadi abu saat bola sinar merah itu menghantamnya. Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang dengan menurunkan kedua telapak tangannya.


"Kau sungguh luar biasa, Anak Muda..


Aku membutuhkan waktu sekitar 5 tahun untuk menguasai Ilmu Sembilan Matahari, dan kau cukup 5 hari sudah mampu menggunakannya dengan sempurna", puji Yan Luo sambil tersenyum lebar.


"Ini semua karena bimbingan Kakek Yan..


Tanpa bimbingan kakek, tentu aku tidak akan bisa menguasainya secepat ini", Panji Tejo Laksono menghormat pada Yan Luo.


"Hahahaha..


Mulut mu memang manis sekali. Heh, katakan pada ku.. Berapa banyak perempuan yang sudah jatuh ke dalam pelukan mu karena mulut manis mu itu ha? Ayo mengaku saja hehehehe", ujar Yan Luo seraya terkekeh kecil. Wajah Panji Tejo Laksono langsung memerah mendengar omongan Yan Luo. Saat Panji Tejo Laksono hendak membuka mulut, terdengar suara wanita dari sisi goa yang lain.


"Aku adalah salah satunya, Tetua Yan".


Mendengar suara itu, Panji Tejo Laksono dan Yan Luo langsung menoleh. Dan Putri Song Zhao Meng pun ada disana bersama dengan Guan Lian Er.


"Tuan Putri jangan asal bicara. Nanti kalau Kakek Yan dan Nyonya Lian Er salah paham, aku juga yang repot", tutur Panji Tejo Laksono segera.


"Aku tidak peduli dengan pikiran orang lain, yang penting aku merasa nyaman dengan Kakak Thee..


Kalaupun Kakak Thee sudah punya istri di negeri Kakak Thee, aku bersedia untuk menjadi istri kedua", balas Putri Song Zhao Meng yang membuat Yan Luo dan Guan Lian Er tersenyum penuh arti.


"Oh begitu rupanya..


Kalau begitu ini akan semakin mudah. Ilmu Sembilan Matahari dan Ilmu Bulan Es adalah ilmu yang memiliki unsur yang berbeda. Ilmu Sembilan Matahari berunsur panas dan Ilmu Bulan Es berunsur dingin. Mereka saling bertolak belakang namun juga merupakan perpaduan yang saling melengkapi.


Gabungan mereka akan menjadi ilmu beladiri yang tiada tanding. Namanya Ilmu Semesta Yin Yang.


Tapi ada syarat tertentu untuk mempelajari ilmu itu agar kalian bisa selaras dalam bergerak dan berpikir", ujar Yan Luo sambil senyum senyum sendiri sembari menatap ke arah Guan Lian Er yang tersenyum malu-malu.


"Memang apa syaratnya, Guru?


Kog kalian berdua jadi aneh begitu?", Putri Song Zhao Meng menatap heran kearah Guan Lian Er yang berdiri di samping nya.


"Persatuan raga dan jiwa..


Itu artinya kalian bisa mempelajari Ilmu Semesta Yin Yang setelah kalian bercinta", jawab Guan Lian Er sembari tersenyum simpul.


Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng langsung melongo mendengar ucapan Guan Lian Er. Mereka sungguh tak menduga ada syarat seperti itu dalam mempelajari Ilmu Semesta Yin Yang. Kedua nya saling berpandangan lalu saling menunduk dengan wajah memerah pertanda malu.


'Masa iya aku harus bercinta dengan Putri Song Zhao Meng hanya untuk belajar ilmu kanuragan?


Kalau sampai ketahuan Luh Jingga, Gayatri ataupun Ayu Ratna, bisa di gantung aku sama mereka. Tapi ini kesempatan langka, tapi bagaimana ya?', batin Panji Tejo Laksono penuh kebimbangan.


Sementara itu Putri Song Zhao Meng juga tenggelam dalam pikiran nya sendiri.


'Apa Kakak Thee bersedia melakukannya bersama ku? Aku ini termasuk 5 putri paling cantik di Istana Kaisar, tentu tidak kalah dengan pelayan wanita Kakak Thee itu.


Aku harus menanyakannya', batin Putri Song Zhao Meng yang segera melirik ke arah Panji Tejo Laksono yang masih diam. Putri Song Zhao Meng segera beringsut mendekati Panji Tejo Laksono sembari bertanya,


"Kakak Thee...


Apa kau mau belajar ilmu ini bersama ku?"