
"Benar tidak nya dia adalah Malaikat Bertopeng Emas, pucuk pimpinan Kelompok Bulan Sabit Darah hamba kurang tahu, Gusti Pangeran..
Yang jelas dia adalah salah satu dari sekian pimpinan kelompok pengacau keamanan ini. Kalau sampai kita membiarkan sepak terjang mereka berlarut-larut, hamba yakin kedamaian Tanah Jawadwipa tidak akan pernah bertahan lama", ujar Tumenggung Ludaka segera.
"Kau benar Paman..
Empat orang bertudung merah darah yang tadi menghadapi ku mengaku sebagai Empat Penjaga Gerbang Darah. Sudah pasti mereka ada hubungannya dengan Kelompok Bulan Sabit Darah. Mereka melindungi Ganeshabrata itu artinya mereka adalah pengawal pribadi dari orang itu.
Kita harus melaporkan ini pada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana di Daha sekalian mempersembahkan kemenangan kita dalam upaya mengusir para prajurit Jenggala", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", jawab Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Landung bersamaan seraya menghormat pada Panji Tejo Laksono.
Keesokan harinya, sebuah pemakaman di gelar. Letaknya di atas sebuah bukit kecil yang tak jauh dari benteng pertahanan Panjalu ini. Ini sesuai dengan kepercayaan yang dianut oleh Wanyan Lan yakni Konghucu. Gundukan tanah yang kemudian di tutupi dengan batu batu sebesar kepalan tangan dengan sebuah nisan yang bertuliskan nama Dara Kuning terlindung di bawah pohon besar yang ada di puncak bukit kecil ini.
Mapanji Jayagiri terus duduk bersimpuh di depan nisan Wanyan Lan dengan mata berkaca-kaca.
"Sekarang Lan Er sudah tenang di Swargaloka, Dhimas Jayagiri. Mulai sekarang kau harus membuktikan pada dunia bahwa Mapanji Jayagiri bukanlah orang yang lemah. Kelak saat kau berhasil meraih puncak tertinggi dari tahap kehidupan mu, aku yakin Lan Er akan tersenyum menatap mu dari Swargaloka", hibur Panji Tejo Laksono sambil menepuk pundak adiknya itu dan melangkah meninggalkan Mapanji Jayagiri yang masih meratapi kepergian sang kekasih untuk selamanya.
'Apa seperti itu rasanya patah hati?
Hemmmmmmm, sepertinya sangat menyakitkan. Untung aku belum ada kekasih', batin Panji Manggala Seta sambil menatap sebentar ke arah Mapanji Jayagiri lalu bergegas menyusul kakak sulungnya yang sudah lebih dulu berjalan menuruni bukit kecil itu.
Hari terus berganti..
Sembari menunggu pemulihan luka-luka yang di derita oleh para prajurit Panjalu, Panji Tejo Laksono menata ulang penggunaan benteng pertahanan yang kini menjadi tempat penahanan para prajurit Jenggala yang kalah perang.
Kini benteng pertahanan ini menjadi kokoh setelah penambahan pagar yang terbuat dari kayu gelondongan sebesar paha orang dewasa. Luasnya pun bertambah 2 kali lipat untuk menampung jumlah para tawanan perang yang ada di tempat itu.
Pada hari ketiga Panji Tejo Laksono ada di tempat itu, Senopati Agung Narapraja akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah terbaring sakit akibat pertarungan dengan Senopati Sukmageni yang juga tewas setelah dua hari tak sadarkan diri. Segera upacara penyucian jiwa di atur sedemikian rupa untuk mengantarkan jiwa sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu ke Swargaloka.
Aneka bebungaan yang di datangkan dari Wanua Sungging. Seorang brahmana yang tinggal tak jauh dari tempat mereka di panggil sebagai pemimpin upacara.
Panji Tejo Laksono melengkapi upacara penyucian jiwa sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu dengan menyulutkan api pada tumpukan kayu kering yang di gunakan sebagai alas penyucian jiwa. Asap tebal membubung tinggi ke udara bersamaan dengan hening cipta seluruh para perwira dan prajurit yang menghadiri upacara ini.
Setelah api padam, para cantrik sang brahmana segera mengumpulkan abu jenazah Senopati Agung Narapraja dan memasukkan nya ke dalam bokor kuningan. Sang brahmana segera menyerahkan bokor itu pada sang pangeran muda dari Kadiri.
Sambil memegang bokor kuningan yang berisi abu jenazah Senopati Agung Narapraja, Panji Tejo Laksono menatap seluruh hadirin yang ada di tempat itu.
"Paman Narapraja adalah pahlawan yang sesungguhnya.
Dia sudah mengorbankan jiwa raganya untuk negeri ini. Di kemudian hari, aku berharap akan ada Paman Narapraja yang lain yang akan bersedia untuk membela Panjalu hingga titik darah penghabisan.
Semoga Hyang Agung selalu melindungi kita semua", ucap Panji Tejo Laksono dengan lantang.
"Hidup Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono..!
Hidup Gusti Prabu Jayengrana!
Hidup Kerajaan Panjalu!!!"
Teriakan keras saling bersahutan itu menjadikan tempat itu menjadi ramai. Selepas acara ini, Panji Tejo Laksono membuat acara jamuan besar-besaran untuk merayakan kemenangan mereka. Dengan bantuan para penduduk Wanua Sungging, mereka menyembelih kerbau dan kambing sebagai lauk untuk acara makan bersama malam hari nya.
Ketika senja mulai menghilang dari cakrawala barat dan di gantikan gelap malam yang dingin, para prajurit Panjalu berpesta pora di benteng pertahanan ini. Ratusan kendi siddhu, arak dan tuak pun menjadi sarana mereka merayakan kemenangan. Hampir setiap sudut tempat itu menjadi arena mereka untuk bergembira. Nyaris semua orang mabuk minuman keras tak terkecuali para perwira tinggi prajurit Panjalu.
Sementara kegembiraan tengah di rasakan oleh para prajurit Panjalu, berita kekalahan prajurit Jenggala sudah menyebar cepat ke seluruh wilayah baik Panjalu maupun Jenggala. Kematian para perwira tinggi prajurit Panjalu dan Jenggala pun tak luput dari bahan omongan mereka. Semua orang memuji kecakapan Panji Tejo Laksono dalam memenangkan peperangan ini.
Mapanji Jayawarsa memukul keras singgasana nya begitu kabar kemenangan Panji Tejo Laksono sampai ke telinga nya.
"Brengsek!
Bagaimana mungkin Kangmas Tejo Laksono bisa sampai di tempat itu tepat waktu setelah berperang di Kunjang? Ini gawat ini benar benar gawat!!!", ujar Mapanji Jayawarsa sambil mendengus keras.
"Kenapa gawat, Gusti Pangeran Adipati? Bukankah ini seharusnya kabar yang menggembirakan bagi seluruh rakyat Panjalu?", Patih Gelangwesi yang merasa heran dengan sikap Mapanji Jayawarsa segera bertanya.
"Kalau Kangmas Tejo Laksono menjadi pahlawan dalam perang ini, maka peluang ku untuk menjadi Yuwaraja Panjalu selanjutnya akan semakin kecil, Gelangwesi..
Ini karena para nayaka praja Panjalu pasti akan mengusulkan kepada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk memilih Kangmas Tejo Laksono sebagai putra mahkota. Meskipun secara garis keturunan, aku yang lebih berhak untuk di nobatkan sebagai putra mahkota, namun kegemilangan Kangmas Tejo Laksono ini akan bisa mengecilkan peluang ku.
Paham kau sekarang?", Mapanji Jayawarsa melotot ke arah Patih Gelangwesi membuat nyali pria bertubuh gempal itu ciut seketika.
"Aku harus mencari cara untuk sedikit muncul ke permukaan. Tapi apa yang harus ku lakukan?" gumam Mapanji Jayawarsa sambil mengorek-ngorek dagunya yang tiba-tiba terasa gatal.
"Apakah tidak sebaiknya Gusti Pangeran Adipati terlebih dulu mendatangi benteng pertahanan Wanua Sungging itu?
Dengan begitu, semua orang akan melihat kalian masih tetap akur dan rukun Gusti Pangeran Adipati. Ini juga akan menjadi nilai tambah tersendiri bagi gusti", ujar Patih Gelangwesi sambil menghormat.
"Hehehehe...
Tumben otak mu cerdas, Gelangwesi. Besok pagi siapkan kereta kuda dan seribu orang prajurit pilihan untuk mengawal ku ke Wanua Sungging. Jangan sampai kesiangan", titah Mapanji Jayawarsa segera.
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran Adipati ", ucap Patih Gelangwesi segera.
Nun jauh di timur tepatnya di selatan Kotaraja Kahuripan, Malaikat Bertopeng Emas sang pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah sedang berdiri membelakangi dua orang lelaki tua berpakaian biru tua yang memegang sebuah kapak besar dan golok besar.
Tak banyak orang yang tahu bahwa mereka berdua adalah anggota Kelompok Bulan Sabit Darah dengan pangkat sesepuh. Dalam Kelompok Bulan Sabit Darah, selain 7 pimpinan masih ada 5 orang sesepuh yang menjadi tulang punggung kelompok ini. Selain Sepasang Iblis Pemotong Kepala, masih ada 3 orang sesepuh yang bercokol dalam keanggotaan kelompok. Mereka bertiga adalah Si Hantu Misterius, Nini Raga Setan dan Pendeta Darah.
Uhukkk uhukkk uhukkk..
Terdengar suara batuk dari Malaikat Bertopeng Emas. Suara batuk ini terdengar berat seperti sedang luka dalam yang cukup parah. Si kakek tua yang memegang golok besar sedikit mengernyitkan keningnya mendengar suara batuk ini.
"Mohon maaf pimpinan..
Sepertinya pimpinan sedang kurang sehat. Apa perlu Nini Raga Setan memeriksa keadaan pimpinan?", ucap si kakek tua yang berjuluk Iblis Golok Air ini segera.
"Uhukkk uhukkk uhukkk..
Tidak perlu. Kalian berdua tidak perlu mengkhawatirkan keadaan ku. Sekarang aku ada tugas untuk kalian berdua", ujar Malaikat Bertopeng Emas sambil mengangkat tangan kanannya.
"Tugas apa itu Pimpinan? Kami siap melaksanakan tugas apapun yang di perintahkan", ujar si kakek tua yang membawa kapak besar. Dia adalah Si Iblis Kapak Geni.
"Berangkatlah sekarang juga ke Panjalu. Cari seorang lelaki yang bernama Panji Tejo Laksono. Bawa kepalanya ke hadapan ku.
Ingat!!
Jangan pernah kembali kemari tanpa membawa kepala orang itu. Uhukkk uhukkk", ujar Malaikat Bertopeng Emas sambil mengibaskan tangannya sebagai isyarat kepada Sepasang Iblis Pemotong Kepala itu untuk segera berangkat.
Kedua orang tua itu segera menghormat pada Malaikat Bertopeng Emas sebelum melesat cepat kearah barat meninggalkan tempat itu.
Uhukkk uhukkk uhukkk...
Suara batuk kembali terdengar dari balik topeng Malaikat Bertopeng Emas. Namun saat yang bersamaan, terdengar suara tawa cekikikan dari atas dahan pohon besar yang tak jauh dari tempat itu.
"Hihihihihihi...
Rupanya sekarang ini kau bisa terluka juga, hei Malaikat Bertopeng Emas. Dulu ku kira kau adalah benar-benar seorang malaikat dari kahyangan tapi ternyata kau cuma manusia biasa", ujar seorang perempuan yang memakai topeng separuh wajah berwarna perak yang sedang tiduran di atas cabang besar pohon randu alas. Ada nada ejekan dari kata-kata yang diucapkan oleh perempuan itu.
"Tutup mulut mu, Bidadari Bertopeng Perak..
Aku sedang berlatih Ajian Pancasona dan tak sengaja tenaga dalam ku menjadi kacau karena aku kurang konsentrasi hingga menyerang balik pada tubuh ku. Jadi kau jangan asal bicara!", bentak Malaikat Bertopeng Emas sambil memegangi dadanya.
Haaahhhhh...
"Maharesi Wiratmaya sudah menurunkan ajian itu pada mu? Brengsek, aku yang sudah bertahun-tahun mengikuti nya malah belum di turunkan. Ini tidak adil..
Aku harus pergi menemui orang tua itu sekarang", usai berkata demikian Bidadari Bertopeng Perak segera melesat cepat kearah tenggara, meninggalkan Malaikat Bertopeng Emas sendirian di tempat itu.
Dari balik topeng emas nya, Malaikat Bertopeng Emas menyunggingkan seringai tipis.
****
Keesokan harinya, Panji Tejo Laksono bersama Luh Jingga dan Dyah Kirana segera berangkat ke Kotaraja Kadiri saat matahari mulai terbit di ufuk timur. Di kawal oleh Tumenggung Ludaka, Senopati Muda Jarasanda dan Demung Gumbreg juga para perwira tinggi prajurit Panjalu yang lain seperti Tumenggung Purubaya dan Tumenggung Lamuri dari Muria, Tumenggung Banar dari Anjuk Ladang dan Demung Krida dari Lasem bersama ribuan orang prajurit Panjalu. Mapanji Jayagiri dan Panji Manggala Seta juga turut serta dalam rombongan itu.
Sedangkan di benteng pertahanan ini, Tumenggung Landung diserahi tanggung jawab untuk menjaga para tawanan perang Jenggala sampai Prabu Jayengrana memutuskan nasib mereka. Sebanyak 20 ribu orang prajurit Panjalu masih ada di tempat itu.
Menjelang tengah hari, Mapanji Jayawarsa datang ke benteng pertahanan Wanua Sungging bersama dengan para punggawa Istana Kadipaten Bojonegoro. Putra kedua Prabu Jayengrana itu langsung melongo melihat kondisi benteng pertahanan yang sepi, hanya menyisakan beberapa orang prajurit yang sedang berjaga-jaga di sekitar balai utama. Sedangkan sebagian besar sibuk meneruskan penguatan benteng pertahanan ini dengan kayu-kayu sebesar paha orang dewasa.
"Hei prajurit, kemari kau..!", panggil Mapanji Jayawarsa pada sekelompok orang prajurit yang sedang melintas di depan nya. Mereka segera mendekati Mapanji Jayawarsa dan menghormat pada putra kedua Prabu Jayengrana ini.
"Kenapa benteng ini menjadi sepi? Kemana Kangmas Tejo Laksono dan para perwira tinggi prajurit Panjalu yang lainnya?", tanya Mapanji Jayawarsa segera.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Tadi pagi pagi sekali, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya sudah berangkat ke Kotaraja Kadiri. Hanya Gusti Tumenggung Landung saja yang masih ada di tempat ini, Gusti Pangeran", ucap sang prajurit sambil menghormat pada Mapanji Jayawarsa.
Terkejut Mapanji Jayawarsa mendengar jawaban itu. Gigi nya menggerutuk keras pertanda bahwa dia benar-benar kesal.
'Brengsek!!
Kenapa Kangmas Tejo Laksono buru-buru berangkat ke Kotaraja Daha? Hemmmmmmm, jangan-jangan dia ingin cari muka di depan Dewan Saptaprabu? Kalau itu benar terjadi, habis sudah semuanya.
Tidak!! Aku tidak boleh diam saja!'
"Semuanya, ayo kita pulang ke Istana Kadipaten Bojonegoro!!", usai berteriak keras seperti itu, Mapanji Jayawarsa segera berbalik badan dan melangkah cepat kearah kereta kuda yang dia tumpangi.
Rombongan itu segera berbalik arah dan kembali ke arah barat dimana Kota Kadipaten Bojonegoro berada.
Sementara itu, pasukan Panjalu yang di pimpin oleh Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayagiri dan Panji Manggala Seta terus bergerak menuju ke arah selatan. Selepas melewati wilayah Kadipaten Matahun, menjelang sore hari, mereka tiba di Wanua Kicir yang terletak di tepi Sungai Kapulungan.
Melihat langit barat yang mulai memerah, Panji Tejo Laksono segera mengangkat tangan kanannya ke atas kepala. Pasukan Panjalu pun langsung menghentikan pergerakan mereka. Semuanya menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Semuanya bersiap untuk mendirikan tenda.
Kita bermalam di sini".