Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Putri Uttejana


Puluhan centeng Adikara segera mencabut senjata mereka masing-masing dan langsung mengepung Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya. Rara Wandansari dan pria muda yang mengawalnya yang tak lain adalah sepupu nya yang bernama Bahuwirya segera bersembunyi di tengah kawalan Panji Tejo Laksono, Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng.


Tanpa menunggu lama lagi, mereka segera menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan. Pertarungan sengit pun segera terjadi di tepi Kali Porong.


Whhhuuutthh..


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..


Aaauuuuggggghhhhh!!


Seorang centeng Adikara kembali tersungkur ke tanah setelah tendangan keras Dyah Kirana menghajar kepalanya. Begitu juga dengan centeng Adikara yang menantang Ki Jatmika. Lelaki bertubuh gempal itu harus mengakui keunggulan dari lelaki paruh baya itu setelah pukulan keras Ki Jatmika telak menghantam dada nya.


Hanya dalam hitungan beberapa kejap mata saja, seluruh anak buah Adikara sudah bergelimpangan di tanah lapang itu. Ada yang pingsan terkena hantaman Ki Jatmika, ada yang patah tulang tangan setelah di hajar Song Zhao Meng, ada yang rontok gigi nya usai tendangan keras kaki kanan Panji Tejo Laksono menyepak wajahnya dan ada pula yang meringkuk kesakitan pada perutnya setelah Dyah Kirana menyikut ulu hati nya.


Melihat anak buah nya terkapar tak berdaya menghadapi Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya, Adikara segera menggebrak kuda tunggangan nya kabur meninggalkan tempat itu. Nyalinya ciut melihat keganasan orang-orang yang melindungi Rara Wandansari dan Bahuwirya.


"Bajingan tengik!!


Tunggu saja pembalasan dari ku!!", teriak Adikara sambil menggebrak kuda nya sekeras mungkin agar tunggangannya itu berlari sekencang-kencangnya.


Ki Jatmika yang hendak bergerak mengejar Adikara langsung membatalkan niatnya setelah mendengar ucapan Panji Tejo Laksono.


"Tidak perlu repot-repot untuk mengejarnya, Ki.. Orang itu tak akan berani untuk mengganggu lagi dalam waktu dekat ini".


"Benar sekali omongan mu, Pendekar..


Adikara itu pengecut yang hanya berani main keroyokan. Kalau tidak ada anak buah nya, dia tidak akan berani untuk sok kuasa seperti tadi", sahut Bahuwirya segera. Mendengar ucapan itu, Ki Jatmika mengangguk mengerti.


Rara Wandansari segera mendekati Panji Tejo Laksono.


"Aku berterimakasih atas bantuan mu, Pendekar. Entah dengan apa aku harus membalas kebaikan mu yang sudah menolong ku dan Bahuwirya", ucap Rara Wandansari dengan sopan. Gadis cantik ini sepertinya tertarik dengan Panji Tejo Laksono. Dan Dyah Kirana tentu saja tidak suka dengan hal ini.


"Sebaiknya dengan sepiring nasi dan beberapa lauk yang enak, Gusti Putri. Jujur saja makan siang kami jadi berantakan setelah kedatangan mu", sahut Dyah Kirana seraya menunjuk ke arah makanan kering mereka yang berantakan bercampur tanah.


"Oh kalau masalah itu mudah sekali, Nisanak..


Ayo kita ke istana Pakuwon Carat. Disana banyak sekali makanan enak yang bisa memuaskan nafsu makan kalian", ajak Rara Wandansari sembari tersenyum simpul.


Panji Tejo Laksono mengangguk setuju dan mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu itu menuju ke arah penyeberangan perahu yang ada tak jauh dari tempat itu.


Sementara Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya menuju ke Istana Pakuwon Carat, Adikara yang berhasil kabur dari pertarungan sengit di bantaran Kali Porong terus memacu kuda nya menuju ke arah barat. Di sebuah rumah kayu sederhana tak jauh dari bantaran Kali Porong, Adikara menghentikan laju kaki kuda nya. Tanpa mengikat tali kekang kuda ke geladakan yang ada di halaman, Adikara segera masuk ke dalam rumah kecil itu usai melompat turun dari atas pelana kuda kesayangannya itu.


"Bondol... Bondol...


Dimana kau?? Ndol Bondol...", teriak Adikara sekeras mungkin hingga suaranya terdengar di sekeliling rumah. Seorang lelaki bertubuh gempal dengan janggut pendek dan kumis jarang-jarang muncul dari balik tirai yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan bagian belakang rumah kayu itu.


"Gusti Pangeran Adikara..


Kenapa kau berteriak-teriak di rumah ku ha? Apa kau ingin cari gara-gara dengan ku?", balas si lelaki bertubuh gempal itu sedikit keras. Dia sedikit tidak suka dengan sikap Adikara yang menurutnya kurang sopan.


"Jangan banyak tata krama, Ndol.. Kau harus segera membantu ku. Hanya kau yang bisa melakukannya", nada suara Adikara sedikit merendah.


"Memangnya ada apa, Gusti Pangeran Adikara? Tumben sekali kau tidak bersikap angkuh seperti biasanya".


"Ah kau ini seperti tidak mengenal ku saja, Ndol..


Begini, calon istri ku kabur dan aku tadi hampir bisa menangkap nya lagi tapi ada orang yang sok jagoan dan membantu nya kabur lagi. Aku minta tolong Ndol, bantu aku untuk merebut kembali calon istri ku", ujar Adikara segera.


Hemmmmmmm..


"Kau biasanya punya banyak anak buah. Kemana saja mereka?", Bondol sedikit terkejut mendengar omongan Adikara.


"Pendekar itu menjatuhkan mereka dengan cepat. Ilmu kanuragan nya sangat tinggi Ndol. Hanya kau harapan ku satu-satunya untuk merebut kembali Rara Wandansari ", hiba Adikara segera.


'Kalau dia saja mampu mengalahkan anak buah Adikara dengan mudah, aku tentu bukan lawannya. Sepertinya harus minta bantuan dari guru', batin Bondol.


"Sebaiknya kita minta bantuan guru ku, Mpu Samparangin di Perguruan Pagar Bumi. Ayo sebelum terlambat", Bondol segera melangkah keluar dari dalam rumah nya diikuti oleh Adikara.


Mereka berdua lantas menggebrak kuda tunggangan mereka masing-masing ke arah barat di hulu Kali Porong dimana Perguruan Pagar Bumi berada. Jalanan yang becek setelah sisa hujan yang mengguyur semalam tak menyurutkan semangat Adikara dan Bondol untuk segera sampai di Perguruan Pagar Bumi.


Begitu sampai di tempat yang dituju, Bondol dan Adikara langsung menemui Mpu Samparangin yang sedang mengawasi jalannya latihan anak murid nya.


"Ada apa kau kemari, Ndol? Apa ada orang yang mengganggu mu lagi?", tanya Mpu Samparangin segera. Lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal dan alis bercahaya ini menatap tajam ke arah muridnya.


Bondol segera berbisik di telinga Mpu Samparangin soal Adikara. Mendengar bahwa Adikara adalah putra Adipati Hujung Galuh yang terkenal kaya raya, Mpu Samparangin segera tersenyum penuh arti.


"Apa yang akan kau berikan padaku jika aku membantu mu mendapatkan kembali calon istri mu, Pangeran Adikara?", Mpu Samparangin segera menatap ke arah Adikara.


"Saya akan memberikan sebidang tanah dan 200 kepeng emas jika Mpu Samparangin bisa mengalahkan pendekar itu dan merebut kembali calon istri saya", ucap Adikara sambil tersenyum tipis.


"Hehehehe..


Itu cukup menjanjikan. Sekarang antar aku ke tempat calon istri mu itu, Pangeran Adikara. Jangan lupa siapkan hadiah yang kau janjikan", ucap Mpu Samparangin segera.


Setelah meminta murid utamanya untuk meneruskan pengawasan terhadap latihan para murid Perguruan Pagar Bumi, Mpu Samparangin bersama dengan Adikara, Bondol dan beberapa murid pilihan Perguruan Pagar Bumi segera bergerak menuju ke arah Istana Pakuwon Carat yang di pastikan oleh Adikara bahwa Rara Wandansari pulang kesana.


****


"Kita sudah sampai, Pendekar Tejo...", ucap Rara Wandansari sambil melompat turun dari atas kudanya di depan pintu gerbang istana Pakuwon Carat.


Panji Tejo Laksono, Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng pun segera melompat turun dari kuda mereka masing-masing begitu pula dengan Bahuwirya.


Rupanya kedatangan Rara Wandansari dan Bahuwirya serta Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan di pendopo pisowanan Pakuwon Carat bersamaan dengan datangnya utusan dari Istana Kotaraja Kahuripan. Nampak seorang perempuan cantik berpakaian serba mewah layaknya seorang bangsawan kelas atas sedang berbincang dengan Akuwu Carat, Mpu Lodhang yang juga merupakan ayah dari Rara Wandansari. Keduanya segera menoleh ke arah rombongan yang dipimpin oleh Rara Wandansari itu.


Mata indah perempuan cantik itu segera tertuju pada sosok Panji Tejo Laksono yang berdiri di belakang Rara Wandansari.


"Wandansari, mana sopan santun mu? Cepat beri salam pada Gusti Putri Uttejana..", teriak Mpu Lodhang sang Akuwu Carat pada Rara Wandansari.


"Sembah bakti hamba, Gusti Putri", ujar Rara Wandansari segera. Bahuwirya, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya pun ikut menghormat pada perempuan cantik berbaju hijau tua ini.


"Ah tidak perlu repot-repot bersopan santun seperti itu, Putri Wandansari. Kita seumuran jadi kita bisa berteman baik.


Bagaimana menurut mu?", Putri Uttejana tersenyum lebar setelah berbicara.


"Wandansari, ini kehormatan besar untuk kita. Cepat haturkan terimakasih pada Gusti Putri Uttejana..", sahut Akuwu Mpu Lodhang segera.


"Terimakasih atas kemurahan hati mu, Gusti Putri Uttejana", ucap Rara Wandansari yang terdengar hanya seperti membeo saja.


'Hemmmmmmm...


Perempuan ini tak seperti yang terlihat di luarnya. Ada sesuatu yang tidak beres dengan nya. Aku harus berhati-hati', batin Panji Tejo Laksono yang merasakan hawa nafsu membunuh pekat yang merembes keluar dari tubuh Putri Uttejana. Meskipun perempuan cantik berbaju hijau tua itu berusaha keras untuk menyembunyikannya namun hal itu masih mampu di rasakan oleh Panji Tejo Laksono yang di dalam tubuh nya terdapat Keris Nagasasra.


"Kanjeng Romo Akuwu.. Gusti Putri Uttejana..


Saya mohon undur diri dahulu. Saya lelah setelah perjalanan jauh. Silahkan di lanjutkan kembali pembicaraan nya. Kami permisi", ucap Rara Wandansari dengan sopan. Setelah menghormat pada Akuwu Mpu Lodhang dan Putri Uttejana, Rara Wandansari dan Bahuwirya serta Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan segera meninggalkan tempat itu menuju ke arah balai tamu kehormatan yang ada di samping kiri pendopo pisowanan Pakuwon Carat.


Sesaat sebelum meninggalkan pendopo pisowanan, Panji Tejo Laksono sempat melirik ke arah Putri Uttejana yang juga tengah menatapnya. Ada kilatan aneh di mata keduanya.


Itu semua tidak luput dari penglihatan mata Mpu Lodhang sang Akuwu Carat.


"Gusti Putri Uttejana..


Memangnya adakah sesuatu yang mengganjal pikiran Yang Mulia saat ini?", ucapan Mpu Lodhang seketika membuat Putri Uttejana tersadar. Setelah menguasai dirinya sebentar, perempuan cantik itu segera tersenyum lebar sambil menatap wajah tua Mpu Lodhang.


"Hehehehe, wajah pemuda itu sepertinya pernah aku lihat tapi dimana aku lupa Ki Kuwu..


Siapakah dia?", tanya Putri Uttejana segera.


"Hamba juga baru kali ini bertemu dengan nya, Gusti Putri. Mungkin dia adalah orang yang di temui oleh Wandansari di perjalanan dan anak gadis ku itu mengajaknya kemari. Nanti hamba akan tanyakan hal ini padanya", jawab Mpu Lodhang sambil menghormat pada Putri Uttejana.


Mendengar jawaban itu, perempuan cantik itu terdiam beberapa saat lamanya. Setelah itu ia kembali meneruskan pembicaraan nya dengan Akuwu Carat mengenai rencana pengantaran upeti tahunan dari Pakuwon itu ke Kotaraja Kahuripan yang berbatasan langsung dengan tempat itu.


Saat keduanya masih asyik berbicara, dari arah gerbang istana Pakuwon Carat, Adikara datang bersama dengan Mpu Samparangin, Bondol dan beberapa murid pilihan Perguruan Pagar Bumi.


"Wandansari, dimana kau? Cepat keluar!"


Teriakan keras dari Adikara sontak mengejutkan semua penghuni istana Pakuwon Carat. Putri Uttejana dan Mpu Lodhang sang Akuwu Carat segera bangkit dari tempat duduknya dan melihat Adikara dan para pengikutnya berjalan memasuki Istana Pakuwon Carat.


Alangkah terkejutnya Adikara saat melihat Putri Uttejana, putri Maharaja Samarotsaha dari Jenggala, berdiri di samping Akuwu Mpu Lodhang sembari menatap tajam ke arah Adikara dan para pengikutnya.


"Jadi begini caranya orang-orang Kadipaten Hujung Galuh bertamu di tempat orang, Pangeran Adikara?", Putri Uttejana mendelik ke arah sang pria bertubuh gempal itu.


"Ah eh ada Gusti Putri Uttejana..


Ma-maafkan sikap hamba Gusti Putri. Jujur ini terjadi karena hamba sedang marah dengan sikap Putri Wandansari yang sudah menyuruh para pengawalnya untuk melukai para pengawal hamba. Tujuan hamba kesini untuk meminta pertanggungjawaban nya, Gusti Putri", ucap Adikara yang pintar bersilat lidah.


"Bohong!! Itu semua adalah dusta!!", sahut Rara Wandansari yang muncul dari dalam Keputren Istana Pakuwon Carat. Dari arah pintu lainnya, Panji Tejo Laksono, Ki Jatmika, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng juga muncul.


"Jangan dengarkan dia, Gusti Putri. Hamba sudah menduga kalau dia akan mengelak", Adikara menghormat pada Putri Uttejana sembari melirik ke arah Rara Wandansari. Seringai licik terukir di bibirnya.


Mendengar ucapan itu, Putri Uttejana segera menoleh ke arah Rara Wandansari.


"Sekarang katakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi, Wandansari. Katakan sejujurnya, jangan ada yang kau sembunyikan.


Dan kau Adikara, tutup mulut mu sampai aku mengijinkan mu berbicara".


Rara Wandansari segera menceritakan tentang kisah nya bersama Bahuwirya yang di kejar-kejar oleh Adikara sejak keluar dari pasar besar Kotaraja Kahuripan untuk dijadikan istri kedua. Tak lupa dia juga menceritakan tentang pertolongan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya hingga mereka sampai di istana ini.


Setelah mendengar cerita itu, Putri Uttejana mengernyitkan keningnya. Dia tahu bahwa cerita Rara Wandansari tidak berdusta tapi jika dia bermasalah dengan orang-orang Kadipaten Hujung Galuh, ini tentu saja akan mengganjal langkahnya yang ingin menjadi ratu di Jenggala.


Tiba-tiba sebuah pemikiran licik terlintas di benak Putri Uttejana.


"Aku tidak bisa memutuskan siapa yang bersalah dalam masalah ini. Tapi aku bisa menemukan cara agar semuanya merasa mendapat keadilan.


Kita tentukan semuanya dengan bertarung. Bagaimana menurut kalian?", ucapan Putri Uttejana seketika membuat Adikara tersenyum lebar. Dia merasa kemenangan nya sudah di depan mata.


"Tentu hamba tidak keberatan, Gusti Putri. Tapi hamba ingin memilih pengawal pribadi Rara Wandansari untuk menghadapi pengawal pribadi hamba", ujar Adikara segera.


"Bagaimana menurut pendapat mu, Rara Wandansari?", Putri Uttejana menatap ke arah Rara Wandansari. Meskipun ragu-ragu untuk menjawab, Rara Wandansari mengangguk tanda setuju.


"Aku ingin orang itu yang melawan pengawal pribadi ku", Adikara menunjuk ke arah Panji Tejo Laksono sementara Mpu Samparangin melangkah maju di samping nya.


Rara Wandansari pun segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


"Pendekar Tejo..


Apakah kau bersedia untuk melawan orang Adikara itu?", tanya Rara Wandansari penuh harap.


Sambil melangkah maju ke depan, Panji Tejo Laksono langsung berkata,


"Siapa takut??"