
"Menagih janji?
Maksud nya bagaimana Ki Patih Umbara? Saya kurang paham dengan omongan Ki Patih baru saja", Patih Sindupraja menatap heran ke arah warangka praja Tanah Perdikan Lodaya ini.
"Begini ceritanya Ki Patih Sindupraja..
Kemarin sewaktu Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono menghadapi para prajurit Jenggala, Gusti Pangeran datang ke Istana Lodaya untuk meminta bantuan pada Gusti Pangeran Arya Tanggung. Pada saat itu, Gusti Pangeran Arya Tanggung bersedia untuk mengulurkan bantuan kepada Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono tapi dengan satu syarat yakni Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono harus bersedia untuk mengawini putrinya Rara Kinanti.
Ini dimaksudkan agar kedua wilayah yaitu Kadipaten Seloageng dan Tanah Perdikan Lodaya terhubung secara kekeluargaan. Meskipun Gusti Permaisuri Dewi Anggraeni adalah adik tiri dari Gusti Prabu Jayengrana, akan tetapi Gusti Pangeran Arya Tanggung melihat hubungan kekeluargaan ini kurang erat, jadi Gusti Pangeran Arya Tanggung menggunakan permintaan bantuan dari Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sebagai sarana untuk mengikat tali persaudaraan yang lebih dekat lagi.
Lagipula Gusti Pangeran Arya Tanggung hanya punya seorang putri. Tentu beliau juga memikirkan masa depan Tanah Perdikan Lodaya selepas peninggalan nya. Tentu dia juga tidak ingin sembarangan dalam mencari jodoh untuk Gusti Putri Rara Kinanti. Dan beliau juga memandang bahwa Gusti Pangeran Adipati sebagai satu-satunya calon yang tepat untuk menjadi pendamping hidup untuk putrinya", Patih Umbara nampak menghela nafas panjang sebelum kembali melanjutkan omongannya sedangkan Patih Sindupraja dan semua orang yang ada di tempat itu terus mendengarkan dengan seksama.
"Waktu itu, Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono menyanggupinya dan berjanji untuk melangsungkan pernikahan dengan Gusti Putri Rara Kinanti setelah perang antara Panjalu dan Jenggala berakhir dengan kemenangan di pihak Panjalu.
Karena itu, Gusti Pangeran Arya Tanggung mengutus saya untuk menagih janji yang pernah di ucapkan oleh Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono..", pungkas sang warangka praja Tanah Perdikan Lodaya mengakhiri ceritanya.
Hemmmmmmm..
"Kalau memang begitu adanya, ini pasti sudah menjadi kehendak Dewata Yang Agung.
Tapi seperti kata ku tadi, Ki Patih. Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono sedang berada di Kotaraja Daha untuk menyelesaikan sesuatu hal yang penting. Jadi aku tidak bisa memutuskan hal ini tanpa menunggu kedatangan Gusti Pangeran Adipati.
Untuk sementara, kalian semua tinggal saja di Istana Kadipaten Seloageng sembari menunggu kepulangan Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono dari Daha. Bagaimana menurut Ki Patih?"
Mendengar itu, Patih Umbara segera mengangguk setuju.
Begitu melihat persetujuan dari pihak Istana Lodaya, Patih Sindupraja segera memerintahkan kepada Juru Naratama untuk mengantarkan para tamu agung ini ke balai tamu kehormatan. Sedangkan Demung Supala ditugaskan untuk mengantarkan para prajurit pengiring ke Ksatrian Seloageng agar mereka bisa beristirahat di sana. Kepada para nayaka praja yang lain, Patih Sindupraja memerintahkan agar mereka memperlakukan tamu kehormatan itu dengan istimewa.
****
"Jadi kau ingin melamar Dewi Sekar Kedaton, Adipati Arya Natakusuma?", tanya Prabu Jayengrana sembari menatap ke arah sang penguasa Kadipaten Bhumi Sambara ini segera.
"Demikianlah Gusti Prabu..
Besar harapan hamba untuk mempersunting Dewi Sekar Kedaton agar Kadipaten Bhumi Sambara Mataram terhubung secara kekeluargaan dengan Istana Kotaraja Daha", Adipati Arya Natakusuma segera menghormat pada Prabu Jayengrana usai berbicara. Patih Tundungwaja yang ikut serta dalam pertemuan itu tersenyum tipis mendengar jawaban sang penguasa Kadipaten Bhumi Sambara.
"Aku tidak menentang rencana mu untuk terhubung dengan Istana Kotaraja Daha secara kekeluargaan, Adipati Arya Natakusuma.
Secara pribadi aku setuju dengan keinginan mu. Akan tetapi, yang menjalani hidup berumah tangga dengan mu bukan mu bukan aku. Tapi putri ku Dewi Sekar Kedaton. Karena itu, aku akan memanggil putri ku agar kita semua bisa mendengar jawabannya untuk lamaran mu ini", ucap Prabu Jayengrana bijaksana.
"Demung Gumbreg..
Panggilkan Putri Dewi Sekar Kedaton di Keputren. Juga Pangeran Panji Tejo Laksono di Keputran", perintah Prabu Jayengrana pada Demung Gumbreg yang duduk di samping Tumenggung Ludaka. Perwira tinggi prajurit Panjalu bertubuh tambun itu segera bangkit dan menyembah pada Sang Maharaja Panjalu.
"Sendiko dawuh Gusti Prabu.."
Demung Gumbreg segera beringsut meninggalkan Pendopo Agung Istana Katang-katang. Tak sampai beberapa waktu kemudian, perwira tinggi prajurit Panjalu itu sampai di Keputran Daha setelah menitipkan pesan pada dayang istana Keputren Istana untuk memanggil Dewi Sekar Kedaton.
Di dalam Keputran Daha, Panji Tejo Laksono sedang berbincang dengan Endang Patibrata dan Mapanji Jayagiri saat Demung Gumbreg datang. Usai menyembah pada dua pangeran muda ini, Demung Gumbreg segera duduk bersila di lantai serambi kediaman Panji Tejo Laksono ini.
"Ada apa Paman Gumbreg? Tumben sekali kau datang kemari..", tanya Panji Tejo Laksono segera begitu sang perwira tinggi bertubuh tambun itu duduk.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Hamba baru saja di utus Gusti Prabu Jayengrana untuk memanggil Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan Gusti Putri Dewi Sekar Kedaton ke Pendopo Agung. Sepertinya ini berkaitan erat dengan lamaran Adipati Arya Natakusuma kepada Gusti Dewi Sekar Kedaton", jawab Demung Gumbreg sembari menyembah pada Panji Tejo Laksono.
Mendengar jawaban itu, baik Panji Tejo Laksono maupun Mapanji Jayagiri terdiam sejenak sebelum keduanya saling berpandangan. Ada kabar tidak sedap sebelumnya tentang adanya beberapa prajurit tak dikenal yang tersebar di beberapa tempat di seputar wilayah Kotaraja Daha. Mereka tidak memakai pakaian yang menandakan asal muasal mereka, hanya memakai pakaian biasa layaknya rakyat jelata namun terlihat seperti prajurit yang bersenjata lengkap. Dan ini masih menjadi misteri bagi semua pihak tentang siapa yang memimpin mereka.
Dan tiba-tiba saja, setelah pulangnya Dewi Sekar Kedaton dari penculikan oleh Prabu Gendarmanik dari Kerajaan Siluman Randugrowong, ada lagi hal yang tidak di duga sama sekali seperti ini. Panji Tejo Laksono pun punya firasat buruk tentang hal ini.
"Dhimas Jayagiri..
Sebaiknya kau ikut aku ke Pendopo Agung Istana. Ada sesuatu yang sedang aku pikirkan ..", ujar Panji Tejo Laksono sembari menoleh ke arah Mapanji Jayagiri.
"Baik Kangmas.."
Keduanya segera bergegas menuju ke arah Pendopo Agung Istana Katang-katang diikuti oleh Demung Gumbreg. Di persimpangan lorong istana, mereka bertemu dengan Dewi Sekar Kedaton yang berjalan di kawal oleh dua orang dayang istana. Mereka semua langsung menuju ke arah Pendopo Agung.
Tak berapa lama kemudian, Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayagiri dan Dewi Sekar Kedaton masuk ke dalam Pendopo Agung Istana Katang-katang. Dua putra dan satu putri raja Panjalu itu segera menyembah pada Prabu Jayengrana dan duduk tak jauh dari tempat sang raja duduk di atas singgasana nya. Begitu melihat mereka telah duduk di tempatnya, Prabu Jayengrana segera bangkit dari tempat duduknya dan menoleh ke arah Dewi Sekar Kedaton.
"Sekar Kedaton..
Hari ini aku memanggil mu kemari karena ada hal penting yang perlu kamu ketahui. Adipati Arya Natakusuma telah melamar mu..", ucap Prabu Jayengrana sembari mengarahkan tangannya pada Adipati Arya Natakusuma yang duduk bersila bersebelahan dengan Patih Tundungwaja. Adipati Arya Natakusuma segera menghormat sembari tersenyum tipis ke arah Dewi Sekar Kedaton yang juga sedang menatapnya.
"Sekarang aku ingin mendengar jawaban mu mengenai masalah ini. Pikirkan baik-baik sebelum berbicara, Sekar Kedaton..
Karena jawaban mu menjadi masa depan mu selanjutnya. Romo Prabu tidak memaksa mu untuk menerima atau pun menolak lamaran ini karena hidup mu ada di tangan mu sendiri..", imbuh Prabu Jayengrana segera.
Dewi Sekar Kedaton terdiam beberapa saat lamanya. Dahi perempuan cantik yang merupakan salah satu dari sekian banyak putri Prabu Jayengrana ini mengkerut sebagai tanda bahwa dia sedang berpikir keras. Saat itu, dari arah pintu samping Pendopo Agung Istana Katang-katang, Ratu Kedua Nararya Ayu Galuh datang diikuti oleh emban setia nya.
"Aku tidak sudi punya menantu seperti dia, Sekar Kedaton!!!"
Teriakan keras dari Ratu Nararya Ayu Galuh itu sontak membuat semua orang terkejut mendengar nya. Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. Sedangkan Adipati Arya Natakusuma langsung merah padam menahan rasa marah karena merasa di hina di depan banyak orang.
Mana sopan santun mu?!! Jangan seenaknya bicara tentang masa depan Sekar Kedaton! Biar dia sendiri yang memutuskan pilihan hidupnya!!", Prabu Jayengrana langsung murka karena sikap kasar Sang Ratu Kedua Nararya Ayu Galuh ini. Meskipun keder dengan sikap suaminya yang marah besar, tapi Ratu Ayu Galuh tetap saja tak bergeming sedikitpun dari sikapnya.
"Mohon maaf Kangmas Prabu..
Apa pantas seorang lelaki yang tidak memiliki garis keturunan yang jelas seperti dia bersanding dengan putri kita? Kangmas Prabu menikahi ku juga karena Kangmas Prabu adalah cucu dari saudari Kanjeng Eyang Prabu Airlangga. Aku tidak mau darah keturunan Lokapala bercampur dengan garis darah rakyat jelata seperti dia..!!", ujar Nararya Ayu Galuh tak kalah keras.
"Kauuu..."
Plllaaaakkkkk!!!
Auuuggghhhhh!!!
Nararya Ayu Galuh langsung jatuh tersungkur setelah Prabu Jayengrana menampar pipi nya dengan keras. Semua orang terkejut bukan main melihat sikap Sang Maharaja Panjalu ini. Sambil mendengus keras, Prabu Jayengrana segera menunjuk ke arah sepasang abdi setia Nararya Ayu Galuh.
"Bawa Ratu Gusti mu keluar dari sini..!!
Ceppaaaattttt..!!!!"
Dua orang abdi setia Nararya Ayu Galuh segera memapah Ratu Kedua Kerajaan Panjalu itu untuk meninggalkan tempat itu segera. Dengan wajah yang memerah di pipi kanan, Nararya Ayu Galuh berjalan sempoyongan menuju ke arah puri kediaman pribadi nya.
Setelah Ratu Ayu Galuh pergi, Prabu Jayengrana segera menoleh ke arah Dewi Sekar Kedaton.
"Sekarang jawab lamaran Adipati Arya Natakusuma ini, Sekar Kedaton..
Tidak perlu kamu dengar lagi omongan ibu mu itu. Kau berhak memutuskan sendiri masa depan mu selanjutnya", ucap Prabu Jayengrana segera. Kali ini nada suara sang penguasa Kerajaan Panjalu itu sudah rendah, tak setinggi saat dia memarahi ratu nya tadi.
"Sebelumnya saya minta maaf pada Adipati Arya Natakusuma..
Mohon maaf saya tidak bisa menerima lamaran dari Adipati. Bukan saya mendengar ucapan dari Kanjeng Biyung Ratu, tapi saat ini saya masih belum ingin berumah tangga", ujar Dewi Sekar Kedaton dengan suara lembut.
Mendengar jawaban itu, Adipati Arya Natakusuma yang sudah geram dengan ulah Nararya Ayu Galuh tadi langsung menghormat pada Prabu Jayengrana.
"Kalau memang demikian, hamba mohon pamit Gusti Prabu", setelah berkata demikian, Adipati Arya Natakusuma langsung bergegas meninggalkan tempat itu diikuti oleh Patih Tundungwaja yang juga nampak marah.
Prabu Jayengrana langsung menghela nafas panjang.
"Aku yakin masalah ini tidak akan berakhir dengan baik...", ucap Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera. Dia terus menatap ke arah perginya Adipati Arya Natakusuma dan Patih Tundungwaja yang menghilang di balik pintu keluar tembok istana.
"Apa maksudnya Romo Prabu? Ananda tidak mengerti..", ucap Mapanji Jayagiri segera.
"Apa ini ada hubungannya dengan adanya pasukan tak dikenal yang ada sekitar Kotaraja Daha, Kanjeng Romo Prabu??", sahut Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah wajah ayah nya ini.
"Aku masih belum bisa memastikan apakah mereka benar-benar para prajurit Kadipaten Bhumi Sambara Mataram yang di siapkan untuk menjadi pemberontak atau pasukan lain yang ingin menyerbu masuk ke dalam Kota Daha?
Tejo Laksono, kau jangan dulu pulang ke Seloageng sebelum masalah ini selesai. Dan kau Jayagiri, bantu kakak mu untuk mencari tahu tentang siapa para prajurit itu", titah Sang Maharaja Panjalu itu segera.
"Sendiko dawuh Kanjeng Romo Prabu", ucap Panji Tejo Laksono dan Mapanji Jayagiri sembari menghormat pada Prabu Jayengrana.
"Kakang Mapatih Warigalit..
Perintahkan kepada seluruh punggawa Istana Kotaraja Daha untuk bersiaga penuh menghadapi segala kemungkinan", perintah Prabu Jayengrana.
"Baik Dhimas Prabu. Akan segera ku laksanakan", Mapatih Warigalit segera menyembah pada Sang Maharaja Panjalu itu sebelum bergegas undur diri dari Pendopo Agung Istana.
****
Sementara itu, Adipati Arya Natakusuma yang marah besar karena merasa di hina oleh Ratu Ayu Galuh dan penolakan lamaran dari Dewi Sekar Kedaton langsung bergegas menuju ke arah tepi barat Kotaraja Daha yang merupakan tepi Sungai Kapulungan.
Begitu sampai di sebuah bangunan rumah sewa yang menjadi tempat tinggal sementara Senopati Danuraja dan Tumenggung Girimantra, dia langsung menghempaskan pantatnya ke kursi kayu.
Brruuaaaakkkkkkkh!!
Sekali gebrak meja kayu yang ada di depannya langsung hancur lebur berkeping-keping. Ini menjadi pertanda bahwa dia sedang marah besar. Patih Tundungwaja yang mengikuti langkah sang pimpinan pun hanya menggeram keras tanpa bisa berkata apa-apa lagi selain mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Kurang ajar kalian, hai Orang-orang Istana Katang-katang!!
Aku tidak akan pernah memaafkan penghinaan yang kalian lakukan hari ini!! Akan ku buat kalian semua merasakan akibatnya karena telah meremehkan ku!!
Senopati Danuraja, kemari kau ..!!!"
Mendengar perintah itu, Senopati Danuraja yang sempat ingin menanyakan perihal lamaran pernikahan pada Dewi Sekar Kedaton, langsung bergegas mendekati sang penguasa Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini.
"Hamba Gusti Adipati..
Ada perintah untuk hamba?", Senopati Danuraja menghormat sebelum berbicara. Adipati Arya Natakusuma mengepalkan tangannya erat di depan dada sembari berkata,
"Siapkan pasukan mu saat ini juga. Perintahkan mereka semua untuk berperang.
Kita gempur Kotaraja Daha dan Istana Katang-katang.
Besok pagi Daha harus banjir darah!!"