
"Aku mengerti Tejo Laksono..
Pulang lah ke Seloageng dan sampaikan salam ku pada menantu menantu ku yang ada di sana", ucap Dewi Anggarawati sembari mengelus kepala sang pangeran muda ini.
"Satu lagi saran yang saya perlukan dari Kanjeng Romo Prabu..
Seloageng baru saja mengalami pralaya. Beberapa jabatan punggawa istana kosong. Saya ingin sebelum berangkat ke Jenggala, jabatan itu sudah terisi. Jadi meskipun saya tidak ada di singgasana, pemerintahan daerah Kadipaten Seloageng harus tetap berjalan sebagaimana mestinya Kanjeng Romo Prabu", Panji Tejo Laksono menghormat usai berbicara.
Hemmmmmmm
"Kau benar putra ku.. Begini saja, Kakang Tumenggung Sindupraja akan ku geser ke Seloageng sebagai Patih. Sudah waktunya dia lengser untuk mengurangi kegiatan nya di keprajuritan Panjalu. Lagipula istri mu Gayatri juga ada di sana, jadi ini akan mempermudah semuanya.
Bagaimana menurut mu?", tawar Prabu Jayengrana segera.
"Saya setuju Kanjeng Romo Prabu..
Lagipula Romo Tumenggung Sindupraja juga mengenal dekat Kadipaten Seloageng, jadi akan lebih mudah untuk mengurus nya", balas Panji Tejo Laksono sambil tersenyum.
"Kalau begitu, besok pagi dia akan ikut kamu pulang ke Seloageng, Tejo Laksono.
Dan ini adalah nawala dari ku untuk Prabu Samarotsaha. Sampaikan kepada nya, jika dia berani untuk mencoba menyerang Panjalu lagi, aku tidak akan segan-segan untuk melanggar aturan yang di buat oleh Bibi Dewi Kilisuci", ucap Prabu Jayengrana tegas sambil mengulurkan sepucuk surat yang ditulis pada daun lontar dan di bungkus kain biru pada Panji Tejo Laksono.
"Sendiko dawuh Kanjeng Romo Prabu..", Panji Tejo Laksono segera menerima uluran tangan ayahandanya itu dan segera menyimpan surat itu di balik bajunya.
Selanjutnya mereka berbincang-bincang sebentar sebelum Panji Tejo Laksono pamit undur diri untuk pulang ke Keputran Daha untuk beristirahat.
Waktu terus berjalan dan meninggalkan siapapun yang tidak bisa mengikuti nya. Malam gelap berhujan deras itu segera di gantikan oleh pagi hari yang di tandai dengan kokok ayam jantan yang seakan ingin menggugah dunia dengan suaranya.
Panji Tejo Laksono terbangun dari tidurnya. Mata putra sulung Prabu Jayengrana itu segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat nya dan menemukan bahwa Luh Jingga sedang nyenyak terlelap tidur sambil memeluk tubuh nya.
Wajah cantik putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan itu terlihat letih namun juga menyunggingkan senyuman puas. Bagaimana tidak, semalam Panji Tejo Laksono dan dia mengayuh kenikmatan surgawi berulang kali. Entah mendapatkan tenaga dari mana, tapi pangeran muda itu sepertinya tidak puas hanya sekali menyentuh tubuh Luh Jingga.
Berkali-kali Luh Jingga di paksa untuk menjerit kecil penuh kenikmatan menghadapi permainan sang pangeran muda.
Panji Tejo Laksono tersenyum simpul melihat ulah selir keduanya ini. Tak ingin membangunkan Luh Jingga, Panji Tejo Laksono perlahan menggeser tangan perempuan cantik berkulit kuning langsat itu. Setelah terlepas, Panji Tejo Laksono kemudian membenarkan selimut yang menutupi sebagian tubuh perempuan cantik itu lalu perlahan mengecup kening nya. Luh Jingga bergerak perlahan namun dia tidak juga bangun dari tidurnya.
Setelah itu sang pangeran muda segera memakai pakaian nya dan segera keluar dari dalam bilik kamar tidur nya. Agar tidak menggangu tidur Luh Jingga, Panji Tejo Laksono perlahan menutup pintu bilik kamar tidur. Saat berbalik, dia kaget bukan main melihat Dyah Kirana sudah menunggunya di luar bilik kamar tidur sambil membawakan nampan berisi bokor kuningan air cuci muka.
"Huuffffftttt..
Kau mengagetkan ku saja Kirana", ujar Panji Tejo Laksono sambil berjalan mendekati putri Resi Ranukumbolo itu.
"Sejak kapan kau berdiri di situ?", imbuh Panji Tejo Laksono sambil memasukkan jemari tangannya ke dalam bokor kuningan air cuci muka. Air hangat bercampur dengan beberapa lembar daun sirih itu langsung menyentuh kulit wajah tampan Panji Tejo Laksono setelah sang pangeran membasuh wajah. Rasa segar dari minyak daun sirih membuat wajah sang pangeran terlihat lebih merona.
"Sejak tadi Gusti Pangeran..
Saya tidak mau mengganggu waktu Gusti Pangeran dengan Kangmbok Luh Jingga jadi saya hanya menunggu saja di sini", ujar Dyah Kirana segera.
"Seharusnya kalau pagi sudah tiba, kau tidak perlu lagi menunggu seperti ini. Kau bisa langsung mengetuk pintu kamar ku.
Ingatlah, kau juga punya hak untuk itu", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis. Mendengar jawaban itu, Dyah Kirana tersenyum lebar.
Setelah mencuci muka nya, Panji Tejo Laksono segera menuju ke arah tempat mandi Keputran Daha yang terletak di belakang tempat itu. Sementara itu, Dyah Kirana segera bergegas menuju ke arah dapur istana. Tak berapa lama kemudian dia kembali sambil membawa nampan yang berisi beberapa jenis makanan untuk sarapan bersama dengan Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga.
Saat Dyah Kirana sibuk menata makanan, pintu kamar tidur Panji Tejo Laksono terbuka dan wajah cantik Luh Jingga menyembul di sana.
"Kirana, Kangmas Pangeran kemana?", tanya Luh Jingga segera.
"Dia sudah ke tempat mandi, Kangmbok Luh Jingga.
Kog tumben sekali Kangmbok Luh Jingga bisa ketinggalan bangun tidur nya dari Gusti Pangeran?", Dyah Kirana menatap wajah cantik Luh Jingga yang terlihat kuyu.
"Hehehehe..
Nanti kau akan tahu kenapa aku bisa kesiangan setelah kau menikah dengan Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono, Kirana", Luh Jingga tersenyum penuh arti sembari meninggalkan Dyah Kirana yang melongo dengan sejuta pertanyaan melintas di kepalanya.
Di luar tembok istana, Tumenggung Sindupraja sudah menunggu mereka dengan 10 orang prajurit pengawal setia nya.
"Selamat pagi Nakmas Pangeran..
Kita akan langsung pulang ke Seloageng atau kita ada rencana lain?", sambut Tumenggung Sindupraja sambil menghormat pada putra mantu sekaligus keponakannya itu.
"Jangan bersikap seperti itu pada ku Kanjeng Romo..
Sebagai putra mantu mu, aku yang seharusnya menghormati mu. Jadi tolong jangan seperti itu lagi.
Kita akan mengunjungi Gelang-gelang sebentar sebelum pulang ke Seloageng. Aku sudah lama tidak berjumpa dengan Eyang Bupati", ujar Panji Tejo Laksono segera. Tumenggung Sindupraja mengangguk mengerti dan rombongan itu segera menggebrak kuda tunggangan mereka melesat cepat kearah selatan.
Gelang-gelang adalah sebuah wilayah yang terletak di selatan Kadiri dan di barat Seloageng. Wilayah kabupaten ini di batasi oleh Sungai Kapulungan atau yang lebih dikenal sebagai Sungai Brantas sekarang. Wilayahnya cukup subur dan menjadi salah satu wilayah penyangga Kotaraja Kadiri yang cukup makmur dengan hasil bumi yang melimpah.
Penguasa Kabupaten Gelang-gelang adalah Panji Gunungsari, ayah Prabu Jayengrana yang juga merupakan eyang Panji Tejo Laksono. Bisa dikatakan bahwa dialah bibit raja-raja Panjalu selanjutnya karena dari keturunannya langsung raja raja Panjalu yang memerintah negeri ini ratusan tahun kemudian.
Saat ini, sang bupati sepuh Panji Gunungsari sudah berniat untuk mundur dari jabatannya sebagai penguasa wilayah ini namun Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana belum menemukan pengganti yang cocok untuk menjadi pimpinan Kabupaten Gelang-gelang. Panji Manggala Seta yang di gadang-gadang menjadi penerus tahta Kabupaten Gelang-gelang selalu berusaha untuk menghindar dari tanggung jawab yang di bebankan kepada nya. Dia selalu beralasan bahwa dia masih belum cukup umur untuk menjadi penguasa wilayah itu.
Rombongan Panji Tejo Laksono terus bergerak menuju ke Kota Kabupaten Gelang-gelang. Setelah melewati beberapa Pakuwon dan Wanua yang tersebar di sepanjang jalan raya menuju ke Kota Gelang-gelang, akhirnya mereka memasuki tapal batas wilayah kota ini.
"Gelang-gelang tenyata cukup ramai juga ya Kangmas? Lihat keramaian orang berlalu lalang di tempat ini..", ujar Luh Jingga yang berkuda di samping Panji Tejo Laksono.
"Kota ini adalah kota kelahiran Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, Dinda Luh..
Dulu sewaktu aku masih kecil, Kanjeng Romo Prabu sering mengajak ku ke tempat ini. Banyak sekali perubahan yang terjadi namun pada dasarnya beberapa bangunan yang ada masih kokoh berdiri", Panji Tejo Laksono menunjuk ke arah salah satu bangunan yang cukup besar di ujung jalan yang mereka lewati.
"Itu tempat apa Kangmas Pangeran?", tanya Luh Jingga segera.
"Itu adalah tempat yang menjadi ujung pasar besar Kota Gelang-gelang. Sudah lama aku tidak melihat keramaiannya dan di sana kau dan Kirana bisa memilih aneka pakaian bagus. Aku ingin membelikan nya untuk kalian berdua sebagai hadiah", mendengar jawaban itu, baik Luh Jingga maupun Dyah Kirana segera tersenyum lebar.
Di ujung jalan, rombongan Panji Tejo Laksono berhenti. Para prajurit pengawal pribadi Tumenggung Sindupraja segera mengatur tempat untuk kuda-kuda mereka sedangkan Panji Tejo Laksono dan Dyah Kirana serta Luh Jingga berjalan memasuki pasar besar itu.
Luh Jingga dan Dyah Kirana kompak bergegas menuju ke sebuah lapak yang menjual aneka kain warna warni yang indah. Sedangkan Panji Tejo Laksono hanya tersenyum saja melihat ulah mereka berdua.
Seorang perempuan paruh baya bertubuh sedikit gemuk dengan riasan wajah tebal dan perhiasan yang menghiasi tubuhnya langsung mendekati Luh Jingga dan Dyah Kirana.
"Selamat datang di lapak dagangan saya, Ndoro Putri..
Mari mari silahkan di pilih. Ini semua kain-kain bagus loh. Saya mendapatkannya dari Kalingga dan Rajapura", ujar perempuan yang merupakan pemilik lapak kain itu dengan ramah.
Luh Jingga dan Dyah Kirana segera mengambil beberapa jenis kain dan pakaian. Terlihat mereka memiliki selera yang hampir serupa. Hanya warna saja yang menjadi pembeda.
"Ini berapa semuanya Nyi?", tanya Luh Jingga segera.
Perempuan itu segera menghitung keseluruhan belanjaan yang diambil oleh Luh Jingga dan Dyah Kirana.
"Semuanya 50 kepeng perak, Ndoro Putri", ujar si pemilik lapak kain itu dengan senyum ramah. Panji Tejo Laksono segera mengeluarkan sekantong kepeng perak dari balik bajunya dan membayar belanjaan yang diambil oleh kedua perempuan cantik itu.
Kejadian ini tak luput dari pengawasan dua orang lelaki bertubuh gempal dengan wajah sangar. Keduanya adalah Bargowo dan Gendro, pemeras yang suka mengganggu para pedagang dan pembeli di pasar besar Kota Gelang-gelang ini.
Tak menunggu lama lagi, keduanya segera mengepung Panji Tejo berserta dua orang wanita cantik yang ada bersamanya.
"Hei kalian, masuk ke dalam pasar besar ini harus membayar pajak kepada kami. Serahkan 10 kepeng perak dan kalian bebas berbelanja di tempat ini", ujar Bargowo dengan bengisnya.
"Siapa kalian? Kenapa kami harus membayar pajak untuk sekedar membeli barang di tempat ini?", jawab Panji Tejo Laksono segera.
"Kami adalah penguasa pasar besar ini. Jangan banyak bicara, cepat serahkan pajak nya jangan membuat kami menunggu", jawab Gendro sambil menyeringai lebar.
"Kalau kami tidak mau?", sahut Luh Jingga yang mulai kesal karena merasa terganggu dengan kehadiran dua orang itu.
"Maka kalian akan menerima akibatnya", setelah berkata demikian, Gendro bergegas maju sambil mengayunkan kepalan tangannya ke arah Panji Tejo Laksono. Luh Jingga mendengus keras lalu menangkis hantaman tangan Gendro. Lalu secepat kilat, Luh Jingga melayangkan tendangan keras kearah perut Gendro sambil berkata,
"Kalian cari mati!"