Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Gayatri Hamil?


Panji Tejo Laksono tersenyum simpul mendengar suara dari mulut Endang Patibrata. Pangeran muda dari Kadiri itu segera menyambar pinggang Endang Patibrata sembari berkata kepada Senopati Agung Jarasanda dan Tumenggung Ludaka.


"Paman berdua..


Aku tunggu di Istana Katang-katang. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan..!!"


Dalam hitungan beberapa kejap mata, tubuh Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata telah menghilang dari pandangan mata dua punggawa Istana Kotaraja Daha ini, di telan rimbunnya pepohonan yang tumbuh subur di tapal batas Kotaraja Kadiri ini. Dua perwira tinggi prajurit Panjalu itu menghela nafas panjang sembari terus menatap ke arah perginya Panji Tejo Laksono dan Endang Patibrata.


"Haesh tahu begini lebih baik kita santai-santai saja dulu Kakang Senopati..", ucap Tumenggung Ludaka sambil melompat ke atas pelana kuda hitam tunggangan nya.


"Benar Adhi Ludaka..


Kemampuan beladiri kita tidak di butuhkan jika Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sudah turun tangan. Saat ini bisa di bilang kesaktian nya sudah sebanding dengan Gusti Prabu Jayengrana. Jika nanti dia yang menjadi Raja Panjalu selanjutnya, sudah bisa di pastikan bahwa tidak ada kerajaan lain yang berani untuk menantang berperang", Senopati Agung Jarasanda ikuti langkah Tumenggung Ludaka. Keduanya memacu kuda mereka perlahan mulai meninggalkan tempat itu.


"Karena itu, kita harus bisa mendukung nya untuk menjadi penguasa Kerajaan Panjalu ini Kakang Senopati, dengan segenap daya dan upaya yang kita bisa. Masa depan Kerajaan Panjalu ini tergantung dari pimpinan nya.


Ayo kita percepat pergerakan kita, Kakang Senopati. Jangan sampai membuat Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono menunggu..", ucap Tumenggung Ludaka sambil menggebrak kuda tunggangan nya hingga hewan pelari ini langsung mencecah tanah dengan keras lalu berlari kencang kearah Istana Katang-katang. Senopati Agung Jarasanda pun segera menyusulnya.


Thopprakk thopprakk!!!


Bunyi ladam sepatu kuda terdengar sambung-menyambung saat kuda kedua punggawa Istana Katang-katang ini melesat cepat menembus jalanan Kotaraja. Debu beterbangan mengiringi langkah kaki kuda mereka.


Sementara itu, Adipati Arya Natakusuma yang tersingkir dari sayembara yang di adakan oleh pihak Istana Kotaraja Daha terlihat termenung di beranda penginapan yang menjadi tempat tinggal nya di bagian barat kota terbesar di Kerajaan Panjalu ini. Kecantikan Dewi Sekar Kedaton begitu membuat nya terpesona hingga tak sebentar pun dia sanggup untuk melupakannya. Patih Tundungwaja yang melihat itu, langsung mengerutkan keningnya.


"Gusti Adipati Arya Natakusuma..


Sedari tadi hamba perhatikan, Gusti Adipati selalu termenung. Apa hal yang membuat Gusti Adipati begitu galau?", tanya Patih Tundungwaja sembari duduk bersila di lantai serambi penginapan tak jauh dari tempat duduk sang penguasa Kadipaten Bhumi Sambara Mataram.


"Huuuhhhhhhh..


Apa ini sudah menjadi takdir ku Paman Patih? Rencana ku untuk mempersunting putri Prabu Jayengrana dengan jalan sayembara malah berakhir memalukan. Apakah sudah tidak ada jalan lain lagi bagi ku untuk mendapatkan Dewi Sekar Kedaton?", terdengar suara putus asa dari mulut Adipati Arya Natakusuma.


Heeemmmmppppp...


"Kalau Gusti Adipati memang benar-benar menginginkan agar Dewi Sekar Kedaton untuk menjadi istri, maka Gusti Adipati harus memperjuangkan nya.


Jika tidak bisa pakai cara halus, ya pakai cara kasar pun tidak masalah asal cinta Gusti Adipati Arya Natakusuma kesampaian..", ujar Patih Tundungwaja segera. Perhatian Adipati Arya Natakusuma segera teralih pada Patih Tundungwaja.


"Apa maksud dari omongan mu Paman Patih? Aku tidak mengerti..", ucap Adipati Arya Natakusuma segera.


"Hamba sarankan agar Gusti Adipati segera melamar Dewi Sekar Kedaton. Toh yang berhasil menyelamatkan nya juga seorang perempuan, jadi Prabu Jayengrana tidak mungkin untuk menikahkan mereka..


Hamba yakin bahwa Gusti Prabu Jayengrana tidak akan menolaknya..", Patih Tundungwaja mengelus jenggotnya yang beruban.


"Tapi kalau di tolak, bukankah kita akan semakin malu, Paman Patih?", Adipati Arya Natakusuma terus menatap ke arah Patih Tundungwaja seolah menunggu setiap kata yang hendak di ucapkan oleh punggawa sepuh Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini.


"Hamba berani untuk berkata demikian karena seorang pejabat tinggi di lingkungan istana negara sudah memberikan dukungan penuh kepada kita, Gusti Adipati. Siapa orangnya, Gusti Adipati Arya Natakusuma sudah tahu..


Kalaupun sampai meleset dari sasaran, terpaksa kita pakai cara kasar untuk mendapatkan Dewi Sekar Kedaton", ucap Patih Tundungwaja tanpa beban.


"Cara apa itu Paman Patih? Lekas katakan pada ku sekarang..", Adipati Arya Natakusuma semakin tidak sabaran ingin cepat-cepat tahu apa yang dimaksud cara kasar itu.


"Paksa ..!!


Dengan kekerasan maka Prabu Jayengrana pasti akan memberikan Dewi Sekar Kedaton pada kita!", Patih Tundungwaja mengepal erat.


"M-maksud Paman Patih kita memberontak?", gagap Adipati Arya Natakusuma berbicara.


"Daripada harus memendam perasaan cinta yang tak kesampaian, lebih baik mati berkalang tanah Gusti Adipati.


Cinta itu harus di perjuangkan sampai dapat!", mendengar jawaban sang warangka praja Kadipaten Bhumi Sambara ini, Adipati Arya Natakusuma langsung terdiam sejenak. Dahinya mengernyit tanda bahwa dia sedang berpikir keras.


"Baiklah kalau begitu..


Hanya saja itu merupakan jalan keluar terakhir yang terpaksa aku ambil jika Gusti Prabu Jayengrana menolak lamaran ku. Besok pagi, kita menghadap langsung ke Istana Katang-katang, Paman Patih. Siapkan segala sesuatu nya untuk melamar Dewi Sekar Kedaton..", titah sang penguasa Kadipaten Bhumi Sambara ini segera.


"Sendiko dawuh Gusti Adipati..", Patih Tundungwaja segera menghormat pada Adipati Arya Natakusuma sesaat sebelum dia beringsut mundur meninggalkan serambi penginapan tempat peristirahatan sang penguasa Kadipaten Bhumi Sambara. Adipati Arya Natakusuma segera mengepalkan tangannya erat-erat sambil bergumam lirih.


"Dewi Sekar Kedaton, kau harus jadi milikku!"


****


Endang Patibrata langsung mengangguk cepat begitu Dewi Sekar Kedaton selesai bicara.


"Kalau begitu masalah beres. Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono tinggal menikahi Nini Endang Patibrata maka kewajiban ku dan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana selesai..", ujar Dewi Sekar Kedaton sembari tersenyum simpul seraya melirik ke arah Panji Tejo Laksono. Namun sang pangeran justru melengos membuang muka nya.


"Enak saja menjadikan ku sebagai hadiah!!


Aku tidak mau!!!", ucap Panji Tejo Laksono tegas.


Kaget semua orang di Keputran Daha mendengar jawaban Panji Tejo Laksono. Endang Patibrata bahkan sampai melongo mendengar jawaban itu. Kemudian raut wajahnya berubah menjadi sedih.


Saat itu, di Keputran Daha sedang berkumpul putra dan putri raja Panjalu. Ada Mapanji Jayagiri, Dewi Kencanawangi, Dewi Sekar Kedaton, Dewi Sekar Tanjung dan Dewi Wulan Sumekar yang berkumpul di sana untuk menanyakan kepada Endang Patibrata tentang hadiah yang dia inginkan. Dewi Sekar Tanjung sudah di lamar putra Adipati Lasem, Ardhaprabu. Sedangkan Dewi Wulan Sumekar juga sudah mendapat pinangan dari pangeran Kerajaan Sriwijaya di Suvarnabhumi. Namun mereka belum bisa melangsungkan pernikahan dengan pasangan masing-masing sebelum Mapanji Jayagiri menikah dengan putri Prabu Langlangbumi dari Galuh Pakuan. Ini adalah aturan yang berlaku di masyarakat Panjalu kala itu.


"Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono..


Apa susahnya berkata iya? Tolong hargailah perasaan Yunda Endang Patibrata, jangan begitu..", Dewi Kencanawangi yang paling dulu protes keras terhadap jawaban sang pangeran.


"Benar Kangmas Pangeran..


Tuh Nini Endang Patibrata langsung bermuram durja mendengar jawaban Kangmas. Sudah terima saja Kangmas..", ujar Dewi Wulan Sumekar sembari menunjuk pada Endang Patibrata yang diam seribu bahasa.


"Dengarkan aku bicara..


Aku bukannya menolak jika aku menikahi Endang Patibrata. Aku bahkan sudah menjanjikan untuk menjadikannya sebagai istri ku jika dia telah menjadi seorang pendekar wanita dan dia sudah membuktikan nya.


Aku hanya tidak mau jika aku menikahi Endang Patibrata sebagai hadiah atas kerja keras nya menyelamatkan mu, Nimas Sekar Kedaton. Jika mau memberikan hadiah, silahkan lainnya tapi bukan aku", ujar Panji Tejo Laksono sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling nya. Semua orang langsung manggut-manggut mengerti dengan maksud dari omongan Panji Tejo Laksono baru saja.


"Kalau begitu, nanti aku mintakan tanda terima kasih ku kepada Biyung Ratu Galuh, Kangmas Pangeran..


Nah sekarang Nini Endang Patibrata bisa tenang bukan?", Dewi Sekar Kedaton mengedipkan sebelah matanya ke arah Endang Patibrata. Putri Lurah Wanua Pulung ini langsung memerah wajahnya sedangkan semua orang yang ada di situ tertawa terpingkal-pingkal melihat Endang Patibrata yang malu-malu kucing.


****


Hhoooeeeeggggghhh..


Hoooeeeeggggh...!!


Gayatri muntah-muntah di dekat taman sari Istana Kadipaten Seloageng. Baru saja dia mencium bau bunga mawar dan anehnya ini langsung membuat nya mual-mual. Luh Jingga yang sedang menemaninya segera memijit tengkuk leher putri Tumenggung Sindupraja ini.


"Kau kenapa Kangmbok Gayatri?", tanya Luh Jingga sembari terus memijat tengkuk madu nya itu dengan lembut.


"Aku tidak tahu Jingga..


Begitu aku mencium bau bunga mawar itu, perut ku mendadak mual. Sepertinya perut ku sedang bermasalah Jingga..


Hoooeeeeggggh!!!", Gayatri kembali memuntahkan isi perutnya.


"Apa kau masuk angin, Kangmbok Gayatri? Kog aneh begitu?", Luh Jingga dengan telaten membantu Gayatri hingga perempuan cantik itu merasa sedikit lega.


Dari arah lain, Song Zhao Meng yang baru saja memetik bunga mawar di ujung taman sari Istana, berjalan mendekati mereka. Begitu sampai di dekat nya, rasa mual di perut Gayatri langsung kambuh setelah bau bunga mawar ini tercium oleh hidung nya.


Hoooeeeeggggh!!


"Jauhkan bunga mawar itu dari ku, Wulandari..


Baunya sungguh membuat ku ingin muntah", Gayatri langsung menuding ke arah Song Zhao Meng yang memegang beberapa kuntum bunga mawar yang baru saja dia petik.


"Kakak Gayatri kenapa, Kak Jingga? Sejak kapan bau bunga mawar membuat muntah?


Aneh sekali ..", Song Zhao Meng menggaruk kepalanya pertanda keheranan melihat sikap aneh Gayatri.


"Tidak tahu, Wulandari..


Sejak tadi pagi dia mengeluh mual mencium bau bunga mawar..", jawab Luh Jingga segera. Mendengar jawaban itu, Song Zhao Meng mengernyitkan keningnya. Tiba-tiba saja sebuah pemikiran muncul di kepalanya. Dia langsung berkata,


"Jangan-jangan Kakak Gayatri hamil?"