
Pertapaan Panumbangan termasuk dalam wilayah paling timur dari Kadipaten Seloageng. Daerah ini masuk dalam wilayah Pakuwon Weling yang ada di lereng Gunung Kelud sebelah timur hingga selatan lereng Gunung Kawi, berbatasan dengan Pakuwon Tumapel yang merupakan wilayah Kadipaten Kanjuruhan yang merupakan salah satu wilayah Kerajaan Jenggala. Kedua daerah ini dipisahkan oleh Sungai Lawor yang menjadikan batas alam antara Jenggala dan Panjalu.
Pakuwon Weling merupakan salah satu daerah tersubur di timur Kadipaten Daerah ini dulu pada masa awal Kerajaan Panjalu, merupakan salah satu wilayah Pakuwon Tumapel, namun setelah kekalahan prajurit Jenggala di tangan Panji Watugunung pada masa mudanya, wilayah inipun di masukkan ke dalam Kadipaten Seloageng bersamaan dengan dimasukkannya Kadipaten Singhapura ke dalam wilayah Panjalu atas seijin Dewi Sanggramawijaya atau yang dikenal sebagai Dewi Kilisuci sebagai peringatan pada Prabu Mapanji Garasakan agar tidak mencoba untuk menyerang Kerajaan Panjalu yang dipimpin oleh Prabu Samarawijaya. Wilayahnya yang bergunung-gunung memiliki udara yang sejuk hingga cocok untuk bercocok tanam. Di daerah selatan yang berdekatan dengan Sungai Brantas atau ada juga yang menyebutnya sebagai Sungai Kapulungan. Meski penduduknya tidak seramai daerah lain, namun Pakuwon Weling tetap menjadi daerah yang makmur karena pertaniannya.
Ibukota Pakuwon Weling adalah Kota Weling yang terletak di timur Kali Aksa yang berdekatan dengan Pakuwon Bedander. Kota kecil ini cukup ramai dengan banyaknya pedagang antar wilayah yang singgah di tempat ini. Ada beberapa warung makan dan dua penginapan yang cukup besar yang terletak di tepi jalan raya sebelah timur kota. Pasar nya terletak di tepi Kali Aksa namun selalu ramai pada hari pasarannya.
Penguasa Pakuwon Weling adalah seorang lelaki paruh baya bertubuh gempal namun memiliki kumis tipis. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi, senyumnya ramah dan sikapnya yang baik menjadikan dia pimpinan daerah yang di sukai oleh bawahannya seperti para Kraman atau Lurah di wanua wanua di wilayahnya. Dia adalah bekas pimpinan prajurit Seloageng yang dipilih oleh Adipati Sepuh Tejo Sumirat sebagai penguasa daerah itu.
Namanya Akuwu Bonokeling, bekas perwira tinggi prajurit Seloageng yang berniat untuk mengundurkan diri dari dunia keprajuritan namun di paksa oleh adipati sepuh untuk menata daerah baru mereka yang merupakan bekas wilayah Pakuwon Tumapel. Selama hampir 20 tahun, Akuwu Bonokeling menata daerah baru ini menjadi salah satu daerah makmur sembari memberi membersihkan para perampok dan penyamun yang banyak bergerak di sepanjang perbatasan dengan Kerajaan Jenggala. Meski belum sepenuhnya berhasil, namun bila dibandingkan dengan awal masa pemerintahan nya, para pengacau keamanan itu telah jauh berkurang.
Dalam memerintah Pakuwon Weling, Akuwu Bonokeling di dampingi oleh sang istri Nyi Nilamsari. Mereka memiliki dua orang anak laki perempuan yang bernama Raden Darmendra dan Bonowati. Keduanya merupakan putra bangsawan yang memiliki paras tampan dan cantik karena sang ibu Nyi Nilamsari adalah seorang kembang desa Wanua Ranja pada masa dulu sebelum di persunting oleh Akuwu Bonokeling.
Saat itu di pendopo pisowanan Pakuwon Weling, Akuwu Bonokeling sedang duduk di kursi kebesarannya. Sang istri Nyi Nilamsari nampak duduk bersimpuh di samping kirinya menemani sang Akuwu yang sedang menerima laporan Bekel Pakuwon Weling, Wirabraja tentang hasil dari patroli rutinan di perbatasan wilayah mereka dengan Pakuwon Tumapel.
Hemmmmmmm
"Jadi bajingan bajingan itu memanfaatkan batas wilayah kita untuk kabur ke Tumapel, Wirabraja?", tanya Akuwu Bonokeling sembari mengusap kumis tipis nya.
"Benar Gusti Akuwu..
Kelihatannya mereka sengaja melakukannya dan sudah di rencanakan sebelumnya. Ini terlihat dari cepatnya mereka kabur dari wilayah kita. Dari ulah mereka, rumah Lurah Wanua Banjarsari juga ikut di bakar dan hasil bumi yang sedianya akan di jadikan upeti tahunan kepada Pakuwon ikut diambil oleh para penyamun itu, Gusti Akuwu", Bekel Wirabraja menghormat pada Akuwu Bonokeling usai menyelesaikan laporan nya.
"Ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut, Wirabraja..
Aku akan meminta bantuan kepada pihak Istana Kadipaten Seloageng untuk masalah ini. Aku yakin Gusti Pangeran Adipati Tejo Laksono punya pemecahan untuk masalah ini", ucap Akuwu Bonokeling sembari menghela nafas panjang.
Belum cukup mereka berbincang, dari arah pintu gerbang pendopo pisowanan, dua orang prajurit berlari menuju ke arah pendopo. Begitu sampai di tempat itu, keduanya segera menyembah pada Akuwu Bonokeling segera.
"Mohon ampun Gusti Akuwu..
Kita kedatangan tamu agung. Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono dan para bawahannya sedang berada di luar tembok istana Pakuwon Weling. Mereka di kawal kurang lebih 700 orang prajurit pengawal", lapor sang prajurit segera.
Mendengar perkataan itu, Akuwu Bonokeling segera berdiri dari tempat duduknya. Tidak biasanya ada kunjungan dadakan dari Kadipaten Seloageng tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Jika ini terjadi, pasti ada sesuatu yang penting.
"Nyimas Nilamsari, segera perintahkan kepada juru masak istana untuk menyiapkan hidangan terbaik untuk Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono.
Dan kau Wirabraja..
Suruh anak buah mu untuk menyiapkan segala keperluan para prajurit Seloageng secepatnya. Setelah tugas itu rampung, kau lapor pada ku", perintah Akuwu Bonokeling yang membuat Nyi Nilamsari dan Bekel Wirabraja segera bergegas melaksanakan tugas yang diberikan kepada mereka usai menghormat pada Akuwu Bonokeling. Setelah itu, di kawal beberapa orang prajurit Pakuwon Weling, sang penguasa daerah itu segera melangkah menuju ke arah pintu gerbang istana Pakuwon Weling untuk menyambut kedatangan Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya.
Hari itu Istana Pakuwon Weling menjadi sibuk dengan kedatangan sang Adipati baru Seloageng yang tiba-tiba berkunjung ke tempat mereka. Para juru masak istana nampak sibuk menyiapkan makanan untuk para tamu agung.
Bonowati sang putri Akuwu Bonokeling nampak kaget melihat kesibukan yang luar biasa di istana. Dia baru saja pulang dari tempat kakeknya di Wanua Ranja bersama dengan kakaknya Raden Darmendra. Perempuan cantik yang baru menginjak usia 2 windu itu segera mendekati salah satu dari prajurit penjaga gerbang istana usai melompat turun dari kudanya.
"Prajurit, ada apa ini? Kenapa istana terlihat begitu ramai?", tanya sang putri segera.
"Mohon ampun Gusti Putri..
Adipati baru Seloageng, Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono datang berkunjung tanpa pemberitahuan. Tentu saja ini mengagetkan semua orang termasuk Gusti Akuwu Bonokeling", jawab sang prajurit sembari menghormat pada Bonowati.
'Adipati baru Seloageng berkunjung? Kenapa mendadak sekali?'
"Sembah bakti kami Kanjeng Romo", ucap Raden Darmendra dan Bonowati seraya menghormat pada Akuwu Bonokeling. Perhatian Bonowati langsung terpaku pada sosok seorang lelaki tampan yang mengenakan pakaian berwarna biru tua tanpa lengan baju.
"Ah ini dia putra putri hamba, Darmendra dan Bonowati, Gusti Pangeran Adipati.
Darmendra, Bonowati..
Berikan hormat kalian kepada Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono", ucap sang Akuwu Pakuwon Weling segera.
"Salam hormat kami, Gusti Pangeran Adipati", ucap Raden Darmendra dan Bonowati bersamaan.
"Aku terima hormat kalian. Terimakasih sudah menyambut kedatangan ku di Pakuwon Weling ini, Darmendra dan Bonowati", ucap Panji Tejo Laksono segera. Keduanya segera duduk di belakang Akuwu Bonokeling yang sedang duduk bersila di lantai pendopo pisowanan Pakuwon Weling. Seluruh pengikut Panji Tejo Laksono seperti Senopati Gardana, Panji Manggala Seta, Gayatri dan Luh Jingga juga ikut duduk bersama di tempat itu.
"Kedatangan ku kali ini adalah untuk menemui Resi Mpu Wisesa dari Pertapaan Panumbangan, Akuwu Bonokeling. Namun sebelum melakukannya, aku ingin kau mengetahuinya", lanjut Panji Tejo Laksono sambil menatap ke arah Akuwu Bonokeling.
"Memang ada perkara apa dengan Resi Mpu Wisesa, Gusti Pangeran Adipati? Setahu hamba, Pertapaan Panumbangan tidak pernah berbuat kesalahan di dalam pengelolaan pendidikan mereka", tanya Akuwu Bonokeling segera.
"Kau sudah tertipu dengan tampilan mereka yang baik baik saja, Akuwu Bonokeling.
Baru baru ini, Resi Mpu Wisesa menjadi dalang dari peristiwa percobaan pembunuhan terhadap ku. Karena itu, hari ini juga, mereka harus di tangkap untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya", jawab Panji Tejo Laksono sambil terus menatap ke arah Akuwu Bonokeling. Ucapan Panji Tejo Laksono itu ibarat petir menyambar di siang bolong. Sang penguasa Pakuwon Weling itu nampak terkejut bukan main mendengar jawaban Panji Tejo Laksono. Begitu juga dengan Raden Darmendra dan Bonowati.
"Ba-bagaimana mungkin itu terjadi? Selama ini Resi Mpu Wisesa terlihat baik-baik saja", gumam Raden Darmendra lirih namun masih terdengar oleh semua orang.
"Jangan tertipu dengan tindak tanduk mereka, Raden Darmendra. Asal kau tahu saja, Resi Mpu Wisesa adalah salah seorang pimpinan dari Kelompok Bulan Sabit Darah yang selama ini hanya dianggap sebagai dongeng pengantar tidur anak anak karena keberadaannya yang tidak pasti", ujar Panji Manggala Seta sembari tersenyum tipis.
Seorang prajurit penjaga gerbang istana yang berdiri di dekat pendopo pisowanan perlahan mulai beringsut mundur untuk meninggalkan tempat itu. Belum ada dua langkah dia bergerak, sebuah jarum berwarna merah kehitaman melesat cepat kearah lehernya.
Shhhrriinggg..
Chhreepppppph...
Oouuugghhhhhh !!!!
Robohnya sang prajurit yang tiba-tiba mengagetkan semua orang terkecuali Panji Tejo Laksono yang memang melihat pergerakan tidak biasa dari sang prajurit. Tanpa perintah, seorang prajurit penjaga istana dilarang untuk meninggalkan tempat nya berjaga. Jika ini dilanggar, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Pergerakan prajurit tadi sudah di amati oleh Panji Tejo Laksono dan begitu dia meneruskan gerakannya, Panji Tejo Laksono segera berkedip ke arah Panji Manggala Seta untuk menghabisi nyawanya.
Panji Manggala Seta segera melompat ke arah sang prajurit yang tewas. Segera dia memeriksa tubuh sang prajurit. Di dalam sabuknya, ada sebuah kain putih bergambar bulan sabit terbalik dengan warna merah darah. Sembari menyeringai lebar, Panji Manggala Seta segera mengambil benda itu dan mengulurkannya pada Panji Tejo Laksono.
"Ini adalah bukti, bahwa istana mu pun tak luput dari pengawasan Kelompok Bulan Sabit Darah, Akuwu Bonokeling", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.
"Kurang ajar mereka!!
Gusti Pangeran Adipati, tolong ijinkan hamba untuk ikut serta dalam pemberantasan kelompok jahanam itu dari wilayah Pakuwon Weling", Akuwu Bonokeling segera menghormat pada Panji Tejo Laksono dan ini disambut senyum tipis oleh sang pangeran muda. Siang itu juga, rombongan pasukan Seloageng bergerak menuju ke arah Pertapaan Panumbangan.
Resi Mpu Wisesa sedang berdiri sambil menerangkan tentang pendalaman keagamaan pada para cantrik Pertapaan Panumbangan saat tiba-tiba sebuah suara melengking tinggi terdengar layaknya suara seekor gajah. Ini adalah isyarat dari para telik sandi Kelompok Bulan Sabit Darah yang mengabarkan adanya bahaya yang mengancam.
Dari arah selatan, suara derap langkah kaki kuda terdengar mendekat bersamaan debu beterbangan. Mendengar dari banyaknya suara derap langkah kaki kuda, jumlah rombongan mencapai ratusan orang. Sembari mengusap janggut nya yang ditumbuhi uban, Resi Mpu Wisesa bergumam perlahan,
"Mereka sudah datang"