Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Benteng Pertahanan Wanua Sungging


Mendengar ucapan ayah mereka, Panji Tejo Laksono dan Panji Manggala Seta langsung saling berpandangan. Khawatir dengan keselamatan Mapanji Jayagiri, Panji Manggala Seta segera berbicara.


"Mohon ampun bila saya lancang, Kanjeng Romo Prabu.


Tapi membiarkan Kangmas Jayagiri bertarung sendirian memimpin pasukan Panjalu saya rasa bukan pilihan yang tepat. Saya tahu kemampuan beladiri Kangmas Jayagiri memang bisa diandalkan akan tetapi kalau urusan peperangan, Kangmas Jayagiri sama sekali tidak punya pengalaman dan saya sangsi dia bisa pulang membawa kemenangan", ujar Panji Manggala Seta segera.


"Itulah yang menjadi pikiran ku, putra ku..


Desakan Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma yang ingin pembuktian untuk Jayagiri sebelum berangkat ke Galuh Pakuan untuk menikahi putri Kakang Prabu Langlangbumi memang terdengar memaksa tapi ini juga penting di lakukan oleh Jayagiri agar dia layak untuk dijadikan menantu Kerajaan Galuh Pakuan", Prabu Jayengrana mengelus kumis tebal nya.


"Gusti Prabu Jayengrana, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, Gusti Pangeran Panji Manggala Seta..


Mohon ampun hamba lancang menyela pembicaraan panjenengan semuanya. Sebaiknya kita masuk ke dalam Istana Pakuwon Kunjang. Hari sudah menjelang sore, tentu gusti sekalian sudah lelah setelah seharian bertempur melawan para prajurit Jenggala. Mari silahkan Gusti", Akuwu Manik Badra menghormat pada Prabu Jayengrana selesai berbicara.


Mendengar tawaran itu, Prabu Jayengrana segera mengangguk mengerti. Bersama para putra dan menantunya juga para punggawa Istana Kotaraja seperti Tumenggung Ludaka, Senopati Muda Jarasanda, Senopati Tunggul Arga juga para nayaka praja yang lain, Prabu Jayengrana berjalan memasuki Istana Pakuwon Kunjang.


Di pendopo pisowanan Pakuwon Kunjang, mereka semua kembali berkumpul setelah sempat membersihkan diri. Kesemuanya duduk bersila dengan rapi saling berhadapan untuk melanjutkan obrolan mereka.


Para dayang istana sibuk menyuguhkan berbagai penganan yang di sediakan khusus untuk mereka.


"Kanjeng Romo Prabu..


Kalau memang di butuhkan, saya dan Dhimas Manggala Seta siap untuk bergerak menuju ke Bojonegoro. Tadi ananda sudah bicara empat mata dengan Dhimas Manggala Seta, dan dia bersedia untuk membantu jika Kanjeng Romo Prabu mengizinkan", ujar Panji Tejo Laksono membuka kembali obrolan mereka yang sempat terpotong tadi.


"Apa kau tidak lelah, Tejo Laksono?


Kau baru saja melakoni peperangan di dua tempat berturut-turut. Tentu tenaga dan pikiran mu pasti sangat letih setelah mati-matian melawan para prajurit Jenggala", tanya Prabu Jayengrana segera.


"Rasa lelah saya tidak sebanding dengan kemenangan prajurit Panjalu dalam mengusir para prajurit Jenggala itu, Kanjeng Romo Prabu..


Bagi saya, lebih baik mempertahankan kedaulatan kerajaan ini sampai titik darah penghabisan daripada berpangku tangan melihat mereka yang ingin mengusap kerajaan kita", jawab Panji Tejo Laksono sambil menghormat pada Prabu Jayengrana.


Semua orang manggut-manggut senang mendengar jawaban sang putra sulung Prabu Jayengrana itu. Prabu Jayengrana sendiri tersenyum simpul setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh putra sulung nya ini.


"Kalau ada kamu yang membantu, aku bisa tenang.


Lantas kau akan mengajak siapa untuk berangkat menyusul Jayagiri ke Bojonegoro, Tejo Laksono?", tanya Prabu Jayengrana kemudian.


"Paman Jarasanda, Paman Ludaka..


Apa Paman berdua masih sanggup untuk bertempur sekali lagi dengan para prajurit Jenggala?", Panji Tejo Laksono mengalihkan pandangannya pada Tumenggung Ludaka dan Senopati Muda Jarasanda.


"Jangankan cuma sekali lagi, Gusti Pangeran Adipati..


Sampai nyawa melayang di cabut dari raga oleh Hyang Yamadipati pun hamba akan tetap ikut mengusir wong wong Jenggala itu dari Bhumi Panjalu", Senopati Muda Jarasanda segera menghormat usai berbicara.


"Begitu pula hamba, Gusti Pangeran..


Selagi masih ada nyawa melekat di badan hamba, Ludaka siap untuk bergerak kapanpun Gusti Pangeran perintahkan", sahut Tumenggung Ludaka segera.


"Kalau begitu, besok saat matahari sepenggal naik di langit timur, kita berangkat ke Bojonegoro, Paman...


Tumenggung Pandu dari Tanah Perdikan Lodaya,


Apa kalian masih sanggup untuk mengikuti langkah ku dan para prajurit Panjalu ke Bojonegoro? Kalau kalian sudah lelah, kalian ku ijinkan pulang ke Lodaya. Jangan khawatir, aku akan tetap memenuhi janji ku pada Paman Pangeran Arya Tanggung", Panji Tejo Laksono menatap ke arah Tumenggung Pandu dan Ki Juru Mpu Krepa yang duduk agak jauh tempat duduknya.


"Kalau itu yang menjadi keputusan Gusti Pangeran, kami mohon ijin untuk pamit besok pagi pulang ke Lodaya. Sekalian melaporkan hasil kerja kami pada Gusti Pangeran Arya Tanggung, Gusti Pangeran Adipati", ucap Tumenggung Pandu sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Ya iya iya.. Sampaikan salam hormat dan terimakasih ku pada Paman Pangeran Arya Tanggung, Tumenggung Pandu..


Untuk para prajurit Panjalu yang hamba bawa, sebaiknya tidak lebih dari 30 ribu orang prajurit, Kanjeng Romo.. Perbekalan yang ada hanya cukup untuk jumlah itu saja", Panji Tejo Laksono mengalihkan perhatian nya pada sang Maharaja Panjalu.


"Aku mengerti, Tejo Laksono..


Senopati Tunggul Arga akan memimpin sisa prajurit Panjalu kembali ke Ksatrian Kadri. Sebagai penjaga Kotaraja Daha, tidak boleh membiarkan pusat pemerintahan kita kosong tanpa ada prajurit yang berjaga.


Malam ini juga, Senopati Tunggul Arga harus kembali ke Kotaraja. Apa kau sudah dengar titah ku Senopati Tunggul Arga?", Prabu Jayengrana menatap ke arah Senopati Tunggul Arga.


"Sendiko dawuh Gusti Prabu..


Kalau begitu, hamba mohon pamit undur diri untuk pulang ke Kadiri", selesai bicara, Senopati Tunggul Arga segera menyembah pada Prabu Jayengrana dan beringsut mundur dari tempat itu.


Demung Gumbreg yang namanya tidak disebutkan oleh Panji Tejo Laksono, segera menyembah pada sang Maharaja Panjalu.


Semuanya di sebutkan, kog hamba ndak di sebut? Hamba juga ingin ikut serta dalam rombongan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono loh", mendengar ucapan Gumbreg, Tumenggung Ludaka yang duduk di sebelahnya pun langsung menyikut pinggang nya.


Dhhuuuggg..


"Kau ini bego apa pura pura bego Mbreg?


Kalau aku dan Senopati Muda Jarasanda ikut, kau juga pasti masuk rombongan. Kalau kau tidak ikut, lantas siapa yang mengurusi perbekalan he? Mbok mikir sedikit to..", ucap Tumenggung Ludaka sedikit lirih namun semua orang masih bisa mendengar omongan nya.


"Oh iya ya, hehehehe.. Kita satu kelompok ya Lu..


Kalau kau ikut, aku pasti di ajak hehehehe.. Slamet slamet Slamet... Tidak di suruh pulang ke Kadiri aku", Demung Gumbreg cengengesan.


"Dasar suami takut istri!", gerutu Tumenggung Ludaka lirih.


"Kau tenang saja, Mbreg.. Tugas mu adalah membantu Tejo Laksono dan Manggala Seta sampai tuntas. Setelah itu kau boleh pulang ke Kadiri", ujar Prabu Jayengrana sambil tersenyum simpul.


"Matur nuwun untuk kehormatan yang Gusti Prabu berikan kepada hamba", ujar Demung Gumbreg sembari menyembah pada Prabu Jayengrana.


Setelah rampung penataan persiapan untuk menyusul Mapanji Jayagiri ke Bojonegoro, Akuwu Manik Badra segera menghidangkan pelbagai jenis masakan yang di siapkan oleh para juru masak istana.


Sedangkan di luar tembok istana, para prajurit Panjalu berpesta bersama para penduduk Kota Kunjang merayakan kemenangan mereka mengusir para prajurit Jenggala.


Menjelang tengah malam, Prabu Jayengrana undur diri. Asap putih tipis yang menutupi seluruh tubuhnya menjadi pertanda bahwa sang Maharaja Panjalu menggunakan Ajian Halimun untuk pulang ke Istana Katang-katang.


Malam terus merangkak naik. Meski pada tengah malam hujan deras mengguyur Kota Kunjang, namun suasana gembira masih menyelimuti semua orang yang masih terjaga di malam itu. Obrolan mereka terus membahas tentang kemenangan mereka. Semuanya mengagumi kecerdasan Panji Tejo Laksono dalam memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam upaya menahan serangan para prajurit Jenggala.


Keesokan paginya, setelah matahari sepenggal naik di langit timur, rombongan pasukan Panjalu yang di pimpin oleh Panji Tejo Laksono dan Panji Manggala Seta, bergerak menuju ke arah Kadipaten Bojonegoro.


Sementara itu, Mapanji Jayagiri yang kemarin sore sampai di benteng pertahanan Panjalu di Wanua Sungging baru saja bangun dari tidurnya. Sang pangeran ketiga ini mengucek matanya dan melihat ke arah Wanyan Lan yang masih tertidur pulas sambil memeluk tubuh nya.


"Dara Kuning..


Ayo bangun.. Ini sudah siang", ujar Mapanji Jayagiri sambil menggoyangkan bahu Wanyan Lan yang putih. Dara Kuning adalah panggilan kesayangan Mapanji Jayagiri pada perempuan cantik asal Tanah Tiongkok itu.


Wanyan Lan menggeliat sebentar sebelum membuka mata nya. Perempuan cantik itu segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun menutupi.


Hehehehe...


"Kenapa kau tutupi? Semalam aku sudah melihat semuanya", Mapanji Jayagiri terkekeh kecil melihat tingkah Wanyan Lan.


"Huhhh dasar mulut manis..


Kalau tidak ingin menyemangati mu supaya menang perang, aku tidak sudi menyerahkan kehormatan ku pada mu, Kakak Jaya", gerutu Wanyan Lan sambil beringsut menjauhi Mapanji Jayagiri. Namun lengan perempuan cantik itu langsung di cekal oleh Mapanji Jayagiri hingga dia tidak bisa bergerak. Wanyan Lan segera menoleh ke arah Mapanji Jayagiri.


"Mau apa lagi?", tanya Wanyan Lan.


"Ya mau lagi, Dara Kuning.. Hehehe", ujar Mapanji Jayagiri sambil tersenyum penuh arti.


"Tidak mau..


Kalau kau sudah memenangkan peperangan, jangankan cuma sekali, dua malam suntuk pun aku siap untuk melayani mu. Sekarang cepat mandi sana.


Kau disini untuk memimpin pasukan Panjalu, bukan untuk bermesraan dengan ku", ujar Wanyan Lan sambil mendorong tubuh Mapanji Jayagiri.


"Aku pegang kata-kata mu, Dara Kuning.. Awas kalau kau ingkar janji", ucap Mapanji Jayagiri sambil memakai pakaian nya. Putra ketiga Prabu Jayengrana itu segera bergegas keluar menuju ke arah tempat mandi. Wanyan Lan hanya tersenyum saja melihat ulah lelaki yang kini dicintainya itu.


Pagi itu, selepas membersihkan diri, Mapanji Jayagiri segera memimpin pertemuan dengan para punggawa prajurit Panjalu yang ada di benteng pertahanan Wanua Sungging.


Setelah Tumenggung Landung menjelaskan situasi yang mereka hadapi sekarang, Mapanji Jayagiri mengerutkan keningnya.


"Jadi sampai sekarang, mereka masih belum bergerak sama sekali?", tanya Mapanji Jayagiri sambil menatap ke arah Tumenggung Landung.


"Belum sama sekali, Gusti Pangeran..


Laporan telik sandi yang terakhir mengatakan bahwa pimpinan mereka terluka parah setelah beradu ilmu kesaktian dengan Gusti Senopati Agung Narapraja.


Lantas bagaimana langkah kita selanjutnya?", Tumenggung Landung menatap wajah tampan Mapanji Jayagiri.


Mapanji Jayagiri menghela nafas panjang sebelum berbicara,


"Kalau begitu, kita gempur mereka!"