Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Lawan Yang Sepadan


Mendengar perintah dari junjungan mereka, Rakryan Purusoma, Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi berbarengan mengangguk mengerti. Mereka berempat dasar, meski kekuatan mereka berempat di gabungkan masih belum mampu untuk menandingi kekuatan lelaki bertubuh kurus yang baju hitam nya di hiasi oleh bulu burung gagak ini.


"Kak Jun, biarkan aku yang bergerak lebih dulu", ujar Qing Yu si Iblis Gagak Betina yang tanpa menunggu persetujuan dari Li Chun Jun langsung melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Luh Jingga.


Li Chun Jun hanya mendengus dingin dan menghentikan langkahnya setelah melihat pasangan nya menerjang maju.


Luh Jingga dan Song Zhao Meng yang sudah waspada terhadap segala kemungkinan langsung bersiap untuk bertarung. Namun gerakan cepat Qing Yu yang tiba-tiba menghilang dan muncul di hadapan mereka berdua benar benar mengejutkan Luh Jingga dan Song Zhao Meng. Dua orang perempuan cantik itu tak sempat lagi menghindar saat tangan Qing Yu yang berkuku panjang dan hitam mencengkeram leher mereka dan menyeret mereka berdua sedikit menjauh dari tempat dimana Panji Tejo Laksono berada.


"Luh Jingga , Meng Er...!!!", teriak Panji Tejo Laksono yang panik melihat kedua orang wanitanya di sambar oleh Qing Yu si Iblis Gagak Betina.


Saat Panji Tejo Laksono hendak bergerak memberikan bantuan, tiba-tiba saja lima larik sinar hitam berhawa dingin menerabas cepat kearah kanan sang pangeran muda dari Kadiri ini.


Shhrrreeeetttthhh shreeettttthhh..!!


Melihat serangan cepat ini, Panji Tejo Laksono mau tidak mau urungkan niat untuk membantu Luh Jingga dan Song Zhao Meng dan bergerak ke arah kiri untuk menghindari serangan dari Li Chun Jun.


Whhhuuuuummmmm..


Blllaaaaaaammmmmmm !!


Ledakan keras terdengar saat lima larik sinar hitam berhawa dingin dari Li Chun Jun si Iblis Gagak Jantan ini menghantam sebuah perahu nelayan yang tertambat di tiang pancang pelabuhan sungai. Perahu kayu ini seketika meledak dan hancur berkeping-keping. Asap tebal mengepul dari arah perahu nelayan yang meledak, menyebarkan serpihan kayu ke sekeliling Sungai Yinghe.


"Sebaiknya kau pikirkan nasib mu sendiri, anak muda! Jangan ganggu kesenangan istri ku eh hehehehe", tawa terdengar dari mulut Li Chun Jun yang memutar telapak tangan kanannya di depan wajahnya sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono yang baru saja berhasil menghindar dari serangan maut nya.


"Bangsat keji !


Kalau begitu, sebaiknya kau segera maju kakek kurus agar tidak mengganggu ku", ucap Panji Tejo Laksono sembari memberi isyarat kepada Li Chun Jun untuk maju menyerang.


"Oh sudah bosan hidup kau rupanya !


Anak muda, bersiaplah untuk mati!!", teriak Li Chun Jun si Iblis Gagak Jantan sembari melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Menggunakan cara yang sama seperti istrinya, Li Chun Jun tiba tiba muncul di depan Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan tangannya untuk menyambar leher sang putra sulung Prabu Jayengrana ini.


Whhhuuuuuuugggghhhh !


Saat tangan Li Chun Jun hampir menyentuh kulit leher Panji Tejo Laksono, sesuatu hal terjadi hingga membuat mata Li Chun Jun terbelalak melihat nya. Tubuh Panji Tejo Laksono mendadak menghilang dari pandangannya setelah kabut tipis menutupi seluruh tubuhnya.


"Bangsat ! Dimana kau sembunyi?", umpat Li Chun Jun mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Saat yang bersamaan terdengar suara yang sangat di kenali oleh Li Chun Jun.


Aaauuuugggggghhhhh !


Terdengar suara lenguh kesakitan dari mulut Qing Yu. Rupanya Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Halimun langsung mengincar Qing Yu yang sedang mencekik leher Luh Jingga dan Song Zhao Meng. Satu hantaman keras ke punggung Qing Yu si Iblis Gagak Betina langsung membuat Qing Yu melepaskan cengkraman tangannya pada dua perempuan cantik itu dan terjungkal ke tanah.


Song Zhao Meng yang terbebas dari cengkeraman tangan Qing Yu langsung mengeluarkan tenaga dalam nya. Hawa dingin yang sanggup membekukan apa saja keluar dari tubuhnya. Tak tanggung-tanggung lagi, Song Zhao Meng mengeluarkan Ilmu Bulan Es miliknya karena tidak mau kecolongan lagi. Begitu juga dengan Luh Jingga. Putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan ini dengan cepat merapal mantra Ajian Tapak Dewa Indra yang membuat kedua tangan nya diliputi oleh sinar biru terang seperti kilat cahaya petir yang menyambar. Begitu ilmu beladiri keduanya sempurna, dua orang perempuan cantik itu segera melesat cepat kearah Qing Yu yang baru saja berdiri.


Pertarungan sengit antara mereka bertiga segera terjadi.


Sementara itu, Panji Tejo Laksono setelah melepaskan Song Zhao Meng dan Luh Jingga Jingga dari cengkeraman tangan Qing Yu kembali menghilang dan muncul di hadapan Li Chun Jun.


"Hehehehe.. Rupanya kau boleh juga, anak muda. Baru kali ini aku menemui orang muda yang sanggup menghindari jurus Cakar Gagak Berkaki Tiga milik ku.


Katakan, kau dari perguruan mana dan siapa guru mu? Biar saat kau mati nanti, abu mayat mu ku antar kesana eh hehehe ", Li Chun Jun menyeringai lebar.


"Perkara siapa yang mati, kita masih belum tahu kakek tua..


Kalau kau memang hebat, sebaiknya kau segera keluarkan kepandaian ilmu beladiri mu. Tak perlu membuang waktu untuk bermain-main lagi", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap tajam ke arah Li Chun Jun si Iblis Gagak Jantan.


"Bocah keparat !


Mulut lancang mu akan ku hancurkan lebih dulu sebelum tubuh mu aku buat menjadi potongan makanan anjing !", setelah mengumpat dan memaki maki Panji Tejo Laksono, Li Chun Jun segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono. Dengan cepat ia mengibaskan tangannya ke arah Panji Tejo Laksono. Selarik sinar hitam pekat berbau busuk menerjang maju ke arah sang pangeran muda dari Kadiri.


Whhhuuuggghhhh!


Secepat kilat Panji Tejo Laksono menjejak tanah, lalu melenting tinggi ke udara untuk menghindari serangan Li Chun Jun si Iblis Gagak Jantan. Melihat itu, Li Chun Jun ubah gerakan tubuhnya lalu muncul di atas tubuh Panji Tejo Laksono dan menghantamkan tapak tangan kanan nya.


Serangkum angin berhawa dingin berdesir kencang menyertai tiga larik sinar hitam redup merangsek dari atas kepala sang putra tertua Prabu Jayengrana ini. Panji Tejo Laksono yang sadar akan bahaya, langsung merapal mantra Ajian Tameng Waja karena tidak ada ruang untuk menghindar lagi.


Blllaaammmmmmmm !!


Tubuh Panji Tejo Laksono terhempas ke tanah dengan keras hingga membuat ledakan keras. Asap tebal bercampur kabut putih dan debu beterbangan menutupi tempat dimana Panji Tejo Laksono terhempas. Li Chun Jun menyeringai lebar sembari melayang turun ke arah tempat Panji Tejo Laksono terjatuh.


Namun betapa terkejutnya Li Chun Jun saat s samar samar sebuah bayangan berwarna kuning keemasan berjalan dengan tenang nya ke arah nya.


"K-kauuu...


Bagaimana mungkin..??"


Semua kata kata Li Chun Jun seperti tertelan oleh tenggorokannya sendiri saat melihat Panji Tejo Laksono keluar dari tempat jatuhnya. Pangeran muda dari Kadiri itu terlihat seperti seorang yang baik baik saja. Seperti tidak pernah menerima Ilmu Gagak Neraka Berkaki Tiga yang baru saja di lepaskan oleh Li Chun Jun. Dia hanya menepuk-nepuk baju nya yang terlihat kotor oleh debu yang menempel.


Li Chun Jun tanpa sadar mundur selangkah dari tempat berdirinya. Bahkan Biksu Kong Bao dari Kuil Shaolin saja harus di bantu oleh beberapa biksu tua untuk dapat menahan Ilmu Gagak Neraka Berkaki Tiga miliknya.


'Aku terlalu meremehkan pemuda ini. Akan ku pakai semua kepandaian ilmu beladiri ku', batin Li Chun Jun sembari melepaskan pedang yang tersandang rapi di punggungnya. Perlahan Li Chun Jun menarik gagang pedang dari sarungnya.


Shhhrriinggg !


Melihat itu, Panji Tejo Laksono yang tak mau gegabah menghadapi Li Chun Jun dengan cepat menata tangan di depan dada, mengheningkan cipta sejenak sebelum tangan kanannya seperti membelah udara dan mengambil Pedang Naga Api di sana. Dia berniat untuk bertarung dengan Li Chun Jun dengan senjata.


Li Chun Jun cukup kaget juga dengan cara Panji Tejo Laksono mengambil senjata. Apalagi setelah pedang bersarung merah itu tercabut keluar. Hawa panas menyengat yang keluar dari Pedang Naga Api langsung menekan hawa dingin Pedang Kabut Beku.


"Oh, rupanya kau punya senjata juga, anak muda.. Kalau begitu, bersiaplah untuk menandingi kekuatan ku!", teriak Li Chun Jun sembari melompat tinggi ke udara dan membabatkan Pedang Kabut Beku nya.


Shhhrrraaaaaaaaakkkkkkkkkh !


Sinar putih terang berhawa dingin yang bisa membuat apapun membeku langsung menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Panji Tejo Laksono langsung membabatkan Pedang Naga Api nya ke depan untuk menangkis.


Whhhuuuuusssshhh !


Selarik sinar merah menyala berhawa panas menyengat langsung memapak sinar putih berhawa dingin dari Pedang Kabut Beku.


Blllaaammmmmmmm !!


Ledakan keras terdengar saat dua sinar pedang ini berbenturan. Hebatnya, sinar merah menyala berhawa panas menyengat Pedang Naga Api tidak berhenti sampai disitu saja dan terus bergerak menuju ke arah Li Chun Jun si Iblis Gagak Jantan yang baru saja menjejak tanah.


"BANGGSSSAAAAAATTTTT.. !!!"


Sambil memaki keras, Li Chun Jun melompat menghindari sinar merah menyala Pedang Naga Api yang menuju ke arah pertarungan Qing Yu melawan Song Zhao Meng dan Luh Jingga.


Luh Jingga yang melihat itu, langsung menarik tangan kiri Song Zhao Meng untuk menghindari serangan nyasar ini. Pun juga Qing Yu yang merasakan bahaya mengancam nyawa. Sinar merah menyala berhawa panas menyengat itu baru berhenti setelah menghantam sebuah bangunan yang ada di dekat dermaga penyeberangan Desa Chengguan.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr...


Kraaatttaaakkkk Bruuuuaaaakkkkhhh!!


Bangunan itu berderak dan roboh. Song Zhao Meng yang menggunakan Ilmu Bulan Es nya kembali menerjang maju ke arah Qing Yu bersama Luh Jingga yang kini memadukan ilmu silat Bukit Penampihan dengan Ajian Tapak Dewa Agni. Sedangkan Panji Tejo Laksono langsung menggunakan Ajian Sepi Angin nya untuk melesat cepat kearah Li Chun Jun.


Kecepatan tinggi Ajian Sepi Angin langsung mengagetkan Li Chun Jun si Iblis Gagak Jantan. Dengan cepat ia menjejak tanah dengan keras lalu melompat mundur menjauhi Panji Tejo Laksono. Namun sang pangeran muda tidak melepaskan Li Chun Jun begitu saja. Dia mengejar Li Chun Jun sembari menebaskan Pedang Naga Api.


Shhrreeettthhh..


Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg!!


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !


Serangan cepat Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ilmu Pedang Tanpa Bayangan ajaran Begawan Ganapati membuat Li Chun Jun si Iblis Gagak Jantan harus mundur sembari terus berupaya keras untuk menangkis sabetan sabetan Pedang Naga Api yang mengincar titik titik mematikan.


Puluhan jurus sudah di lewati. Panji Tejo Laksono melompat tinggi ke udara dan meluncur turun ke arah Li Chun Jun yang baru saja menghindari sabetan pedang sang putra tertua Prabu Jayengrana itu. Secepat kilat Panji Tejo Laksono membabatkan Pedang Naga Api ke arah kepala Li Chun Jun.


Whuuuggghh !


Karena tidak memiliki ruang untuk menghindar, Li Chun Jun hanya bisa bertahan dengan memapak serangan Panji Tejo Laksono dengan Pedang Kabut Beku nya.


Thrrraaannnnggggg !


Kuatnya tebasan Pedang Naga Api membuat kaki Li Chun Jun sampai melesak ke dalam hampir selutut dalamnya. Melihat itu Panji Tejo Laksono langsung melayangkan tendangan keras kearah dada Si Iblis Gagak Jantan dengan keras.


Bhhhuuuuuuggggh..


Aaauuuuggggghhhhh !!


Li Chun Jun terpental ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras ke samping Qing Yu yang juga mundur setelah menerima serangan gabungan Luh Jingga dan Song Zhao Meng. Pria paruh baya bertubuh kurus itu langsung muntah darah segar.


"Kakak Jun,


Kau tidak apa-apa?", tanya Qing Yu dengan penuh kekhawatiran. Baru kali ini dia melihat Li Chun Jun sampai muntah darah menghadapi lawan.


"Uhukkk uhukkk..


Bangsat kecil itu rupanya berilmu tinggi. Qing Yu, kita harus menggunakan Ilmu Sepasang Iblis Gagak Neraka Hitam jika tetap ingin hidup", ujar Li Chun Jun sembari mengusap sisa darah yang keluar dari sudut bibirnya.


"Tapi ilmu itu belum sempurna, Kak Jun.. Akibatnya bisa membuat nyawa kita melayang", Qing Yu mencoba untuk mencegah Li Chun Jun menggunakan ilmu sesat yang mereka pelajari.


"Lebih baik mati menggunakan ilmu itu daripada menjadi bulan-bulanan keparat kecil itu.


Ayo kita lakukan!", teriak Li Chun Jun sembari menggunakan kuda-kuda Ilmu Iblis Gagak Neraka setelah menyarungkan Pedang Kabut Beku. Melihat kekerasan hati Li Chun Jun, mau tidak mau Qing Yu pun ikut bersiap. Dua orang bertubuh kurus itu segera berdiri berjajar, memutar kedua telapak tangan di depan dada lalu kedua telapak tangan mereka berdua bertepuk.


Hawa dingin yang sanggup membekukan apa saja langsung berputar cepat di sekeliling tubuh mereka. Bersamaan dengan itu muncul aura aneh berbentuk raksasa menyeramkan di atas tubuh mereka berdua.


Melihat lawan bersiap dengan ilmu pamungkas, Panji Tejo Laksono langsung menyarungkan Pedang Naga Api dan berteriak keras, " Luh Jingga, mundurlah agak jauh. Meng Er, kita gunakan Ilmu Semesta Yin Yang!".


Mendengar aba aba Panji Tejo Laksono, Luh Jingga segera melompat mundur di samping Demung Gumbreg dan yang lainnya. Sedangkan Song Zhao Meng langsung mendekat ke arah Panji Tejo Laksono. Tangan kiri Panji Tejo Laksono langsung menggenggam tangan kanan Song Zhao sembari tangan kanannya bersikap seperti pertapa di depan dada. Song Zhao Meng pun segera mengikuti langkah sang pangeran muda.


Hawa panas menyengat dari Ilmu Sembilan Matahari di tubuh Panji Tejo Laksono langsung bergulung gulung dengan Ilmu Bulan Es dari Song Zhao Meng. Sinar merah menyala yang panas menyengat saling melengkapi dengan sinar putih yang beku.


Li Chun Jun dan Qing Yu segera menghantamkan tangan tangan mereka berdua kearah Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng. Aura hitam berbentuk seperti raksasa menyeramkan itu segera melesat cepat kearah lawan. Tak mau kalah, Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng pun menghantamkan tangan mereka. Larikan sinar merah dan putih bergulung gulung membentuk lingkaran dengan cepat menerabas ke arah aura hitam raksasa menyeramkan.


Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!