
"I-ini Seloageng??", ucap Ayu Ratna setengah tak percaya melihat sekeliling tempat mereka berada.
Suasana yang begitu ramai dengan banyaknya orang berlalu lalang di jalan raya depan tempat kemunculan mereka yang berada di salah sudut Kota Kadipaten Seloageng. Karena baru pertama kali membawa orang sebanyak itu, Ajian Halimun yang digunakan oleh Panji Tejo Laksono sedikit bergeser dari tempat tujuan awalnya yaitu Istana Kadipaten Seloageng.
"Benar, Nimas Ayu Ratna. Ini adalah Kota Seloageng. Aku sangat hapal dengan tempat ini", jawab Gayatri sambil menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Dalam hati nya, dia mengakui kemampuan ilmu kesaktian sang suami.
"Wah, ternyata hebat sekali ilmu yang dimiliki Kangmas Pangeran. Sekali digunakan, jarak ratusan ribu tombak bisa di tempuh dengan sekejap mata", puji Ayu Ratna yang membuat Panji Tejo Laksono hanya tersenyum saja.
Kelimanya segera berjalan keluar dari tempat itu dan melangkah menuju ke arah gerbang istana Kadipaten Seloageng.
Begitu sampai di depan gerbang istana, 4 orang prajurit penjaga gerbang istana langsung menyilangkan tombak mereka sebagai tanda bahwa mereka tidak diperbolehkan untuk memasuki istana.
"Berhenti kalian! Istana sedang berduka jadi tidak semua orang boleh sembarangan memasuki istana", ucap seorang prajurit penjaga yang sepertinya merupakan pimpinan dari regu prajurit penjaga itu dengan cepat.
"Apa katamu? Dasar kurang ajar !
Apa kau tidak bisa melihat siapa kami ini ha?", bentak Gayatri yang geram dengan sikap sang pimpinan regu prajurit penjaga gerbang istana itu. Mendengar perkataan Gayatri, si pimpinan regu prajurit penjaga gerbang istana itu segera memperhatikan dandanan mereka.
"Meski dandanan mu seperti seorang bangsawan, tapi aku tidak pernah melihat mu di sekitar Kota Seloageng. Jadi maaf saja jika aku tidak bisa memperbolehkan kalian masuk", ucap si pimpinan prajurit dengan tegas.
"Kau...."
"Sudahlah, Kangmbok Gayatri. Mungkin dia orang baru jadi tidak mengenali mu. Biarkan saja aku yang bicara", Luh Jingga tersenyum simpul melihat kemarahan Gayatri. Setelah itu, Luh Jingga segera menoleh ke arah sang penjaga gerbang istana.
"Prajurit, mungkin kau tidak pernah bertemu dengan kami tapi perempuan ini adalah cucu dari Gusti Adipati Tejo Sumirat. Dia adalah Putri Gayatri, putri sulung Tumenggung Sindupraja dan Dewi Anggarawati, kakak kandung Gusti Permaisuri Pertama Panjalu Dewi Anggarawati. Apa itu masih belum cukup untuk membuat mu mengijinkan kami masuk ke dalam istana Kadipaten Seloageng?", Luh Jingga terdengar lembut dan sopan saat berbicara. Ini membuat sang kepala regu prajurit penjaga gerbang istana ini sedikit berpikir.
"Maaf Nisanak..
Aku hanya menjalankan perintah yang diberikan kepada ku. Tanpa tanda pengenal yang di keluarkan oleh pihak istana Seloageng, siapa pun tidak diperkenankan masuk", jawab sang kepala regu prajurit penjaga itu dengan sopan. Ini membuat Luh Jingga segera menoleh ke arah Gayatri yang memalingkan wajahnya ke arah lain karena kesal dengan sikap tegas sang prajurit.
"Kangmbok Gayatri..
Tunjukkan lencana perak mu pada prajurit ini biar kita cepat masuk ke dalam istana", ujar Luh Jingga segera. Sembari bersungut-sungut kesal, Gayatri merogoh kantong baju nya dan mengeluarkan sebuah lencana perak bergambar gapura. Lalu dengan acuh tak acuh menunjukkan ke depan wajah sang prajurit sembari berkata dengan nada suara ketus, "Ini sekarang kau lihat!".
Melihat itu, sang kepala regu prajurit langsung mengerti bahwa orang yang ada di depan nya benar benar tidak berbohong. Itu adalah lencana perak yang hanya bisa dimiliki oleh kerabat dekat Istana Kadipaten Seloageng saja. Segera dia mundur selangkah sembari membungkuk hormat kepada Gayatri dan Panji Tejo Laksono serta para istri nya yang lain.
"Mohon ampuni hamba Gusti Putri. Mari silahkan masuk ke dalam istana, biar hamba antarkan", ujar sang kepala regu prajurit itu dengan ramah.
"Huhhhhh, tadi sudah ku beri tahu kau masih juga keras kepala. Setelah melihat lencana perak milik ku baru bisa paham. Untung saja suasana hati ku sedang baik, kalau tidak kepala mu pasti akan di penggal.
Sekarang antarkan kami ke arah ruang pribadi Eyang Adipati. Lekaslah", perintah Gayatri sembari mendelik kereng pada sang prajurit. Melihat ulah selir pertama nya, Panji Tejo Laksono yang sedari tadi hanya diam saja langsung geleng-geleng kepala.
Mereka berlima segera masuk ke dalam istana Kadipaten Seloageng dengan diantar oleh sang kepala regu prajurit penjaga gerbang istana. Sang prajurit ini sampai keluar keringat dingin karena ketakutan setengah mati mendengar ancaman yang di keluarkan oleh Gayatri sepanjang langkah kaki mereka memasuki istana.
Begitu sampai di ruang pribadi Adipati Tejo Sumirat, mereka berlima langsung di papak oleh Patih Sancaka. Sejenak sebelum berbicara, Patih Sancaka lebih dulu mencoba mengingat siapa lelaki muda yang sedang bersama dengan Gayatri ini.
"Selamat datang kembali di istana Seloageng Gusti Putri Gayatri, akhirnya kau pulang juga.
Apa ini karena kau mendengar berita duka cita Gusti Adipati Tejo Sumirat?", tanya Patih Sancaka segera.
"Benar sekali Paman Patih Sancaka..
Kedatangan ku memang ingin memberikan penghormatan terakhir untuk Eyang Adipati Tejo Sumirat", jawab Gayatri segera.
Belum sempat Gayatri menjawab pertanyaan Patih Sancaka, dari belakang sang warangka praja Seloageng muncul Senopati Gardana. Ketika perang melawan para prajurit Blambangan, pasukan bantuan dari Seloageng di pimpin oleh nya hingga dia mengenal dekat Panji Tejo Laksono berikut sepak terjangnya di medan perang.
"Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono?? Benarkah apa yang hamba lihat ini?", ucap Senopati Gardana yang sedikit merasa tidak percaya dengan penglihatan nya. Pria bertubuh kekar dengan kumis tebal itu langsung menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Senopati Gardana rupanya masih menginginkan ku juga hehehe..
Benar sekali Senopati Gardana. Ini aku Panji Tejo Laksono", jawab Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul. Kaget Patih Sancaka mendengar percakapan mereka. Tanpa menunggu lama lagi, Patih Kadipaten Seloageng itu segera berjongkok dan menyembah pada Panji Tejo Laksono yang berdiri di hadapannya.
"Mohon ampun Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono.. Mata tua hamba begitu rabun hingga tidak bisa melihat jelas sosok calon raja Panjalu selanjutnya.
Sancaka layak mendapatkan hukuman berat", ujar Patih Sancaka sembari membungkukkan badannya.
"Sudahlah Paman Sancaka..
Aku memang belum sempat sowan pada Eyang Adipati Tejo Sumirat sebelumnya jadi wajar jika Paman Sancaka tidak mengenali ku. Berdirilah, jangan menyembah ku seperti kau menyembah pada dewa seperti itu", ujar Panji Tejo Laksono yang membuat Patih Sancaka segera berdiri dari tempat menyembahnya.
"Terimakasih atas kebaikan hati Gusti Pangeran", balas Patih Sancaka dengan penuh hormat.
Dengan di kawal Senopati Gardana dan Patih Sancaka, Panji Tejo Laksono beserta para istri nya memasuki ruang pribadi adipati dimana jasad Adipati Tejo Sumirat di semayamkan.
Di dalam ruangan besar itu, para kerabat dekat Istana Kadipaten Seloageng sudah berkumpul bersama. Diantaranya ada Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati yang lebih dulu datang sebelum Panji Tejo Laksono dan para istri nya tiba. Ada pula kakak kandung Dewi Anggarawati yaitu Dewi Anggarasari dan suaminya Maheswara. Dewi Anggarawati dan Dewi Anggarasari keduanya mengapit Nararya Candradewi yang masih terlihat menangisi kepergian sang suami. Mata perempuan sepuh itu terlihat bengkak dengan air mata yang terus menetes.
Kedatangan Panji Tejo Laksono langsung membuat semua mata tertuju kepada nya, terlebih lagi Nararya Candradewi. Perempuan tua itu langsung menghentikan tangisannya dan menoleh ke arah Dewi Anggarawati yang duduk di samping kirinya.
"Anggarawati, apakah dia putra mu Tejo Laksono?", tanya Nararya Candradewi segera. Dewi Anggarawati hanya mengangguk perlahan mendengar pertanyaan ibunya ini. Melihat anggukan kepala dari Dewi Anggarawati, Nararya Candradewi segera berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Panji Tejo Laksono yang diikuti oleh para istri nya juga Patih Sancaka dan Senopati Gardana. Dewi Anggarawati segera bangkit dan menyusul ibunya memapak rombongan Panji Tejo Laksono.
"Cucu ku, Ngger Cah Bagus.. Kau sudah besar sekarang", sambut Nararya Candradewi segera. Mendengar perkataan itu, Panji Tejo Laksono langsung berlutut dihadapan sang nenek sambil menghormat. Keempat istri nya juga mengikuti langkah sang suami.
"Sembah bakti kami kepada Kanjeng Eyang Putri Nararya Candradewi", ujar Panji Tejo Laksono.
"Sembah bakti mu aku terima, Cah Bagus. Sekarang berdiri lah, calon pangeran pati tidak pantas berlutut di hadapan seorang perempuan tua seperti aku", Nararya Candradewi tersenyum melihat kesopanan Panji Tejo Laksono.
"Kanjeng Eyang Putri tidak boleh bicara seperti itu. Bagaimana pun, Tejo Laksono tetaplah cucu Eyang Putri jadi sudah sepantasnya menghormati Eyang Putri", ujar Panji Tejo Laksono sembari berdiri dari tempat berlutut nya.
"Mereka ini..??", Nararya Candradewi mengalihkan pandangannya pada keempat orang perempuan cantik yang mengekor di belakang Panji Tejo Laksono.
"Mereka ini semua adalah istri dari Tejo Laksono, Biyung", sahut Dewi Anggara sambil tersenyum penuh arti.
Mendengar perkataan itu, Nararya Candradewi segera mengedarkan pandangannya ke arah keempat orang perempuan cantik itu. Matanya terpaku pada sosok seorang perempuan cantik yang sedari tadi tidak berani mengangkat kepalanya.
"Kamu yang di belakang, kenapa menunduk terus? Angkat kepala mu", perintah Nararya Candradewi segera. Mendengar itu, perlahan perempuan itu menengadah ke atas dan Nararya Candradewi terkejut bukan main melihat wajahnya.
"Gayatri? Bagaimana mungkin...?"
"Panjang ceritanya, Biyung.. Nanti kalau ada waktu, biar aku ceritakan semuanya. Yang terpenting sekarang, keluarga besar kita sedang berduka cita jadi aku minta agar semua masalah di selesaikan nanti", kembali Dewi Anggarawati angkat bicara. Mendengar perkataan itu, Nararya Candradewi menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berada.
"Dengarkan semuanya.. Sekarang keluarga besar kita telah berkumpul di sini, di depan jasad Kangmas Tejo Sumirat yang besok kita sucikan.
Namun sebelum itu, ada sebuah pesan terakhir yang di sampaikan oleh Kangmas Tejo Sumirat sebelum meninggal. Bahwa dia menunjuk Panji Tejo Laksono sebagai penguasa Kadipaten Seloageng berikutnya", ucapan Nararya Candradewi sontak membuat seisi ruang pribadi adipati terkejut bukan main. Maheswara, suami Dewi Anggarasari langsung mengepalkan tangannya erat-erat sambil mendengus dingin. Dia yang berharap bisa menduduki singgasana Seloageng selepas kepergian Adipati Tejo Sumirat begitu kecewa mendengar wasiat terakhir sang Adipati Sepuh.
'Ini tidak boleh dibiarkan begitu saja'