
Bentakan keras dari keempat calon istri Panji Tejo Laksono itu membuat Demung Kingkin terperangah juga. Meski hanya berpangkat Demung yang setingkat lebih rendah dari seorang tumenggung, namun biasanya Demung Kingkin sangat di hormati oleh para penduduk Kota Kadipaten Rajapura. Tak seorang pun berani untuk menggertak nya meskipun dia hanya berpangkat perwira tinggi yang terendah derajatnya. Ini karena dia adalah adik ipar dari Patih Krendawahana, warangka praja Rajapura, orang nomor dua setelah setelah Adipati Waramukti dalam hal tampuk kekuasaan Kadipaten paling barat di wilayah Panjalu.
Demung Kingkin marah besar karena merasa di hina oleh keempat perempuan itu.
"Bangsat! Dasar para perempuan ******!!
Tak seorangpun boleh menggertak Demung Kingkin! Akan ku cincang tubuh kalian sialan!", makian beruntun terdengar dari mulut Demung Kingkin yang segera melesat cepat kearah Gayatri yang berdiri paling dekat dengan nya. Keris pusaka yang ada di dalam genggaman tangan nya langsung terayun cepat kearah sang putri Tumenggung Sindupraja itu dengan cepat.
Shhrreeettthhh !!
Gayatri menyeringai lebar kearah Demung Kingkin begitu serangan itu di lancarkan. Dia segera member isyarat kepada Luh Jingga, Ayu Ratna dan Song Zhao Meng untuk bersiap. Rupanya pertengkaran antara mereka sudah di atur sedemikian rupa hanya dengan isyarat sederhana semata.
Begitu Demung Kingkin menerjang maju dengan keris nya, dengan lincah dia berkelit menghindari serangan Demung Kingkin yang penuh dengan nafsu membungkuk. Perempuan cantik itu segera berjumpalitan menghindari sabetan keris pusaka di tangan perwira prajurit Rajapura itu.
Melihat Demung Kingkin sudah menyerang, tiga perwira tinggi prajurit Rajapura yang bertugas sebagai pelindung Adipati Waramukti yakni Juru Mondo, Juru Waruga dan Bekel Gupati langsung ikut menerjang maju ke arah ketiga wanita cantik calon istri Panji Tejo Laksono. Mereka melupakan tugas utama yang di berikan oleh Patih Krendawahana untuk tidak meninggalkan Adipati Waramukti tanpa penjagaan keamanan ketat. Hanya beberapa puluh orang prajurit Rajapura saja yang terlihat membentuk pagar betis di sekeliling Adipati Waramukti berada.
Di sisi lainnya, Panji Tejo Laksono yang melihat jalan yang sudah di buka oleh keempat orang calon istri nya itu segera melesat cepat kearah sang penguasa Kadipaten Rajapura. Namun kali ini, seorang lelaki paruh baya bertubuh kekar dengan kumis tebal dan jambang lebat melompat ke depan sang pangeran muda. Dia adalah Krendawahana, warangka praja Rajapura yang tersohor sebagai pejabat yang memiliki kemampuan beladiri tinggi.
"Jangan coba-coba mendekati Gusti Adipati Waramukti, Anak muda. Jika kau masih sayang nyawa mu", ancam Patih Krendawahana dengan suara berat nya yang terdengar berwibawa.
"Kunci untuk mengakhiri perang ini adalah Adipati Waramukti, Ki Patih..
Minggirlah dari jalan ku. Aku tidak ingin ada korban jiwa lagi dari seorang pejabat yang setia seperti dirimu", ujar Panji Tejo Laksono sembari menatap ke arah wajah tua Patih Krendawahana.
"Aku adalah seorang abdi, bukan seorang pengkhianat, Anak Muda. Kalau ingin jadi pengkhianat, sudah dari dulu ku lakukan. Tapi dharma ksatria ku adalah mengabdi kepada Kadipaten Rajapura. Apapun yang di putuskan oleh pimpinan ku, akan ku lakukan meskipun itu belum tentu sepenuhnya benar.
Sebutkan nama mu, agar jika kau mati nanti aku akan mudah mengirim abu mayat mu ke rumah orang tua mu", Patih Krendawahana mengelus jambang nya yang lebat dan sebagian besar telah memutih.
"Seorang ksatria sejati patut mendapat pujian. Aku akan senang sekali jika kau bisa kembali ke pangkuan Kadiri namun sepertinya kau lebih memilih untuk tetap berdoa di pihak yang salah.
Aku Panji Tejo Laksono, putra sulung Sinuwun Prabu Jayengrana atau Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta Maharaja Panjalu akan bangga menjadi lawan mu, Ki Patih ", mendengar jawaban Panji Tejo Laksono itu, Patih Krendawahana tersentak sebentar namun segera tersenyum lebar.
"Hehehehe....
Rupanya aku sedang berhadapan dengan calon Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Aku sudah banyak mendengar sepak terjang mu di dunia persilatan. Tapi aku tidak akan melunak hanya karena kau adalah anak Panji Watugunung. Bersiaplah Anak muda!", usai berkata demikian, Patih Krendawahana segera menggenggam pergelangan tangan kanannya seperti memeriksa pelindung lengan baju perang nya. Mata lelaki paruh baya bertubuh kekar itu segera menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono. Lalu dengan satu hentakan keras pada tempat berpijak, Patih Krendawahana melesat ke arah Panji Tejo Laksono sembari mengayunkan tangan kanannya.
Whhhuuuggghhhh..
Whhhuuuggghhhh..!
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk !!
Mengunakan ilmu silat tangan kosong, Patih Krendawahana mencoba untuk membongkar pertahanan Panji Tejo Laksono yang masih menggunakan ilmu silat Padas Putih andalannya.
Selepas 8 jurus berlalu, Panji Tejo Laksono segera menyapukan kaki nya. Melihat itu, Patih Krendawahana menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara. Bersalto satu kali, warangka praja Rajapura ini meluncur turun ke arah Panji Tejo Laksono dengan serangan tapak tangan nya yang cepat.
Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..
Dhhaaaassshhh !!
Panji Tejo Laksono terdorong mundur selangkah ke arah saat tapak tangan nya beradu dengan tapak tangan Patih Krendawahana. Sementara itu Patih Krendawahana melompat jauh ke belakang dan mendarat di tanah dengan ringannya. Tangan kanannya yang tersembunyi di balik pinggang nampak seperti meremas sesuatu. Rupanya dia sedang merasakan ngilu pada pergelangan tangan nya usai beradu dengan tapak tangan Panji Tejo Laksono.
'Hemmmmmmmm...
Putra sulung Prabu Jayengrana ini memiliki tenaga dalam yang tinggi. Pantas saja Junggul Mertalaya bisa dia kalahkan. Aku tidak boleh gegabah menghadapi nya', batin Patih Krendawahana.
Selepas kuku jari tangan nya memanjang, selayaknya seekor harimau Patih Krendawahana melompat maju ke arah Panji Tejo Laksono seperti seekor macan sedang menerkam mangsanya. Panji Tejo Laksono mundur dua tindak ke belakang, sembari mengerahkan sebagian tenaga dalam nya untuk bersiap menghadapi segala kemungkinan.
Dengan gerakan lincah bak macan, Patih Krendawahana memburu Panji Tejo Laksono yang hanya bisa bertahan dan menghindari cakaran cakaran tangan berkuku tajam Patih Krendawahana sembari beberapa kali melakukan serangan balasan. Puluhan jurus sudah di lewati. Adipati Warna yang melihat pertarungan ini, diam diam menahan nafas.
Patih Krendawahana mengayunkan cakar tangan kiri nya ke arah pinggang Panji Tejo Laksono, saat sang pangeran muda ini baru saja menjejak tanah usai menghindari serangan yang dilancarkan oleh warangka praja Rajapura ini. Merasakan sesuatu bahaya sedang mengincarnya, Panji Tejo Laksono langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah. Patih Krendawahana terus memburu Panji Tejo Laksono yang berguling di tanah, berupaya menancapkan kukunya ke tubuh sang pangeran muda.
Menggunakan kedua kakinya, Panji Tejo Laksono menahan cakaran demi cakaran yang di lancarkan oleh Patih Krendawahana.
Dhhuuugggg dhhuuugggg..
Dhiiieeeessshh...!!
Satu tendangan keras Panji Tejo Laksono kearah dada Patih Krendawahana membuat lelaki paruh baya bertubuh kekar itu mundur selangkah. Ini dimanfaatkan dengan baik oleh Panji Tejo Laksono untuk melompat mundur beberapa tombak ke belakang. Ajian Sepi Angin nya benar benar membantu pergerakan nya hingga terlihat seperti terbang di udara.
Usai sedikit menjauh, Panji Tejo Laksono langsung merapal mantra Ajian Tameng Waja miliknya. Seketika, seluruh tubuh nya bersinar kuning keemasan tepat sesaat sebelum Patih Krendawahana mengayunkan cakar tangan nya yang tajam seperti cakar seekor macan.
Chhrrrrraaaaaaaakkkkkk !
Patih Krendawahana melotot lebar melihat cakar tangan nya yang sudah menjadi tajam tak mampu menggores kulit dada Panji Tejo Laksono. Melihat sebuah sinar kuning keemasan tipis melindungi tubuh Panji Tejo Laksono, dia langsung sadar bahwa pemuda tampan itu memiliki ajian pertahanan tubuh. Belum sempat dia menyadari lebih jauh, sebuah tendangan keras kearah perut langsung menghajar nya.
Dhiiieeeessshh..
Aaauuuuggggghhhhh !!
Patih Krendawahana melengguh keras dan tubuhnya terpental hampir dua tombak ke belakang. Pejabat istana kadipaten Rajapura itu jatuh dengan posisi terduduk di atas tanah. Ada darah segar keluar dari sudut bibirnya.
Sembari mengusap kasar pada darah segar yang meleleh keluar, Patih Krendawahana bangkit dari tempat jatuhnya.
"Kau hebat, pangeran muda.. Tak sia-sia kau menyandang gelar sebagai pendekar muda yang cukup punya nama di wilayah timur. Tapi aku Krendawahana belum kalah dari mu!"
Patih Krendawahana segera merentangkan kedua tangannya usai berkata seperti itu. Setelah itu kedua telapak tangan menangkup di depan dada. Dari sana muncul sinar biru gelap yang berhawa panas. Ini adalah ilmu kanuragan pamungkas milik nya, Ajian Arga Belah. Sebuah ajian pamungkas yang konon katanya mampu menghancurkan sebuah bukit dengan satu pukulan saja.
Melihat lawan sudah mengeluarkan aji pamungkas nya, Panji Tejo Laksono memejamkan matanya sebentar. Sinar kuning keemasan yang menutupi seluruh tubuh nampak menebal dan cahaya hijau kebiruan dengan cepat muncul dari arah kaki menuju ke bagian atas tubuhnya. Rupanya Panji Tejo Laksono menggabungkan Ajian Tameng Waja sebagai perlindungan diri dengan Ajian Waringin Sungsang ajaran Warok Surapati dari Wengker.
Patih Krendawahana segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna biru gelap kearah dada sang pangeran muda.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr !!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Arga Belah membentur Ajian Tameng Waja milik Panji Tejo Laksono. Debu beterbangan bersamaan dengan gelombang kejut yang membuat semua orang yang tidak siap harus terjatuh, sedangkan yang bersiaga masih bisa bertahan.
Semua orang kembali mengalihkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono dan Patih Krendawahana. Sebuah pemandangan mengerikan terlihat oleh mata semua orang. Tubuh kekar Patih Krendawahana yang kekar terlihat mulai kurus dan menghitam akibat Ajian Waringin Sungsang milik Panji Tejo Laksono menyedot seluruh daya hidup dan tenaga dalam nya. Tubuh warangka praja Rajapura ini semakin menghitam bersamaan dengan darah segar yang mengalir keluar dari hidung, mata, telinga dan mulutnya. Saat Ajian Waringin Sungsang sudah menyedot habis tenaga dalam Patih Krendawahana, Panji Tejo Laksono segera menghantamkan tapak tangan nya ke dada sang patih.
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat..
Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!!
Tubuh Patih Krendawahana langsung meledak dan hancur lebur menjadi abu. Panji Tejo Laksono menatap sejenak ke arah tumpukan abu mayat Patih Krendawahana sebelum menoleh ke arah Adipati Waramukti. Namun dari arah selatan, terdengar suara hiruk pikuk yang terdengar mengagetkan semua orang.
"Senopati Gopala sudah kalah. Prajurit Panjalu menyerbu masuk!!"