Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pencuri Angin


Luh Jingga dengan cepat memutar pedangnya di tangan kanannya saat serangan Dai Ruo Ruo datang dari arah kanan.


Thhhrriinnngggggg !


Thrrriiinnnggggg !!


Serangan bertubi-tubi kearah Luh Jingga yang di padukan dengan serangan tendangan keras beruntun membuat putri Resi Damarmoyo itu harus bergerak lincah. Gerakan tubuh Luh Jingga begitu luwes mengatasi serangan cepat Dai Ruo Ruo yang menggabungkan sabetan pedang dan tendangan kaki.


Gumbreg mengusap sisa darah segar Xiong Hu yang menempel di pentung sakti nya sambil menatap ke arah pertarungan Dai Ruo Ruo dan Luh Jingga di samping Tumenggung Ludaka.


"Ayo Luh Jingga..


Tunjukkan kemampuan beladiri Padepokan Bukit Penampihan pada perempuan sinting itu! Kau pasti bisa!", teriak Demung Gumbreg segera.


"Mulut mu Mbreg..


Jangan keras-keras kau bicara. Semua orang di sini tidak tuli", umpat Tumenggung Ludaka sambil melotot ke arah Gumbreg yang berteriak keras di samping telinga nya.


"Aku menyemangati Luh Jingga, Lu..


Kau ini kawan Luh Jingga atau bukan sih?", omel Demung Gumbreg membalas omongan Tumenggung Ludaka.


"Mendukung sih boleh saja asal jangan di dekat telinga ku, Kebo Bunting!!


Telinga ku sampai berdenging mendengar suara mu yang mirip suara burung prenjak kehabisan makanan", tukas Tumenggung Ludaka sambil mengorek telinga nya.


"Sudah sudah jangan ribut..


Lihat Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono masih belum menjatuhkan lawannya. Suara ribut-ribut kalian benar benar menyebalkan", ucap Tumenggung Rajegwesi melerai pertengkaran antara Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka. Mendengar perkataan itu, baik Tumenggung Ludaka maupun Demung Gumbreg langsung mengalihkan pandangannya pada pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Xiao Xing.


Blllaaaaaarrr!!


Panji Tejo Laksono melompat mundur beberapa langkah setelah ledakan keras usai serangan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api di tahan dengan pedang pendek milik Xiao Xing. Pendekar kemayu berbaju hijau putih itu terhuyung huyung mundur beberapa langkah ke belakang.


Huuuuooogggghhh !


Xiao Xing muntah darah segar. Sepertinya meski pedang pendek nya bisa menahan serangan Panji Tejo Laksono, tenaga dalam nya masih di bawah sang pangeran muda dari Kadiri ini.


"Mata lebar keparat !


Akan ku cincang tubuh mu jadi potongan kecil kecil !".


Xiao Xing langsung menyalurkan seluruh tenaga dalam nya pada pedang pendeknya. Aura pedang kehijauan berhawa dingin dengan cepat tercipta dari pedang pendek di tangan nya.


Melihat itu Panji Tejo Laksono langsung menyambar sebuah pedang yang tertancap di lantai penginapan. Segera dia menyalurkan tenaga dalam tingkat tinggi pada bilah pedang nya. Sekejap kemudian selarik kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh nya lalu tubuh sang pangeran muda ini segera menghilang.


Semua orang yang menyaksikan pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Xiao Xing terkejut bukan main.


Sesaat kemudian, Xiao Xing merasakan rasa perih di lehernya. Lalu pandangan nya berputar dan kepalanya menggelinding ke lantai penginapan bersamaan dengan menyemburnya darah segar keluar dari batang leher Xiao Xing.


Rupanya Panji Tejo Laksono menggunakan Ajian Halimun nya untuk memenggal kepala Xiao Xing. Gerakan tubuhnya yang tidak bisa di ikuti oleh mata biasa, menjadi senjata ampuh untuk mengatasi si Racun Hijau dari Sekte Bendera Tujuh Warna.


Nona Besar Song sampai melongo melihat hal yang mengerikan ini. Gadis cantik bertubuh ramping ini benar benar tidak menyangka bahwa pemuda tampan yang tadi berbincang dengan nya merupakan pendekar sakti yang susah di cari tandingan nya.


'Pendekar Thee, kau sungguh mempesona', senyum manis tersungging di bibir Song Zhao Meng.


Panji Tejo Laksono muncul kembali di tempatnya menghilang sembari memegang pedang yang berlumuran darah. Segera dia menoleh ke arah pertarungan Luh Jingga dan Dai Ruo Ruo. Sekuat tenaga dia melemparkan pedang di tangan nya ke arah pimpinan Bendera Putih dari Sekte Bendera Tujuh Warna itu.


Whhhhuuuuggghhh..!!


Hawa dingin berdesir kencang menderu tajam ke arah Dai Ruo Ruo. Pimpinan Bendera Putih itu segera menyadari bahwa nyawanya dalam bahaya. Sedapat mungkin dia mencoba menghindari lemparan pedang Panji Tejo Laksono. Dia berhasil selamat meski pedang yang dilemparkan ke arah nya masih menggores pangkal lengan nya.


Shreeeeettttthhh !


Aaauuuuggggghhhhh !


Melihat situasi yang tidak menguntungkan bagi nya, Dai Ruo Ruo segera melompat keluar tempat itu untuk menyelamatkan diri setelah mengayunkan tendangan yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi nya.


Whhhuuutthh !


Semua orang terkejut melihat itu dan menghindari hawa dingin tendangan keras Dai Ruo Ruo. Saat semua orang menyadari kalau itu hanya serangan pengalihan, Dai Ruo Ruo dan beberapa anggota Sekte Bendera Tujuh Warna yang masih hidup sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.


"Bangsat !


Mereka kabur meninggalkan tempat ini.. Ayo kita kejar!", teriak Demung Gumbreg sembari bersiap untuk mengejar. Namun saat sang perwira tinggi prajurit Panjalu itu menoleh ke arah kawan kawan nya, dia pun langsung mengurungkan niatnya. Kawan kawan nya melengos tak peduli.


"Kenapa kau tidak jadi mengejar?", sindir Tumenggung Ludaka sambil mencebikkan bibir pada Gumbreg.


"Kalau hanya aku yang mengejar itu tidak setia kawan, Lu..


Lebih baik aku ikut tenang bersama kalian disini", ujar Demung Gumbreg dengan gaya sok tahu nya.


Ini adalah Negeri Tiongkok, bukan ibukota Kerajaan Panjalu ", gerutu Tumenggung Ludaka sambil meninggalkan Demung Gumbreg yang cengar-cengir seorang diri.


Nona Besar Song langsung mendekati Panji Tejo Laksono dengan senyum manis menghiasi wajah cantiknya.


"Pendekar Thee,


Aku sungguh-sungguh kagum dengan kemampuan beladiri mu. Kau adalah pendekar hebat", puji Song Zhao Meng sambil menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Nona Besar Song tidak perlu merendahkan diri seperti itu, aku ini bukan siapa-siapa", balas Panji Tejo Laksono dengan sopan. Chai Yuan yang tidak senang dengan sikap Panji Tejo Laksono langsung menegur dengan suara keras.


"Kau ini benar-benar tidak tahu di untung ya?


Nona Besar Song sudah baik baik memuji mu, tapi kenapa tanggapan mu seperti merendahkan martabat nya?


Apa kau tidak tahu siapa Nona Besar Song sebenarnya? Dia adalah salah satu dari putri Kaisar Huizong....."


"Chai Yuan !


Siapa yang menyuruh mu bicara seperti itu pada orang yang sudah menyelamatkan nyawa ku ha?!!", Nona Besar Song mendelik tajam ke Chai Yuan yang berdiri di samping Paman Chen.


Melihat kemarahan Song Zhao Meng, Chai Yuan langsung terdiam seketika.


"Maafkan aku Tuan Putri, aku hanya tidak suka melihat sikap sopan nya terhadap mu.


Kau ini adalah putri dari Kaisar Huizong, sudah sepantasnya jika pemuda itu menghormati mu", tutur Chai Yuan membela diri.


"Tutup mulut mu!!


Apa kau sudah berpikir sebelum berbicara ha? Kalau kau bukan putra dari Menteri Chai Jing sudah ku penggal kepala mu dari kemarin", hardik Song Zhao Meng sambil menatap tajam ke arah Chai Yuan. Pemuda bertubuh gendut ini langsung berlutut kepada Putri Song Zhao Meng.


"Ampuni nyawa hamba, Tuan Putri.. Sungguh hamba tidak berniat untuk kurang ajar pada Tuan Putri ", ucap Chai Yuan dengan wajah ketakutan.


"Huhhhhh...


Sekarang hidup mati mu tergantung pada welas asih nya Pendekar Thee atas sikap kurang ajar mu itu.


Pendekar Thee, silahkan beri hukuman yang pantas untuk Ah Yuan ini sekarang", Nona Besar Song alias Putri Song Zhao Meng menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


"Tuan Putri sudahlah..


Sebaiknya kita tidak perlu memperpanjang masalah sepele seperti ini. Chai Yuan tidak salah. Aku yang bodoh tidak tahu bagaimana cara bersikap sopan pada seorang putri bangsawan seperti mu", Panji Tejo Laksono membungkukkan badannya pada Nona Besar Song.


"Pendekar Thee sungguh bijaksana,


Ah Yuan cepat berterimakasih kepada Pendekar Thee", mendengar perintah Putri Song Zhao Meng, Chai Yuan langsung bersujud kepada Panji Tejo Laksono.


"Chai Yuan berterimakasih kepada Pendekar Thee".


"Berdirilah, Saudara Yuan...


Tak perlu bersujud kepada ku. Kau hanya perlu bersujud kepada Dewa dan Kaisar Huizong", ujar Panji Tejo Laksono segera. Mendengar jawaban itu, Chai Yuan segera berdiri dan mundur ke samping Paman Chen.


Malam itu, rombongan Nona Besar Song memutuskan untuk menginap di penginapan ini. Para pengikut Panji Tejo Laksono di bantu oleh para pelayan dengan sigap membereskan barang-barang yang hancur setelah pertarungan ini termasuk mayat dua petinggi Sekte Bendera Tujuh Warna, Xiong Hu dan Xiao Xing.


Malam berdarah itu segera berlalu dengan cepat.


Keesokan paginya, rombongan Panji Tejo Laksono meninggalkan tempat mereka bermalam setelah menghadap ke Gubernur Wu Ming. Melihat kedatangan Putri Meng Er di istana Gubernur Wilayah Shou bersama Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan, Wu Ming tak bisa berbuat apa-apa untuk menahan mereka selain mengijinkan rombongan Panji Tejo Laksono meneruskan perjalanan ke ibukota Kekaisaran Dinasti Song.


Dan demikianlah, rombongan Panji Tejo Laksono bertambah besar setelah Putri Meng Er dan para pengikutnya bergabung. Mereka meninggalkan Kota Shou setelah menyeberangi Sungai Huai. Rombongan itu segera bergerak cepat menuju ke arah Kota Yingtian.


Untung saja perjalanan mereka menuju ke arah Kota Yingtian lancar tanpa halangan hingga mereka tiba di wilayah Kota Yingtian setelah menempuh perjalanan selama 2 hari.


Ratusan orang berkumpul di depan pintu gerbang kota Yingtian saat rombongan Panji Tejo Laksono mendekati kota ini. Rakryan Purusoma yang berkuda paling depan langsung turun dari kudanya dan berjalan mendekati salah seorang diantara mereka.


"Tuan,


Kenapa ada antrian sepanjang ini sebelum memasuki kota Yingtian?", tanya Rakryan Purusoma dengan cepat.


"Kau pasti bukan orang sini ya?


Ada laporan dari para pedagang kaya raya yang mengatakan bahwa ada seorang penjahat hebat yang hendak membuat kekacauan di Kota Yingtian. Karena ini keamanan di kota ini menjadi terancam.


Gubernur Qing memerintahkan kepada para prajurit untuk memeriksa setiap orang yang hendak masuk ke dalam kota", balas seorang lelaki bertubuh kekar dengan menggendong beberapa barang bawaan nya.


"Kekacauan? Hanya seorang penjahat saja kenapa harus begitu ketakutan?", Rakryan Purusoma merasa heran dengan sikap Gubernur Qing.


"Ini bukan penjahat sembarangan. Namanya sangat terkenal di wilayah Kekaisaran Song. Kabarnya di setiap wilayah kegubernuran, ada harga tinggi bagi semua orang yang bisa menunjukkan tempat ataupun membawa kepalanya", ujar sang lelaki yang menggendong barang. Dia menghela nafas berat sebelum berbicara lagi.


"Namanya Pencuri Angin"