Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ki Jatmika


Panji Tejo Laksono terkejut mendengar ucapan itu. Dia tidak mengenal sosok lelaki bertubuh kekar dengan kepala plontos itu sama sekali. Bagaimana lelaki itu mengatakan bahwa dia bajingan sedangkan Panji Tejo Laksono kenal pun tidak.


Saat Panji Tejo Laksono hendak beranjak dari tempat duduknya, tangan kanannya di cekal oleh Song Zhao Meng agar dia tidak bergerak sama sekali. Mata sang putri Kaisar Huizong ini terus melirik ke sebelah kanan nya. Panji Tejo Laksono langsung paham dengan apa yang sedang diisyaratkan oleh permaisuri kedua nya itu.


Benar saja, pria bertubuh kekar berkepala plontos itu bersama para pengikutnya segera mendekati meja di samping kanan Song Zhao Meng. Seorang lelaki paruh baya dengan janggut pendek yang sudah bercampur dengan uban dan bercaping lusuh nampak sedang asyik menikmati makanan yang tersaji di meja nya. Dia sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya meski si lelaki bertubuh kekar itu duduk di kursi seberangnya.


"Ki Jatmika si Pendekar Tapak Berdarah..


4 purnama aku mencari mu ternyata Dewa Siwa mendengar juga doa ku dan mempertemukan kita disini. Sekarang, kau pilih mati dengan cepat atau mati mengenaskan, hai setan alas?!", maki si pria bertubuh kekar itu sambil menggebrak meja makan dengan keras.


Brruuaaaakkkkkkkh!!


Gebrakan keras itu langsung membuat meja makan hancur berantakan namun piring makan siang yang terbuat dari tanah liat beralas daun pisang milik lelaki paruh baya yang di panggil dengan sebutan Ki Jatmika si Pendekar Tapak Berdarah ini langsung di jepit dengan jari kelingking dan jari manis lelaki paruh baya itu hingga makanan diatas nya sama sekali tidak tumpah setetes pun.


Suara gebrakan keras ini tentu saja mengagetkan semua orang yang ada di tempat itu. Membuat beberapa orang langsung berhamburan keluar meninggalkan tempat itu termasuk pemilik warung makan bersama anak gadisnya karena takut menjadi korban serangan nyasar.


Sedangkan Panji Tejo Laksono, Song Zhao Meng dan Dyah Kirana tetap saja tak bergeming sedikitpun dan terus menikmati makanan mereka seolah peristiwa itu tidak pernah terjadi.


"Sontoloyo..


Kau meremehkan ku, Pendekar Tapak Berdarah!", umpat si lelaki bertubuh kekar itu yang dengan cepat mengayunkan kaki nya ke arah piring di tangan kanan Ki Jatmika.


Namun tangan kiri Ki Jatmika si Pendekar Tapak Berdarah dengan cepat menghadang laju pergerakan kaki lelaki bertubuh kekar itu hingga tendangan keras nya hanya berhenti di bawah piring makan Ki Jatmika yang masih terjepit erat.


"Jangan pernah bermimpi untuk menyia-nyiakan makanan di depan ku, Mustakajaya!! Ini lebih berharga dari nyawa mu!", ujar Ki Jatmika sambil menekan pergelangan kaki lelaki bertubuh kekar dengan kepala plontos itu hingga tubuh lelaki itu terdorong mundur dan menabrak meja makan di belakang nya.


4 orang pengikut lelaki berkepala plontos yang bernama Mustakajaya itu langsung maju mengepung Ki Jatmika sambil menusukkan pedang mereka ke arah tubuh lelaki paruh baya itu.


Shreeeeettttthhh shreeeeettttthhh!!


Tanpa melepaskan piring makan siang di tangan kanannya, Ki Jatmika menepak lantai warung makan hingga tubuhnya melenting ke arah langit-langit warung makan lalu meluncur turun ke atas pedang para pengikut Mustakajaya yang saling bersilangan.


Diatas ujung bilah pedang para pengeroyok nya, Ki Jatmika mendarat lalu dengan cepat mengibaskan tangan kiri nya ke arah kepala lawan-lawannya.


Whuuthhh..


Prrakkkkk prrakkkkk!!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!


Empat orang pengikut Mustakajaya itu langsung tersungkur setelah tapak tangan kiri Ki Jatmika menghantam kepala mereka. Lima gambar jari tangan berwarna hitam terukir di wajah keempat orang itu. Mereka tewas dengan darah segar merembes keluar dari bekas gambar jari tangan itu.


Itu adalah ilmu kanuragan tingkat tinggi yang di miliki oleh Ki Jatmika, Ajian Tapak Penghancur Tulang yang membuatnya kondang sebagai Si Pendekar Tapak Berdarah.


Melihat anak buah nya terbunuh dengan mudah, Mustakajaya langsung melesat cepat kearah Ki Jatmika sambil mengayunkan pedang besar nya ke segala arah.


Whhhuuutthh whhhuuuggghhhh!!


Akibat tindakan gila Mustakajaya, satu tiang bangunan warung makan langsung putus terkena tebasan pedang besarnya. Meja makan dan kursi pun hancur berantakan setelah terkena sabetan pedang membabi buta itu.


Ki Jatmika si Pendekar Tapak Berdarah dengan mudah menghindari serangan demi serangan ngawur Mustakajaya. Pria paruh baya itu dengan lincah menghindar kesana kemari. Ini membuat Mustakajaya semakin kalap.


Sambil mengerahkan seluruh tenaga dalam nya, Mustakajaya terus mengayunkan pedangnya ke segala arah. Satu tebasan nya mengarah ke tempat Panji Tejo Laksono, Dyah Kirana dan Song Zhao Meng menikmati makan siang.


Jari jemari tangan Panji Tejo Laksono langsung menjepit ujung bilah pedang besar milik Mustakajaya yang hampir saja membabat lehernya. Sambil mendengus dingin, Panji Tejo Laksono langsung mendelik tajam ke arah Mustakajaya yang berusaha untuk menarik pedangnya yang seperti terjepit sesuatu yang kuat hingga meski sekuat tenaga Mustakajaya berusaha menarik pedangnya namun tidak juga bisa terlepas.


"Jangan ganggu makan siang ku atau kau akan menerima akibatnya!"


Suara berat nan berwibawa yang bernada ancaman itu segera membuat Ki Jatmika si Pendekar Tapak Berdarah sedikit terkesima. Dia yang pernah mendengar cerita dari gurunya tentang pemilik suara berwibawa yang biasanya adalah seorang raja ataupun bangsawan langsung menerka-nerka. Apalagi saat melihat bilah pedang besar milik Mustakajaya seperti melekat erat di cengkeram jari jemari tangan kanan Panji Tejo Laksono. Dia sendiri tidak yakin apakah mampu melakukan hal yang sama.


'Siapa pendekar muda ini? Kemampuan beladiri nya sangat tinggi. Dan aku belum pernah mendengar pendekar muda dengan ciri-ciri seperti dia..


Hemmmmmmm.. Ini menarik', batin Ki Jatmika.


Setelah berkata demikian, Panji Tejo Laksono langsung melepaskan cengkeramannya di bilah pedang besar milik Mustakajaya yang mengakibatkan pria berkepala plontos itu langsung terjengkang ke belakang dan menyusruk lantai warung makan yang porak-poranda.


"Bajingan!


Apa kau kawan si Pendekar Tapak Berdarah ini hingga membantunya ha?", hardik Mustakajaya sambil bangkit dari tempat jatuhnya.


"Aku bukan kawannya, juga tidak mengenalnya. Aku hanya ingin makan siang dengan tenang bersama para istri ku tanpa harus terganggu dengan permusuhan kalian.


Kalau kalian ingin bertarung, silahkan ke halaman warung makan ini. Disana cukup luas untuk kalian mengadu ilmu. Kalau masih juga keras kepala untuk berkelahi di tempat ini, aku tidak akan segan-segan untuk menghajar kalian berdua", ucap Panji Tejo Laksono dengan tegas.


"Kurang ajar!


Memangnya kau siapa hingga berani memerintah ku, Hantu Gundul dari Gunung Welirang ha?", teriak Mustakajaya sambil melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono.


Dyah Kirana yang baru selesai makan, segera melepaskan selendangnya dan dengan cepat mengebutkan nya ke arah Mustakajaya.


"Banyak omong!!", geram Dyah Kirana segera.


Whhhuuutthh..


Dhhaaaassshhh!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Mustakajaya langsung terlempar keluar dari dalam ruangan warung makan setelah ujung selendang putih Dyah Kirana menghantam dada nya. Tubuh besar Mustakajaya terlebih dulu menabrak dinding warung makan hingga jebol sebelum menyusruk tanah halaman warung makan itu.


Bersamaan dengan itu hujan deras yang mengguyur tempat itu mereda. Panji Tejo Laksono meletakkan piring makan siang nya yang telah kosong bersama dengan Song Zhao Meng yang juga melakukan hal yang sama. Tak lupa, Panji Tejo Laksono meletakkan 6 kepeng perak di atas piring makan nya sebagai biaya makan siang. Keduanya segera mendekati Dyah Kirana yang sedang merapikan selendang putih nya di kemben putih nya.


Panji Tejo Laksono membantu merapikan sebentar sebelum berkata, "Hujan sudah reda. Mari kita lanjutkan kembali perjalanan kita".


Song Zhao Meng dan Dyah Kirana mengangguk patuh dengan ucapan Panji Tejo Laksono. Keduanya segera mengekor di belakang lelaki tampan bertubuh tegap itu keluar dari dalam warung makan.


"Tunggu dulu Pendekar..!"


Suara Ki Jatmika ini seketika menghentikan langkah Panji Tejo Laksono dan dua wanitanya itu.


"Ada apa Pak Tua? Apa kau juga ingin mengganggu perjalanan ku?", ucap Panji Tejo Laksono tanpa berpaling ke arah Ki Jatmika di belakangnya.


"Hehehehe..


Jangan salah sangka dulu pendekar. Aku hanya ingin tahu siapa nama mu dan siapa guru mu? Kita sudah berjodoh bisa berjumpa di tempat ini. Aku yakin suatu saat nanti Sanghyang Tunggal Pencipta Semesta pasti akan mempertemukan kita kembali.


Aku Ki Jatmika, orang dunia persilatan Tanah Jawadwipa mengenal ku sebagai Pendekar Tapak Berdarah, akan sangat bangga telah mengenal mu", ujar Ki Jatmika dengan santun.


Mendengar ucapan tulus dari lelaki paruh baya itu, Panji Tejo Laksono segera berbalik badan.


"Aku Tejo Laksono. Aku tidak punya gelar dan aku berasal dari Padepokan Padas Putih. Guru ku di Padepokan Padas Putih sudah meninggal. Dia adalah Mpu Sakri", jawab Panji Tejo Laksono dengan cepat.


"Pantas saja..


Murid murid Padepokan Padas Putih memang luar biasa. Selalu tangguh dan dapat diandalkan. Kalau boleh tau, kemana pendekar akan melakukan perjalanan?", tanya Ki Jatmika kemudian.


"Aku ingin ke Bukit Lanjar. Ada sesuatu yang harus aku lakukan disana. Selepas itu aku akan ke Jenggala, ke Kotaraja Kahuripan", ucap Panji Tejo Laksono jujur.


"Wah kebetulan sekali kita searah. Aku juga ingin ke Kotaraja Kahuripan.


Kalau pendekar tidak keberatan, bisakah kita bergabung dalam satu kelompok? Semakin banyak kawan di perjalanan itu akan semakin baik", Ki Jatmika menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono dengan penuh harap.


Hemmmmmmm...


"Boleh saja kau bepergian dengan kami.. Tapi ingat Ki Jatmika, kita tidak boleh mencampuri urusan masing-masing.


Apa kau bisa menerima itu?", ujar Panji Tejo Laksono menatap wajah tua Ki Jatmika.


"Oh itu tentu saja, Pendekar Tejo..


Mari kita berangkat. Kalau tidak ada halangan, kita bisa sampai di Bukit Lanjar sebelum senja tiba. Aku tahu jalan pintas menuju kesana", setelah berkata seperti itu, Ki Jatmika mengambil caping bambu yang tergeletak di dekat tempat duduknya tadi dan segera mengenakan nya.


Mereka berempat pun segera naik ke atas kuda mereka masing-masing dan langsung memacu kuda nya menuju ke arah Utara.


Setelah melewati wilayah Pakuwon Kunjang yang sempat menjadi arena pertempuran sengit tempo hari, mereka sampai di perbatasan wilayah Kadipaten Matahun. Di persimpangan jalan Ki Jatmika membelokkan arah perjalanan mereka ke arah kanan dan Panji Tejo Laksono serta Dyah Kirana dan Song Zhao Meng mengikuti langkah nya.


Dan benar saja, begitu langit mulai memerah di ufuk barat, mereka sudah memasuki kaki Bukit Lanjar.


Sebuah tugu batu besar seukuran kerbau berbentuk persegi panjang dengan sebuah ukiran huruf Jawa Kuno yang terbaca sebagai " Bukit Lanjar" berdiri tegak di tepi jalan selebar satu depa yang membelah hutan rimbun di kaki bukit.


"Ayo kita bergegas, Pendekar Tejo..


Mumpung jalan masih kelihatan. Hutan ini masih banyak binatang buas nya. Sangat berbahaya bagi kita jika kemalaman di tempat ini", ucap Ki Jatmika sambil memacu kuda nya menapaki jalan melingkar di kaki bukit itu.


"Sepertinya Ki Jatmika sangat mengenal tempat ini, Kakak Thee..


Apa kau tidak curiga sama sekali?", ujar Song Zhao Meng yang berkuda di samping kanan Panji Tejo Laksono.


"Ucapan mu masuk akal, Meng Er..


Tapi kita tidak punya pilihan lain selain mengikuti nya. Kalau dia macam-macam, aku sendiri yang akan mengatasinya", jawab Panji Tejo Laksono segera.


Mereka berempat terus menapaki jalan itu. Saat matahari hampir tenggelam di langit barat, mereka sampai di depan sebuah gapura masuk yang bertuliskan nama "Padepokan Anggrek Bulan".


Dua orang wanita muda berbaju putih seperti dandanan Anggrek Kuning dan Anggrek Lembayung langsung mencabut pedangnya sembari mendekati Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya dengan sikap waspada.


"Siapa kalian? Ada urusan apa ke tempat ini?", tanya gadis muda itu sembari mengedarkan pandangannya pada Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.


"Katakan saja pada pimpinan kalian, aku Tejo Laksono yang datang berkunjung kemari. Ingin bertemu dengan Dewi Anggrek Bulan", balas Panji Tejo Laksono sambil tersenyum.


Mendengar nama Panji Tejo Laksono di sebut, dua orang wanita muda berpakaian serba putih itu segera tersenyum dan menyarungkan kembali pedang mereka. Tempo hari, Anggrek Perak telah membuat pengumuman bahwa jika ada seseorang yang bernama Panji Tejo Laksono datang, siapapun yang bertugas di gerbang padepokan harus mempersilahkan nya masuk ke dalam padepokan.


"Silahkan Kisanak..


Pimpinan kami sudah lama menunggu kedatangan mu", ujar si wanita muda itu dengan penuh hormat. Dua orang rekannya di belakang langsung membuka palang pintu gerbang dengan cepat. Ki Jatmika sedikit mengerutkan keningnya pertanda heran dengan penyambutan yang di berikan kepada Panji Tejo Laksono.


Kedatangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya langsung membuat heboh seisi Padepokan Anggrek Bulan yang semuanya adalah para perempuan. Ketampanan sang pangeran muda ini langsung membuat kasak kusuk di mulut para murid Padepokan Anggrek Bulan yang di sambung tawa cekikikan dari mereka.


Sesampainya mereka di depan balai utama padepokan, Anggrek Emas dan Anggrek Perak segera menyambut kedatangan mereka. Namun alangkah terkejutnya Anggrek Perak melihat siapa yang datang bersama Panji Tejo Laksono.


Mata perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik itu langsung memerah pertanda marah besar. Tanpa ragu lagi, dia segera mencabut pedang bergagang perak di pinggangnya dan segera mengacungkan nya pada Ki Jatmika.


"Bajingan tua!


Kenapa kau kemari?!".