Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Adu Pedang di Depan Gerbang Istana


Ki Ranggu alias Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan segera membuka lebar-lebar kedua tangan nya lalu dengan cepat kedua telapak tangan membentuk cakar seperti cakar seekor macan. Selepas menghela nafas panjang, Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan ini segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono yang sudah bersiap dengan kuda-kuda ilmu silat Padas Putih nya.


Cakar tangan kanan Ki Ranggu segera menyambar ke arah wajah tampan Panji Tejo Laksono.


Shhraaaaaakk !!


Dengan gerakan lincah dan gesit, Panji Tejo Laksono menggeser posisi tubuhnya sedikit hingga serangan lawan hanya menyambar udara kosong di samping pipi kanan nya.


Ki Ranggu segera mengayunkan cakar tangan kanan nya menyusul serangan nya yang kandas.


Panji Tejo Laksono mundur selangkah sembari menepis lengan kiri Ki Ranggu. Tapak tangan kiri nya menghantam ke arah pinggang pendekar paruh baya itu dengan cepat.


Whhhuuuggghhhh !


Melihat serangan cepat Panji Tejo Laksono, Ki Ranggu menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya membuat gerakan berputar di udara. Dia lolos dari serangan tapak tangan kanan Panji Tejo Laksono. Namun itu belum selesai.


Panji Tejo Laksono yang melihat Ki Ranggu mendarat, memutar tubuhnya dengan cepat sembari melayangkan tendangan keras kearah punggung Ki Ranggu yang baru saja mendarat di tanah.


Dhiiieeeessshh !!


Oouuugghhhhhh !


Ki Ranggu nyaris saja terjungkal ke depan andai saja dia tidak dengan cepat menguasai tubuhnya. Dengan bertumpu pada tangan kanannya yang menyentuh tanah, pria paruh baya bertubuh gempal itu segera merubah gerakan tubuhnya dan lekas berbalik badan ke arah Panji Tejo Laksono.


Sembari meringis menahan rasa sakit pada punggungnya, pendekar asal Paguhan itu kembali menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono.


Whhhuuuggghhhh whuuthhh!


Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk...


Dhhaaaassshhh !!


Jual beli serangan menggunakan ilmu silat tangan kosong berlangsung cepat dan sengit. Beberapa kali Panji Tejo Laksono berhasil mendaratkan pukulan dan tendangan keras di tubuh Ki Ranggu. Sedangkan Ki Ranggu sendiri belum bisa mendaratkan satu pukulan pun ke tubuh sang pangeran muda dari Kadiri.


Semua orang terlihat seperti menahan nafas melihat pertarungan ini tak terkecuali dengan Ki Nomo dan Bawor. Kedua orang itu baru saja sadar bahwa tindakan mereka membawakan penantang untuk Panji Tejo Laksono sangat berbahaya bagi keselamatan mereka sendiri.


"Untung saja Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono benar benar jago silat, Wor..


Coba kalau dia sampai kenapa kenapa akibat pertarungan ini, pasti kepala kita di pancung sama Gusti Prabu Jayengrana ", bisik Ki Nomo yang berdiri di samping Bawor.


"Kalau itu aku tidak khawatir Kang Nomo..


Sebab aku lebih percaya dengan omongan Bekel Lumadi daripada ocehan si Tua Ranggu itu kang. Jadi kita tidak mungkin kehilangan kepala karena si tua itu mengalahkan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ", ujar Bawor dengan penuh keyakinan.


"Kau benar benar yakin Wor?", Ki Nomo menatap ke arah Bawor yang matanya terus menatap ke arah pertarungan sengit antara Panji Tejo Laksono dan Ki Ranggu.


"Hok oh tenan Kang. Yakin seyakin-yakinnya ", jawab Bawor enteng. Mendengar jawaban itu, Ki Nomo kembali ikut menyaksikan jalannya pertarungan. Dan benar saja, satu tendangan keras kaki kiri Panji Tejo Laksono mendarat di pipi Ki Ranggu di susul oleh tendangan melingkar yang menghantam perut Ki Ranggu saat mereka mencapai jurus keduapuluh.


Plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh !!


Aaauuuuggggghhhhh!


Ki Ranggu melengguh keras saat tendangan melingkar dari kaki kanan Panji Tejo Laksono telak mengenai perutnya. Pendekar paruh baya yang semula jumawa sekali dengan kepandaian ilmu beladiri nya ini, terhuyung huyung mundur sambil memegangi perutnya yang sebah akibat tendangan keras Panji Tejo Laksono.


Darah segar menetes keluar dari sudut bibir Ki Ranggu. Ini semakin membuat Ki Ranggu murka.


Sembari mengusap sisa darah segar di sudut bibirnya, Ki Ranggu menatap tajam ke arah Panji Tejo. Tangan kanannya segera merogoh gagang pedang besar di punggungnya. Semua orang semakin ketakutan melihat itu semua. Wangsa murid utama Padepokan Bukit Menjangan yang mengikuti langkah Sang Pendekar Pedang Gading dari Pesisir Selatan ini ketakutan setengah mati melihat Ki Ranggu mencabut senjata andalannya, Pedang Gading. Ini berarti lawan yang dihadapi oleh Ki Ranggu bukanlah seorang pendekar kacangan.


'Gawat !


Paman Ranggu sudah menggunakan Pedang Gading. Kalau sampai Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono terluka parah, aku yakin urusannya pasti panjang ', batin Wangsa.


Melihat Ki Ranggu mencabut pedang nya, Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti dan segera menoleh ke Tumenggung Rajegwesi. Perwira tinggi prajurit Panjalu yang bersenjatakan panah itu memang selalu menyandang sebuah pedang di pinggangnya meski jarang dia gunakan.


"Aku sudah memegang senjata, Kisanak.. Kita bisa memulainya", ujar Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Ki Ranggu menata kuda-kuda ilmu silat berpedang nya. Begitu siap, Ki Ranggu segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dengan pedang membabat udara.


Whhhuuuggghhhh !!


Aura Pedang Gading yang berhawa sejuk setajam pisau, menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono. Panji Tejo Laksono langsung menyalurkan tenaga dalam nya pada pedang di tangan kanannya dan membabatkan pedang Tumenggung Rajegwesi untuk menangkis sabetan aura Pedang Gading.


Blllaaaaaaaaaaarrrrrr !!


Ledakan keras terdengar saat pedang di tangan Panji Tejo Laksono menangkis hawa sejuk Pedang Gading. Panji Tejo Laksono terseret mundur beberapa langkah akibat ledakan keras itu.


Belum sempat Panji Tejo Laksono berhenti terseret, Ki Ranggu sudah menyusul nya sembari membabatkan Pedang Gading nya. Melihat serangan itu, Panji Tejo Laksono tidak punya pilihan lain selain bertahan dengan menangkis sabetan pedang Ki Ranggu dengan pedang di tangan nya.


Thrrraaannnnggggg!


Usai benturan kedua, Panji Tejo Laksono buru-buru menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara dan bersalto dua kali di udara. Sang pangeran muda dari Kadiri ini menjauh hampir 4 tombak jauhnya dari Ki Ranggu. Segera dia bersiap dengan kuda-kuda Ilmu Pedang Tanpa Bayangan ajaran Begawan Ganapati.


Sekejap kemudian, Ki Ranggu kembali menyerang nya dengan tebasan Pedang Gading nya yang mematikan. Namun perubahan pergerakan pedang Panji Tejo Laksono menjadi begitu terasa. Gerakan pedangnya menjadi cepat dan lincah.


Thrrriiinnnggggg thrrriiinnnggggg !


Serangan demi serangan pedang cepat terus di lakukan oleh Ki Ranggu. Namun pelan tapi pasti, Panji Tejo Laksono mampu mengimbanginya. Ini membuat Ki Ranggu semakin naik pitam. Diam diam dia menyalurkan tenaga dalam nya pada Pedang Gading hingga bersinar kuning redup. Panji Tejo Laksono yang sedikit terlambat menyadari bahwa Ki Ranggu menyalurkan tenaga dalam nya, sedikit terkejut saat tebasan Pedang Gading yang berbeda menerabas cepat kearah nya. Dia hanya bisa bertahan dengan menangkis nya


Thhraaaangggggggg thraakkkk!!


Pedang Tumenggung Rajegwesi patah menjadi dua bagian saat beradu dengan Pedang Gading di tangan Ki Ranggu. Panji Tejo Laksono yang menggunakan Ajian Sepi Angin, buru buru menjauh dari Ki Ranggu. Kini pedang di tangan nya hanya menyisakan gagang dan sejengkal bilah pedang yang tersisa.


"Senjata mu sudah patah. Kau masih mau meneruskannya?", seringai lebar menghiasi wajah tua Ki Ranggu. Dia sudah merasa menang. Panji Tejo Laksono tersenyum tipis menanggapi omongan Ki Ranggu.


"Sebuah senjata pinjaman, Kisanak. Aku wajib mengganti nya di lain waktu.


Karena kau begitu bernafsu untuk menang, aku akan menggunakan senjata andalan ku. Jika kau bisa menghadapinya, aku mengakui keunggulan mu", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.


"Huhhhhh ...


Memangnya kau punya senjata andalan apa, Pangeran Panji Tejo Laksono? Aku ingin lihat, senjata apa yang mampu menahan Pedang Gading ku ini", Ki Ranggu memutar gagang Pedang Gading sembari menatap bilah pedang yang berwarna kuning redup itu.


Panji Tejo Laksono memejamkan matanya sebentar. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Sebentar kemudian dia menggerakkan tangannya ke samping kanan. Dan keanehan pun segera terjadi. Udara seperti terbelah menjadi dua. Diantara belahan itu, tangan Panji Tejo Laksono mengambil sesuatu.


Semua itu tidak luput dari pengamatan Ki Ranggu. Mata pria paruh baya bertubuh gempal itu segera terbelalak lebar begitu melihat tangan kanan Panji Tejo Laksono memegang sebilah pedang bersarung merah menyala dengan gagang berbentuk seperti kepala naga. Saat Panji Tejo Laksono mencabut pedang itu dari sarungnya, hawa panas menyengat langsung menyebar ke seluruh tempat itu.


"Pe-pedang Naga Api??


Kau punya senjata pusaka itu?", Ki Ranggu berkata dengan suara gagap.


"Benar, ini adalah Pedang Naga Api, Kisanak!


Ayahanda Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta mewariskan pedang ini kepada ku. Apa kau sudah tahu kedahsyatan pedang ini?", Panji Tejo Laksono menatap wajah Ki Ranggu yang pucat pasi. Namun dengan cepat dia menguasai dirinya dan menjawab omongan Panji Tejo Laksono dengan angkuhnya.


"Hah?? Di tangan Prabu Jayengrana, Pedang Naga Api menjadi legenda yang menakutkan bagi semua orang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa.


Tapi di tangan bocah kemarin sore seperti mu, itu semua belum tentu", setelah berkata demikian, Ki Ranggu segera melompat tinggi ke udara dan meluncur turun dengan cepat sambil membabatkan Pedang Gading nya pada Panji Tejo Laksono yang sigap mengayunkan Pedang Naga Api.


Whhhuuuggghhhh !


Blllaaammmmmmmm !!


Ledakan dahsyat terdengar saat dua senjata pusaka itu beradu. Suaranya yang keras, terdengar hingga hampir separuh Kota Rajapura. Ledakan dahsyat itu memicu terjadinya gelombang kejut yang menyebar ke seluruh tempat itu hingga memaksa siapa pun untuk bertahan dari getaran nya. Yang berilmu tinggi pasti bisa bertahan seperti Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi serta Wangsa namun yang memiliki ilmu kanuragan rendah sudah pasti terpental. Ini yang dialami oleh Ki Nomo dan Bawor. Dua orang warga Kota Rajapura ini terhempas hingga satu tombak jauhnya.


Ki Ranggu sendiri terpelanting ke belakang hingga 4 tombak jauhnya ke belakang. Tubuh tua nya menghantam tanah dan menyusruk rerumputan yang tumbuh di tepi jalan raya di depan pintu gerbang istana Kadipaten Rajapura. Pendekar besar dari wilayah Kadipaten Paguhan ini muntah darah segar pertanda bahwa dia menderita luka dalam yang cukup parah. Sedangkan Panji Tejo Laksono masih tegak berdiri di tempatnya berdiri tanpa bergeser sedikitpun. Sembari tersenyum tipis, sang pangeran muda dari Kadiri menatap ke arah Ki Ranggu yang berusaha untuk bangkit dari tempat jatuhnya sembari berkata,


"Masih mau lanjut, Kisanak?"