Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Mengejar Penculik Ayu Ratna


Prabu Jayengrana menghela nafas berat mendengar ucapan dari putra sulung nya ini. Dia yang pernah juga muda, merasakan betul apa yang sedang di rasakan oleh Panji Tejo Laksono.


"Baiklah, Tejo Laksono..


Tapi sebelumnya sebaiknya kau ikut dengan ku terlebih dahulu", ujar Prabu Jayengrana sembari melangkah mendekati Panji Tejo Laksono.


"Kemana Kanjeng Romo Prabu?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Jangan banyak tanya..


Kalian semua aku minta untuk tidak meninggalkan tempat ini sebelum aku kembali", Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana menoleh ke semua orang. Ratu Anggarawati, Ratu Naganingrum, Mapatih Warigalit dan Senopati Agung Narapraja segera menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sesaat sebelum kabut putih tipis menutupi seluruh tubuh Prabu Jayengrana dan Panji Tejo Laksono. Sekejap mata kemudian, mereka berdua sudah menghilang dari pandangan mata semua orang.


Di puncak Gunung Wilis, dua orang bapak dan anak ini muncul. Panji Tejo Laksono segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berada.


"Ini ada dimana Kanjeng Romo Prabu?", tanya Panji Tejo Laksono sembari terus memperhatikan keadaan sekitarnya.


"Puncak Gunung Wilis, Tejo Laksono..


Romo sengaja membawa mu jauh dari Istana Katang-katang untuk menurunkan sebuah ajian yang bisa kita gunakan untuk berbicara lewat angin.


Kau tentu ingat dengan Ajian Bayu Swara yang pernah kita gunakan untuk bercakap-cakap bukan?", Prabu Jayengrana menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang kini duduk bersila di atas sebuah batu pipih yang ada di tempat itu.


"Tejo Laksono ingat Kanjeng Romo Prabu.. Itu adalah Ajian yang Romo Prabu pergunakan saat mengabari saya tentang meninggalkannya Eyang Adipati Tejo Sumirat", jawab Panji Tejo Laksono segera.


"Iya Tejo Laksono..


Sekarang Romo akan menurunkan nya kepada mu. Ilmu kanuragan yang tinggi tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat mu menguasai ajian ini. Sekarang juga, kosongkan pikiran dan hati mu. Rasakan seluruh udara yang masuk ke dalam tubuh mu dan pusatkan tenaga dalam mu pada dada mu, putraku", perintah Prabu Jayengrana pada sang putra tertua. Panji Tejo Laksono dengan patuh melakukan perintah dari ayahnya.


Segera Adipati Seloageng ini duduk bersila di atas batu pipih dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Matanya terpejam , mengheningkan cipta dan karsa manusia yang ia miliki. Sebentar kemudian dia sudah bernafas perlahan sebagai pertanda bahwa ia sudah menata seluruh indera tubuhnya.


Prabu Jayengrana segera memejamkan matanya sebentar. Dari telapak tangan kanan nya muncul sebuah cahaya putih yang diikuti oleh angin menderu kencang. Tanpa menunggu lama, Prabu Jayengrana segera meletakkan telapak tangannya ke ubun-ubun kepala Panji Tejo Laksono. Seketika sinar putih itu menjalar ke seluruh tubuh sang pangeran muda.


Zzzeeeerrrrrttthh..!!


Tubuh Panji Tejo Laksono bergetar hebat. Keringat dingin mengucur membasahi tubuh sang pangeran. Perlahan namun pasti, sinar putih itu seperti terserap oleh tubuh Panji Tejo Laksono dan menghilang.


Prabu Jayengrana segera melepaskan tangannya dari ubun-ubun kepala Panji Tejo Laksono lalu menarik nafas panjang.


"Buka matamu, Tejo Laksono..", setelah mendengar perintah dari sang ayah, Panji Tejo Laksono langsung membuka mata nya.


"Ajian Bayu Swara sudah sempurna menyatu dalam tubuh mu, putra ku. Sekarang kau bisa mengirimkan suara dari jarak yang sangat jauh. Dengan ajian ini, kau bisa mengabari siapapun yang kau inginkan. Jika kau sudah menemukan Ayu Ratna, Romo minta kau segera mengabari agar aku dan ibu mu bisa tenang", imbuh Prabu Jayengrana segera. Raja Panjalu itu segera berdiri dari tempat duduknya di depan sang pangeran.


"Kanjeng Romo Prabu tenang saja..


Setelah aku menemukan penculik Ayu Ratna, aku akan segera mengabari agar Kanjeng Romo Prabu dan Kanjeng Ibu tidak kepikiran terus dengan masalah ini", jawab Panji Tejo Laksono yang ikut berdiri menjajari ayahnya.


"Ayo kita pulang ke Kadiri..


Ibu mu pasti sudah menunggu kedatangan kita, Tejo Laksono", setelah berkata demikian, Prabu Jayengrana segera merapal mantra Ajian Halimun nya. Kabut putih tipis dengan cepat menutupi seluruh tubuh nya dan Panji Tejo Laksono. Bersamaan dengan itu, angin dingin berdesir perlahan. Dalam sekejap mata, mereka berdua sudah menghilang dari pandangan.


Dua orang ayah itu muncul di ruang pribadi raja. Semua orang segera tersenyum begitu melihat kedatangan mereka.


Setelah berbincang-bincang sebentar, Panji Tejo Laksono segera berpamitan pada Dewi Anggarawati.


"Berhati-hatilah, anak ku ...


Biyung selalu berdoa kepada Sang Hyang Agung, agar semua tindak tanduk mu dan perjalanan mu selalu dalam perlindungan Nya", ujar Dewi Anggarawati sembari mengelus kepala Panji Tejo Laksono.


"Terimakasih atas doanya, Kanjeng Ibu. Ananda mohon pamit", Panji Tejo Laksono segera menyembah pada Dewi Anggarawati, Prabu Jayengrana dan Dewi Naganingrum. Sebentar kemudian, dia bersedekap tangan di depan dada dan sebentar kemudian dia sudah menghilang dari pandangan mata semua orang bersamaan dengan hembusan angin dingin yang berdesir perlahan mengikuti kabut tipis yang menutupi seluruh tubuh sang pangeran muda.


Setelah kepergian sang putra, Prabu Jayengrana segera memerintahkan kepada Mapatih Warigalit dan Senopati Agung Narapraja untuk segera menyiapkan segala sesuatunya setelah menerima laporan dari Panji Tejo Laksono. Dengan kata lain, situasi saat itu di Tanah Jawadwipa menjadi panas setelah adanya penyerangan terhadap Istana Kadipaten Seloageng.


****


Demung Gumbreg sedang asyik membakar singkong di perapian yang menjadi penghangat tubuh mereka. Saat itu malam telah larut, mendekati tengah malam. Suara burung malam terdengar berulang kali dari ranting pohon besar tak jauh dari tempat rombongan Panji Tejo Laksono bermalam.


Setelah meninggalkan rumah makan Ki Sumo di Tumapel, rombongan Panji Tejo Laksono terpaksa harus bermalam di hutan kecil barat Wanua Panawijen yang menjadi batas wilayah dengan Wanua Siganggeng karena saat mereka sampai di tempat itu, senja sudah mulai menghilang.


"Kira-kira Ndoro Tejo sedang apa ya Nggo? Kog sepertinya tadi buru-buru sekali perginya", ujar Demung Gumbreg sambil terus mengorek kulit singkong bakar yang sedikit hangus karena api yang kebesaran.


"Aku tidak tahu, Del.. Sepertinya dia punya firasat buruk tentang Kadipaten Seloageng jadi ya buru-buru pulang kesana", jawab Tumenggung Ludaka yang bersender pada batu besar di belakangnya. Tak jauh dari tempat istirahat nya, Naratama yang terlihat masih terjaga sedang menyeruput minuman tuak yang mereka beli di pasar besar Kota Tumapel.


"Padahal jarak dari sini ke Kota Seloageng jauh loh Nggo.. Apa bisa sampai di sana tepat waktu?", imbuh Demung Gumbreg seraya mulai mengunyah singkong bakarnya.


"Kau meragukan ilmu kedigdayaan Ndoro Tejo? Apa kau lupa saat kita baru pulang dari Tiongkok, dan ada berita duka cita terus Ndoro Tejo pulang ke Seloageng lebih dulu?


Kita sampai di Kadiri setelah 2 pekan sedangkan 2 pekan itu juga, Ndoro Tejo sudah berada di Seloageng.


Kau pikun ya Del?", ujar Tumenggung Ludaka sambil beringsut mendekati kawan karibnya itu. Tangannya segera meraih sebatang umbi singkong yang masih mengepulkan uap panas dan segera memakannya.


"Hehehehe oh iya ya, aku lupa Nggo.. Ilmu kedigdayaan dari Ndoro Tejo memang tidak bisa di anggap enteng", sahut Demung Gumbreg sembari terus mengunyah singkong bakarnya.


Dari 4 perempuan yang ikut serta dalam rombongan itu, hanya Luh Jingga saja yang masih terjaga. Dia memang susah tidur jika sedang memikirkan sesuatu. Hawa dingin lereng Gunung Kawi membuat perempuan cantik putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan itu segera membungkus tubuhnya dengan kain jarik yang menjadi selimutnya. Lalu Luh Jingga segera bangun dari tempat tidur nya dan berjalan mendekati perapian dimana Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka dan Naratama berkumpul.


"Wah ternyata kau masih belum tidur juga, Jingga? Sini saja duduk dekat dengan api. Lumayan untuk mengusir dingin malam ini", tawar Demung Gumbreg begitu melihat kedatangan Luh Jingga. Lelaki bertubuh tambun itu segera menggeser tubuhnya untuk memberi tempat bagi Luh Jingga.


Sepertinya memang terjadi sesuatu. Buktinya sampai sekarang, Kakang Tejo masih juga kembali ke tempat ini", jawab Luh Jingga sembari mendudukkan dirinya di antara Demung Gumbreg dan Tumenggung Ludaka.


"Sama Jingga. Aku juga begitu.. Kalau sampai Ndoro Tejo tidak pulang kemari malam ini, besok pagi kita harus berangkat secepatnya ke Seloageng", ujar Demung Gumbreg segera.


"Helehhh, kau ini sok bangun pagi?


Kalau belum di guyur air mana mungkin kau bangun pagi, Del? Wong tidur mu saja mirip kerbau mati begitu hehehehe..", sergah Tumenggung Ludaka terkekeh kecil mendengar omongan Demung Gumbreg.


"Ah kawan tidak punya perasaan..


Walaupun begitu mbok tidak usah di omongkan. Jaga perasaan kawan sedikit to. Jadi orang kog asal bicara saja", omel Demung Gumbreg yang bersungut-sungut mendengar jawaban Tumenggung Ludaka.


"Sudah Paman berdua jangan ribut..


Kita semua sedang khawatir dengan keadaan Seloageng. Kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa disana", Luh Jingga menengahi perdebatan antara mereka.


Tiba-tiba saja angin dingin berdesir kencang bersamaan dengan munculnya kabut tipis. Dari dalam kabut itu, Panji Tejo Laksono muncul. Kedatangan sang pangeran muda di tengah-tengah mereka cukup membuat mereka terkaget-kaget. Demung Gumbreg saja sampai terjengkang ke belakang dan kepalanya membentur roda kereta kuda. Sontak saja Dyah Kirana, Gayatri dan Sriati terbangun dari tidur mereka.


"Aduh Biyung....


Remuk kepala ku kalau begini. Ndoro Tejo kalau datang tidak pakai mengagetkan orang bisa tidak ya?", omel Demung Gumbreg yang mengelus kepala nya yang benjol sembari bangkit dari tempat jatuhnya.


"Hehehehe maafkan aku, Paman..


Ada peristiwa besar yang terjadi di Istana Kadipaten Seloageng dan aku harus segera bergerak cepat untuk menghadapi pelakunya", jawab Panji Tejo Laksono segera.


"Memang ada kejadian apa di Istana Kadipaten Seloageng, Kakang Tejo?", kali ini Gayatri yang terbangun dari tidurnya bertanya.


Panji Tejo Laksono segera menceritakan semua kejadian yang baru saja terjadi di Istana Kadipaten Seloageng. Semua orang merasa terkejut bukan main. Bahkan Naratama dan Sriati yang tidak tahu apa-apa juga ikut kaget mendengar berita yang disampaikan oleh Panji Tejo Laksono.


"Karena itu aku akan mengejar pelaku penculikan Ayu Ratna ke Padepokan Ular Siluman. Jadi aku minta agar kalian semua segera pulang secepatnya ke Seloageng", ujar Panji Tejo Laksono menyudahi ceritanya.


"Tunggu saudara Tejo..


Kau bilang yang di culik adalah Permaisuri Kadipaten Seloageng. Lantas kenapa kau repot-repot untuk mengejar penculik nya? Apa hubungan mu dengan nya?", Naratama yang penasaran angkat bicara. Mendengar pertanyaan itu, Panji Tejo Laksono langsung tersenyum.


"Apa kau masih juga belum menyadari nya Naratama kalau Ndoro Tejo ini adalah suami Ayu Ratna? Bebal sekali otak mu..


Biar ku persingkat saja agar kau mengerti, kawan. Ndoro Tejo ini adalah Adipati Seloageng. Namanya adalah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, putra sulung Prabu Jayengrana dari Panjalu ", potong Gumbreg segera. Kaget Naratama dan Sriati mendengar omongan pria bertubuh tambun itu.


"Ka-kalau Nyi Tantri ini siapa sebenarnya, Paman Gudel?", tanya Sriati segera.


"Dia adalah Gayatri, selir pertama Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Luh Jingga ini adalah selir kedua dan dia itu, Dyah Kirana adalah calon selir ketiga Gusti Pangeran.


Oh ya, aku lupa. Namaku sebenarnya bukan Ki Gudel. Aku adalah Demung Gumbreg dan ini adalah Tumenggung Ludaka dari Kadiri ", Demung Gumbreg menjelaskan jati diri mereka satu persatu. Mendengar jawaban itu, Naratama dan Sriati saling berpandangan seolah tak percaya mendengar jawaban itu. Keduanya segera membungkuk hormat kepada Panji Tejo Laksono dan ketiga wanita nya.


"Maafkan kami karena sudah berlaku tidak sopan pada Gusti Pangeran Adipati Seloageng", ujar Naratama sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Sudahlah, Pendekar Golok Angin..


Aku dan mereka menyembunyikan jati diri agar tidak menarik perhatian orang. Aku minta agar kalian tetap merahasiakan jati diri kami kepada siapapun selama masih di wilayah Kerajaan Jenggala.


Kalau kalian masih ingin mengikuti kami, silahkan saja. Pintu gerbang istana Kadipaten Seloageng terbuka lebar untuk kalian", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis.


"Terimakasih atas budi baik Gusti Pangeran Adipati.


Sudah menjadi tekat saya dan Sriati untuk mengikuti kemanapun langkah Gusti Pangeran dan Gusti Selir sekalian", jawab Naratama yang mendapat anggukan kepala dari Sriati.


"Bagus kalau begitu. Dengan ini aku minta bantuan dari kalian berdua untuk menjaga barang barang ini sampai ke Seloageng bersama Dinda Gayatri, Kirana dan Dinda Luh Jingga. Aku akan segera berangkat ke Padepokan Ular Siluman untuk merebut kembali Ayu Ratna dari tangan penculik itu ", ujar Panji Tejo Laksono segera.


"Tunggu Kangmas Pangeran..


Aku harus ikut serta ke Padepokan Ular Siluman. Perusak istana Kadipaten Seloageng harus mendapat pelajaran karena ulahnya ", ujar Gayatri.


"Kalau Kangmbok Gayatri ikut, aku juga tidak mau di tinggal Kangmas Pangeran ", sambung Luh Jingga segera. Mendengar jawaban itu, Panji Tejo Laksono langsung menepuk jidatnya.


Maka malam itu segera diputuskan bahwa Gayatri dan Luh Jingga ikut serta dalam upaya mengejar penculik Ayu Ratna. Dyah Kirana juga ikut karena hanya dua yang tahu arah ke Padepokan Ular Siluman. Sementara itu, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg serta Naratama dan Sriati di tugaskan untuk pulang ke Seloageng secepatnya. Malam itu juga Panji Tejo Laksono dan ketiga wanita nya segera bergegas mengendarai kuda menuju ke arah Padepokan Ular Siluman di lereng Gunung Kawi tepatnya di wilayah Wanua Karang Gomeng.


Keesokan paginya..


Seorang lelaki sepuh berjenggot panjang yang di kepang berpakaian warna hijau tua sedang duduk bersila di lantai balai utama Padepokan Ular Siluman. Rambutnya yang memutih diikat dengan kulit ular sanca kembang. Mata lelaki tua itu terlihat sayu, sepertinya tengah bersedih hati. Di sampingnya seorang lelaki bertubuh gempal dengan tangan kiri buntung di balut kain putih dengan tatapan mata setajam tatapan mata seekor ular. Mereka adalah Mpu Sawer, sang pimpinan Padepokan Ular Siluman dan Ki Kesawasidi.


Di hadapan mereka, seorang lelaki sepuh dengan rambut memutih yang di biarkan begitu saja menutupi sebagian wajahnya dengan dandanan menyeramkan terlihat menatap ke arah mereka berdua. Dia adalah Ki Samparjagad, sang pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah. Ketiganya sedang berbincang-bincang saat seorang murid Padepokan Ular Siluman berlari masuk ke dalam balai utama. Murid itu adalah orang yang bertugas sebagai penjaga gerbang padepokan hari ini.


"Ada apa kau masuk kemari, murid ku?", tanya Mpu Sawer segera.


Sang murid segera menghormat pada Mpu Sawer dengan nafas memburu. Setelah berhasil menguasai dirinya, dia segera berkata,


"Mohon ampun bila saya mengganggu Guru. Di gerbang padepokan ada orang yang sedang membuat kekacauan.


Mereka berjumlah 4 orang".