Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Iblis Gunung Kawi


Semua orang hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Senopati Gardana. Maharesi Baratwaja yang datang pun dengan sedikit malu mendekati Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada sang pangeran muda.


"Maafkan keterlambatan saya, Nakmas Pangeran Adipati..


Seharusnya saya datang lebih awal kemari untuk membantu", ujar Maharesi Baratwaja sembari tersenyum malu-malu.


"Tidak apa-apa, Maharesi. Semuanya sudah terselesaikan dengan baik. Tapi aku minta Maharesi Baratwaja memasang pagar untuk tempat ini agar kedepannya tidak ada lagi kejadian semacam ini", Panji Tejo Laksono mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.


"Akan segera saya lakukan, Nakmas Pangeran Adipati. Besok pagi akan saya lakukan semua perintah mu", sang pimpinan Pertapaan Ranja segera menghormat pada Panji Tejo Laksono. Malam penuh kejutan di Wanua Ranja itu berakhir dengan baik.


Malam terus merangkak naik. Cahaya bulan yang mendekati purnama semakin tergelincir ke arah barat. Bintang gemintang yang ada di angkasa semakin menambah dinginnya malam di tempat itu.


"Kangmas Pangeran, malam ini siapa yang mendapat jatah waktu bersama mu? Seharusnya giliran Wulandari, tapi dia ada di Kota Seloageng jadi pasti bukan dia.


Kalau untuk Kirana, sebaiknya menunggu kau di nikahi Kangmas Pangeran terlebih dahulu", ujar Gayatri yang mengapit lengan kiri Panji Tejo Laksono setelah mereka hendak beristirahat malam itu. Mereka berempat berjalan bersama menuju ke arah ranjang tidur yang menjadi tempat peristirahatan Panji Tejo Laksono di Wanua Ranja.


"Sebaiknya Kangmbok Gayatri saja yang menemani tidur Kangmas Pangeran. Aku sedikit lelah jadi ingin tidur lebih awal. Ayo Kirana, kau sekamar dengan ku", Luh Jingga buru-buru menggandeng tangan Dyah Kirana dan menariknya ke arah kamar tidur yang disediakan oleh Mpu Anggada untuk mereka. Perempuan cantik berbaju putih itu hanya pasrah saja diajak oleh Luh Jingga. Keduanya segera menghilang di balik pintu kamar tidur mereka.


Melihat itu, Gayatri tersenyum penuh kemenangan.


"Sungguh saudari yang pengertian. Kangmas Pangeran, ayo kita cepat tidur. Malam ini aku akan membuat mu puas dengan pelayanan ku", Gayatri tersenyum genit ke arah Panji Tejo Laksono. Sang Penguasa Kadipaten Seloageng ini hanya bisa tersenyum kecil saja melihat ulah selir pertama nya. Keduanya segera masuk ke dalam kamar tidur.


Walaupun malam itu dingin udara di sekitar Kediaman Lurah Wanua Ranja cukup menusuk tulang, tapi tidak halnya dengan di dalam tempat tidur Panji Tejo Laksono. Kedua insan yang saling mencintai itu bergumul dengan penuh cinta dan nafsu yang menggelora. Erangan nikmat dan lenguhan panjang dengan nafas memburu terus terdengar hingga pagi menjelang tiba.


Suara keras kokok ayam jantan terdengar bersahutan sebagai tanda bahwa pagi hari telah tiba. Perlahan, langit timur menjadi terang setelah sang Surya perlahan mulai muncul di cakrawala. Suara burung kutilang dan perkutut mulai bersahutan seakan menyambut datangnya pagi yang indah.


Pagi hari itu juga, Panji Tejo Laksono bersama Luh Jingga, Gayatri dan Dyah Kirana bertolak meninggalkan Wanua Ranja bersama dengan para prajurit Kadipaten Seloageng. Pesan yang disampaikan oleh Tumenggung Kundana tentang adanya nawala dari Prabu Jayengrana membuatnya tidak sabar ingin segera pulang ke istana.


****


Nun jauh di timur tepatnya di wilayah Kadipaten Pasuruhan. Di sebuah rumah tua yang terlindung dari penglihatan semua orang. Rumah tua itu berdiri di balik rimbun pepohonan yang tumbuh subur dekat sebuah Padang rumput yang membentang luas di samping tapal batas Kota Kadipaten Pasuruhan. Sepertinya keberadaan rumah tua itu memang sengaja dibuat untuk tempat persembunyian atau juga tempat pertemuan rahasia.


Seorang wanita cantik yang sudah berumur terlihat berlari cepat kearah rumah tua itu. Ilmu meringankan tubuh nya yang tinggi membuat gerakan tubuh nya seperti terbang di atas jalanan. Dua orang berperawakan sedang dengan pakaian berwarna hitam namun mengenakan jubah panjang berwarna merah terlihat mengekor di belakang perempuan cantik itu.


Sesampainya di dekat rimbun pepohonan yang menghalangi pandangan mata orang yang lewat tempat itu, perempuan cantik berbaju hitam yang tak lain adalah Nyi Dadap Segara segera menghentikan langkahnya. Pun juga kedua orang yang mengikuti nya. Setelah memastikan bahwa tidak ada orang yang menguntit pergerakan mereka, ketiga orang itu segera menyelinap masuk ke dalam rimbun pepohonan.


Di balik rimbun pepohonan yang tumbuh subur itu, beberapa orang berpakaian serba hitam dengan mengenakan sebuah topeng separuh wajah yang memiliki gambar bulan sabit terbalik berwarna merah darah pada dahinya menatap ke arah mereka. Begitu mengenali siapa yang datang, mereka langsung membungkuk hormat kepada Nyi Dadap Segara dan kedua pengikutnya yang juga punya nama di kalangan dunia persilatan.


Dua orang itu adalah Sepasang Setan Kembar dari Gunung Welirang. Nama mereka di takuti oleh para pendekar baik dari golongan putih maupun hitam karena sering bertindak kejam membantai orang hanya karena merasa tidak senang dengan tingkah laku mereka. Malah, jika mereka sedang kehabisan uang setelah berjudi, mereka berdua sering merampok uang para pedagang yang kebetulan berpapasan dengan mereka. Sudah bisa dipastikan bahwa para pedagang yang bernasib naas itu akan menjadi korban keganasan Sepasang Setan Kembar dari Gunung Welirang.


Yang berkumis bernama asli Widarba, sedangkan adik kembarnya bernama Widarma. Keduanya dulunya adalah bocah-bocah kecil yang menjadi korban perang antara Panjalu dan Jenggala yang kemudian diasuh oleh seorang pendekar golongan hitam yang di takuti oleh para penduduk yang bermukim di sekitar lereng Gunung Welirang sisi Utara, Gandu atau yang lebih dikenal dengan sebutan Setan Pencabik Langit.


Setelah Setan Pencabik Langit meninggal dunia karena usia tua, dua orang murid kembarnya melanglang buana dengan kembali menebarkan ketakutan lewat Sabit Pencabik Langit milik guru mereka yang menjadi tanda bahwa mereka adalah murid si empunya senjata. Sepak terjangnya begitu terkenal ke seluruh wilayah Kadipaten Pasuruan hingga ke daerah Selatan. Karena itu, kedatangan dua orang ini membuat para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang ada di tempat itu tidak berani untuk macam-macam, apalagi sang pimpinan kelima, Nyi Dadap Segara juga datang ke tempat itu.


Nyi Dadap Segara bersama dengan Sepasang Setan Kembar dari Gunung Welirang segera masuk ke dalam rumah tua itu. Begitu sampai di dalam rumah, ketiganya bertemu dengan sesosok lelaki berjubah abu-abu panjang yang nyaris menyentuh tanah sedang duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati tua. Rambutnya yang panjang nyaris berubah menjadi putih karena banyaknya uban yang tumbuh itu, dibiarkan berjuntai begitu saja tanpa di ikat atau di gelung selayaknya dandanan orang pada masa itu. Wajahnya pun tak terlalu jelas terlihat karena rambut nya sebagian menutupi wajahnya yang berjanggut dan berkumis tebal namun sorot mata lelaki paruh baya itu begitu tajam bagai mata elang mengincar mangsa.


"Hormat ku, Ki Samparjagad..!!", ucap Nyi Dadap Segara seraya sedikit membungkukkan badan nya di hadapan lelaki paruh baya itu.


Hemmmmmmm...


"Ada apa kau kemari, Nyi Dadap Segara? Apa ada sesuatu yang kau takuti sehingga membawa dua anjing gila itu kemari?", ujar lelaki paruh baya berjubah abu-abu panjang itu dengan tenangnya.


"Kurang ajar !!


Shhrreeettthhh..!!


Ki Samparjagad hanya menyeringai kecil sebelum lenyap dari pandangan. Sabetan sabit Widarma langsung membabat kursi kayu jati tempat duduk Ki Samparjagad.


Brruuaaaakkkkkkkh!!


Kursi kayu jati tua itu langsung hancur berantakan setelah terkena sabetan sabit Widarma yang di lambari tenaga dalam tingkat tinggi. Widarma celingukan mencari keberadaan sosok Ki Samparjagad yang menghilang. Tiba-tiba saja...


"Awas Widarma, diatas mu...."


Widarma langsung menoleh ke arah atas kepala nya begitu mendengar teriakan keras Widarba saudara kembarnya. Namun dia terlambat untuk menghindar saat kaki Ki Samparjagad menghantam kepalanya hingga dia terjungkal ke lantai rumah tua itu. Secepat kilat, Ki Samparjagad segera menginjak kepala Widarma dan tangan kiri nya yang memegang Sabit Pencabik Langit.


Melihat saudara kembarnya di jatuhkan oleh Ki Samparjagad, Widarba segera cabut sabit di punggungnya. Saat dia hendak bergerak, Nyi Dadap Segara langsung menahannya.


"Hentikan sikap tolol kalian, Widarba dan Widarma.


Apa kalian berdua sudah bosan hidup dengan menantang Iblis Gunung Kawi ha?", bentak Nyi Dadap Segara seraya melotot ke arah Sepasang Setan Kembar dari Gunung Welirang. Mendengar gelar itu disebut, Widarba dan Widarma nampak terkejut bukan main. Iblis Gunung Kawi adalah momok menakutkan bagi kaum pendekar baik hitam maupun putih di wilayah Kerajaan Jenggala. Jangankan Sepasang Setan Kembar, guru mereka saja, Si Setan Pencabik Langit saja belum tentu bisa menang jika berhadapan dengan pemilik gelar itu.


Widarba segera menyarungkan kembali sabitnya ke punggung. Tanpa ragu-ragu, dia segera membungkukkan badannya pada Ki Samparjagad yang masih berdiri di atas tubuh adik kembarnya.


"Maafkan kami, Iblis Gunung Kawi..


Kami yang punya pengetahuan sedangkal kolam benar-benar tidak tahu jika sedang berhadapan dengan seorang pendekar besar. Tolong maafkan kami", ujar Widarba segera.


"Eh eh hehehehe...


Bocah bocah kemarin sore seperti kalian ingin unjuk kebolehan di depan ku? Masih terlalu cepat 5 dasawarsa bagi kalian. Kali ini karena aku memandang Nyi Dadap Segara, aku lepaskan kalian tapi jika kedepannya kalian berdua berani mengganggu ku, akan ku buat kalian menderita sebelum mati", usai berkata dengan suara berat nya, Ki Samparjagad kembali menghilang dari pandangan mata semua orang. Widarma yang lepas dari injakan kaki Ki Samparjagad segera berdiri dari tempat jatuhnya dan bergegas mendekati kakak kembarnya. Nyalinya ciut setelah mendengar nama besar Iblis Gunung Kawi.


Sekejap kemudian, Ki Samparjagad muncul kembali dan berdiri di hadapan mereka bertiga. Nyi Dadap Segara segera menghormat pada nya.


"Sekali lagi maafkan sikap kurang ajar mereka, Ki Samparjagad. Aku menyewa mereka berdua sebagai pengawal pribadi ku karena dua orang yang kau berikan padaku sebagai pengawal pribadi telah dibunuh oleh seseorang", ucap Nyi Dadap Segara segera.


"Keparat!!


Siapa yang berani membunuh murid murid ku, Nyi Dadap Segara? Cepat katakan pada ku", Ki Samparjagad menatap tajam ke arah Nyi Dadap Segara. Wugu dan Kenca memang murid kesayangannya.


"Dia adalah Panji Tejo Laksono, penguasa baru Kadipaten Seloageng yang juga merupakan putra sulung Prabu Jayengrana dari Kadiri", jawab Nyi Dadap Segara cepat.


"Bocah tengik itu lagi..


Seperti nya dia memang akan menjadi penghalang bagi rencana pimpinan utama kita untuk menyatukan kembali Kahuripan. Aku sudah mendengar dari nawala yang di kirim oleh para pengkhianat Panjalu mengenai rencana Prabu Jayengrana untuk menetapkan siapa Yuwaraja Panjalu selanjutnya dan bocah itu yang paling berpeluang untuk maju.


Aku akan mengirim surat meminta pada Maharaja Sri Samarotsaha untuk lebih dulu menaklukkan Seloageng sebelum menyerbu ke Daha", ujar Ki Samparjagad segera.


"Kami mengerti, pimpinan ketiga", balas Nyi Dadap Segara cepat.


Sembari mengelus jenggotnya, Ki Samparjagad menatap ke arah langit selatan sembari berkata,


"Besok pagi kita berangkat ke Seloageng!!"