
Mendengar perkataan perempuan cantik berbaju putih yang berjuluk Bidadari Angin Selatan itu, Sepasang Hantu Merah dari Bukit Trenggulun langsung berpandangan sejenak. Dua tokoh besar dedengkot golongan hitam itu sedari tadi di situ tidak merasakan hawa keberadaan seseorang di sekitar tempat itu namun perempuan cantik bercadar putih itu langsung tahu begitu saja. Ini di luar perkiraan mereka.
Karena sudah ketahuan, Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah tiga orang pendekar berilmu tinggi itu. Gerakannya yang seringan kapas membuat Sepasang Hantu Merah dari Bukit Trenggulun sedikit terkesiap juga.
"Kakang, kenapa gerakan tubuh ini seringan itu?
Sepertinya ilmu meringankan tubuh nya melebihi kemampuan Ajian Awan Langit milik kita. Padahal waktu melawan Danapati putra kita, gerakannya masih biasa-biasa saja", bisik Dewi Gomati pada Ki Galajapu suaminya. Ki Galajapu segera mengangguk.
"Betul juga ucapan mu, Nini Dewi..
Sepertinya kemampuan bedebah itu meningkat cepat dalam sepekan terakhir ini. Kita harus hati-hati jika menghadapi nya", balas Ki Galajapu sembari menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
Dewi Galajapu dan Ki Galajapu memang orang tua kandung dari Danapati yang di rawat oleh Resi Danarasa sejak masih kecil.
Waktu itu, Ki Galajapu menukar anaknya yang sepantaran dengan anak Resi Danarasa sewaktu mereka di kejar para prajurit Kadipaten Mataram karena mereka adalah buronan Adipati Mataram yang geram dengan tindakan mereka membantai saudara kandung sang Adipati. Mereka terpaksa harus kabur dari sarang mereka setelah ratusan prajurit Mataram mengepung tempat mereka. Walaupun akhirnya bisa meloloskan diri namun mereka terus di kejar kejar oleh para prajurit Kadipaten Mataram hingga sampai di dekat Padepokan Teratai Segara.
Kemampuan beladiri Dewi Gomati memang menurun karena baru saja melahirkan. Hingga terpaksa Ki Galajapu menukar anaknya dengan bayi milik Resi Danarasa. Sedangkan putra kandung Resi Danarasa sendiri tanpa perasaan berdosa mereka lemparkan ke jurang di kaki Gunung Mandrageni untuk membuang jejak.
Meski pun Danapati sudah aman dalam perawatan Resi Danarasa, namun Ki Galajapu dan Dewi Gomati masih sering melihat putra mereka tumbuh besar dari kejauhan. Mereka yang merasa kehidupan mereka tidak layak untuk membesarkan seorang anak memilih membiarkan Danapati tumbuh besar di Padepokan Teratai Segara.
Saat Danapati meninggalkan Padepokan Teratai Segara bersama Resi Danarasa dan Rara Santi, Ki Galajapu dan Dewi Gomati terus mengekor langkah mereka dari jarak agak jauh. Mereka yang sempat mendengar bahwa Danapati ingin mempersunting Putri Adipati Aghnibrata tentu saja tidak akan berdiam diri saja apalagi setelah mendengar adanya pertandingan yang digelar oleh Adipati Aghnibrata untuk memperebutkan Ayu Ratna.
Setelah Danapati di kalahkan oleh Panji Tejo Laksono, Ki Galajapu hampir saja melompat ke arena pertandingan andai saja Dewi Gomati tidak mencegahnya. Mereka segera mundur dari tempat itu sembari terus mengawasi setiap pergerakan di istana Kalingga untuk mencari kesempatan agar bisa menghajar orang yang telah membuat putra mereka luka parah.
Menurut perhitungan mereka, malam itu adalah kesempatan yang baik bagi mereka untuk membalas dendam kekalahan Danapati pada Panji Tejo Laksono, namun tak di sangka munculnya Bidadari Angin Selatan mengacaukan segalanya.
Di sekitar perbatasan wilayah Paguhan dan Mataram, muncul seorang pendekar wanita bercadar putih yang dengan cepat namanya terkenal di seantero dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah barat. Kemampuan beladiri nya sangat tinggi, bahkan dua tokoh besar golongan hitam dunia persilatan pun harus tunduk pada kemampuan beladiri nya. Walaupun masih dua tahun terakhir muncul, namun sepak terjangnya begitu segani oleh para pendekar baik dari golongan hitam maupun dari golongan putih.
Darimana datangnya dia juga siapa guru nya masih menjadi tanda tanya besar di kalangan para pendekar karena dia begitu misterius. Wajahnya yang cantik dan kedatangan nya selalu di barengi dengan berhembusnya angin dingin hingga masyarakat menyebutnya sebagai Bidadari Angin Selatan. Sedangkan nama aslinya dan dari mana dia berasal tetap menjadi rahasia hingga hari ini.
Panji Tejo Laksono langsung mendarat di samping Bidadari Angin Selatan.
"Maaf bukannya aku ingin ikut campur, Nisanak. Tapi aku hanya akan bergerak jika mereka berani memasuki Istana Kadipaten Kalingga ini", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Mereka sudah membunuh para prajurit Kalingga, apa kau akan diam saja?", tanya Bidadari Angin Selatan ini sembari melirik ke arah Sepasang Hantu Merah dari Bukit Trenggulun.
Belum sempat Panji Tejo Laksono menjawab, Ki Galajapu alias Hantu Merah Lanang memotong pembicaraan antara mereka.
"Bidadari Angin Selatan,
Sebaiknya kau tidak perlu ikut campur urusan ku. Pergilah sebelum aku berubah pikiran", hardik Ki Galajapu sembari mendelik ke arah perempuan cantik bercadar putih itu.
"Sudah ku bilang kalau kalian masih juga menebar ancaman bagi siapapun orangnya, aku tidak akan tinggal diam saja.
Sebaiknya kalian segera pulang ke sarang kalian. Jika tidak, aku tidak akan sungkan lagi pada orang tua seperti kalian", ucap Bidadari Angin Selatan dengan tenang.
"Sepertinya kau memang berniat mencoba kemampuan ku. Baik, aku juga ingin mencoba sejauh mana kemampuan beladiri mu yang tersohor itu", sambut Ki Galajapu sembari bersiap untuk menyerang.
"Kakang, perempuan ini bagian ku. Mundurlah!".
Dewi Gomati langsung menerjang maju ke arah Bidadari Angin Selatan sembari melecutkan cambuknya ke arah gadis cantik bercadar putih itu setelah berkata demikian.
Clllaaasssshhhh !
Cambuk berujung besi tajam itu dengan cepat melecut ke arah Bidadari Angin Selatan dan Panji Tejo Laksono. Keduanya sama-sama melompat ke arah yang berlawanan untuk menghindari serangan itu.
Blllaaaaaarrr !
Arca Dwarapala yang di tempatkan pada sisi pintu gerbang samping istana Kadipaten Kalingga itu langsung meledak dan hancur berkeping keping setelah ujung besi cambuk Dewi Gomati menghantamnya. Rupanya ujung cabang besi itu di lambari tenaga dalam tingkat tinggi yang di salurkan Dewi Gomati melalui kulit lembu yang menjadi batang cambuk.
Melihat incaran nya lolos dari maut, Dewi Gomati langsung menyentak cambuk nya. Ujung besi tajam pada ujung cambuk langsung berbelok arah dan mengejar ke arah Bidadari Angin Selatan seperti memiliki nyawa sendiri.
Kali ini, Bidadari Angin Selatan tidak berupaya untuk menghindar. Perempuan cantik bercadar putih itu langsung membabatkan pedang nya yang berwarna putih keperakan ke arah ujung cambuk Dewi Gomati.
Thrrraaannnnggggg !
Jllleeeeeppppphhh !
Kuatnya tebasan pedang perak Bidadari Angin Selatan membuat ujung cambuk Dewi Gomati menancap ke tanah sedalam setengah betis kaki orang dewasa. Secepat mungkin, Bidadari Angin Selatan menggunakan cambuk Dewi Gomati untuk berlari cepat di atasnya. Begitu bisa mendekat, Bidadari Angin Selatan langsung membabatkan pedang perak nya ke leher Dewi Gomati.
Shreeeeettttthhh !
Dengan cepat, Dewi Gomati langsung menggunakan gagang cambuk nya untuk menangkis sabetan pedang perak Bidadari Angin Selatan.
Thrrriiinnnggggg !
Gagang cambuk Dewi Gomati rupanya terbuat dari besi. Setelah berhasil menangkis, Dewi Gomati dengan cepat memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah punggung Bidadari Angin Selatan.
Angin dingin berdesir kencang kearah punggung Bidadari Angin Selatan. Perempuan cantik bercadar putih itu segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara dan mundur sejauh 2 tombak ke belakang. Dewi Gomati memanfaatkan kesempatan itu untuk mencabut ujung besi cambuk nya yang menancap di tanah.
Ki Galajapu dan Panji Tejo Laksono sama sama tak bergerak karena masing-masing mengamankan situasi pertarungan yang terjadi. Keduanya tidak mau gegabah dalam bertindak. Sedangkan prajurit penjaga gerbang istana yang lolos dari maut diam diam beringsut mundur dari tempat itu lalu segera meninggalkan tempat itu untuk melapor pada Senopati Ranggabuana.
Pertarungan sengit antara Bidadari Angin Selatan dan Dewi Gomati berlangsung cepat. Keunggulan Bidadari Angin Selatan mulai terlihat jelas saat dia berhasil mendaratkan dua pukulan keras beruntun kearah perut dan dada Dewi Gomati. Perempuan paruh baya berbaju merah kehitaman yang berjuluk Hantu Merah Wadon itu terhuyung huyung mundur sambil memegangi dadanya. Dia segera menatap tajam ke arah Bidadari Angin Selatan sembari mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
"Bangsat!
Aku ku buat kau menyesali keberanian mu!", maki Dewi Gomati yang segera mempersiapkan kuda-kuda ilmu kanuragan nya.
Dewi Gomati langsung memegang cambuk dengan kedua tangan sambil mulutnya berkomat-kamit membaca mantra. Perlahan cambuk di tangan kanannya di liputi oleh sinar merah kebiruan yang berhawa panas. Perempuan paruh baya itu segera menggeram keras sembari melompat tinggi ke udara dan melecutkan cambuknya ke arah Bidadari Angin Selatan.
Whuuthhh !
Bidadari Angin Selatan tidak tinggal diam. Perempuan cantik berbaju putih berhias permata hijau dan biru itu segera menyalurkan tenaga dalam nya pada pedang perak nya. Secepat kilat dia membabatkan pedang nya yang berwarna putih keperakan menyilaukan mata pada cambuk Dewi Gomati.
Blllaaammmmmmmm !
Ki Galajapu langsung melesat cepat kearah tubuh istrinya yang terlempar ke belakang itu. Dia menyambar tubuh Dewi Gomati beberapa saat sebelum tubuh perempuan paruh baya berbaju merah hitam itu menyentuh tanah.
Setelah berhasil mendudukkan tubuh Dewi Gomati, Ki Galajapu langsung melesat cepat kearah Bidadari Angin Selatan yang terseret mundur beberapa langkah ke belakang.
Tangan pria paruh baya bertubuh gempal itu telah berwarna biru kehitaman yang berhawa panas pertanda bahwa dia sudah merapal Ajian Cakar Hantu nya.
Kurang dari setombak jarak yang tersisa, Panji Tejo Laksono muncul di depan Ki Galajapu dengan tubuh yang telah berwarna kuning keemasan. Ki Galajapu menyeringai lebar meski sempat terkejut.
"Modar kowe, pangeran keparat! Kematian mu akan jadi pengobat luka dalam putra ku...
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat....!!!"
Blllaaammmmmmmm !
Ledakan dahsyat terdengar hingga ke seluruh istana. Di tempatnya berada, Senopati Ranggabuana yang sedang duduk bersama para prajurit yang meronda malam hari itu langsung berdiri.
"Ada yang tidak beres!
Ayo kita kesana sekarang juga!", perintah Senopati Ranggabuana pada para prajurit di sampingnya. Begitu mereka sampai di luar, seorang prajurit yang sedang terluka berlari ke arah nya.
"Ampun Gusti Senopati,
Ada sepasang pendekar berbaju merah mengacau di pintu gerbang barat istana. Gus-Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dan seorang pendekar bercadar putih sedang menghadapi mereka", lapor si prajurit penjaga gerbang istana itu sembari membekap bahunya yang berdarah.
"Gawat ini..
Kau dan kau, cepat minta kepada bekel prajurit untuk mengumpulkan para prajurit penjaga istana untuk mengepung tempat itu. Sisanya ikut aku ke sana. Ayo...!!", setelah berkata seperti itu, Senopati Ranggabuana berlari cepat kearah pintu gerbang barat istana.
Sementara itu, para pengikut Panji Tejo Laksono dari dalam langsung membuka pintu gerbang istana. Begitu melihat junjungan mereka bertarung melawan musuh, Tumenggung Ludaka segera mencabut pedang pendek nya, Demung Gumbreg memutar-mutar pentung sakti nya, Luh Jingga memegang gagang pedang yang ada di pinggang sedangkan Gayatri perlahan merogoh sepasang pisau belati yang tersembunyi di balik bajunya. Mereka semua sudah siap untuk bertarung.
Ki Galajapu tersenyum lebar sembari menatap ke asap tebal yang menutupi seluruh tempat dimana Panji Tejo Laksono berdiri. Sementara Bidadari Angin Selatan yang berada di belakang Panji Tejo Laksono juga terperanjat melihat asap tebal yang menutupi seluruh tubuh sang pangeran.
"Mampus kowe, bocah tengik! Siapa suruh berani menantang Ajian Cakar Hantu ku huahahahahahaha...!!", gelak tawa keras keluar dari mulut Ki Galajapu.
Semilir angin berhembus membuat asap tebal yang menutupi seluruh tempat itu perlahan menghilang. Saat itu sosok Panji Tejo Laksono muncul dari balik asap tebal. Ki Galajapu terkejut bukan main ketika melihat Panji Tejo Laksono tersenyum tipis sembari menatap tajam ke arah nya.
"K-kau bagaimana bisa? Kau sudah terkena Ajian Cakar Hantu ku, bagaimanapun mungkin kau masih hidup?"
"Ajian mu memang hebat, pak tua.. Tapi kau harus ingat bahwa diatas langit masih ada langit yang lebih tinggi", Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti.
Sedangkan Bidadari Angin Selatan yang berada di belakang Panji Tejo Laksono, menatap sang pangeran muda dengan penuh kekaguman.
'Pemuda ini tidak bisa di anggap enteng. Dia mampu menahan ajian kedigdayaan tinggi dari dedengkot dunia persilatan ini tanpa terluka..
Siapa dia sebenarnya?', batin Bidadari Angin Selatan.
"Aku tidak percaya kau mampu menahan ilmu kesaktian ku semudah itu. Aku tidak percaya!", Ki Galajapu langsung mengayunkan tangan kanan dan kiri nya kearah Panji Tejo Laksono.
Shrraaaakkkkhhhh ! shrraaaakkkkhhhh !
Sepuluh larik sinar biru kehitaman bergulung gulung cepat kearah Panji Tejo Laksono diikuti oleh hawa panas yang sanggup membakar apa saja menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono.
"Pendekar muda,
Menghindarlah! Jangan menghadapi Ajian Cakar Hantu secara langsung!"
Teriakan keras Bidadari Angin Selatan yang mengkhawatirkan keselamatan Panji Tejo Laksono terdengar keras. Namun Panji Tejo Laksono sama sekali tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya berdiri.
Blllaaammmmmmmm !
Blllaaammmmmmmm !
Dua ledakan dahsyat beruntun terdengar dari benturan Ajian Cakar Hantu yang di lepaskan oleh Ki Galajapu. Asap tebal kembali menutupi sekitar tempat itu. Dari tengah asap tebal yang mengepul, Panji Tejo Laksono berjalan keluar layaknya seorang dewa kematian yang menakutkan.
Ki Galajapu tersentak untuk kali kedua. Nyali dedengkot golongan hitam itu mulai ciut melihat lawannya sama sekali tidak terluka setelah menerima tiga kali ajian andalan nya.
"Kakang Galajapu,
Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Pemuda ini bukan pendekar sembarangan", ucap Dewi Gomati yang berdiri di belakang Ki Galajapu sembari terus membekap dadanya yang terasa sesak.
"Tidak Nini Dewi,
Luka yang di terima oleh putra ku harus dia bayar lunas hari ini juga. Kau tidak perlu ikut campur ", ucap Ki Galajapu sembari menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada. Dia berniat untuk mengadu nyawa dengan Panji Tejo Laksono. Perlahan seluruh tubuh nya diliputi oleh sinar merah kehitaman. Perubahan ini memicu tubuhnya menjadi berwarna merah menyala. Selain itu, dari kepalanya muncul dua tanduk berikut sepasang taring yang mencuat keluar dari mulutnya. Wujud nya berubah menakutkan laksana setan dari neraka. Ini adalah ilmu pamungkas Ki Galajapu yang membuatnya di juluki sebagai Hantu Merah, Ajian Dedemit Neraka..
.
Hawa panas segera menyelimuti seluruh tempat itu. Dewi Gomati pun harus mundur beberapa langkah ke belakang karena panas nya udara yang menutupi sekitar tubuh Ki Galajapu.
Panji Tejo Laksono pun tak tinggal diam. Segera dia merapal Ajian Tapak Dewa Api nya. Kedua tangan nya langsung di liputi oleh sinar merah menyala seperti api yang membara.
Secepat kilat Panji Tejo Laksono langsung melompat tinggi ke udara dan meluncur turun cepat kearah Ki Galajapu yang tubuhnya mengeluarkan hawa panas menyengat.
"Ajian Tapak Dewa Api..
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt..!! "
Blllaaammmmmmmm !
Ledakan keras terdengar saat Ajian Tapak Dewa Api menghantam dada Ki Galajapu. Panji Tejo Laksono pun harus terlempar ke belakang hampir dua tombak jauhnya. Sang pangeran muda segera bersalto dua kali dan mendarat dengan dengkul kanan menyentuh tanah. Sedangkan Ki Galajapu, meskipun sempat muntah darah, hanya terdorong mundur beberapa langkah ke belakang. Ajian Dedemit Neraka benar benar meningkatkan kemampuan beladiri nya menjadi 2 kali lipat.
Sembari tersenyum lebar, Ki Galajapu menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono seakan menghina kemampuan beladiri sang pangeran muda.
"Apa hanya segitu saja kemampuan mu?"