Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pasukan Gajah


Tewasnya pimpinan Pasukan Jenggala di tangan para perwira tinggi prajurit Panjalu seketika membuat mental bertarung para prajurit Jenggala yang masih hidup hancur berantakan.


Beberapa Bekel prajurit memilih untuk kabur dari medan pertempuran begitu mengetahui Senopati Ganggengsegara dan Senopati Badraseta terbunuh. Mereka kabur membawa ratusan anak buah nya ke arah timur, Utara dan Selatan.


Yang terluka hanya diam saja, pasrah menerima nasib yang akan di jatuhkan oleh para prajurit Panjalu. Yang masih sehat, memilih untuk meletakkan senjata mereka karena mereka tahu bahwa melawan para prajurit Panjalu sekarang itu seperti ingin memecahkan batu menggunakan telur.


Semua orang prajurit Jenggala yang tersisa, berlutut di tanah dengan tangan memegang kepala sebagai tanda penyerahan diri tanpa syarat kepada para prajurit Panjalu. Setelah di hitung, ada 5 ribu orang lebih prajurit Jenggala yang menyerah. Sekitar 1000 orang diantaranya menderita luka ringan dan sedang. Sedangkan yang luka parah setidaknya ada sekitar 200 orang.


"Mohon ampun Gusti Pangeran Adipati..


Bagaimana tindakan kita selanjutnya untuk para prajurit Jenggala ini?", tanya Senopati Muda Jarasanda sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono yang masih berdiri di depan para prajurit Jenggala yang berlutut. Para prajurit Jenggala diam seribu bahasa, menunggu setiap kata yang terucap dari mulut Panji Tejo Laksono yang menentukan nasib mereka selanjutnya.


Hemmmmmmm...


"Bawa mereka semua ke benteng pertahanan kita. Jadikan mereka sebagai tahanan. Nasib mereka selanjutnya tergantung pada keputusan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana di Daha.


Tapi ingat, dilarang untuk menyakiti atau menyiksa para prajurit Jenggala yang sudah menyerah. Bagaimanapun kita masih sebangsa dengan mereka", ujar Panji Tejo Laksono segera.


Mendengar jawaban Panji Tejo Laksono, para prajurit Jenggala yang menyerah langsung menarik nafas lega. Setidaknya Panji Tejo Laksono masih memberikan kesempatan hidup untuk mereka meskipun sebagai tahanan.


Sorak sorai terdengar dari mulut para prajurit Panjalu menyambut kemenangan yang mereka raih. Sepanjang siang hari itu, mereka terus mengelu-elukan Panji Tejo Laksono yang baru berusia muda namun mampu memimpin pasukan Panjalu dengan penuh kecakapan hingga bisa membawa mereka menuju kemenangan.


"Hidup Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono!


Hidup Panjalu..."


Dyah Kirana tersenyum lebar ketika mendengar pujian dari para prajurit Panjalu untuk calon suaminya. Namun mata indah perempuan cantik berbaju putih itu segera terpaku pada sosok berpakaian serba putih layaknya seorang pertapa yang sedang berdiri di atas pucuk pepohonan yang rindang di timur bantaran Kali Aksa.


"Ka-kanjeng Romo.....", gumam Dyah Kirana lirih, namun masih terdengar di telinga Luh Jingga.


"Romo mu, Kirana? Ada dimana?", tanya Luh Jingga segera. Dyah Kirana tak menjawab pertanyaan itu, hanya saja ia menunjuk ke arah sebuah pohon randu alas besar yang tinggi menjulang ke langit di seberang sungai yang cukup jauh dari tempat mereka berada. Mata Luh Jingga segera menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Dyah Kirana dan dia juga melihat sosok lelaki bertubuh kekar itu sedang berdiri menatap ke arah mereka.


Tanpa menunggu lama lagi, Luh Jingga segera mendekati Panji Tejo Laksono dan berbisik di telinga sang pangeran. Mendengar bisikan Luh Jingga, Panji Tejo Laksono langsung memandang ke arah yang disebutkan oleh selir kedua nya ini.


Segera Panji Tejo Laksono melesat cepat kearah pohon randu alas besar itu. Gerakan tubuhnya yang ringan seperti kapas membuatnya hanya butuh 3 tarikan napas untuk sampai di tempat yang diinginkan nya. Ketika sampai di hadapan sang lelaki tua berjanggut putih itu, Panji Tejo Laksono segera membungkuk hormat kepada nya. Ini adalah adat istiadat yang berlaku di Tanah Jawadwipa, dimana para ksatria selalu menghormati para resi, pertapa dan pemuka agama sesuai dengan alur kasta.


"Salam hormat saya, Resi..


Kalau boleh saya tahu, siapakah Resi ini? Dan ada kepentingan apa hingga sampai di tempat ini?", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.


"Hehehehe, terimakasih atas sikap hormat mu, Pangeran Panjalu..


Namaku Resi Ranukumbolo, pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru. Aku kemari ingin mencari keberadaan putri ku yang di bawa oleh ayah ku Kanjeng Romo Maharesi Padmanaba. Setelah aku bertanya kesana kemari, akhirnya aku bisa juga melihat putri ku dalam keadaan sehat dan bahagia. Itu sudah cukup untuk melegakan hati ku", ujar lelaki tua berbaju pertapa itu sambil tersenyum penuh arti.


"Jadi Resi ini adalah ayah dari Dyah Kirana? Kalau begitu, maafkan atas ketidaksopanan saya yang tidak menyambut kedatangan Resi dengan baik", lanjut Panji Tejo Laksono.


"Sudahlah, Pangeran Panjalu..


Aku kemari bukan untuk menerima sopan santun mu. Melihat putri ku bahagia, itu sudah cukup membuat ku senang. Aku lihat kau menguasai Ajian Kitiran Sewu. Itu berarti Kanjeng Romo Maharesi Padmanaba sudah mempercayai mu.


Aku titip putri ku. Jagalah hati nya seperti aku menyayangi nya. Jika nanti ada waktu setelah perang ini, datanglah ke Pertapaan Gunung Mahameru. Pintu kami selalu terbuka untuk mu.


Oh iya, aku pinjamkan Pedang Bulan Sunyi ini untuk pegangan selama perang ini kepada Kirana", Resi Ranukumbolo mengulurkan sebuah pedang bersarung putih keperakan dengan gagang pedang berwarna hitam berukir sulur perak yang indah pada Panji Tejo Laksono. Segera Panji Tejo Laksono menerima nya dengan kedua tangannya.


"Aku benci perpisahan, Pangeran Panjalu. Maka lebih baik sampaikan salam ku untuk putri ku. Selamat tinggal!"


Cliinngggg!!


Usai berkata demikian, Resi Ranukumbolo segera menghilang dari pandangan mata Panji Tejo Laksono bersamaan dengan semilir angin yang berhembus perlahan. Panji Tejo Laksono menghela nafas panjang sebelum akhirnya kembali melesat cepat kearah Luh Jingga dan Dyah Kirana.


Segera Panji Tejo Laksono mengulurkan Pedang Dewi Bulan kepada Dyah Kirana sambil tersenyum simpul.


"Ini titipan dari ayah mu, Kirana. Setelah perang ini berakhir, aku akan mengantar mu ke Pertapaan Gunung Mahameru untuk meminta restu nya".


Mendengar ucapan itu, Dyah Kirana segera memeluk tubuh Panji Tejo Laksono tanpa peduli dengan Luh Jingga yang ada disisi nya. Mata perempuan cantik berbaju putih langsung berkaca-kaca tanpa keluar sepatah katapun dari mulutnya. Luh Jingga pun hanya tersenyum saja melihat ulah Dyah Kirana. Dia maklum saja dengan perasaan Dyah Kirana sebagai sesama perempuan.


Siang itu juga, pasukan Panjalu yang menang perang langsung di perintahkan untuk mengubur mayat mayat para prajurit Panjalu yang gugur. Diantara mereka yang gugur, ada beberapa perwira tinggi prajurit Panjalu seperti Tumenggung Manahil dari Gelang-gelang dan Tumenggung Gilingwesi dari Kadipaten Singhapura yang terbunuh oleh Senopati Ganggengsegara.


****


Sementara itu di wilayah Utara, tepatnya di timur wilayah Wanua Sungging Kadipaten Bojonegoro, di saat yang hampir bersamaan, ribuan orang prajurit Panjalu juga mengadu nyawa dengan para prajurit Jenggala. Sang pimpinan utama pasukan Panjalu, Senopati Agung Narapraja memimpin langsung pasukan besar ini.


Sekurang-kurangnya ada 60 ribu orang prajurit Panjalu yang berada di bawah pimpinannya. Di bantu oleh Tumenggung Landung, Senopati Sindanglawe dari Lasem, Tumenggung Purubaya dari Muria, Tumenggung Banar dari Anjuk Ladang dan Tumenggung Lamuri dari Muria, Senopati Agung Narapraja memimpin pasukan Panjalu dengan gagah berani.


Taktik perang Wyuha Garuda Nglayang yang dia gunakan mampu menahan gempuran pasukan Jenggala yang menggunakan Wyuha Vajra. Namun lawan tandingnya, Senopati Sukmageni yang mengendarai gajah ternyata juga jago merubah gerakan para prajurit Jenggala.


Tangan Senopati Sukmageni segera mengibas sebagai isyarat kepada para penabuh bende perang untuk memukul gong kecil di tangan mereka.


Dhhiieeeennnggggg!!!


Para perwira tinggi prajurit Jenggala yang mendengar isyarat yang terdengar dari bende perang pun segera memimpin pasukan nya yang terbagi menjadi dua bagian berlapis-lapis segera mengerucut menjadi 3 bagian. Mereka begitu terlatih dalam merubah taktik perang.


"Trisula?


Gusti Senopati, sepertinya mereka merubah wyuha yang mereka gunakan. Bagaimana ini?", Tumenggung Purubaya dari Muria sedikit terkejut melihat perubahan serangan lawan.


Hemmmmmmm...


"Perintahkan kedua sayap Garuda Nglayang untuk menutupi kepala wyuha. Cepat!!", perintah Senopati Agung Narapraja.


Terompet tanduk kerbau segera terdengar. Dua pimpinan sayap wyuha segera memerintahkan kepada para prajurit di bawah pimpinan nya untuk bergerak menutup. Namun mereka kalah cepat dengan gerakan pasukan Jenggala.


Di ujung Wyuha Trisula tengah, Senopati Sukmageni merangsek maju dengan pasukan gajah nya. Ini langsung membuat pasukan Panjalu kocar-kacir. Puluhan orang prajurit Panjalu tewas terinjak-injak oleh gajah yang memang terlatih untuk berperang.


Pemimpin pasukan Panjalu yang menjadi kepala gelar perang Wyuha Garuda Nglayang, Senopati Sindanglawe dari Lasem geram melihat anak buah nya tak berdaya menghadapi para pasukan gajah. Meski para prajurit Panjalu berupaya untuk menjatuhkan gajah gajah itu, namun para gajah yang tubuhnya terlindungi oleh zirah perang tak bisa di tembus oleh senjata mereka.


Para prajurit Panjalu di sisi semakin terdesak oleh pasukan gajah di bawah pimpinan Senopati Sukmageni.


Senopati Sindanglawe langsung memacu kuda nya ke arah salah satu gajah yang dinaiki oleh salah satu perwira prajurit Jenggala. Dengan bersenjatakan tombak, Senopati Sindanglawe langsung melesat cepat kearah sang perwira Jenggala berpangkat Bekel ini. Dengan sekuat tenaga, dia melemparkan tombak ke arah lawan.


Shhhrriinggg !!


Jllleeeeeppppphhh!!


Oouuugghhhhhh!!


Sang bekel langsung tewas setelah tombak dari Senopati Sindanglawe menembus perut hingga ke pinggang. Melihat itu, Senopati Sukmageni yang mengendarai gajah tak jauh dari tempat terbunuhnya salah satu anak buah nya segera memerintahkan kepada pawang gajah yang mengendalikan hewan besar itu untuk menyerang ke arah Senopati Sindanglawe.


Ngggaaaaaaarrrrrrrrr!!!


Suara gajah melengking tinggi bersamaan dengan sapuan gading nya yang tajam ke arah Senopati Sindanglawe. Perwira Panjalu asal Lasem ini langsung berguling ke tanah menghindari bahaya yang mengancamnya.


Sang gajah di bawah kendali sang pawang terus memburu nya dan bermaksud untuk menginjak nya. Senopati Sindanglawe berguling di tanah untuk menghindari injakan kaki gajah. Begitu berdiri, Senopati Sindanglawe langsung mencabut pedangnya dan melompat ke atas setelah menginjak ujung gading gajah sebagai tumpuan. Tujuannya agar dia bisa membunuh pawang gajah nya Segera ia mengangkat pedangnya tinggi tinggi ke atas kepala dan menebaskan pedangnya ke arah sang pawang, namun Senopati Sukmageni yang ikut serta di belakang sang pawang langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna kuning kemerahan ke arah Senopati Sindanglawe.


Whhuuuuuuuggggh!!


Blllaaaaaarrr thraakkkk!!!


Pedang Senopati Sindanglawe langsung patah setelah berbenturan dengan sinar kuning kemerahan dari Senopati Sukmageni. Tubuh kekar perwira tinggi prajurit Panjalu itu langsung terpental jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras.


Hhoooeeeeggggghhh!


Senopati Sindanglawe langsung muntah darah segar dan sebisa mungkin mencoba untuk bangkit dari tempat jatuhnya. Saat itu juga , Senopati Sukmageni langsung melesat cepat dari atas gajah tunggangannya sembari mengayunkan tangannya ke arah Senopati Sindanglawe yang baru saja berdiri.


Kecepatan tinggi sang pemimpin pasukan Jenggala membuat Senopati Sindanglawe terkejut. Dia hanya bisa bertahan dengan menyilangkan kedua tangan nya saat hantaman tangan kanan Senopati Sukmageni yang berwarna kuning kemerahan menghantam kedua tangan nya.


Blllaaammmmmmmm !!!


Kuatnya tenaga dalam ajian pamungkas itu mampu menjebol pertahanan sang perwira Panjalu. Dia memang kalah dari segi kekuatan maupun ilmu kedigdayaan. Tubuh Senopati Sindanglawe kembali terpelanting jauh ke belakang dan menghantam sebuah kereta perang yang ada di sana.


Brruuaaaakkkkkkkh !!


Saking kerasnya hantaman tubuh Senopati Sindanglawe, kereta perang ini seketika hancur berantakan. Sang perwira tinggi prajurit Panjalu ini tewas dengan dada gosong seperti terbakar api.


Kematian Senopati Sindanglawe langsung membuat murka para prajurit Panjalu yang berasal dari Kadipaten Lasem. Empat orang prajurit bersenjatakan tombak langsung mengurung Senopati Sukmageni. Keempatnya segera menusukkan tombak mereka ke arah sang pimpinan prajurit Jenggala.


Namun mereka hanya menyerang tanah kosong karena sang pemimpin pasukan Jenggala langsung menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara. Satu kali bersalto di udara, Senopati Sukmageni meluncur turun sembari menghantam tangan kanannya kepada empat orang prajurit Panjalu di bawahnya.


Whhhuuuuuusssshhh !!


Cahaya kuning kemerahan menerabas cepat kearah empat orang prajurit Panjalu dari wilayah Kadipaten Lasem itu.


Blllaaammmmmmmm !!!


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Teriakan kesakitan terdengar memilukan hati bersamaan potongan tubuh manusia yang terpencar ke segala arah. Empat orang prajurit Panjalu yang naas itu tewas dengan keadaan yang sulit untuk dikenali lagi.


Senopati Sukmageni terus mengamuk dengan mengobrak-abrik pertahanan tengah para prajurit Panjalu. Pasukan gajah yang ikut serta menggempur di sisi tengah turut memporak-porandakan tatanan wyuha yang ditata oleh Senopati Agung Narapraja.


Para prajurit Jenggala berkobar semangatnya melihat itu semua. Mereka seperti sedang kesurupan dalam bertarung melawan para prajurit Panjalu. Ratusan mayat prajurit Panjalu bertebaran dimana-mana bercampur dengan para prajurit Jenggala di timur benteng pertahanan Wanua Sungging. Jerit kesakitan dan darah segar yang menggenang menjadi pemandangan biasa di tempat itu.


Melihat lawannya begitu tangguh mengacak-acak pertahanan tengah para prajurit Panjalu, Senopati Agung Narapraja menggeram keras dan memacu kuda nya kearah Senopati Sukmageni yang mengamuk bagaikan banteng ketaton. Dua orang prajurit Jenggala yang mencoba untuk menghalangi jalan nya harus menjadi korban tajam nya pedang di tangan sang pimpinan utama pasukan Panjalu.


Sembari berkuda, Senopati Agung Narapraja menyambar sebuah tombak yang menancap di depan nya. Lalu secepat kilat, dia melemparkan tombak itu kearah Senopati Sukmageni yang sedang membantai para prajurit Panjalu yang mencoba untuk mengepung nya.


Whhhuuuggghhhh!!


Desiran angin dingin mengikuti lesat tombak yang mengincar punggung Senopati Sukmageni. Dari ekor matanya, Senopati Sukmageni melihat kedatangan serangan itu. Sang pimpinan pasukan Jenggala ini langsung menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi sambil membuka lebar kedua kakinya menghindari hantaman tombak Senopati Agung Narapraja yang hanya sejengkal di bawah paha.


Dia lolos dari maut dan mendarat beberapa langkah di belakang tempat nya berdiri. Segera dia mendelik tajam ke arah Senopati Agung Narapraja.


"Bangsat Panjalu tua!!


Rupanya kau yang sudah bau tanah sudah bosan hidup ya?", teriak Senopati Sukmageni.


"Aku sudah kenyang makan asam garam kehidupan. Jika takdir Dewata mengharuskan ku mati, aku tidak menolaknya. Tapi itu tidak di tangan mu, hai Wong Jenggala", ujar Senopati Agung Narapraja segera.


"Huh, sudah mau mampus masih juga sombong! Hari ini akan ku pastikan bahwa pasukan mu akan hancur di tangan ku", ujar Senopati Sukmageni sambil mengepalkan tangannya ke depan seolah meremas para prajurit Panjalu.


Mendengar jawaban itu, Senopati Agung Narapraja menyunggingkan senyumnya sambil berkata,


"Jumawa...


Mari kita buktikan omongan mu".