
Wungkalsegara menerjang maju ke arah Dewi Topeng Waja. Gada bergerigi tajam nya terayun cepat kearah kepala pendekar wanita itu secepat kilat. Meski luka nya masih berdarah, namun pria bertubuh gempal itu seakan tak peduli.
Whhhuuuggghhhh..!!
Dewi Topeng Waja segera menghindari gebukan gada bergerigi tajam yang mengarah ke kepala. Perempuan bertopeng itu segera merendahkan tubuhnya hingga sambaran angin gada bergerigi tajam milik Wungkalsegara melewati atas kepalanya dengan cepat. Menggunakan kedua tangan sebagai tumpuan, Dewi Topeng Waja segera berjumpalitan. Wungkalsegara memburu nya dengan terus mengayunkan gada.
Whuuthhh whuuthhh !!
Secepat apapun ayunan gada bergerigi tajam Wungkalsegara, tidak bisa mengenai tubuh Dewi Topeng Waja. Seolah semua gerakan Wungkalsegara sudah terbaca oleh perempuan bertopeng ini. Wungkalsegara mendengus keras melihat kemampuan lawan. Sembari memaki maki, Wungkalsegara menyalurkan tenaga dalam nya pada gada bergerigi tajam dan kembali menggebukan senjata andalannya itu ke arah punggung Dewi Topeng Waja.
Serangkum angin kencang menderu tajam mengikuti ayunan gada Wungkalsegara. Dewi Topeng Waja segera menjejak tanah dengan keras lalu melenting tinggi ke udara menghindari serangan dan mendarat di salah satu cabang pohon di belakangnya.
Bhhhuuuuummmmhhh..!
Ledakan keras terdengar saat gada bergerigi tajam itu menghantam tanah. Melihat lawan lolos, Wungkalsegara segera mengejar Dewi Topeng Waja sembari mengepruk ke arah sang perempuan bertopeng.
Blllaaaaaarrr !!
Ledakan keras terdengar bersamaan dengan cabang pohon yang berderak patah dan jatuh ke tanah. Tepat sesaat sebelum hantaman gada Wungkalsegara, Dewi Topeng Waja berhasil menghindar dan bersalto dua kali di udara sebelum mendarat di tanah. Perempuan bertopeng besi itu segera memutar kedua tangan di depan dada. Dua lingkaran sinar biru kemerahan segera tercipta dan dengan cepat ia menghantamkan sinar biru ini ke arah Wungkalsegara.
"Gelap Sayuto...
Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt...!!!"
Shhiiiuuuuuuttttt...
Pria bertubuh gempal yang hendak menerjang maju ke arah Dewi Topeng Waja buru buru urungkan niatnya untuk menyerang dan langsung menjatuhkan diri nya ke tanah.
Blllaaammmmmmmm !!
Wungkalsegara selamat dari maut. Namun pohon besar yang ada di belakangnya meledak dan terbakar setelah terkena hantaman Ajian Gelap Sayuto yang di lepaskan oleh Dewi Topeng Waja. Melihat kehebatan ilmu kanuragan Dewi Topeng Waja, Wungkalsegara pucat seketika.
'Setan alas..
Iblis betina ini berilmu tinggi. Kalau sampai aku terkena hantaman Ajian Gelap Sayuto tadi, pasti tubuh ku hancur. Aku harus kabur dari tempat ini', umpat Wungkalsegara dalam hati.
Secepat kilat, Wungkalsegara segera menghantam sebuah batu sebesar kepala kerbau dengan gada bergerigi tajam nya. Batu besar itu melayang cepat kearah Dewi Topeng Waja.
Bhhuukh...!
Dewi Topeng Waja segera berkelit menghindari hantaman batu besar itu. Dia sudah curiga dengan sikap Wungkalsegara yang tiba-tiba menyerang dari jarak jauh. Melihat Wungkalsegara yang mencoba untuk melarikan diri, Dewi Topeng Waja kembali menghantamkan tangan kanannya ke arah pria bertubuh gempal yang melesat cepat kearah semak belukar di tepi hutan kecil itu.
Blllaaammmmmmmm !!!
Terdengar suara ledakan dahsyat bersamaan dengan jatuhnya gada bergerigi tajam milik Wungkalsegara ke tanah. Sementara itu si empunya gada tubuhnya mencelat jauh lebih dari 4 tombak ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Wungkalsegara tewas tanpa sempat berteriak saat Ajian Gelap Sayuto menghajar telak tubuh nya. Separuh tubuhnya gosong seperti baru saja di sambar petir waktu musim penghujan.
Dewi Topeng Waja segera menggerakkan tangannya berputar cepat di samping pinggang. Pisau belati kecil berwarna putih keperakan yang menancap pada bahu Wungkalsegara segera bergetar hebat dan tercerabut dari tubuh mayat lelaki bertubuh gempal itu. Benda itu seperti memiliki nyawa sendiri, melayang cepat kearah tangan kanan Dewi Topeng Waja. Begitu pula dengan pisau belati yang sempat mencelat jauh akibat hantaman gada bergerigi tajam milik Wungkalsegara.
Shuuuuttttthhh shuuuuttttthhh !
Dengan cekatan, Dewi Topeng Waja segera menangkap gagang pisau belati terbang nya yang sudah menemani perjalanan nya selama bertahun-tahun. Perempuan bertopeng itu segera mengeluarkan sepotong kain untuk membersihkan sisa darah di bilah pisau belati nya lalu dengan cepat ia menyimpan sepasang pisau belati putih keperakan itu di balik pinggangnya.
Kakek tua dan bocah berusia sekitar 7 - 8 warsa yang sedari tadi menonton pertarungan itu langsung mendekati Dewi Topeng Waja yang nampak mengatur nafasnya.
"Terimakasih atas bantuan mu, Pendekar..
Tanpa bantuan mu, putra Akuwu Watugede ini pasti berhasil di bawa kabur para penjahat itu. Pakuwon Watugede berhutang budi pada mu", ujar si kakek tua itu dengan penuh hormat.
"Sudahlah Ki, aku hanya kebetulan lewat saja.
Lain kali berhati hatilah jika lewat daerah sini, setidaknya bawalah pengawal untuk menjaga keamanan mu. Apalagi jika membawa barang berharga. Daerah dekat perbatasan negara seperti ini rawan dengan tindak kejahatannya.
Aku permisi dulu", ujar Dewi Topeng Waja sembari mengangguk hormat kepada kakek tua dan bocah tampan ini. Sekejap mata kemungkinan, Dewi Topeng Waja melesat meninggalkan si kakek tua dan bocah itu ke arah timur.
"Sungguh seorang pendekar wanita yang luar biasa..
Kita sebaiknya segera meninggalkan tempat ini, Januyasa. Ayo kita berangkat ", ajak si kakek tua itu sembari menggelandang tangan bocah kecil yang dengan pasrah saja mengikuti kemauan si kakek tua ini.
Sementara itu Dewi Topeng Waja terus bergerak cepat di antara pepohonan yang tumbuh subur di hutan kecil ini. Gerakan tubuhnya begitu ringan dan lincah hingga dalam beberapa tarikan nafas pendekar perempuan bertopeng itu telah keluar dari dalam hutan kecil itu. Di tepi hutan kecil itu terdapat sebuah gubuk kayu kecil yang ada di kaki bukit batu. Di bawahnya terdapat area persawahan dan ladang yang luas dengan pemandangan menghijau tanda kesuburan tanah.
Dengan gerakan tubuh yang ringan, Dewi Topeng Waja menjejakkan kakinya di halaman gubuk ini. Pandangan mata wanita ini terlihat waspada memperhatikan keadaan sekitarnya untuk memastikan keamanan tempat itu. Setelah yakin bahwa tidak ada orang selain dirinya , Dewi Topeng Waja melangkah menuju ke arah pintu gubuk bambu yang terbuat dari batang batang kayu sebesar jempol kaki orang dewasa yang di susun sedemikian rupa dengan rotan hingga menjadi pintu. Tangan perempuan itu segera membuka pintu gubuk kecil itu dan segera masuk ke dalam.
Begitu pintu gubuk kecil itu tertutup, Dewi Topeng Waja segera melepaskan ikatan tali dari kain berwarna merah di tengkuknya hingga topeng besi separuh wajah yang dia gunakan terlepas dari wajah hingga munculnya wajah cantik alami dari Dewi Topeng Waja.
"Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono,
Bagaimana kabar mu sekarang? Sudah hampir 4 purnama kau meninggalkanku sendiri di Tanah Jawa ini. Aku harap kau selalu baik baik saja bersama Luh Jingga".
Terdengar suara gumaman perlahan dari mulut mungil Dewi Topeng Waja atau yang sebenarnya adalah Gayatri. Mata perempuan cantik itu nampak menerawang jauh ke langit Utara dari sela sela kayu pintu seolah melihat sosok Panji Tejo Laksono tersenyum simpul disana. Terbayang dalam benak Gayatri bagaimana dia melalui waktu tiga purnama lebih ini tanpa kehadiran Panji Tejo Laksono.
Setelah Panji Tejo Laksono dan Luh Jingga meninggalkan Negeri Panjalu ke Tanah Tiongkok, Tumenggung Sindupraja bermaksud untuk membawa Gayatri pulang ke Kadiri. Mulanya Gayatri menurut, namun di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba Gayatri melarikan diri dari rombongan ayahnya itu. Dia ingin menunggu kepulangan Panji Tejo Laksono di Pelabuhan Halong bersama dengan Ayu Ratna.
Usai berhasil kabur, Gayatri melakukan perjalanan seorang diri menuju ke Kalingga. Di tengah perjalanan, dia yang sedang dalam keadaan kacau karena kepergian Panji Tejo Laksono, bertarung dengan seorang pertapa tua yang tak sengaja bersinggungan dengan nya di warung makan.
Gayatri kalah, dan sesuai dengan kesepakatan sebelumnya yaitu barang siapa yang berhasil di kalahkan maka akan menjadi murid orang yang mengalahkan selama 2 purnama. Selanjutnya Gayatri di bawa pertapa tua yang bernama Maharesi Bajrabali ini ke sebuah pertapaan yang ada di kaki Gunung Sindoro.
Disana, Gayatri di latih dengan ilmu silat yang berbeda dengan ilmu kanuragan miliknya. Namun kecerdasan Gayatri dalam menyerap ilmu, membuat sepupu Panji Tejo Laksono yang juga merupakan calon istri nya ini cepat menguasai ilmu kanuragan yang diajarkan oleh Maharesi Bajrabali. Melihat bakat Gayatri yang tinggi dalam olah keprajuritan, Maharesi Bajrabali akhirnya menurunkan sebuah ilmu kanuragan andalan nya yang sangat tersohor di dunia persilatan, Ajian Gelap Sayuto. Sebuah ilmu kedigdayaan tinggi yang mampu mengeluarkan tenaga dalam layaknya seribu sambaran petir.
Setelah dua purnama berguru kepada Maharesi Bajrabali, Gayatri pun akhirnya meninggalkan Pertapaan Gunung Sindoro dan mulai turun gunung sembari mengenakan topeng besi sesuai dengan permintaan dari Maharesi Bajrabali sebagai wujud bakti sang murid kepada gurunya yaitu topo ngrame. Mulai saat itu sepak terjangnya di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah barat dengan cepat menjadi buah bibir masyarakat Panjalu barat khususnya Kadipaten Kalingga, Kembang Kuning hingga Rajapura.
Banyak sekali para pendekar muda yang mencoba untuk mengalahkan Gayatri sekedar untuk unjuk kebolehan agar terkenal di dunia persilatan, namun Gayatri yang berada dalam posisi sebagai Dewi Topeng Waja bukanlah pendekar sembarangan. Puluhan pendekar golongan hitam dan putih yang ingin menjajal kesaktiannya justru harus menelan pil pahit kekalahan setelah di hajar Gayatri habis-habisan.
Air mata kerinduan perlahan mengembang di pelupuk mata indah Gayatri. Gadis cantik itu begitu mencintai Panji Tejo Laksono hingga berpisah dengan sang pangeran muda dari Kadiri ini begitu menyiksa batin nya.
Dalam kerinduan nya pada Panji Tejo Laksono, tiba tiba Gayatri teringat pada Ayu Ratna. Putri Adipati Aghnibrata ini juga pasti merasakan hal yang sama dengan ku, batin Gayatri sembari menghela nafas panjang.
"Besok aku akan berangkat ke Kalingga. Selama Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono tidak ada sebaiknya aku yang menjaga Ayu Ratna untuk memastikan keselamatan nya", ucap Gayatri sembari mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidur sederhana yang terbuat dari kayu gelondongan di sudut gubuk.
Hari menjelang sore begitu indah di kaki Gunung Slamet. Semburat merah berpadu dengan kuning membentuk warna jingga yang indah di langit barat. Ribuan kelelawar terbang keluar dari dalam sarangnya untuk mencari makan sedangkan burung burung siang mulai pulang untuk beristirahat di sarang mereka masing-masing.
Keesokan paginya, Gayatri kembali mengenakan topeng besi separuh wajah nya setelah membungkus beberapa pasang pakaian ganti miliknya dengan kain hitam. Setelah semuanya beres, Gayatri alias Dewi Topeng Waja menoleh sebentar ke arah gubuk kecil yang menjadi tempat tinggal nya selama beberapa hari ini sebelum dia melenting tinggi ke udara dan melesat cepat meninggalkan tempat itu menuju ke arah Kadipaten Kalingga.
****
Selepas bermalam di Paviliun Bulan Indah, Song Zhao Meng akhirnya berhasil membujuk nenek nya Sima Qian untuk tinggal serumah lagi dengan Chow Sing putranya. Itupun dengan berbagai syarat yang diminta oleh Sima Qian dan Gubernur Zhengzhou, Chow Sing, menerima nya dengan cepat.
Setelah mendamaikan keluarga besar Maharani Mingjie di Zhengzhou, Putri Song Zhao Meng memohon waktu untuk melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Kaifeng. Ini karena mereka telah cukup lama tinggal di Zhengzhou selama beberapa hari terakhir.
Sima Qian mengantar kepergian Song Zhao Meng hingga ke depan pintu gerbang istana Gubernur Zhengzhou. Mata tua perempuan itu berkaca-kaca saat menatap wajah cantik Song Zhao Meng.
"Meng Er,
Jaga diri mu baik-baik ya? Nenek tua ini akan selalu mendoakan agar kau selalu bahagia", ujar Sima Qian sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya yang keriput.
"Nenek tidak perlu khawatir. Ada Kakak Thee yang menjaga ku, aku pasti baik baik saja", jawab Song Zhao Meng yang tersenyum tipis sembari melirik ke arah Panji Tejo Laksono yang berdiri di samping nya.
"Bocah tengik,
Kalau sampai kau menyia-nyiakan cucu ku, jadi hantu pun akan ku datangi kau Dan ku cekik leher mu. Mengerti kau?", ancam Sima Qian sembari mendelik tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Nenek tak perlu khawatir, Meng Er akan baik baik saja bersama ku", jawab Panji Tejo Laksono singkat.
Setelah berpamitan kepada Sima Qian dan Gubernur Chow Sing, rombongan Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng meninggalkan istana Gubernur Zhengzhou menuju ke arah timur. Saat melewati gerbang kota Zhengzhou, Song Zhao Meng sempat melirik kearah puncak bangunan istana Gubernur Zhengzhou sebelum tertutup oleh tembok besar yang mengelilingi seluruh Kota Zhengzhou.
Rombongan itu bergerak perlahan saja meninggalkan Kota Zhengzhou. Melihat rombongan Panji Tejo Laksono dan Song Zhao Meng beserta Huang Lung, Luh Jingga dan para pengikutnya meninggalkan kota Zhengzhou, dua orang lelaki bertubuh kekar segera melompat ke atas kuda mereka masing-masing dan menggebrak hewan tunggangan ini ke arah timur dengan jalan sedikit memutar.
Mereka berdua dengan cepat memacu kuda mereka menuju ke sebuah tempat yang di jaga beberapa orang pendekar. Tanpa menunggu lama, mereka berdua segera berlari masuk ke dalam bangunan itu segera.
"Pangeran muda,
Mereka sudah meninggalkan Kota Zhengzhou. Melihat arahnya, mereka menuju ke arah Kaifeng", lapor si lelaki yang bertubuh sedikit kurus itu segera pada seorang lelaki muda yang tak lain adalah Pangeran Zhao Wei. Sembari mendengus dingin, Zhao Wei menoleh ke arah seorang lelaki sepuh berjenggot panjang dengan mata cekung yang mirip dengan tengkorak saking kurusnya.
"Tetua Tengkorak Hitam,
Saatnya kau beraksi".