
****
Senopati Agung Jarasanda segera mencabut keris di pinggangnya. Keris pusaka yang bernama Kyai Klotok ini telah menemani perjalanan nya selama puluhan tahun mengabdi kepada Kerajaan Panjalu. Keris tanpa luk yang berbau amis ini telah minum banyak darah dari pertarungan demi pertarungan selama hidupnya.
Tangan kirinya mengusap sisa darah segar yang keluar dari mulutnya. Baru saja dia mengadu ilmu beladiri dengan pimpinan pasukan Bojonegoro, Senopati Wirya. Meskipun jauh lebih muda dari nya, rupanya perwira Bojonegoro ini memiliki ilmu kepandaian beladiri yang mumpuni dan sanggup meladeni permainan silatnya.
Sembari memegang erat gagang Keris Kyai Klotok, Senopati Agung Jarasanda menyalurkan tenaga dalam nya pada pusaka di tangan kanannya itu. Seketika, cahaya biru kemerahan memancar dari Keris Kyai Klotok.
Selepas ilmu kanuragan nya sempurna di rapal dan di saluran pada Keris Kyai Klotok, Senopati Agung Jarasanda langsung mengayunkan keris pusaka di tangan kanannya ke arah Senopati Wirya.
Shhiuuuuttthh!!!
Cahaya merah kebiruan berhawa panas itu segera melesat cepat kearah Senopati Wirya. Pimpinan prajurit Kadipaten Bojonegoro itu langsung melenting tinggi ke udara menghindari serangan cepat Senopati Agung Jarasanda .
Blllaaaaaammmm!!!
Sebuah kereta perang di belakang Senopati Wirya langsung meledak seketika setelah terkena hantaman cahaya merah kebiruan dari Keris Kyai Klotok. Melihat lawannya lolos dari serangan maut nya, Senopati Agung Jarasanda segera kembali melepaskan serangan ajian pamungkas milik nya.
Shhiuuuuttthh!!!
Blllaaammmmmmmm!!
Blllaaaaaarrr!!
Ledakan beruntun keras terdengar kala Senopati Agung Jarasanda lepaskan serangan beruntun ke arah lawannya. Senopati Wirya harus berjumpalitan menghindar kesana kemari untuk menyelamatkan diri.
Setelah lolos dari dua serangan beruntun, Senopati Wirya langsung menjejak tanah dengan keras beberapa kali dan mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh nya untuk melancarkan serangan balik kepada Senopati Agung Jarasanda.
Bersenjatakan pedang yang berbilah warna merah, Senopati Wirya langsung membabatkan pedang nya ke arah kepala Senopati Agung Jarasanda.
Shhrreeettthhh...
Thhrraaanggg!!!!
Percikan bunga api kecil tercipta saat dua senjata mereka beradu. Sang pimpinan utama Pasukan Panjalu segera hantamkan tapak tangan kiri nya yang berselimut cahaya merah kebiruan ke arah perut lawan. Senopati Wirya pun menyambut kedatangan serangan ini dengan cara yang sama.
Blllaaammmmmmmm!!
Ledakan dahsyat terdengar saat tapak tangan kiri Senopati Agung Jarasanda yang di lambari Ajian Pemusnah Jagad beradu dengan tapak tangan kiri Senopati Wirya yang di lapisi dengan cahaya kuning kemerahan Ajian Tapak Setan Kuning. Dua orang pimpinan kelompok pasukan ini sama-sama mencelat jauh ke belakang dan menghantam tanah dengan keras.
Senopati Agung Jarasanda segera berdiri meski baru saja memuntahkan darah segar. Sedangkan Senopati Wirya terlihat masih duduk bersimpuh di tanah sambil memegangi tangan kiri nya yang terlihat seperti gosong setelah terbakar api. Pria bertubuh kekar itu terus memuntahkan darah segar akibat luka dalam yang dia derita sangat parah.
Dari arah berlawanan, Senopati Tunggul Arga melesat cepat kearah Senopati Wirya yang telah terluka parah sembari mengayunkan pedang di tangan kanannya.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!!
Kepala Senopati Wirya langsung menggelinding ke tanah. Tubuhnya seketika ikut roboh dengan darah memancar keluar dari batang lehernya. Dia tewas dengan kepala terpisah dari badannya.
Setelah menghabisi nyawa Senopati Wirya, Senopati Tunggul Arga segera mendekati Senopati Agung Jarasanda yang masih memegangi dadanya yang terasa sesak akibat luka dalam yang diderita nya.
"Kakang Senopati Agung, kau baik-baik saja?", tanya Senopati Tunggul Arga begitu sampai di dekat sang pimpinan utama pasukan Panjalu.
"Uhukkk uhukkk uhukkk..
Senopati Wirya ini cukup hebat juga, Adhi Tunggul Arga. Dia mampu menahan Ajian Pemusnah Jagad ku. Tapi untunglah ada kau yang sudah membantu melenyapkannya. Sekarang tinggal kita habisi para pendukung pemberontak ini..", usai berkata demikian, Senopati Agung Jarasanda segera berbalik badan dan hendak melangkah meninggalkan tempat itu.
Namun tiba-tiba...
Jllleeeeeppppphhh!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!!!
Senopati Agung Jarasanda menjerit keras saat Senopati Tunggul Arga menusuk pinggangnya dari belakang. Sembari terhuyung-huyung mundur ke belakang dan membekap lukanya, Senopati Agung Jarasanda menatap tajam ke arah Senopati Tunggul Arga yang memegang pedang berlumuran darah.
"K-kau kenapa kau Tunggul Arga???!!!", ucap Senopati Agung Jarasanda segera. Darah segar terus mengalir keluar dari luka di pinggangnya.
"Huhhhhh...
Aku sudah puluhan tahun mengabdi di Panjalu tapi kau yang selalu menjadi pilihan utama Gusti Prabu Jayengrana untuk menjadi pimpinan utama Pasukan Panjalu, Jarasanda. Aku sudah cukup muak dengan semua ini. Sejak bersama dengan Narapraja, aku selalu dipinggirkan karena bukan pilihan Sinuhun Prabu Jayengrana. Saat dia mati di medan palagan, justru kau yang hanya seorang pimpinan Pasukan Garuda Panjalu diangkat menjadi pimpinan utama.
Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa menjanjikan untuk mengangkat ku sebagai Senopati Agung jika aku mau membantu nya. Maka ini adalah saat yang tepat untuk ku. Sekarang mampus lah kau Jarasanda. Aku selanjutnya yang akan menjadi Senopati Agung Kerajaan Panjalu hahahaha..", Senopati Tunggul Arga tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan.
"Bedebah kau Tunggul Arga..!!
Hanya karena jabatan saja, kau berani mengkhianati kepercayaan Gusti Prabu Jayengrana. Aku akan membunuhmu sebagai hukuman atas pengkhianatan mu!!", Senopati Agung Jarasanda segera melesat cepat kearah Senopati Tunggul Arga sambil menusukkan Keris Kyai Klotok nya.
Shhrreeettthhh!!
Perwira tua bertubuh gempal itu terkesiap juga melihat kedatangan serangan cepat Senopati Agung Jarasanda meskipun lelaki yang merupakan adik ipar Mapatih Warigalit ini sudah terluka parah.
Namun, dia segera berkelit menghindari tusukan Keris Kyai Klotok dengan sedikit menggeser posisi tubuhnya ke arah kiri dan kembali menghujamkan pedangnya kearah ulu hati Senopati Agung Jarasanda.
Jllleeeeeppppphhh!!!
AAAARRRGGGGGGHHHHH!!!
Senopati Agung Jarasanda menjerit keras saat pedang Senopati Tunggul Arga menembus ulu hati hingga ke punggungnya. Keris Kyai Klotok terlepas dari tangannya dan dia pun langsung limbung dan roboh ke tanah.
"Ter.. terkutuk lah k-kau Tung..gull Ar..gaaa!!!", ucap Senopati Agung Jarasanda sesaat sebelum dia meregang nyawa. Dia tewas terbunuh oleh kawannya sendiri.
Cukup lama Senopati Tunggul Arga menatap ke arah tubuh Senopati Agung Jarasanda yang kini sudah menjadi mayat. Dia menjejak pinggang mayat itu untuk memastikan bahwa Senopati Agung Jarasanda sudah mati. Setelah yakin bahwa pimpinan utama prajurit Panjalu itu tewas, dia menyeringai lebar.
"Phhuuuiiiiiihhhhh..
Akhirnya kau mampus juga, Jarasanda. Aku akan menjadi pimpinan utama prajurit Panjalu selepas kematian mu di bawah pimpinan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa yang akan segera menjadi Raja Panjalu. Tenanglah kau di neraka", seusai dia berkata demikian, Senopati Tunggul Arga berbalik badan dan melangkah menuju ke arah kereta perang dimana Mapanji Jayawarsa berada.
Dua orang bawahan setia Senopati Agung Jarasanda yang melihat kejadian itu, diam diam beringsut mundur dari medan pertempuran. Setelah lolos dari perhatian para prajurit Panjalu yang lain, keduanya segera bergegas meninggalkan medan palagan di Utara Kotaraja Daha.
Mapanji Jayawarsa tersenyum lebar ketika ia melihat Senopati Tunggul Arga berjalan mendekati nya.
"Kerja bagus, Senopati Tunggul Arga..
"Sendiko dawuh Gusti Pangeran", setelah menjawab omongan sang pangeran, Senopati Tunggul Arga segera berbalik badan dan menatap ke arah pertempuran yang sedang berjalan sengit antara prajurit Panjalu dengan orang-orang Kadipaten Bojonegoro.
"Kalian semua dengarkan perin...."
Jllleeeeeppppphhh!!!!!
Aaauuuuggggghhhhh!!!!!
Belum sempat Senopati Tunggul Arga menyelesaikan omongannya, Mapanji Jayawarsa melesat ke belakang nya dan menusuk pinggang nya dengan keris pusaka.
"Gus-Gusti Pangeran k-kenapa kau menusuk kuu uhhhh...???", Senopati Tunggul Arga terhuyung huyung mundur dan roboh ke tanah sambil memegangi pinggang nya yang bolong oleh tusukan keris pusaka Mapanji Jayawarsa.
"Apa kau pikir aku mau menerima pengkhianat seperti mu dalam tata pemerintahan ku nanti, Tunggul Arga?!
Sekali berani berkhianat, maka seterusnya kau tidak akan segan untuk berkhianat lagi. Dan aku hanya ingin menjaga diri ku sendiri di masa depan agar selamat dari pengkhianat seperti mu", Mapanji Jayawarsa menyeringai lebar menatap ke arah Senopati Tunggul Arga yang bersimpuh tak berdaya di hadapan nya.
"Bajingan kau, Mapanji Jayawarsa!!!
Aku tidak rela mati jika tidak membawa mu mati bersama ku!!!", dengan sempoyongan, Senopati Tunggul Arga berusaha bangkit dari tempat duduknya.
Saat itu, sebuah bayangan berkelebat cepat kearah nya dan langsung menebas leher Senopati Tunggul Arga.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh...!!!
Kepala Senopati Tunggul Arga langsung menggelinding ke tanah. Darah segar muncrat keluar dari batang lehernya dan mengenai baju Mapanji Jayawarsa. Tubuh lelaki berbadan gempal itu langsung roboh ke tanah dan mengejang hebat sebelum diam untuk selamanya.
Mapanji Jayawarsa langsung melepaskan jirah perangnya yang penuh darah saat si bayangan yang tak lain adalah Demung Randusongo, orang kepercayaan Nararya Ayu Galuh yang di tugaskan untuk menjaga agar Mapanji Jayawarsa selamat dimana pun ia berada, menyarungkan kembali pedangnya di samping sang pangeran kedua.
"Kau cepat juga, Randusongo.
Persiapkan baju ganti ku agar aku tampil sempurna saat masuk Kotaraja Daha", perintah Mapanji Jayawarsa. Demung Randusongo hanya mengangguk saja tanpa berbicara sepatah kata pun sebelum melesat ke arah pasukan perbekalan Kadipaten Bojonegoro. Tak lama kemudian dia sudah kembali sambil membawa baju ganti warna merah yang merupakan pakaian kesukaan Mapanji Jayawarsa.
Kehilangan dua pimpinan utamanya membuat para prajurit Panjalu seperti ayam kehilangan induknya. Dalam waktu tak begitu lama, prajurit Panjalu sudah kocar-kacir menghadapi para prajurit Kadipaten Bojonegoro. Meskipun Tumenggung Wirabuana berusaha mempertahankan gelar perang mereka, namun dia tidak berhasil melakukannya.
Dalam keadaan yang sangat mendesak itu, mau tidak mau dia segera berteriak lantang.
"Prajurit Panjalu, MUNDUR!!!!"
Teriakan keras dari Tumenggung Wirabuana langsung membuat semua prajurit Panjalu yang sudah kalah mental langsung bergerak meninggalkan medan perang. Dari 30 ribu orang prajurit yang bertempur, sepertiga nya saja yang berhasil menyelamatkan diri. Mereka semua langsung masuk ke dalam Kotaraja Daha.
Sorak sorak penuh kemenangan terdengar dari mulut para prajurit Kadipaten Bojonegoro yang berhasil memukul mundur pasukan Panjalu.
"Hidup Gusti Pangeran Adipati Mapanji Jayawarsa!!"
"Hidup Gusti Pangeran Adipati Mapanji Jayawarsa!!!"
Teriak penuh kegembiraan terucap dari mulut para prajurit Kadipaten Bojonegoro mengelu-elukan Mapanji Jayawarsa. Keberhasilan mereka dalam memukul mundur pasukan Panjalu membangkitkan semangat para prajurit Kadipaten Bojonegoro. Selama ini mereka selalu beranggapan bahwa pasukan Panjalu tak mungkin dikalahkan oleh mereka karena kemenangan yang selalu mereka raih saat melakukan peperangan melawan Jenggala. Namun, berkat kelicikan Mapanji Jayawarsa mengadu domba para pucuk pimpinan pasukan Panjalu, mampu membuat pasukan Bojonegoro mengalahkan prajurit yang tidak mungkin mereka taklukkan.
Diatas kereta perangnya, Mapanji Jayawarsa menikmati pujian dari para prajurit Kadipaten Bojonegoro. Dengan bangga ia menepuk dadanya.
"Aku, Mapanji Jayawarsa, Raja Panjalu selanjutnya..
Sekarang ikuti aku untuk mengambil hak yang seharusnya menjadi milik ku. Semuanya ayo kita masuk Kotaraja Daha!!!"
Teriakan keras penuh percaya diri Mapanji Jayawarsa langsung memantik semangat para prajurit Kadipaten Bojonegoro untuk bergerak menuju ke arah Kotaraja Daha. Dengan kekuatan hampir 22 ribu orang prajurit, mereka bergerak bagaikan air bah menuju ke arah pintu gerbang Kotaraja Daha sebelah Utara.
****
Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh!!
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!!
Dua ledakan keras beruntun terdengar. Song Zhao Meng segera menghela nafas panjang usai mengakhiri perlawanan dua orang pendekar berilmu tinggi dari Kadipaten Karang Anom yang ikut serta dalam pertempuran itu. Kedua lawannya tewas dengan tubuh hancur berkeping keping dalam gumpalan es.
Sang putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok ini pun segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono yang sedang dikeroyok oleh Adipati Windupati, Mpu Gandasena dan Begawan Tanpa Wajah. Sembari menggeram keras, ia segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono sembari mengibas-ngibaskan tangan kanannya yang di selimuti oleh cahaya biru berhawa dingin menusuk tulang ke arah mereka.
Whhuuusshhh whhuuusshhh!!
Dua larik cahaya biru berhawa dingin dari Ilmu Bulan Es miliknya seketika menerabas cepat kearah Panji Tejo Laksono dan ketiga orang pengeroyok nya.
Begawan Tanpa Wajah yang merasakan adanya perubahan suhu udara yang turun drastis di sekitar tempat itu, seketika melirik ke arah datangnya Song Zhao Meng. Dengan cepat ia menarik tangan Adipati Windupati sambil berteriak keras.
"Awas serangan dari barat!!"
Mpu Gandasena dan Panji Tejo Laksono yang juga ikut mendengar suara Begawan Tanpa Wajah, langsung berhamburan menyelamatkan diri.
Blllaaammmmmmmm krrraaaakkkkkk!!!!
Panji Tejo Laksono kini mendarat hampir 4 tombak jauhnya dari tempat pertarungan nya tadi sementara Begawan Tanpa Wajah, Mpu Gandasena dan Adipati Windupati pun dalam jarak yang kurang lebih sama. Tanah tempat mereka berpijak sebelumnya telah berubah menjadi daratan yang berselimut es setebal satu jengkal tangan.
Song Zhao Meng segera mendarat dengan anggun di samping Panji Tejo Laksono.
"Kakak Thee, kau baik-baik saja?", tanya Song Zhao Meng segera.
"Aku tidak apa-apa, Meng Er..
Mereka bertiga cukup merepotkan ku tapi tak bisa melukai ku", jawab Panji Tejo Laksono segera.
"Kalau begitu, biar ku urus si lelaki tua bermata jahat itu. Sisanya ku serahkan kepada mu", Song Zhao Meng menunjuk ke arah Mpu Gandasena yang berdiri di sisi seberang.
Setelah berkata demikian, Song Zhao Meng pun segera melesat cepat kearah Mpu Gandasena. Kedua tangan nya mengibas cepat kearah sang pimpinan pemberontak dari arah selatan ini. Dua buah es tipis setajam pedang melesat cepat kearah Mpu Gandasena.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh!!!
Mpu Gandasena yang berdiri di seberang tanah berlapis es ini langsung merutuk keras saat serangan cepat putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok ini menyambar ke arah nya.
"Bangsat kau setan betina!!!"