Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Ayah dan Anak


Haaaaahhhhhhh??!!!!


Kaget Gayatri dan Luh Jingga mendengar jawaban Dewi Anggarawati, Sang Ratu Pertama Panjalu. Dua gadis cantik itu sampai tidak bisa berkata apa-apa untuk menanggapi ucapan Dewi Anggarawati. Semua suara mereka berdua seakan hilang entah kemana.


Melihat kekagetan mereka berdua, Dewi Anggarawati langsung menyadari bahwa selama ini mereka tidak menyadari bahwa Panji Tejo Laksono adalah pangeran muda di Istana Kotaraja Kadiri. Permaisurinya Panji Watugunung itu segera menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.


"Ngger Putra ku Cah Bagus,


Sekarang jelaskan pada ku kenapa sampai dua gadis cantik ini tidak tahu jati diri mu?", tanya Dewi Anggarawati segera.


"Mohon maaf Biyung ..


Aku sedang menjalani topo ngrame sebagai tanda bakti ku untuk guru ku, Begawan Ganapati. Dia meminta ku menjalani topo ngrame selama 40 hari tanpa memperbolehkan aku menggunakan jati diri ku.


Belakangan aku sadar bahwa tujuan nya agar aku belajar untuk dekat dengan rakyat tanpa embel-embel anak raja Panjalu", jawab Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada Dewi Anggarawati.


"Lantas apa yang kau dapatkan dari topo ngrame mu itu putraku?", Dewi Anggarawati tersenyum penuh arti.


"Aku menjadi lebih tahu tentang kehidupan rakyat di Kerajaan Panjalu, Biyung..


Sebagai putra seorang Raja aku wajib mengayomi rakyat dan mengerti apa yang mereka rasakan di bawah pemerintahan Ayahanda Prabu Jitendrakara.


Selama masa topo ngrame ku, aku menggunakan nama Taji Lelono sebagai nama samaran ku", jawab Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis.


"Nah kalian berdua apakah masih punya keraguan atas jati diri putra ku setelah mendengar penjelasannya?", Dewi Anggarawati mengalihkan perhatian nya pada Gayatri dan Luh Jingga yang duduk di sisi kiri.


"Hamba sudah percaya Gusti Ratu. Maaf tadi kami benar benar kaget mendengar bahwa Kakang Taji eh maksud hamba Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono adalah pangeran di Istana Kotaraja Kadiri, hingga sulit untuk berpikir dengan nalar terbuka", ujar Gayatri segera.


"Kau tidak perlu bersikap seperti orang lain, Gayatri..


Ibu mu adalah kakak kandung ku, jadi kau boleh memanggil ku dengan sebutan Bibi Ratu", Dewi Anggarawati tersenyum tipis.


"Terimakasih Bibi Ratu..", Gayatri segera menghaturkan sembah nya.


Siang itu juga, Panji Tejo Laksono di tempatkan oleh Dewi Anggarawati di Keputran Istana Katang-katang. Sebuah puri kecil yang terletak di barat kompleks istana Katang-katang menjadi tempat tinggal nya. Disana juga tinggal Mapanji Jayawarsa, Mapanji Jayagiri dan Apanji Mandala Seta. Sedangkan Gayatri dan Luh Jingga menempati balai tamu kehormatan. Dua dayang istana di tugaskan untuk memenuhi kebutuhan mereka.


Di Keputran Kadiri, Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari dan Adipati Seloageng menemui Panji Tejo Laksono usai pisowanan ageng di laksanakan.


Dua penguasa sepuh itu terlihat begitu senang melihat cucu nya sudah terlihat dewasa dan gagah.


"Benar benar cucu kesayangan ku. Dia sangat gagah dan tampan persis seperti aku saat masih muda hahahaha...", ujar Adipati Tejo Sumirat sembari tertawa terbahak bahak saat mereka telah duduk bersama di ruang tengah Puri kecil milik Panji Tejo Laksono.


"Darimana asal kepercayaan diri mu itu, Kangmas Tejo Sumirat?


Dia mendapatkan wajah tampan itu jelas keturunan dari Panji Watugunung yang berarti itu berasal dari ku", sahut Bupati Panji Gunungsari sembari tersenyum simpul.


"Tentu saja dari hidung mancung nya yang merupakan milik Anggarawati, Dhimas Gunungsari hahahaha ", Adipati Tejo Sumirat masih tak mau kalah.


"Sudah jangan ribut, Eyang berdua..


Aku ini adalah cucu kalian berdua. Tentu saja aku mirip Kanjeng Romo Prabu Jitendrakara dan Biyung Ratu Anggarawati. Jadi tidak perlu lagi ribut ribut dengan hal semacam itu.


Aku tahu bahwa tujuan kalian kemari itu bukan karena ingin ribut mempermasalahkan hal ini bukan?", tebak Panji Tejo Laksono sembari tersenyum tipis. Dia sudah merasa bahwa kedua kakek nya pasti punya tujuan tersendiri untuk menemui nya.


"Hahahaha kau benar-benar cerdas, Tejo Laksono. Kau langsung bisa menebak apa yang jadi keinginan eyang mu ini.


Begini Tejo Laksono, aku ini kan sudah tua. Raga ku sudah tidak cukup kuat untuk terus memerintah Kadipaten Seloageng. Aku ingin mundur dari jabatan ku sebagai pamong praja Kadipaten Seloageng. Seterusnya aku akan tinggal di Pertapaan Ranja sebagai persiapan untuk menghadap Sang Hyang Tunggal", ujar Adipati Tejo Sumirat sembari menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono.


"Eyang pun sama, Ngger Cucu Pangeran Panji Tejo Laksono..


Eyang ini sudah sepuh, sudah sepantasnya eyang lengser keprabon mundur dari dunia dan menyiapkan kehidupan akhirat. Eyang berharap agar kau mau menjadi pengganti Eyang memerintah Kabupaten Gelang-gelang", timpal Bupati Gelang-gelang Panji Gunungsari sembari tersenyum simpul.


Hemmmmmmm..


"Terimakasih atas kesempatan yang Eyang berdua berikan kepada Tejo Laksono. Tapi mohon beri waktu kepada Tejo Laksono untuk memikirkan masalah ini, Eyang berdua..


Ini masalah berat, tidak boleh gegabah dalam memutuskannya.


Lagipula Tejo Laksono saat ini masih ingin membantu Kanjeng Romo Prabu untuk mengatasi bahaya yang mengancam dari wilayah wetan itu Kanjeng Eyang. Tejo Laksono ingin membuktikan diri sebagai putra sulung Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, Tejo Laksono layak di sebut sebagai ksatria Negeri Panjalu ini, Eyang.


Mungkin setelah masalah ini selesai, Tejo Laksono baru bisa memberikan kepastian untuk eyang berdua", Panji Tejo Laksono menghormat pada Adipati Tejo Sumirat dan Bupati Panji Gunungsari.


Dua kakek tua penguasa daerah ini tersenyum lebar mendengar ucapan Panji Tejo Laksono.


Belum sempat Adipati Tejo Sumirat dan Bupati Panji Gunungsari memberikan tanggapan, dari arah pintu puri muncul Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati.


"Yang Mulia, Raja dari segala raja, Raja Panjalu yang perkasa, Maharaja Prabu Jitendrakara Parakrama Bhakta dan Maharani Anggarawati memasuki Keputran Kadiri", ucap seorang pengawal pribadi raja.


Mendengar itu, Panji Tejo Laksono, Bupati Panji Gunungsari dan Adipati Tejo Sumirat langsung menoleh ke arah pintu. Mereka bertiga tersenyum simpul melihat kedatangan Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati.


"Sembah bakti saya Kanjeng Romo Prabu, Kanjeng Ibu", ujar Panji Tejo Laksono sembari menyembah pada Panji Watugunung.


"Sembah bakti mu ku terima, Ngger Putra ku..


Duduklah, aku ingin berbincang dengan mu. Kanjeng Romo berdua silahkan duduk kembali", ujar Panji Watugunung segera. Mereka berlima segera duduk bersila bersama di lantai serambi kediaman Panji Tejo Laksono.


"Kau sudah menyelesaikan topo ngrame mu, Anak ku?", tanya Panji Watugunung segera membuka percakapan antara mereka.


"Sudah Kanjeng Romo Prabu..


Hari ini adalah hari ke empat puluh satu, itu berarti saya sudah menyelesaikan topo ngrame saya.


Saya berkelana mulai dari Kadipaten Seloageng, Tanah Perdikan Lodaya, Karang Anom, Tanggulangin, Wengker, Kurawan sampai di Anjuk Ladang, Kanjeng Romo", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.


"Bagus sekali Anak ku, setidaknya sepertiga wilayah Kerajaan Panjalu sudah kau jelajahi.


Dengan pengalaman ini, aku bisa dengan tenang memerintahkan mu untuk ikut serta dalam rencana penanggulangan serangan dari Tanah Perdikan Blambangan. Meskipun Panglima Agung Narapraja sendiri yang memimpin pasukan, aku ingin sekali kau menimba ilmu dari pengalaman peperangan ini", ujar Panji Watugunung segera.


"Kangmas Prabu Jayengrana,


Tejo Laksono masih terlalu muda untuk ikut dalam peperangan seperti ini. Mohon Kangmas Prabu mempertimbangkan ulang untuk menyuruh Tejo Laksono berangkat ke medan perang", Dewi Anggarawati terlihat cemas juga mendengar ucapan Panji Watugunung.


Prabu Jayengrana tersenyum tipis mendengar ucapan sang permaisuri pertama.


"Dinda Ratu tidak perlu khawatir..


Aku menyuruhnya juga bukan tanpa persiapan dan asal suruh saja. Aku akan menurunkan Ajian Tameng Waja yang akan melindungi tubuh nya dari serangan senjata dan ajian ilmu kanuragan.


Dinda Ratu sudah tenang bukan?", ujar Prabu Jayengrana sambil tersenyum simpul. Mendengar itu, Dewi Anggarawati mengangguk mengerti dan tersenyum lebar.


"Kau bersedia bukan Anakku?", Prabu Jayengrana segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono.


"Eh sepertinya tadi aku melihat Gayatri si tukang kabur itu dan seorang gadis lainnya bersama mu, Tejo Laksono..


Ada hubungan apa kau dengan mereka?", sahut Adipati Tejo Sumirat sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono.


"Iya Ngger Putra ku, sebenarnya ibu juga penasaran dengan mereka berdua.


Apa kau mau menjadikan mereka sebagai istri mu, Cah Bagus?", timpal Dewi Anggarawati segera.


Prabu Jayengrana dan Bupati Panji Gunungsari ikut menatap ke arah Panji Tejo Laksono. Pemuda tampan itu segera menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal karena bingung mau berkata apa.


"Aku tidak tahu Eyang, Kanjeng Ibu..


Mereka sendiri yang memaksa ikut dengan ku kemari. Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti kemauan mereka. Apa mereka harus menikah dengan ku kalau sudah mengikuti ku?"


Mendengar jawaban itu, Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati saling berpandangan sejenak sebelum terkekeh kecil.


"Hehehehe..


Dasar bapak sama anak kog sama saja kalau urusan perasaan. Mesti menunggu yang perempuan dulu bertindak", ujar Dewi Anggarawati sambil tersenyum simpul.


"Memang dulu Kanjeng Romo juga begitu, Biyung?", tanya Panji Tejo Laksono segera.


"Lah ayah mu ini mana pernah bisa mengungkapkan isi hatinya, Nak..


Dulu ibu yang harus membuang malu untuk mengungkapkan perasaan ibu pada nya. Ayah mu ini benar benar berhati batu, tidak peka terhadap perasaan orang", omel Dewi Anggarawati sambil melirik ke arah Panji Watugunung yang cengar-cengir sambil memamerkan wajah tak berdosa nya.


"Tapi Dinda Ratu tetap jatuh cinta pada ku kan?", goda Panji Watugunung sambil tersenyum simpul.


"Yah terpaksa.. Kalau bukan kata kata manis mu, mana mungkin aku jatuh cinta pada mu Kangmas..


Kau ini benar-benar menyebalkan", sambung Dewi Anggarawati yang di sambut gelak tawa mereka semua. Panji Gunungsari dan Adipati Tejo Sumirat terkekeh geli mendengar gerutu Dewi Anggarawati, sedangkan Panji Tejo Laksono begitu gembira merasakan kehangatan keluarga nya.


Setelah cukup lama di Keputran, Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati kembali ke Istana pribadi Raja begitu pula dengan Adipati Tejo Sumirat dan Bupati Panji Gunungsari. Kedua orang tua itu memutuskan untuk segera pulang ke daerah kekuasaan mereka masing-masing, untuk mempersiapkan bantuan prajurit yang di persiapkan untuk menghadapi pasukan Blambangan.


Sore itu, Keputran Kadiri menutup diri agar tidak ada tamu yang masuk atas perintah Sang Maharaja Panjalu Prabu Jayengrana dengan alasan Sang Pangeran sedang beristirahat dari perjalanan jauhnya. Ini semua agar Panji Tejo Laksono bisa bersiap untuk menerima Ajian Tameng Waja.


Malam menjelang tiba.


Panji Tejo Laksono yang sedang duduk bersila di dalam kamar tidur nya di kejutkan oleh sosok Prabu Jayengrana.


"Loh Kanjeng Romo..


Kog masuk tidak ada suaranya? Bahkan aku tidak bisa merasakan hawa tenaga dalam Kanjeng Romo", tanya Panji Tejo Laksono sembari berdiri dari tempat duduknya.


"Hehehehe..


Ini adalah Ajian Halimun, ilmu yang aku dapat dari Tatar Pasundan. Kau belum waktunya untuk mendapatkan ilmu ini. Ayo sekarang ikut aku, Putraku", ujar Panji Watugunung yang segera memegang tangan Panji Tejo Laksono.


Selarik kabut putih tipis muncul di sekitar tempat itu. Sekejap kemudian ayah dan anak itu sudah menghilang dari pandangan mata. Panji Tejo Laksono mengerjapkan matanya melihat sekeliling tempat dimana mereka berdiri. Sebuah tempat yang cukup datar di tepi tebing batu yang tinggi menjulang. Di sebelahnya sebuah air terjun yang cukup besar terdengar. Meski masih suasana malam, namun uap air nya terasa di sekitar tempat ayah dan anak itu berada.


"I-ini dimana Kanjeng Romo?", tanya Panji Tejo Laksono sembari terus mengedarkan pandangannya.


"Jangan banyak tanya, waktu kita tidak banyak..


Sekarang cepatlah kau duduk bersila di atas batu itu. Aku akan menurunkan Ajian Tameng Waja ku pada mu", jawab Panji Watugunung segera.


Tanpa bertanya lagi, Panji Tejo Laksono segera duduk bersila di atas tempat yang di tunjuk oleh ayahnya.


"Kosongkan pikiran mu, tutup mata mu dan buka keempat panca indera...


Apapun yang terjadi, jangan pernah mengeluh atau bergeser dari tempat mu duduk", perintah Panji Watugunung sembari mengumpulkan separuh tenaga dalam nya.


Panji Tejo Laksono dengan patuh menuruti perintah sang ayah. Perlahan nafasnya mulai teratur dan tenang. Matanya terpejam dan pikiran nya kosong hingga seluruh panca indera nya mampu mendengar, merasakan dan bersatu dengan alam sekitarnya.


Tangan kanan Panji Watugunung perlahan memancarkan cahaya kuning keemasan dari Ajian Tameng Waja. Dengan cepat, Maharaja Panjalu itu segera meletakkan tangan kanannya ke ubun-ubun kepala Panji Tejo Laksono. Sinar kuning keemasan itu dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh.


Aaaarrrgggggghhhhh!!!


Panji Tejo Laksono menjerit keras saat hawa panas menjalar ke seluruh sendi-sendi tubuh nya. Rasa sakit yang teramat sangat benar benar seperti hendak menghancurkan seluruh tubuh Panji Tejo Laksono. Namun meski demikian, putra sulung Sang Maharaja Panjalu itu tidak sedikitpun bergeming dari tempat duduknya. Keringat dingin mengucur deras dari tubuh Panji Tejo Laksono.


Perlahan sinar kuning keemasan itu semakin melebar dan terus melebar menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.


Saat seluruh tubuh Panji Tejo Laksono telah tertutup oleh sinar kuning keemasan itu, Panji Watugunung melepaskan tangannya dari atas kepala Panji Tejo Laksono. Dengan sigap, Sang Maharaja Panjalu itu segera menata nafasnya. Kemudian tersenyum tipis melihat Panji Tejo Laksono yang mulai tenang karena Ajian Tameng Waja perlahan mulai menyatu dengan tubuh nya.


"Sekarang buka mata mu, Anakku"


Mendengar perkataan Panji Watugunung, Panji Tejo Laksono membuka mata nya perlahan. Dia melihat seluruh tubuhnya bersinar kuning keemasan.


"Sekarang kendalikan Ajian Tameng Waja dengan tenaga dalam mu", perintah Panji Watugunung kemudian. Panji Tejo Laksono segera berkonsentrasi untuk mengendalikan ilmu kanuragan nya. Perlahan sinar kuning keemasan di tubuh Panji Tejo Laksono memudar perlahan dan tubuh Panji Tejo Laksono kembali seperti sedia kala.


Panji Watugunung tersenyum lebar.


"Sekarang coba kau keluarkan Ajian Tameng Waja mu, Putra ku".


Mendengar perintah itu, Panji Tejo Laksono langsung komat kamit merapal mantra. Tubuhnya langsung di liputi oleh sinar kuning keemasan. Melihat itu Panji Watugunung yang berdiri sejauh 2 tombak dar Panji Tejo Laksono langsung melesat cepat kearah sang putra dan menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala seperti api.


Chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt!!


Dhuuaaaaaaarrrrrr!!!


Ledakan dahsyat terdengar saat Ajian Tapak Dewa Api yang di lepaskan oleh Panji Watugunung menghantam tubuh Panji Tejo Laksono yang di liputi oleh sinar kuning keemasan. Asap tebal tercipta dari benturan dua ilmu kedigdayaan tinggi itu. Panji Watugunung bersalto sekali di udara dan mendarat sejauh 2 tombak ke belakang.


Panji Tejo Laksono sendiri yang tidak menyangka bahwa ayahnya akan menyerangnya, terseret mundur dua langkah ke belakang.


"Bagus Putraku..


Kini kau sudah menguasai Ajian Tameng Waja dengan sempurna. Kau harus ingat, dalam pertarungan segalanya bisa saja terjadi. Kau harus selalu waspada terhadap lawan mu", nasehat Panji Watugunung segera.


"Saya mengerti Kanjeng Romo", ujar Panji Tejo Laksono sembari menghormat pada ayahanda nya.


"Ini sudah larut malam. Sebaiknya kita segera kembali ke Istana. Ayo kita pulang ", Panji Watugunung segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dan memegang tangan putranya ini. Kabut asap putih menyelimuti seluruh tubuh mereka berdua dan mereka segera menghilang dari pandangan mata.


Dewi Anggarawati mondar mandir di serambi Puri Keputran Kadiri. Suami dan putra nya menghilang dari dalam istana. Sedikit ada rasa kekhawatiran dalam hati nya karena kedua nya pergi tanpa pamit.


Saat Panji Watugunung dan Panji Tejo Laksono muncul di hadapan nya, Dewi Anggarawati langsung menarik nafas lega. Ratu Panjalu itu segera mendekati mereka berdua.


"Kalian ini darimana?


Ayah dan anak sama saja. Senang sekali membuat orang khawatir".