
Sang prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten Seloageng segera haturkan hormat kepada Ayu Ratna yang berdiri di hadapannya.
"Mohon ampun Gusti Permaisuri..
Sepertinya ada yang menyerang ke Istana Kadipaten Seloageng. Bunyi titir kentongan itu adalah tanda marabahaya besar", ujar si prajurit dengan cepat.
"Huhhh, mentang-mentang Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono tidak ada disini ada yang berani berbuat onar. Mereka terlalu meremehkan orang orang Istana Kadipaten Seloageng", ucap Ayu Ratna segera. Putri Adipati Aghnibrata ini segera bergegas kembali ke dalam bilik kamar tidur nya. Tak berapa lama kemudian dia kembali dengan menyandang sebuah pedang di punggungnya.
Bersamaan dengan itu, Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari pun turut hadir di tempat itu. Putri Kaisar Huizong dari Daratan Tiongkok ini sudah menenteng sebilah pedang bersarung biru. Meskipun kini dandanan nya telah berubah seperti layaknya seorang wanita bangsawan Panjalu, perempuan cantik bermata sipit ini tetap terlihat cantik.
"Wulandari, ayo kita pergi ke depan. Saatnya kita menunjukkan bahwa meski tanpa ada Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono, Istana Kadipaten Seloageng bukan tempat sembarangan", ujar Ayu Ratna segera.
"Aku sudah siap, Cici Ayu", jawab Song Zhao Meng sembari mengangguk cepat. Dua orang istri Panji Tejo Laksono itu segera bergegas menuju ke arah depan Pendopo Agung Istana Kadipaten Seloageng dimana ratusan prajurit sudah bersiap siaga.
Patih Sancaka dan beberapa punggawa istana Seloageng sudah terlihat berbincang satu sama lain, membicarakan tentang semua kemungkinan besar yang terjadi. Senopati Gardana dan Tumenggung Kundana pun juga ikut ada di tempat itu. Begitu Ayu Ratna dan Song Zhao Meng terlihat berjalan mendekati mereka, para punggawa istana Seloageng segera menyongsong mereka.
"Mohon ampun Gusti Permaisuri..
Situasi sekarang sangat berbahaya. Sebaiknya Gusti Permaisuri berdua jangan muncul di depan. Biar kami saja yang mengatasi situasi ini", ujar Patih Sancaka sembari menghormat pada Ayu Ratna dan Song Zhao Meng.
"Kau tenang saja, Paman Patih..
Aku dan Wulandari bisa menjaga diri. Kami juga bisa bertarung jika di perlukan", jawab Ayu Ratna segera.
"Tapi Gusti Permaisuri, jika terjadi sesuatu pada Gusti Permaisuri berdua, Gusti Pangeran Adipati Panji Tejo Laksono pasti akan murka dan kami yang akan di salahkan. Mohon Gusti Permaisuri berdua pertimbangkan baik-buruknya jika maju ke garis pertahanan", sambung Patih Sancaka segera.
"Paman Patih Sancaka tidak perlu khawatir. Nanti aku sendiri yang akan bicara dengan Kangmas Pangeran. Sekarang yang terpenting, kita hadapi dulu para pengacau keamanan ini", Ayu Ratna bersikeras dengan keputusan nya.
Sementara itu, pintu gerbang istana Kadipaten Seloageng sudah berhasil di jebol oleh lawan. Ratusan anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang berpakaian mirip dengan prajurit Jenggala menyerbu masuk ke dalam istana. Pertempuran sengit pun segera pecah.
Para prajurit Istana Kadipaten Seloageng berusaha keras untuk menahan para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah memasuki istana. Denting suara senjata tajam beradu di ikuti oleh jerit jerit kesakitan orang terluka segera terdengar dari pertarungan sengit di dalam istana. Darah segar menggenang di bawah mayat mayat para prajurit yang terbunuh di malam hari itu.
Thhhrrriiiiinnnnngggg thriiinnnggg..!!
Di tengah keriuhan pertempuran sengit antara prajurit Seloageng dan anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang menyamar sebagai prajurit Jenggala, 6 orang melesat cepat kearah para punggawa Istana Kadipaten Seloageng yang bersiap untuk bertahan.
Ki Samparjagad menyeringai lebar menatap ke arah Patih Sancaka dan beberapa punggawa Istana Kadipaten Seloageng yang berdiri melindungi Ayu Ratna dan Song Zhao Meng.
"Kalian menyerah saja dan biarkan kami membawa perempuan itu. Jika kalian tidak mau, akan ku buat istana ini rata dengan tanah!", ancam Ki Samparjagad.
"Huhhh, dasar perusuh laknat!
Kau pikir kami takut dengan ancaman mu ha? Lebih baik mati daripada harus menyerahkan Gusti Permaisuri kepada mu tua bangka!", sahut Patih Sancaka segera.
"Hehehehe..
Kalau itu mau mu, segera bersiaplah untuk menemui raja neraka. Kalian semua, bunuh mereka !!", teriak Ki Samparjagad sembari memberikan isyarat kepada 4 orang lelaki bertubuh kekar yang mengenakan topeng separuh wajah berhias gambar bulan sabit terbalik.
Keempat orang bertopeng yang merupakan pengawal pribadi Ki Samparjagad yang berjuluk 4 Setan Bulan Darah ini langsung mencabut senjata mereka masing-masing, dan langsung melesat maju kearah para punggawa Istana Kadipaten Seloageng.
Melihat musuh sudah bergerak, Senopati Gardana, Tumenggung Kundana, Bekel Uttara dan Demung Katri segera mencabut keris pusaka di pinggang mereka masing-masing dan menyongsong Keempat Setan Bulan Darah. Dalam sekejap mata, mereka berempat telah mengadu kepandaian ilmu kanuragan.
Senopati Gardana yang menghadapi salah satu dari Empat Setan Bulan Darah yang bersenjata tombak pendek langsung menangkis sabetan tombak pendek yang mengincar lehernya.
Shreeeeettttthhh..
Thhraaaangggggggg !!
Mengandalkan kekuatan tubuh nya yang gempal, Senopati Gardana segera menghantamkan lengan kiri nya ke arah rusuk lawannya.
Dhiiieeeessshh..
Eehhhmmmmppphhh..!
Setan Bulan Darah bertubuh kekar ini terhuyung mundur, namun dia cepat menguasai dirinya. Secepat kilat dia kembali menerjang maju ke arah Senopati Gardana sambil menusukkan tombak pendek nya ke arah pimpinan prajurit Kadipaten Seloageng ini. Gerakannya yang begitu cepat membuat tombak pendek itu terlihat seperti berjumlah puluhan menyerang ke arah sang perwira.
Melihat itu, Senopati Gardana sedikit terperangah juga. Pria bertubuh gempal itu segera mengalirkan tenaga dalam nya pada bilah keris pusaka di tangan kanannya. Keris di tangan kanannya pun seketika mengeluarkan cahaya biru. Bersenjatakan keris yang sudah di lambari cahaya biru, Senopati Gardana memapak serangan lawannya.
Sementara Senopati Gardana dan para punggawa Istana Kadipaten Seloageng sibuk menghadapi 4 Setan Bulan Darah, Ki Samparjagad segera melesat cepat kearah Patih Sancaka, Ayu Ratna dan Song Zhao Meng yang hanya di kawal beberapa orang prajurit saja. Nyi Dadap Segara mencabut Pedang Tulang Iblis di punggungnya, sementara Ki Samparjagad mengerahkan tenaga dalam nya pada telapak tangan nya hingga kedua telapak tangan nya berwarna merah.
Tanpa ragu ragu, Nyi Dadap Segara segera membabatkan Pedang Tulang Iblis kearah para prajurit yang berdiri di depan Patih Sancaka, Ayu Ratna dan Song Zhao Meng.
Shhrreeettthhh !!
Selarik angin dingin berbau amis darah mengikuti sinar tipis hitam pekat yang tercipta dari sabetan Pedang Tulang Iblis. Para prajurit Seloageng yang pemberani tanpa ragu-ragu langsung mengayunkan pedangnya memapak serangan kilat Nyi Dadap Segara.
Thhraaaangggggggg thraakkkk!!
Pedang dan tombak para prajurit Kadipaten Seloageng langsung patah menjadi dua bagian setelah berbenturan dengan sinar hitam pekat yang tercipta dari Pedang Tulang Iblis. Tak hanya sampai disitu saja, sinar hitam Pedang Tulang Iblis juga memotong tubuh mereka.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh !!
4 orang prajurit Seloageng itu lalu tewas bersimbah darah dengan tubuh terpotong menjadi dua bagian. Sementara itu, Patih Sancaka, Ayu Ratna dan Song Zhao Meng melesat cepat menghindari sabetan sinar hitam Pedang Tulang Iblis karena hawa dingin pedang hitam berbau amis darah ini membuat bulu kuduk berdiri.
Song Zhao Meng dengan cepat memutar kedua telapak tangannya sejajar di depan perutnya. Perempuan cantik berbaju biru muda ini segera menaikan kedua tangan setinggi dada lalu menariknya mundur dan dengan cepat memutar hingga membentuk lingkaran.
Hawa dingin sedingin es berdesir kencang mengikuti sinar putih kebiruan yang tercipta pada telapak tangan nya. Tanpa menunggu lama, dia segera menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah Nyi Dadap Segara yang baru saja menjejak tanah.
Whuuussshh whuuussshh!!
Dua larik sinar putih kebiruan berhawa dingin itu langsung melesat cepat kearah Nyi Dadap Segara. Sadar bahwa nyawanya dalam bahaya, pimpinan kelima Kelompok Bulan Sabit Darah itu segera berjumpalitan mundur menghindari serangan Ilmu Bulan Es dari Song Zhao Meng.
Dua ledakan beruntun terdengar saat dua sinar putih kebiruan berhawa dingin ini menghantam tanah tempat Nyi Dadap Segara tadi berdiri. Tanah itu seketika membeku dan sebuah lapisan es tercipta di atasnya.
'Hemmm ilmu yang aneh. Sepertinya perempuan bermata sipit itu punya ilmu kanuragan yang berbahaya. Aku tidak boleh gegabah menghadapi nya', batin Nyi Dadap Segara setelah berhasil menghindar. Perempuan cantik yang sudah berumur ini segera merapal mantra Ajian Langkah Raja Angin, sebuah ilmu meringankan tubuh yang mampu membuat sang pemilik bergerak cepat seperti angin yang berhembus.
Melihat lawannya lolos dari serangan nya, Song Zhao Meng kembali hantamkan kedua telapak tangan nya bergantian ke arah Nyi Dadap Segara.
Whuuussshh whhhuuuggghhhh..!!
Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!
Nyi Dadap Segara kembali bergerak cepat menghindari setiap serangan Song Zhao Meng yang menakutkan sambil sesekali menyabetkan Pedang Tulang Iblis nya ke arah perempuan cantik bermata sipit ini. Pertarungan mereka berlangsung sengit.
Di sisi lain, Patih Sancaka segera mencabut keris pusaka di pinggangnya begitu melihat Ki Samparjagad yang melesat cepat kearah Ayu Ratna. 2 orang prajurit Seloageng langsung memapak gerakan Ki Samparjagad dengan sabetan pedang mereka.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh !!
Mendadak Ki Samparjagad menghilang dari pandangan mata semua dan sekejap kemudian muncul di antara 2 prajurit Seloageng itu. Secepat kilat, kedua tangan Ki Samparjagad menyambar wajah kedua orang prajurit itu dan meremasnya dengan sekuat tenaga.
Krreeettheeekkkkkk...
Aaaarrrgggggghhhhh !!!
Dua orang prajurit Seloageng yang naas ini langsung menjerit keras saat tangan Ki Samparjagad yang berwarna merah meremas wajah mereka dan bunyi tulang yang patah pun terdengar dari tindakan pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah itu. Keduanya langsung tewas dengan wajah hancur dan darah yang muncrat keluar. Di saat yang bersamaan, Patih Sancaka segera mengayunkan kerisnya ke arah dada lelaki tua berjanggut panjang ini.
Whhuuuuuuuggggh !!
Belum sempat sabetan keris menggores kulit Ki Samparjagad, kembali lelaki tua itu menghilang. Sekejap mata kemudian dia muncul di belakang punggung Patih Sancaka dan dengan cepat menyikut punggung warangka praja Seloageng itu dengan keras.
Dhhiiieeeeesssshhh..
Oouuugghhhhhh !!
Ki Samparjagad tersenyum sinis menyaksikan pria tua bertubuh kekar itu terjungkal ke samping dua mayat prajurit Seloageng yang baru saja di bunuh oleh nya.
"Tua bangka..!!
Kau bukan lawan ku. Sebaiknya kau sayangi nyawa mu yang tinggal beberapa hari itu. Aku akan melepaskan mu selagi kau tidak menggangu rencana ku", kata Ki Samparjagad sembari menatap tajam ke arah Patih Sancaka yang segera bangkit dari tempat jatuhnya.
"Phhuuuiiiiiihhhhh!!
Kau pikir aku bocah kemarin sore yang bisa mudah kau tipu, iblis tua! Setelah kau berhasil meraih apa yang kau inginkan, kau akan membantai semua orang yang ada di sini bukan?
Selama aku masih bernafas, jangan harap kau bisa menjadi liar di dalam Istana Kadipaten Seloageng ini, bangsat!!", Patih Sancaka meludah kasar ke tanah. Meski cahaya bulan separuh yang menjadi penerang pada malam hari itu, namun bisa di lihat bahwa warangka sepuh praja Seloageng ini terluka dalam karena ludahnya penuh dengan darah segar. Dengan kasar, Patih Sancaka mengusap sisa darah segar di bibirnya dan dengan cepat mengerahkan seluruh tenaga dalam nya pada tangan kanannya. Dia tahu bahwa lawannya itu bukanlah lawan biasa. Mengulur waktu terlalu lama akan menguras tenaga dalam nya dan tubuhnya yang sudah tua pasti tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi.
Bilah keris pusaka di tangan kanan Patih Sancaka segera mengeluarkan sinar merah menyala. Begitu ini terjadi, Patih Sancaka segera mengayunkan kerisnya ke arah Ki Samparjagad.
Shhhiiiuuuuuuuutttttttth...
Dengan gesit, Ki Samparjagad berkelit menghindari sinar merah menyala dari keris pusaka di tangan Patih Sancaka.
Blllaaammmmmmmm !!
Melihat lawannya lolos semudah itu, Patih Sancaka menggeram sembari melesat cepat kearah Ki Samparjagad. Keris pusaka di tangan kanannya segera terayun ke arah kepala pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah ini. Ki Samparjagad segera merunduk sembari menghantamkan tapak tangan nya ke arah rusuk Patih Sancaka. Pria tua bertubuh kekar itu segera menjatuhkan diri ke tanah untuk menghindari hantaman Ki Samparjagad. Sesampainya di tanah, kedua kaki Patih Sancaka menjejak patung arca Dwarapala di sebelahnya dan tubuhnya meluncur di atas tanah.
Lelaki tua itu segera menyabetkan kerisnya ke arah kaki Ki Samparjagad. Secepat kilat, Ki Samparjagad segera berjalan mundur sembari menghindari sabetan keris pusaka Patih Sancaka yang mengincar kakinya. Saat ada kesempatan, Ki Samparjagad segera melompat tinggi ke udara sambil menghantamkan tangan kanannya ke arah Patih Sancaka yang masih berbaring di tanah.
Whuuthhh !
Sinar merah menyala berhawa panas dengan cepat meluncur ke arah sang warangka praja Seloageng itu. Melihat serangan itu, Ki Sancaka segera berguling ke samping kanan untuk menghindari maut.
Blllaaaaaarrr !!
Patih Sancaka lolos dari maut dan segera berdiri namun Ki Samparjagad yang mendarat di tanah langsung melesat cepat kearah nya sambil menyambar sebilah pedang milik prajurit Seloageng yang baru saja dibunuhnya. Kecepatan tinggi ini benar-benar di luar nalar manusia karena hanya dalam satu tarikan nafas, Ki Samparjagad sudah sampai di depan Patih Sancaka dan menusukkan pedang itu ke perut sang patih.
Jllleeeeeppppphhh...
Aaaarrrgggggghhhhh !!
Terdengar suara jeritan keras saat pedang di tangan Ki Samparjagad menembus perut Patih Sancaka hingga ke pinggang nya. Warangka sepuh praja Seloageng itu terhuyung-huyung mundur dan roboh ke tanah.
"K-kau ib..blis.. ja..ha..namm...!!!", itulah kata kata terakhir Patih Sancaka sembari menuding ke arah Ki Samparjagad yang menyeringai lebar menatap nya. Tak lama kemudian, dia tewas dengan pedang menancap di perutnya.
Setelah melihat Patih Sancaka tewas, Ki Samparjagad segera melesat cepat kearah Ayu Ratna. Permaisuri pertama Panji Tejo Laksono ini memegang erat-erat gagang pedang nya dan segera menebaskan pedang itu begitu Ki Samparjagad berada di dekatnya. Ayu Ratna sadar akan jauhnya jarak tingkat keilmuan antara dia dan lelaki tua yang baru saja menghabisi nyawa Patih Sancaka.
Shhrreeettthhh..
Kembali Ki Samparjagad menghilang dari pandangan lalu muncul di belakang Ayu Ratna. Dengan sedikit keras, Ki Samparjagad langsung menghantam tengkuk leher Ayu Ratna.
Plllaaaakkkkk!!
Aaauuuuggggghhhhh !!
Ayu Ratna langsung pingsan setelah terkena hantaman pada lehernya. Dengan cepat, Ki Samparjagad segera menyambar tubuh perempuan cantik itu segera dan memanggul nya. Usai berhasil menangkap Ayu Ratna, Ki Samparjagad segera menoleh ke arah Nyi Dadap Segara yang masih di repotkan oleh serangan serangan berhawa maut dari Song Zhao Meng.
"Cepat bunuh perempuan itu, Nyi Dadap Segara.
Waktu kita tidak banyak..!!!"