
"Padepokan Anggrek Bulan?
Bukit Lanjar?
Sepertinya aku pernah mendengar nama besar padepokan kalian di daerah utara. Terus kenapa para begundal itu mengganggu kalian?", tanya Panji Tejo Laksono yang sedikit lupa dengan permintaan dari Bupati Panji Gunungsari mencoba untuk mengingat-ingat sesuatu sembari menatap ke arah dua orang perempuan muda berbaju putih itu.
"Mereka sudah lama menaruh dendam pada kami karena pimpinan mereka sempat di kalahkan oleh dua sesepuh padepokan kami, Dewi Anggrek Emas dan Dewi Anggrek Perak. Karena itu setiap anak murid mereka bertemu kami di manapun tempatnya, mereka pasti akan mencari gara-gara", ujar Anggrek Kuning sembari menghela nafas panjang.
"Ini adalah wilayah Kadipaten Seloageng. Sudah cukup jauh dari tempat kalian. Ada urusan apa hingga sampai ke tempat ini?", tanya Panji Tejo Laksono kemudian.
"Kami kemari atas suruhan Dewi Anggrek Bulan untuk menemui mu, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono ", sahut Anggrek Kuning segera.
"Aku tidak mengenal sesepuh ataupun murid di padepokan kalian. Lantas ada urusan apa mencari ku?", Panji Tejo Laksono mengerutkan keningnya pertanda heran mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Anggrek Kuning baru saja.
Di masa itu, ada beberapa padepokan dan perguruan silat aliran putih di wilayah Panjalu yang memiliki nama besar di dunia persilatan. Diantaranya adalah Padepokan Padas Putih, Padepokan Anggrek Bulan dan Padepokan Pedang Awan di wilayah Gunung Lawu. Kehidupan Panji Tejo Laksono yang banyak berkutat dengan kehidupan istana membuatnya kurang mengenali orang-orang dunia persilatan meskipun memiliki kemampuan beladiri yang tinggi.
"Memang para ksatria Kerajaan Panjalu sangat jarang bersentuhan dengan masalah dunia persilatan. Tapi pimpinan kami di Bukit Lanjar mengatakan bahwa Prabu Jayengrana adalah cucu nya dan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono adalah cicitnya", urai Anggrek Kuning segera.
Kaget Panji Tejo Laksono mendengar Anggrek Kuning menyebut nama Bukit Lanjar lagi dan ini langsung mengingatkan nya dengan permintaan dari Eyangnya di Gelang-gelang.
"Katakan pada ku, apa yang kalian inginkan dari ku untuk Padepokan Anggrek Bulan?", tanya Panji Tejo Laksono segera.
"Dewi Anggrek Bulan selaku pimpinan kami meminta agar Gusti Pangeran Panji Tejo sudi datang ke tempat kami. Ada sesuatu yang ingin di bicarakan oleh pimpinan kami dengan Gusti Pangeran ", sahut si Anggrek Kuning sembari menatap ke arah Panji Tejo Laksono seolah meminta jawaban pasti dari lelaki muda ini.
Hemmmmmmm...
"Sepertinya memang aku harus pergi ke Bukit Lanjar sebelum berangkat ke Jenggala.
Baiklah Anggrek Kuning dan Anggrek Lembayung, aku bersedia untuk datang ke tempat kalian tapi aku akan kesana sepekan lagi setelah urusan Kadipaten Seloageng beres. Aku minta agar sampaikan omongan ku ini pada Dewi Anggrek Bulan", Panji Tejo Laksono mengangguk halus tanda bersedia.
Melihat Panji Tejo Laksono memberikan isyarat setuju, Anggrek Kuning dan Anggrek Lembayung langsung tersenyum gembira.
"Syukurlah, akhirnya kami bisa segera pulang ke Bukit Lanjar setelah menyelesaikan tugas yang diberikan kepada kami.
Terimakasih banyak Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Kami berdua mohon pamit", Anggrek Kuning segera menghormat pada Panji Tejo Laksono diikuti oleh Anggrek Lembayung. Dua orang perempuan muda berbaju putih itu segera bergegas meninggalkan tempat itu.
Setelah peristiwa kecil itu selesai, Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke arah Kota Kadipaten Seloageng.
Sepanjang perjalanan, pemandangan indah terhampar di depan mata. Sawah sawah dan ladang terlihat menghijau dengan aneka macam tumbuhan padi-padian dan palawija. Sekarang ini memang musim yang paling cocok untuk bercocok tanam.
Setelah melewati beberapa wanua dan pakuwon di barat Kota Kadipaten Seloageng, mereka memasuki tapal batas Kota Seloageng. Lalu lalang orang dan gerobak sapi yang mengangkut barang terlihat memenuhi jalan raya kota ini. Perdagangan antar wilayah memang sedang pulih seiring selesainya perang antara Panjalu dan Jenggala.
8 orang prajurit yang sedang berjaga di sekitar gerbang kota langsung menghormat saat Panji Tejo Laksono lewat. Tanpa menunggu perintah, mereka langsung membukakan jalan bagi penguasa Kadipaten Seloageng ini.
Para warga Kota Kadipaten Seloageng langsung menepi di pinggir jalan raya kota saat rombongan Panji Tejo Laksono melintas. Ini adalah tata krama yang berlaku di masa itu yang juga merupakan bentuk penghormatan kepada sang pimpinan wilayah.
Di depan pintu gerbang istana Kadipaten Seloageng, 8 prajurit yang sedang bertugas langsung menghormat pada Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya.
Senyum lebar terukir di wajah tampan Panji Tejo Laksono begitu melihat keadaan istana Seloageng yang hampir pulih setelah terjadinya penyerbuan tempo hari. Terlihat puluhan orang tukang kayu, tukang batu dan kuli bangunan sedang sibuk menata beberapa bagian istana yang masih belum rampung pembenahannya.
Seorang lelaki muda bertubuh kekar nampak sedang mengawasi pelaksanaan pembangunan kembali Istana Kadipaten Seloageng. Dia adalah Naratama, sang Pendekar Golok Angin yang kini telah menjadi salah satu perwira tinggi prajurit Seloageng dengan pangkat Juru. Panji Tejo Laksono menjalankan kudanya perlahan dan berhenti di belakang Naratama.
"Kau menjalankan tugas mu dengan baik, Naratama!".
Ucapan itu sontak membuat Naratama menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat kedatangan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya, lelaki muda itu segera menyembah pada sang Adipati baru Seloageng.
"Sembah bakti hamba Gusti Pangeran Adipati..
Jangan memuji hamba jika pekerjaan ini masih belum terselesaikan dengan baik", ujar Naratama dengan cepat.
"Saya memang menugaskan kepada Naratama untuk meneruskan tugas membangun kembali istana setelah ada panggilan dari Gusti Prabu Jayengrana, Nakmas Pangeran Adipati.
Sejauh ini dia memang paling telaten dan sabar mengawasi jalannya pembangunan tempat ini", sahut Tumenggung Sindupraja segera.
"Hehehehe..
Dengan adanya bantuan dari kalian berdua dan para punggawa istana Seloageng, aku bisa tenang saat pergi nanti", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul.
Song Zhao Meng alias Dewi Wulandari, Gayatri dan Ayu Ratna sedang asyik berbincang di taman sari istana saat Panji Tejo Laksono memasuki tempat itu. Gayatri yang melihat kedatangan sang suami, tanpa menunggu lama lagi segera melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dan menubruk tubuh pangeran muda itu.
"Kangmas Pangeran..
Kau sudah pulang!!".
Perilaku Gayatri ini seketika membuat Ayu Ratna dan Song Zhao Meng terkejut dan menoleh ke arah mereka. Begitu melihat suami mereka datang, dua perempuan cantik itu segera menghambur ke arah Panji Tejo Laksono.
Gayatri memeluk tubuh Panji Tejo Laksono dari depan, Song Zhao Meng dari kiri sedangkan Ayu Ratna dari kanan. Panji Tejo Laksono gelagapan juga menghadapi ulah ketiga istrinya itu.
"Hei, apa kalian ingin membuat Kangmas Pangeran sesak nafas dengan ulah kalian bertiga? Mbok ya satu-satu bergiliran agar Kangmas Pangeran tidak kebingungan begitu", ucap keras Luh Jingga yang segera membuat Ayu Ratna, Gayatri dan Song Zhao Meng melepaskan pelukannya pada Panji Tejo Laksono dan menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono yang kebingungan dengan sikap mereka.
"Maafkan kami Kangmas Pangeran. Kami terlalu senang dengan kehadiran Kangmas sampai seperti orang hilang ingatan begini hihihi..
Lain kali tidak akan kami ulangi lagi", ujar Ayu Ratna sambil tersenyum penuh arti.
"Benar itu Kakak Thee..
Rindu sekali dengan mu jadi aku sampai lupa tata krama. Maafkan aku Kakak Thee", sambung Song Zhao Meng segera.
"Mereka ini memang begitu, Kangmas Pangeran.
Selama Kangmas Pangeran pergi selalu saja membicarakan tentang Kangmas Pangeran. Sedang apa, makan apa, Luh Jingga sanggup merawat Kangmas atau tidak, Kirana bagaimana nasibnya. Uh pokoknya ada saja yang mereka ributkan setiap hari", Gayatri terkekeh geli melihat Ayu Ratna dan Song Zhao Meng yang melotot lebar ke arah nya karena mengadu kepada suami mereka.
"Bukankah kau juga sama, Kangmbok Gayatri?
Bisa-bisanya Kangmbok mengadukan kami seperti itu", ujar Ayu Ratna yang tidak terima dengan pengaduan Gayatri.
"Sudah cukup! Jangan ribut sendiri.. Aku pulang ke Seloageng ingin mendapatkan ketenangan jiwa berkumpul bersama kalian jadi tolong jangan ada lagi keributan. Apa kalian mengerti?", Panji Tejo Laksono menatap wajah semua wanitanya.
"Sendiko dawuh Kangmas Pangeran", ujar keempat orang wanita cantik itu bersamaan dan juga anggukan kepala dari Dyah Kirana.
Namun ketenangan itu juga tidak berlangsung lama karena mereka ribut lagi untuk menentukan siapa yang akan menemani Panji Tejo Laksono tidur malam ini. Panji Tejo Laksono sampai memijat kepalanya karena keributan mereka.
'Beginikah cinta? Pusing nya tiada akhir?'
****
Sementara Panji Tejo Laksono di pusingkan dengan keributan para istri nya, nun jauh di Utara tepatnya di kawasan Bukit Lanjar dimana berdiri sebuah padepokan silat yang punya nama besar di dunia persilatan Tanah Jawadwipa, Padepokan Anggrek Bulan.
Di depan sebuah kamar tidur yang berada dalam balai utama padepokan yang hanya menerima murid perempuan itu, dua orang wanita paruh baya yang memakai pakaian serba putih dengan beberapa bagian terbuat dari kain warna emas dan perak sedang mondar-mandir di depan kamar. Wajah dua perempuan yang masih memiliki gurat gurat kecantikan di masa mudanya itu terlihat menyiratkan adanya kekhawatiran yang mendalam.
"Bagaimana ini Kangmbok Anggrek Emas?
Guru sudah hampir satu purnama lebih tidak juga mau menghentikan semedinya. Padahal Kangmbok tahu sendiri keadaan guru sedang sakit waktu itu. Aku khawatir dengan keselamatan nya", ujar perempuan yang memakai kain berwarna perak yang memanggil perempuan lainnya dengan sebutan Anggrek Emas.
Iya, mereka adalah Anggrek Emas dan Anggrek Perak. Dua murid utama Padepokan Anggrek Bulan yang merupakan murid langsung dari sang pimpinan utama yakni Dewi Anggrek Bulan. Kedua perempuan itu telah memutuskan untuk tidak menikah dan mengabdikan hidupnya untuk merawat Dewi Anggrek Bulan sebagai balas jasa atas pertolongan guru mereka.
"Aku juga bingung, Perak..
Tapi aku juga tidak berdaya menghadapi sikap keras kepala Guru yang ingin bertemu dengan putra Prabu Jayengrana itu.
Kini aku cuma bisa menggabungkan harapan pada dua murid ku Anggrek Kuning dan Anggrek Lembayung untuk menemui orang itu segera", ucap Anggrek Emas sambil menghela nafas berat.
"Tak bisakah kita membujuk guru untuk menghentikan semedi nya sampai dua murid mu pulang kemari, Kangmbok?", ada nada suara penuh kekhawatiran terucap dari mulut Anggrek Perak.
"Aku sudah berulang kali melakukannya, Perak.
Tapi guru juga bersikukuh tidak mau keluar dari dalam kamarnya sebelum Panji Tejo Laksono datang kemari", Anggrek Emas menggelengkan kepalanya.
Anggrek Perak menatap ke arah pintu kamar tidur yang tertutup rapat itu seolah ingin mendobraknya agar gurunya bersedia untuk keluar dari sana karena khawatir dengan kondisi tubuh perempuan yang berusia lebih dari 100 tahun itu. Namun dia juga tahu bahwa gurunya sangat keras kepala terlebih lagi setelah usianya menginjak 100 tahun lebih.
'Semoga Panji Tejo Laksono segera datang kemari'