
"Semakin lama semakin ngawur saja pikiran mu, Gayatri..
Sekarang kau tidur sana dengan Luh Jingga. Kalian harus rukun dalam berbagi kamar. Kalau sampai ribut, semuanya keluar dari tempat ini", ucap Panji Tejo Laksono sembari berlalu menuju ke arah kamar tidur nya.
Gayatri dan Luh Jingga saling berpandangan sejenak. Sesaat mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.
"Baiklah, sudah waktunya untuk tidur..
Ayo Gusti Putri, kita istirahat", ajak Luh Jingga yang segera melangkahkan kaki menuju ke kamar tidur nya. Gayatri menghela nafas panjang sebelum mengikuti langkah Luh Jingga menuju ke arah kamar tidur.
Malam itu hujan lebat mengguyur wilayah Kotaraja Kadiri dengan derasnya. Kilatan petir menyambar dan suara guntur bergemuruh membuat suasana menjadi dingin dan mencekam.
Thok thookkk thok...
Suara ketukan pintu kamar tidur membuat Panji Tejo Laksono yang sudah memejamkan matanya langsung terjaga. Segera dia beranjak dari tempat tidur nya dan menuju ke arah pintu kamar.
Krrriiiiieeeeeeeeetttthhhh!!
Saat pintu kamar tidur terbuka, wajah cantik Gayatri dan Luh Jingga tersembul di sana. Panji Tejo Laksono langsung menatap heran kearah mereka berdua.
"Ada apa lagi kalian membangunkan aku di tengah malam begini?", tanya Panji Tejo Laksono sambil menguap lebar.
"I-itu Gusti Pangeran, atap nya bocor jadi pembaringan nya basah", jawab Luh Jingga dengan nada sedikit ketakutan kena marah Panji Tejo Laksono.
Hemmmmmmm...
"Sepertinya tempat ini perlu perbaikan juga perlu di perluas. Kalian tidur saja di kamar ku", ucap Panji Tejo Laksono sembari berbalik arah ke arah tempat tidurnya.
Pangeran muda itu segera naik ke atas pembaringan nya sembari membenarkan selimut tidur.
Gayatri dan Luh Jingga bergegas masuk ke dalam kamar tidur dan menutup pintu. Setelah itu mereka saling berpandangan sejenak sebelum mereka buka suara.
"Lantas kami tidur dimana Gusti Pangeran?", tanya Gayatri dengan cepat.
"Ya disini.. Kalau kalian keberatan tidur seranjang dengan ku, kalian bisa tidur di lantai kamar tidur. Itu ada tikar daun pandan yang bisa kalian jadikan alas", jawab Panji Tejo Laksono yang memang sudah mengantuk.
Mendengar jawaban itu, Luh Jingga dan Gayatri langsung saling berpandangan sejenak. Perlahan kedua gadis cantik itu mendekati ranjang tidur dari arah yang berbeda. Gayatri dari kanan dan Luh Jingga dari kiri. Kemudian kedua orang gadis cantik itu terdiam begitu duduk di tepi ranjang tidur dengan pikiran masing-masing.
'Apa pantas aku tidur seranjang dengan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono? Kalau dia macam macam bagaimana? Aduh bagaimana ini?', batin Luh Jingga sambil memainkan ujung selendang nya.
'Duh Gusti Pangeran Panji, aku sebenarnya senang sekali bisa seranjang dengan mu tapi kita belum punya ikatan yang resmi? Bagaimana ini? Tidur seranjang atau tidak?', berjuta pikiran melintas di kepala Gayatri.
Setelah cukup lama merenung dan mencoba untuk membuat keputusan, dua gadis cantik itu segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono untuk bertanya. Namun Panji Tejo Laksono ternyata sudah terlelap dalam tidurnya.
Tanpa pikir panjang lagi, Luh Jingga segera naik ke atas tempat tidur dan menjajarkan tubuhnya yang semampai di samping Panji Tejo Laksono. Dengan cepat ia memejamkan matanya di samping Panji Tejo Laksono.
Melihat tindakan Luh Jingga yang dengan berani tidur di sebelah Panji Tejo Laksono, Gayatri pun tidak mau kalah. Dengan sedikit tergesa dia segera memposisikan dirinya di samping tubuh Panji Tejo Laksono sembari menata selimut tidur sang pangeran muda.
Hujan deras terus membasahi bumi di malam hari itu hingga pagi menjelang tiba.
Pagi itu cuaca masih belum begitu bersahabat. Rintik gerimis masih turun membasahi wilayah Istana Katang-katang. Sang surya pun belum juga menampakkan diri di langit timur hingga suhu udara terasa dingin menusuk tulang.
Siwikarna dan Jaluwesi masih tertidur pulas di serambi kediaman Panji Tejo Laksono. Semalam mereka terlambat pulang karena ikut berpesta di istana hingga pulang ke Keputran Kadiri dalam keadaan mabuk tuak dan arak.
Dewi Anggarawati bersama tiga orang dayang istana datang membawakan beberapa makanan untuk Panji Tejo Laksono. Ada dua nampan yang berisi aneka jajanan dan makanan.
Melihat Jaluwesi dan Siwikarna yang masih tertidur, Dewi Anggarawati langsung berdehem keras.
Ehemmm! ehemmm!!
Mendengar suara itu, Siwikarna terbangun dari tidurnya. Begitu melihat Dewi Anggarawati sudah berdiri di serambi kediaman Panji Tejo Laksono, Siwikarna segera menyepak kaki Jaluwesi yang masih mendengkur. Seketika Jaluwesi terbangun dari tidurnya. Mereka berdua segera menyembah pada Ratu Panjalu Pertama itu.
"Sembah bakti hamba Gusti Ratu..
Ada gerangan apa yang membuat Gusti Ratu datang ke Keputran Kadiri sepagi ini?", ucap Jaluwesi dengan penuh hormat.
"Dimana junjungan mu? Kenapa belum kelihatan batang hidungnya?", tanya Dewi Anggarawati sambil menatap sekeliling tempat itu.
"Sepertinya Gusti Pangeran masih tidur, Gusti Ratu..
Biasanya kalau pagi Gusti Pangeran sudah bangun, dia pasti akan berlatih beladiri. Pintu kamar tidur nya juga masih tertutup", jawab Siwikarna sambil membungkukkan badannya.
"Anak ini kenapa belum juga bangun?
Kalian minggir, biar aku yang membangunnya. Ada hal penting yang perlu aku sampaikan ", ujar Dewi Anggarawati sambil melangkah masuk ke dalam Puri. Siwikarna dan Jaluwesi langsung minggir dari hadapan Dewi Anggarawati.
Begitu sampai di depan bilik kamar Panji Tejo Laksono, Dewi Anggarawati langsung mendorong pintu kamar tidur. Ternyata tidak di kunci.
Begitu melihat pemandangan yang tersaji di atas pembaringan, mata Dewi Anggarawati langsung melebar.
Bagaimana tidak kaget, di atas pembaringan Panji Tejo Laksono sedang tertidur pulas di apik dua gadis cantik yang tengah memeluknya.
"Tejo Laksono...!!!!
Apa yang sedang kau lakukan?!"
Mendengar teriakan keras Dewi Anggarawati tentu saja Panji Tejo Laksono, Luh Jingga dan Gayatri langsung terbangun dari tidurnya. Begitu melihat Dewi Anggarawati berkacak pinggang di pintu kamar, mereka bertiga segera sadar bahwa telah terjadi kesalahpahaman. Buru-buru mereka bertiga segera turun dari atas pembaringan dan mendekati Dewi Anggarawati.
"Kanjeng Ibu,
Ini semua tidak seperti yang Kanjeng Ibu pikirkan. Tolong dengar penjelasan saya dulu", ujar Panji Tejo Laksono segera.
"Apalagi yang mau kau jelaskan? Sudah jelas bukti nya bahwa kau tidur dengan dua perempuan ini", Dewi Anggarawati membalas dengan ketus.
Kalian berdua, cepat ceritakan pada Kanjeng Ibu apa yang terjadi semalam. Jangan sampai bohong. Cepat", ucap Panji Tejo Laksono sembari menoleh ke arah Luh Jingga dan Gayatri.
"Begini Bibi Ratu,
Semalam setelah pulang dari perayaan, saya menginap di sini karena tidak mau Gusti Pangeran meninggalkan saya seperti waktu peperangan kemarin. Nah karena itu saya tidur sekamar dengan Luh Jingga di kamar belakang. Ketika hujan deras turun, atap di kamar tidur kami bocor hingga kami terpaksa keluar dari kamar.
Karena kebingungan, kami terpaksa membangunkan Gusti Pangeran karena tidak tahu harus bagaimana. Setelah itu Gusti Pangeran mempersilakan kami untuk tidur di tempat ini. Tapi karena hanya ada satu ranjang tidur, terpaksa kami harus berbagi tempat untuk beristirahat.
Sungguh tidak terjadi apa-apa semalam, Bibi Ratu. Kami hanya berbagi tempat tidur saja", Gayatri menghormat pada Dewi Anggarawati.
"Benar Gusti Ratu, seperti itulah cerita yang sebenarnya", Luh Jingga ikut bicara dengan penuh ketakutan.
Hemmmmmmm..
Terdengar suara dengusan nafas panjang dari Dewi Anggarawati. Panji Tejo Laksono buru-buru memegang tangan ibunya.
"Kanjeng Ibu sudah mendengar penjelasan dari mereka bukan? Jadi saya mohon Kanjeng Ibu tidak salah paham lagi", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.
"Aku tidak mau dengar penjelasan mu, Tejo Laksono..
Kau sudah tidur bersama mereka. Kau harus bertanggung jawab atas segala yang terjadi. Entah mereka kau jadikan selir atau permaisuri, aku tidak mau tahu. Seharusnya sebagai lelaki kau harus mengerti. Jika sampai kejadian ini menyebar di kalangan masyarakat Kerajaan Panjalu, apa pandangan mereka tentang akhlak mulia para putra raja? Lantas mau di taruh dimana martabat keluarga kerajaan Panjalu?
Jadi untuk selanjutnya kau yang harus bertanggung jawab atas mereka. Aku tidak mau putra ku menjadi seorang lelaki yang tidak bertanggungjawab", Dewi Anggarawati menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Aku mengerti, Kanjeng Ibu. Panji Tejo Laksono patuh pada aturan Kanjeng Ibu", ucap Panji Tejo Laksono segera.
Mendengar jawaban itu, Luh Jingga dan Gayatri yang sedang tertunduk diam diam tersenyum penuh arti.
"Harus begitu. Kau pangeran Panjalu, harkat dan martabat keluarga Istana Katang-katang tergantung pada tindak tanduk mu.
Oh iya, aku ingin memberi tahu mu sesuatu. Adipati Aghnibrata dari Kalingga meminta perjodohan pihak kerajaan Panjalu dengan mereka. Dia ingin menjodohkan putri bungsu nya, Ayu Ratna dengan mu. Kita tidak punya pilihan lain selain menerima permintaan ini karena wilayah Kalingga sangat penting bagi Panjalu di bagian barat sebagai penjaga keamanan", Dewi Anggarawati menatap ke arah Panji Tejo Laksono.
"Haduh Kanjeng Ibu, dua perempuan ini saja sudah membuat aku pusing kenapa masih ada lagi yang ingin di jodohkan dengan ku?", Panji Tejo Laksono memelas.
"Kau seorang pangeran, kehidupan pernikahan mu bukan semata-mata atas dasar cinta tapi juga dukungan politik sebagai calon penerus tahta Kerajaan Panjalu.
Kau adalah salah satu dari calon Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Maka dukungan para penguasa daerah sangat penting bagimu. Diantara kau, Jayawarsa dan Jayagiri, kau adalah yang memiliki peluang paling besar sebagai penerus ayahanda mu. Karena itu, mau tidak mau suka tidak suka kau harus menikahi putri Kalingga itu untuk menguatkan kedudukan mu di wilayah barat", ucap Dewi Anggarawati tegas.
Panji Tejo Laksono langsung menghela nafas berat mendengar ucapan sang ibunda permaisuri.
"Baiklah kalau begitu, Kanjeng Ibu..
Tejo Laksono patuh pada perintah Kanjeng Ibu tapi Tejo Laksono punya syarat", Panji Tejo Laksono menatap wajah cantik Dewi Anggarawati.
"Apa yang kau inginkan, Putraku?", tanya Dewi Anggarawati segera.
"Aku ingin melihat Ayu Ratna sebelum setuju untuk menikah dengan nya. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku tahu bagaimana sifat dan kepribadian nya. Itu sama seperti membeli kucing dalam karung", jawab Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Syarat mu ibu terima, Putraku..
Lantas kapan kau akan berangkat ke Kalingga?", kembali Dewi Anggarawati bertanya.
"Hari ini juga aku akan berangkat ke Kalingga, Kanjeng Ibu.
Menunda masalah seperti ini akan membuat hidup ku tidak tenang saja. Tapi aku tidak mau Ayu Ratna mengenali ku sebagai putra sulung Prabu Jayengrana, jadi aku kesana tanpa pengawalan dari pihak istana Kotaraja agar aku tahu sifat aslinya seperti apa", Panji Tejo Laksono tersenyum kecut.
Mendengar jawaban itu Dewi Anggarawati tersenyum simpul sembari mengelus pipi sang putra.
Pagi itu, usai sarapan pagi bersama dengan Dewi Anggarawati dan Prabu Jayengrana, Panji Tejo Laksono berpamitan kepada mereka untuk berangkat ke Kalingga. Namun karena Panji Tejo Laksono adalah calon penerus tahta, dia tidak diizinkan untuk berangkat sendiri meskipun awalnya Panji Tejo Laksono menolak keras. Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg di tugaskan untuk menjaga Panji Tejo Laksono selama perjalanan.
Rombongan berjumlah 10 orang itu akhirnya berangkat menuju ke Kalingga setelah Prabu Jayengrana dan Dewi Anggarawati melepaskan kepergian mereka di alun alun Istana Kadiri.
****
Seorang gadis cantik berpakaian hijau muda khas bangsawan nampak sedang duduk di taman sari Istana Kadipaten Kalingga. Wajahnya yang bulat telur dengan mata yang indah nampak memandang ke arah aneka bebungaan yang tumbuh subur di taman sari. Dia seperti sedang melamun.
Kemarin dia mendapatkan kabar bahwa ayahnya Adipati Aghnibrata, sang penguasa daerah Kalingga menjodohkannya dengan pangeran dari Daha. Sebenarnya dia tidak suka dengan acara perjodohan semacam ini. Dia ingin menikah dengan seorang lelaki yang di cintai nya. Tapi untuk menolak perjodohan ini, dia bingung bagaimana caranya.
"Gusti Putri,
Kenapa Gusti Putri terlihat sedih begitu? Wong mau di nikahkan dengan putra raja kog malah cemberut", tanya seorang dayang istana Kadipaten Kalingga yang sedang menemani gadis cantik itu.
"Aku tidak mau di jodohkan seperti ini, Sukesi..
Aku ingin hidup bersama dengan orang yang aku cintai. Bukan dengan orang yang hanya mengandalkan nama besar Prabu Jayengrana saja", jawab si gadis cantik itu sembari menghela nafas berat.
"Lha mau bagaimana lagi?
Seharusnya Gusti Putri Ayu Ratna bersyukur karena mendapatkan jodoh seorang pangeran. Tidak semua gadis bisa seberuntung Gusti Putri loh punya calon suami yang kelak menjadi penguasa Tanah Jawadwipa ini", balas si dayang istana yang bernama Sukesi itu.
"Ah kau ini. Aku tidak gila dengan pangkat dan kedudukan Sukesi. Kau tahu kebanyakan para pangeran itu mata keranjang, istri nya banyak dan suka mempermainkan wanita.
Syukur syukur kalau dia tampan. Kalau jelek? Hadehhh aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib ku ke depannya jika punya suami seperti itu. Pokoknya aku tidak mau dijodohkan dengan pangeran dari Kadiri itu", Ayu Ratna bersikeras untuk menolak.
"Gusti Putri tidak boleh egois dengan mementingkan diri sendiri. Gusti Adipati pasti sudah memikirkan segala sesuatu nya dengan teliti. Gusti Putri harus ingat bahwa pernikahan Gusti Putri dengan pangeran dari Kadiri itu bukan urusan perasaan saja, tapi juga untuk mendekatkan keluarga Istana Kadipaten Kalingga dengan Istana Kadiri", balas Sukesi dengan bijak. Gadis berusia 2 dasawarsa terlihat tersenyum setelah berbicara.
"Kau ini kenapa semangat sekali dengan acara perjodohan ini? Kau saja yang menikah dengan nya. Aku tidak mau.
Pokoknya aku mau minggat saja dari istana ini jika tetap di paksa untuk menikah dengan pangeran dari Kadiri itu", balas Ayu Ratna dengan cepat. Perkataan Ayu Ratna ini terdengar oleh telinga Adipati Aghnibrata yang bermaksud untuk menjumpai Ayu Ratna siang hari itu. Dengan geram dia mendekati Ayu Ratna dan Sukesi yang tidak menyadari kehadiran nya.
"Apa yang baru kau ucapkan, Ayu Ratna?"