Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Putri Pertama


"Tunggu sebentar Gusti Adipati..


Heh, prajurit. Kapan kau mendapatkan laporan masalah kebakaran ini?", Patih Mpu Waseso mengalihkan pandangannya pada prajurit jaga yang baru melapor.


"Kata prajurit yang datang ke depan pintu gerbang istana, itu baru saja terjadi. Sekitar waktu menanak nasi yang lalu. Katanya itu bukan kebakaran biasa yang menggunakan api. Ada kekuatan tenaga dalam yang menghempaskan puluhan obor di sekitar gudang pangan", terang sang prajurit dengan cepat.


Mendengar jawaban itu, baik Adipati Sasrabahu dan Patih Mpu Waseso saling pandang. Itu adalah waktu Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya pergi meninggalkan tempat itu dengan ilmu menghilang yang di gunakan oleh Panji Tejo Laksono.


"Berarti benar dugaan ku, Gusti Adipati.


Ini adalah ulah dari Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Ini sesuai dengan omongan nya sebelum pergi", ucap Patih Mpu Waseso segera.


"Benar juga Paman Patih Waseso..


Kalau melihat dari waktu kepergian dan kejadian kebakaran, serta kemampuan ilmu menghilang milik Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, ini memang benar-benar ulahnya. Pangeran muda yang satu ini benar-benar pintar ", puji Adipati Sasrabahu sembari mengusapkan kumisnya yang tebal.


"Hamba masih kurang paham dengan apa yang Gusti Adipati maksudkan", Patih Mpu Waseso menatap wajah Adipati Sasrabahu. Sebelum bicara, Adipati Sasrabahu segera memberikan isyarat kepada para prajurit penjaga istana untuk meninggalkan tempat itu. Dua orang prajurit itu segera menyembah pada Adipati Sasrabahu dan segera pergi dari ruang pribadi adipati.


"Begini Paman Patih Waseso..


Dengan kebakaran ini tentu saja Istana Kadipaten Anjuk Ladang akan mengalami kekurangan bahan pangan. Tentu saja kita harus mengutamakan kebutuhan pangan istana lebih dulu, baru memikirkan kebutuhan para prajurit Paman Mpu Sena.


Dengan begini, para prajurit Paman Mpu Sena akan kekurangan bahan pangan dan tentu saja akan membuat Paman Mpu Sena jadi tidak bisa meningkatkan pelatihan karena harus mencari penyokong kebutuhan pangan mereka agar tetap bisa melanjutkan pelatihan prajurit.


Dua kebakaran gudang inilah yang menjadi titik balik dalam upaya Paman Mpu Sena yang ingin merongrong kewibawaan Pemerintah Kotaraja Daha. Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono memang benar-benar pintar dalam bersiasat tanpa harus direpotkan dengan peperangan di waktu ini", ucap Adipati Sasrabahu sembari tersenyum tipis.


"Tapi Gusti Adipati, kebakaran ini juga akan membuat pasokan makanan ke istana Kadipaten Anjuk Ladang berkurang banyak.


Apa ini juga yang dikatakan oleh Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono untuk mencarinya ke Seloageng?", kembali Patih Mpu Waseso bertanya segera.


"Tepat sekali..


Inilah alasan mengapa aku memuji kepintaran Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono dalam bertindak. Sekali gebrak dua sasaran langsung jatuh. Paman Mpu Sena yang pusing dengan makanan para prajurit, dan permohonan kita akan bantuan dari Seloageng yang langsung membuat kita berhutang budi pada mereka.


Dia sungguh luar biasa dan pantas menjadi raja Panjalu selanjutnya ", pungkas Adipati Sasrabahu yang membuat Patih Mpu Waseso manggut-manggut mengerti.


Di selatan Kota Kadipaten Anjuk Ladang...


Panji Tejo Laksono dan para pengikutnya menyaksikan langsung kebakaran gudang pangan istana Anjuk Ladang dari kejauhan. Kobaran si jago merah yang membumbung tinggi ke udara membuat wilayah di sekitar tempat itu menjadi terang benderang.


Ya, memang Panji Tejo Laksono lah pelaku pembakaran gudang pangan istana Anjuk Ladang. Selepas menggunakan Ajian Halimun nya untuk membawa para pengikutnya keluar dari dalam ruang pribadi Adipati Anjuk Ladang, dia lekas menghantamkan tapak tangan kanan nya yang berwarna merah menyala berhawa panas dari Ajian Tapak Dewa Api dan tapak tangan kiri nya yang menggunakan Ajian Kitiran Sewu ke arah gudang pangan istana.


Kuatnya tenaga dalam yang dia lepaskan sanggup menghancurkan gudang pangan istana. Obor yang jatuh, sontak menyambar aneka macam bahan pangan kering yang tertata rapi di dalam gudang. Di tambah lagi hembusan angin kencang dari Ajian Kitiran Sewu membuat api dengan cepat menjalar ke seluruh tempat. Kebakaran hebat pun segera terjadi.


Setelah membakar gudang pangan istana Anjuk Ladang di selatan, Panji Tejo Laksono seorang diri menggunakan Ajian Halimun nya ke gudang pangan istana Anjuk Ladang di sebelah barat yang sudah dia ketahui sebelumnya. Sama seperti di gudang pangan selatan, Panji Tejo Laksono menggunakan car yang sama untuk membakar gudang pangan istana Anjuk Ladang. Setelah itu ia kembali ke tempat semula ia datang bersama dengan Endang Patibrata, Tumenggung Ludaka dan Senopati Sembada.


Senopati Sembada pun di utus untuk memanggil Demung Gumbreg, Cendana dan Cendani serta para prajurit pengikutnya untuk berkumpul di tempat itu. Karena malam itu juga, mereka harus segera pergi dari Kota Kadipaten Anjuk Ladang.


Dua kali waktu menanak nasi, Senopati Sembada bersama dengan Demung Gumbreg, Cendana dan Cendani serta para prajurit pengawal pribadi Senopati Sembada datang ke tempat itu. Semuanya membawa barang bawaan yang di bungkus kain hitam dan terikat pada punggung masing-masing.


"Senopati Sembada..


Aku berterimakasih atas bantuan mu untuk mengatasi masalah ini. Aku tugaskan kau untuk segera pulang ke Kadipaten Lewa dan menghadap Adipati Arya Menir. Katakan padanya bahwa aku membutuhkan tenaga mu untuk menjadi seorang punggawa di Kotaraja Daha.


Setelah mendapatkan ijin dari nya, boyong semua anggota keluarga mu ke Kadiri. Ada tempat yang ku sediakan untuk kalian sekeluarga", perintah Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Senopati Sembada tersenyum lebar.


"Terimakasih atas kepercayaan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Hamba patuh pada perintah dari Gusti Pangeran.


Untuk kedua orang prajurit pengawal pribadi hamba, apa boleh hamba mengajak mereka turut serta ke Kadiri", balas Senopati Sembada sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Tentu saja..


Mereka berdua juga ikut berjasa dalam hal ini. Berangkatlah sekarang juga, dan sesampainya di Daha carilah Paman Ludaka untuk mengurus penempatan mu", ucap sang pangeran muda sambil tersenyum.


"Sendiko dawuh Gusti Pangeran ", Senopati Sembada dan dua orang prajurit pengawal pribadi nya itu segera menyembah sebelum mereka menggebrak kuda tunggangan nya meninggalkan tempat itu, menembus kegelapan malam menuju ke arah Kadipaten Lewa.


Lepas tengah malam, mereka sampai di tepi Sungai Kapulungan. Kabut tebal yang menutupi pandangan mata memaksa mereka untuk menghentikan langkahnya karena hampir tidak bisa melihat dengan jelas pada jarak 4 depa di depan.


"Kangmas Pangeran, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan. Kabut ini terlalu menyulitkan pandangan mata kita", ucap Endang Patibrata yang berkuda di samping Panji Tejo Laksono.


"Baiklah, kita harus segera berhenti..


Sepertinya di depan ada sebuah rumah. Lihatlah ada pelita yang menyala disana", Panji Tejo Laksono menunjuk ke arah sebuah pelita yang terlihat seperti sedang di tiup angin tak jauh dari tempat mereka menghentikan langkah.


Mereka berempat pun segera menjalankan kuda mereka menuju ke arah pelita itu.


Saat mereka mendekati tempat pelita itu berada, mereka melihat seorang lelaki tua bertubuh kurus sedang menaikkan bubu bambu yang digunakan untuk menjerat ikan. Sepertinya lelaki tua itu adalah seorang nelayan yang tinggal di barat Sungai Kapulungan. Beberapa ekor ikan gabus dan bader sudah terikat pada tali yang menggantung pada sebatang pohon lamtoro di dekatnya.


"Permisi Kisanak..


Mohon maaf kami merepotkan mu", mendengar suara Panji Tejo Laksono, lelaki tua itu segera menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.


"Eh ada apa Anak muda? Malam-malam begini masih keluyuran di tepi sungai.


Apa kalian sedang kemalaman di jalan?", tanya si lelaki tua itu sambil kembali memasukkan penghalang bubu bambu dan kembali membenamkan nya ke tepi sungai.


"Kau benar Ki..


Kami para pengelana yang ingin menjelajahi seluruh wilayah Kerajaan Panjalu. Mohon bantuannya, kami sedang kemalaman di jalan dan membutuhkan tempat untuk beristirahat", ujar Panji Tejo Laksono dengan sopan.


Lelaki tua itu segera menatap wajah tampan Panji Tejo Laksono. Setelah yakin bahwa dia orang baik-baik, sambil menenteng renteng ikan gabus dan bader, dia mendekati mereka.


"Rumah ku ada di balik bukit sana. Saat pagi baru pulang ke rumah. Tapi aku punya tempat tinggal di dekat dermaga penyeberangan. Kalau kalian mau, bisa ke tempat ku untuk melepas lelah", ujar lelaki tua itu segera.


Panji Tejo Laksono menyetujui dan segera mengikuti langkah sang nelayan tua itu ke sebuah rumah kecil yang terletak sekitar 200 depa dekat dermaga penyeberangan. Malam itu, Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan beristirahat sejenak di rumah nelayan tua itu menunggu datangnya mentari pagi.


****


"Bagaimana Kangmbok Gayatri? Perutnya masih terasa mulas-mulas ya?", tanya Dyah Kirana pada Luh Jingga yang baru keluar dari dalam kamar tidur Gayatri.


Sejak tadi sore, Gayatri mengeluhkan perutnya yang sedang hamil besar, terasa mulas terus menerus. Beberapa orang tabib istana Kadipaten Seloageng dan Song Zhao Meng yang ahli pengobatan sedang berupaya keras untuk menyembuhkannya.


"Para tabib istana sedang berjuang untuk mengobati sakit Kangmbok Gayatri, Kirana..


Kita doakan saja semoga sakitnya cepat disembuhkan", jawab Luh Jingga sembari mengelus perutnya yang juga membuncit. Putri Resi Damarmoyo dari Bukit Penampihan ini juga sedang hamil 4 purnama.


Seluruh istri Panji Tejo Laksono yang lain seperti Ayu Ratna, Song Zhao Meng, Luh Jingga, Dyah Kirana dan mertua Panji Tejo Laksono, Patih Sindupraja ikut bingung dengan sakitnya Gayatri. Mereka saling bergantian menjaga sang selir pertama Panji Tejo Laksono sejak sore tadi.


"Kangmbok Luh Jingga, jangan-jangan Kangmbok Gayatri mau melahirkan..", celetuk Ayu Ratna yang baru saja datang setelah beristirahat tadi usai giliran nya berjaga.


"Aku juga berharap begitu, Nimas Ayu Ratna..


Dengan begitu, saat Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono pulang, anaknya nanti sudah lahir", Luh Jingga segera duduk di kursi yang ada di dekat bilik kamar tidur Gayatri.


Saat mereka sibuk berbincang membicarakan tentang semua kemungkinan, tiba-tiba...


Ooooeeekkkkk oeeeekkkkk!!!!


Suara keras tangis bayi yang baru lahir terdengar dan ini langsung membuat semua orang yang ada di situ kaget sekaligus bahagia.


Dari arah dalam kamar tidur Gayatri, seorang dayang istana kadipaten keluar sambil membawa sekuali air yang bercampur dengan darah dan jarit yang basah oleh air ketuban. Ayu Ratna yang penasaran langsung mencegatnya.


"Dayang...


Anaknya Kangmbok Gayatri laki-laki atau perempuan?"


Sang dayang istana pun segera mengangguk sambil menjawab,


"Seorang putri, Gusti Permaisuri.."