Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Pendopo Agung Istana Katang-katang


Dengan langkah kaki penuh keyakinan, Endang Patibrata langsung melangkah menuju ke arah pintu gerbang Istana Katang-katang. 8 orang prajurit yang sedang bertugas langsung menghentikan langkahnya.


"Berhenti Nisanak...


Ada kepentingan apa kau kemari? Istana sedang kacau, yang tidak ada perlu dilarang untuk masuk", ujar salah seorang prajurit yang berjaga itu dengan tatapan mata penuh selidik. Dia memperhatikan Endang Patibrata dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Aku ingin ikut sayembara yang di adakan oleh Gusti Prabu Jayengrana. Jadi tolong tunjukkan jalan nya", balas Endang Patibrata segera.


"Kau ikut sayembara???!


Huahahahahahaha.. Lucu sekali hahahaha..", tawa keras terbahak-bahak terdengar dari mulut para prajurit Panjalu yang berjaga di depan pintu gerbang istana. Ini adalah hal paling menggelikan yang pernah mereka dengar sepanjang hari ini.


"Hahahaha kau sungguh lucu, nona muda..


Kau pantas menjadi seorang dagelan yang melawak di acara pernikahan hahahaha..", cemoohan seorang prajurit yang tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya sakit akibat geli.


"Apanya yang lucu?


Apa aku salah ingin berpartisipasi dalam sayembara itu he?", Endang Patibrata menggaruk kepalanya sendiri.


"Tidak salah Nisanak hahahaha..


Tapi kau salah tempat. Ini bukan arena bermain gadis muda seperti mu. Sebaiknya kau jalan saja ke pasar besar dan membeli beberapa peralatan rias wajah. Siapa tahu nanti ada lelaki kaya raya yang mau menjadikan mu istri hehehehe", ucapan itu benar-benar melecehkan Endang Patibrata.


"Asal kau tahu saja Nisanak, kemarin ada seorang pertapa sakti mandraguna yang ikut dalam sayembara ini. Tak sampai waktu menanak nasi, dia sudah tewas dengan tubuh penuh darah.


Kau yang baru kemarin ******* di susu ibu mu, apa sudah bosan hidup dan ingin mati secepatnya hingga mau ikut serta dalam sayembara ini? Konyol sekali..", ujar si prajurit yang pertama kali menanyai Endang Patibrata.


"Huhhhhh, dasar orang sempit pikiran..


Kalian semua hanya menilai kemampuan seseorang dari usianya bukan dari keahliannya. Sungguh katak di dalam tempurung.


Sudah cukup, jangan banyak bicara. Antarkan aku ke acara sayembara itu. Jika tidak, aku akan mengadukan kalian semua pada Bibi Selir Cempluk Rara Sunti..", ancam Endang Patibrata yang langsung membuat semua prajurit penjaga gerbang istana itu terperangah.


"Bi-bibi Selir Cempluk Rara Sunti??


Si-siapa kau sebenarnya Nisanak?", tanya salah seorang prajurit dengan terbata-bata. Dia mulai takut akan mendapat masalah karena telah menertawakan Endang Patibrata.


"Aku adalah keponakan Bibi Selir Cempluk Rara Sunti. Romo ku adalah kakak kandung nya", jawab Endang Patibrata alias Dewi Lembah Wilis enteng.


"Haaahhhhh??!!!


Ma-maafkan kami Nini Dewi. Kami tidak tahu siapa Nini dan telah bersikap seperti tadi", ujar sang prajurit dengan menundukkan wajahnya.


"Sudahlah.. Aku adalah orang yang tidak suka menyimpan dendam. Sekarang kalian antar aku ke tempat diadakannya sayembara", ucap Endang Patibrata segera.


"Mari Nini Dewi..


Silahkan ikuti kami..", ujar prajurit lainnya dengan sopan. Mereka menarik nafas lega karena Endang Patibrata berjiwa besar dan mau memaafkan tingkah konyol mereka.


Mereka segera bergegas masuk ke dalam Istana Katang-katang.


Di Balairung Pendopo Agung Istana Katang-katang, Prabu Jayengrana sedang duduk di singgasana nya sembari menatap ke arah seorang pendekar muda yang sedang duduk bersila di lantai balairung. Beberapa punggawa istana negara seperti Mapatih Warigalit, Mahamantri I Rangga Mpu Jayadharma, Senopati Agung Jarasanda, Tumenggung Ludaka dan Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Gandasena ikut duduk di samping depan kanan kiri sang raja.


Turut hadir pula Adipati Arya Natakusuma dan Patih Tundungwaja bersama dengan Senopati Danuraja yang ingin ikut serta dalam acara sayembara. Mereka sedang menunggu giliran untuk menyelamatkan Dewi Sekar Kedaton yang sedang di tawan Prabu Gendarmanik raja kerajaan siluman Randugrowong.


Empat orang brahmana yang bertugas sebagai pembuka gerbang penembus Istana Siluman Randugrowong, duduk bersila di keempat penjuru mata angin dengan jarak 2 tombak jauhnya dari si pendekar muda yang memakai baju berwarna putih ini.


Keringat dingin mengucur deras dari pelipis sang pendekar yang berusia sekitar 3 dasawarsa ini. Rupanya sukma nya sedang bertarung melawan para dedemit Istana Siluman Randugrowong.


Segera keringat yang keluar berganti menjadi darah segar. Lalu..


Blllaaaaaarrr blllaaaaaarrr!!


Tubuh sang pendekar itu mencelat menghantam lantai balairung dengan keras. Tubuhnya seketika kelojotan sebentar sebelum akhirnya dia diam untuk selamanya. Dia tewas dengan mengenaskan. Melihat itu, Tumenggung Ludaka segera menepuk telapak tangannya dua kali. Dua orang prajurit yang bertugas, langsung menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana sebelum menggotong mayat pendekar itu dari sana.


Adipati Arya Natakusuma tersenyum lebar melihat kejadian itu sedangkan Prabu Jayengrana mengelus kumis tebal nya sembari menghela nafas berat. Sang Maharaja Panjalu itu segera menoleh ke arah dua orang pendekar lainnya yang ikut duduk menunggu giliran mereka untuk beraksi.


"Sekarang giliran kalian.. Silahkan..!!", Prabu Jayengrana mengangkat tangan kanannya mempersilahkan kepada dua pendekar itu untuk bersiap. Namun dua orang itu segera menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana segera.


"Mohon ampun Gusti Prabu Jayengrana..


Kami mengundurkan diri dari sayembara ini", ucap si pendekar berbaju merah tua itu segera. Nyalinya ciut seketika melihat kematian kawannya yang lebih dulu maju.


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan memaksa kalian untuk bertaruh nyawa demi putri ku Dewi Sekar Kedaton.


Sekarang siapa lagi yang ingin mencoba untuk memulangkan Dewi Sekar Kedaton?", Prabu Jayengrana mengedarkan pandangannya pada beberapa pendekar yang lain. Namun mereka semua tidak segera memberikan jawaban atas pertanyaan sang raja.


Melihat itu, Adipati Arya Natakusuma segera menghormat pada Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana.


"Ijinkan hamba untuk mencoba memulangkan Gusti Putri Dewi Sekar Kedaton, Gusti Prabu.


Mungkin sedikit kemampuan beladiri yang hamba miliki bisa berguna di saat seperti ini", ujar Adipati Arya Natakusuma segera.


"Silahkan...", Prabu Jayengrana segera mengangguk dan mengangkat tangan kanannya sebagai tanda persetujuan.


Adipati Arya Natakusuma segera duduk bersila di lantai Pendopo Agung Istana Katang-katang, diantara keempat brahmana yang bertugas sebagai pembuka gerbang ghaib. Tangan kanannya segera bersikap mudra dengan telapak tangan kiri terbuka menghadap ke atas. Mata sang Adipati muda dari Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini segera terpejam rapat. Tak berapa lama kemudian, sukma Adipati Arya Natakusuma sudah berpindah ke dalam Istana Kerajaan Siluman Randugrowong.


Dua siluman hitam dengan dua tanduk menghiasi kepalanya langsung menerjang maju ke arah sukma Adipati Arya Natakusuma. Keduanya segera melayangkan tendangan keras kearah yang berbeda di tubuh Adipati Arya Natakusuma.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!!


Sukma Adipati Arya Natakusuma bertarung sengit melawan para penjaga istana siluman. Dalam beberapa gebrakan jurus, Adipati Arya Natakusuma berhasil mengalahkan para siluman penjaga istana siluman Randugrowong. Jasad mereka pun segera berubah menjadi abu hitam yang dengan cepat tersapu angin.


Setelah mengalahkan beberapa siluman penjaga istana siluman, Adipati Arya Natakusuma bergegas masuk ke dalam istana siluman ini. Selepas melewati gerbang, sang adipati muda ini terus bergerak menuju ke arah tempat Prabu Gendarmanik raja kerajaan siluman Randugrowong ini berada.


Begitu sampai di sana, Adipati Arya Natakusuma melihat Dewi Sekar Kedaton sedang terbaring seperti sedang tidur di atas ranjang pembaringan yang terbuat dari kencana. Senyum lebar terukir di wajah Adipati Arya Natakusuma.


Sang Adipati muda dari Bhumi Sambara Mataram ini segera melesat ke arah pembaringan kencana, namun sebuah bayangan berkelebat sembari mengibaskan tangannya ke arah Adipati Arya Natakusuma.


Whhuuusshhh!!


Serangkum angin kencang berhawa dingin berdesir cepat mengikuti cahaya biru kehitaman yang tercipta dari kibasan tangan si bayangan itu. Adipati Arya Natakusuma segera berjumpalitan menghindari cahaya biru kehitaman itu.


Blllaaaaaarrr blllaaammmmmmmm!!


Dua ledakan keras beruntun terdengar saat cahaya biru kehitaman itu menghantam dinding istana kerajaan siluman Randugrowong ini. Seorang lelaki bertubuh sedikit kurus dengan janggut pendek dan rambut acak-acakan berdiri di samping pembaringan kencana ini sembari menatap tajam ke arah Adipati Arya Natakusuma.


"Siapa kau Kisanak? Jangan halangi tugas ku untuk membawa pulang Dewi Sekar Kedaton!", bentak Adipati Arya Natakusuma segera.


"Aku Kalitri, abdi dalem Gusti Prabu Gendarmanik raja kerajaan siluman Randugrowong.


Siapapun orangnya, tidak boleh membawa Dewi Sekar Kedaton!", tegas si lelaki bertubuh kurus yang bernama Patih Kalitri ini.


"Bangsaaaaaaaaattttt!!


Kau rupanya gedibal si Gendarmanik bajingan itu. Kau harus mati di tangan ku!!", selepas berkata demikian, Adipati Arya Natakusuma segera menyiapkan ajian pamungkas milik nya, Ajian Panglebur Gangsa. Cahaya merah menyilaukan mata muncul di tangan Adipati Arya Natakusuma. Secepat kilat dia menghantamkan tangan kanannya ke arah Patih Kalitri.


Whhhuuutthh...


Patih Kalitri segera melompat menghindari ajian ampuh ini hingga cahaya merah menyilaukan mata itu menghantam dinding istana Randugrowong.


Blllaaammmmmmmm!!


Dinding istana itu langsung jebol akibat dari hantaman Ajian Panglebur Gangsa dari Adipati Arya Natakusuma. Sembari menyeringai lebar, Patih Kalitri membelai dirinya hingga ada 6 orang Patih Kalitri.


"Setan alas!!


Akan ku bunuh kalian semua!!", teriak keras Adipati Arya Natakusuma sembari terus menghantamkan Ajian Panglebur Gangsa nya. Namun karena kebingungan yang melanda Adipati Arya Natakusuma, serangan itu ngawur kemana-mana.


Di dunia nyata, tubuh Adipati Arya Natakusuma sudah bermandi peluh. Meski sukma nya yang bertarung, tapi kelelahan nya dirasakan oleh tubuh kasar nya.


Saat itu, Endang Patibrata muncul bersama dengan para prajurit penjaga gerbang istana.


Patih Tundungwaja yang semula begitu bangga dengan kemampuan kanuragan yang di miliki oleh Adipati Arya Natakusuma, mulai merasakan kekhawatiran yang mendalam terhadap keselamatan sang pimpinan Kadipaten Bhumi Sambara Mataram ini setelah melihat keringat yang keluar dari dalam tubuh sang Adipati muda mulai berganti dengan darah segar. Rupanya kemampuan Adipati Arya Natakusuma sudah mencapai batasnya.


Melihat itu, Patih Tundungwaja pun segera duduk bersila dan melepaskan sukma nya untuk membantu sang Adipati Bhumi Sambara Mataram ini. Sukma sang warangka praja Bhumi Sambara ini langsung melesat cepat ke samping Adipati Arya Natakusuma. Saat 6 sosok Patih Kalitri melepaskan tembakan 6 cahaya biru kehitaman ke arah Adipati Arya Natakusuma, Patih Tundungwaja langsung menghantamkan tapak tangan kanan nya yang di lambari cahaya kuning kemerahan untuk menghadang serangan Patih Kalitri.


Blllaaammmmmmmm!!


Bersamaan dengan itu, Patih Tundungwaja segera kabur sembari menarik sukma Adipati Arya Natakusuma agar kembali ke badan kasar nya.


Hoooeeeeggggh!!


Adipati Arya Natakusuma dan Patih Tundungwaja langsung muntah darah segar setelah berhasil lolos dari maut. Benturan ajian pamungkas yang dilepaskan oleh Patih Tundungwaja dan Patih Kalitri membuat keduanya luka dalam cukup parah. Namun yang paling penting, mereka telah selamat dari kesaktian sang patih Kerajaan Siluman Randugrowong.


Prabu Jayengrana muram durja melihat kegagalan itu. Namun saat itu juga, dia melihat sosok perempuan cantik yang wajahnya mirip dengan seseorang yang amat sangat dikenalnya, Lurah Singo Manggolo. Endang Patibrata langsung menyembah pada sang Maharaja Panjalu itu sebelum duduk bersila di lantai ujung Pendopo Agung Istana Katang-katang.


"Siapa kamu, gadis ayu?", tanya Prabu Jayengrana segera.


"Mohon ampun Gusti Prabu Jayengrana..


Saya Endang Patibrata, putra Kanjeng Romo Lurah Wanua Pulung Singo Manggolo", jawab Endang Patibrata alias Dewi Lembah Wilis dengan sopan.


"Hehehehe.. Pantas saja kau mirip dengan Kakang Singo Manggolo..


Mau apa kau kemari? Ingin mengunjungi bibi dan sepupu mu?", mendengar pertanyaan itu, Endang Patibrata langsung menggeleng cepat sebagai tanda penolakan nya.


"Hamba kemari untuk ikut serta dalam sayembara yang di keluarkan oleh Pemerintah Kotaraja Daha, Gusti Prabu..", Endang Patibrata menyembah setelah selesai bicara.


"Ini bukan acara main-main, Cah Ayu..


Tapi sangat berbahaya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada mu, bagaimana aku menjelaskan nya pada Kakang Singo Manggolo?", sambung Prabu Jayengrana segera.


"Urusan itu, hamba sendiri yang akan bertanggungjawab terhadap pilihan hidup hamba sendiri Gusti Prabu..


Mohon ijinkan hamba ikut serta", mohon Endang Patibrata yang membuat Prabu Jayengrana menghela nafas berat.


Hemmmmmmm..


"Baiklah jika kau memaksa. Silahkan kau bisa memulainya", Prabu Jayengrana mengangkat tangan kanannya sebagai tanda persetujuan. Endang Patibrata pun langsung berdiri dan berjalan ke tempat untuk masuk ke dalam istana siluman Randugrowong ini.


Mulut Endang Patibrata langsung komat-kamit merapal mantra Ajian Ngrogoh Sukmo yang didapat dari Eyangnya, Warok Suropati yang juga merupakan mertua dari Prabu Jayengrana. Dalam sekejap mata, sukma Endang Patibrata langsung masuk ke dalam gerbang ghaib yang menuju ke Istana Siluman Randugrowong.


Prabu Jayengrana tersenyum simpul melihat kemampuan yang dimiliki oleh Endang Patibrata.


'Dia layak menjadi cucu Kanjeng Romo Warok Suropati'