
Munculnya Panji Tejo Laksono secara tiba-tiba tentu saja mengagetkan Nini Raga Setan dan kedua anak buah nya yang berwajah asu ajag ini. Melihat sekilas saja, dua orang perempuan berkepala asu ajag ini jelas bukan bangsa manusia.
Begitu Panji Tejo Laksono muncul, dua orang perempuan berwajah aneh ini langsung menerkam ke arah sang pangeran muda dari Kadiri. Gerakan mereka yang mirip binatang buas ini tentu saja tidak merepotkan bagi Panji Tejo Laksono. Dengan cepat, ia melompat tinggi ke udara menghindari terkaman itu sembari menghantamkan kedua telapak tangannya.
Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh..
Auuuuuwwwwwwww!!
Dua orang perempuan berwajah asu ajag ini langsung mencelat ke arah yang berlawanan sembari melolong panjang seperti sedang kesakitan.
Melihat anak buah nya di jatuhkan dengan mudah, Nini Raga Setan kembali melemparkan Jala Pengurung Jiwa nya ke arah Panji Tejo Laksono.
Whhuuuuuuuggggh!!
Tak mau terjebak dalam situasi seperti tadi, Panji Tejo Laksono bergerak cepat ke samping kanan lalu melompat ke atas Jala Pengurung Jiwa dan berlari cepat kearah Nini Raga Setan. Secepat kilat Panji Tejo Laksono melayangkan sepakan keras ke arah kepala perempuan tua itu. Tangan kiri Nini Raga Setan yang tidak memegang ujung jala langsung memapak serangan itu dengan hantaman bertenaga dalamnya.
Dhasshhh!!
Tubuh Panji Tejo Laksono langsung berputar setelah kaki kanan nya beradu dengan tapak tangan kiri Nini Raga Setan. Di sela sela putaran tubuh nya, Panji Tejo Laksono segera menghantamkan tapak tangan kanan nya ke arah kepala sang sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah.
Nini Raga Setan segera tarik ujung jala untuk melindunginya dari hantaman keras sang pangeran muda dari Kadiri yang mengandung tenaga dalam tingkat tinggi.
Blllaaaaaarrr!!
Nini Raga Setan terdorong mundur beberapa tombak ke belakang begitu juga dengan Panji Tejo Laksono yang mencelat di udara. Dengan merubah gerakan tubuhnya, dia bersalto dua kali dan mendarat di tanah dengan satu dengkul menyangga tubuh.
"Ku akui kau memang hebat, Anak Muda..
Pantas saja Bidadari Bertopeng Perak sampai menyuruh ku turun tangan. Tapi jangan senang dulu sekarang karena aku belum serius bertarung melawan mu!", teriak Nini Raga Setan sembari menyalurkan tenaga dalam nya pada Jala Pengurung Jiwa.
Bentuk Jala Pengurung Jiwa seketika melebar sempurna dengan ukuran hampir 5 depa. Benang-benang halus berwarna kecoklatan itu menjadi kaku hingga mirip seperti payung raksasa dengan cahaya hijau mengalir di setiap benangnya.
Nini Raga Setan segera melemparkan Jala Pengurung Jiwa nya ke arah Panji Tejo Laksono yang berjarak sekitar 4 tombak di depannya.
Whhuuuuuuuggggh!!
Sebuah suara terdengar di telinga Panji Tejo Laksono.
"Keturunan Lokapala..
Sebaiknya kau gunakan pedang mu untuk menghancurkan Jala Pengurung Jiwa. Hanya kekuatan ku saja yang bisa menghancurkan jaring terkutuk itu".
Panji Tejo Laksono langsung mengenali suara yang terdengar hanya oleh nya ini. Suara itu adalah suara Roh Naga Api.
Mendengar suara yang terdengar di telinga nya itu, Panji Tejo Laksono segera mencabut Pedang Naga Api di punggungnya. Hawa panas menyengat langsung menyebar bersamaan dengan kilau cahaya merah menyala yang keluar dari pedang berbilah merah ini.
Nini Raga Setan terkejut bukan main melihat kemunculan Pedang Naga Api di tangan Panji Tejo Laksono. Dia segera menyentak ujung tali Jala Pengurung Jiwa untuk mengurungkan niatnya menyerang ke arah Panji Tejo Laksono karena tahu kehebatan pedang yang menjadi senjata pusaka paling di takuti di dunia persilatan Tanah Jawadwipa ini. Namun dia terlambat.
Shhrreeettthhh!!
Tebasan cepat Pedang Naga Api di tangan kanan Panji Tejo Laksono yang menciptakan cahaya merah menyala tipis ini langsung menebas Jala Pengurung Jiwa hingga merobek jaring maut itu menjadi dua bagian. Tak sampai di situ saja bilah tipis cahaya merah menyala berhawa panas menyengat ini terus bergerak cepat ke arah Nini Raga Setan.
"Bangsaaaaaaaaattttt....!!!!", umpat Nini Raga Setan yang marah besar melihat senjata andalannya terpotong menjadi dua bagian. Perempuan paruh baya itu juga gelagapan saat bilah cahaya tipis nan tajam ini melesat ke arah nya. Dia tidak sempat menghindar lagi.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh ..
AAAARRRGGGGGGHHHHH.....!
Terdengar suara teriakan keras dari mulut Nini Raga Setan saat bilah cahaya tipis Pedang Naga Api membelah tubuhnya hingga menjadi dua bagian. Perempuan paruh baya salah satu dari sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah ini langsung tewas seketika.
Panji Tejo Laksono menarik nafas lega setelah melihat tewasnya lawan. Dia perlahan menurunkan pedangnya. Namun suara Roh Naga Api kembali lagi terdengar di telinga Panji Tejo Laksono.
"Jangan cepat puas diri dulu, Keturunan Lokapala..
Perempuan iblis ini punya Ajian Nawa Jiwa!".
Benar saja omongan Roh Naga Api, dua tubuh Nini Raga Setan perlahan memunculkan bagian tubuh nya yang terpotong. Sebentar kemudian dua orang Nini Raga Setan telah kembali hidup dan menatap tajam ke arah Panji Tejo sambil menyeringai lebar.
Ajian Nawa Jiwa adalah salah satu ilmu kanuragan puncak dunia persilatan. Konon kabarnya, ilmu ini adalah ilmu terkutuk yang merupakan pemberian dari Dewi Durga. Pemilik ajian ini akan memiliki 9 nyawa layaknya nyawa seekor kucing. Setiap kali tubuh pengguna nya terpotong, maka masing-masing potongan tubuh ini akan memunculkan bagian tubuh lainnya hingga utuh dengan kemampuan beladiri dan tenaga dalam yang sama.
Namun saat satu kali dia tewas, maka dia harus mengorbankan nyawa satu perawan dengan cara memenggal kepala korban nya untuk melengkapi ajian ini hingga kembali utuh menjadi 9 nyawa lagi. Nini Raga Setan telah 5 kali melakukan pengorbanan ini dan inilah asal usul kelima perempuan berkepala asu ajag ini. Dewi Durga selalu mengganti kepala perawan yang di korbankan oleh Nini Raga Setan dengan kepala asu ajag yang selanjutnya mereka menjadi abdi setia nenek tua ini.
"Saatnya kau merasakan balasan ku, bocah keparat!!", teriak dua Nini Raga Setan sembari melesat cepat kearah yang berlawanan. Tangan keduanya memancarkan cahaya hijau kehitaman berselimut kabut dingin yang menakutkan. Rupanya Nini Raga Setan telah mengeluarkan Ajian Inti Kabut Neraka yang merupakan salah satu ilmu kanuragan andalannya.
Panji Tejo Laksono mundur selangkah ke belakang sembari melihat pergerakan dua orang lawannya yang menyerang dari arah yang berbeda. Mulutnya komat-kamit merapal mantra. Cahaya putih kebiruan yang memancarkan lompatan kilat kecil tercipta di tangan kiri nya sebagai pertanda bahwa dia sudah mengeluarkan Ajian Brajamusti yang di turunkan oleh Maharesi Yogiswara.
Ini bukan lagi pertarungan biasa namun pertarungan hidup dan mati hingga sang pangeran muda merasa perlu untuk mengerahkan seluruh kemampuan beladiri yang dia miliki.
Satu sosok Nini Raga Setan segera menghantamkan tangan kanannya yang berselimut cahaya hijau kehitaman kearah kepala sang pangeran.
Whhuuuuuuuggggh!!
Dengan cepat Panji Tejo Laksono menggunakan Pedang Naga Api untuk menghadang serangan perempuan tua yang berpakaian serba hitam dan sedikit compang camping ini.
Shhrrraaakkkkkhh!!
Blllaaammmmmmmm!!!
Ledakan dahsyat tercipta dari benturan Pedang Naga Api dan Ajian Inti Kabut Neraka. Tubuh Nini Raga Setan yang menyerang Panji Tejo Laksono langsung terpental dengan tangan kanan terpotong dan dada kanan nya hancur. Perempuan paruh baya itu langsung tewas seketika.
Sang pangeran muda dari Kadiri tak punya pilihan lain selain sedikit menekuk lutut nya dan memapak hantaman itu dengan tapak tangan kiri nya yang berwarna putih kebiruan Ajian Brajamusti.
Blllaaammmmmmmm!!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Terdengar suara teriakan keras dari mulut Nini Raga Setan. Tubuh sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah ini melayang jauh ke belakang dengan separuh tubuhnya nyaris hancur berantakan. Dia langsung tewas seketika.
Namun kejadian yang sama seperti tadi berulang kembali. Kini empat sosok Nini Raga Setan telah berdiri dengan kedelapan tangan nya berselimut cahaya hijau kehitaman Ajian Inti Kabut Neraka.
Pertarungan sengit antara mereka pun berlanjut kembali.
Kali ini empat orang Nini Raga Setan kembali melesat cepat kearah Panji Tejo Laksono dari keempat penjuru. Sang pangeran muda pun menggabungkan kecepatan tinggi Ajian Sepi Angin dengan Pedang Naga Api di tangan kanannya dan Ajian Brajamusti di tangan kirinya.
Shhrreeettthhh shreeeeettttthhh..
Chhhrrraaaaaaasssssshhh...
Blllaaammmmmmmm blllaaammmm!!
Empat sosok Nini Raga Setan kembali tumbang setelah mereka menerima tebasan Pedang Naga Api dan Ajian Brajamusti. Panji Tejo Laksono sendiri ngos-ngosan mengatur nafasnya setelah begitu banyak mengeluarkan tenaga dalam. Keringat dingin mulai membasahi pelipis sang pangeran. Dari sudut bibir nya, darah segar merembes keluar karena salah satu sosok Nini Raga Setan tadi sempat menghantam punggung kiri nya. Panji Tejo Laksono memang belum menggunakan Ajian Tameng Waja miliknya.
Namun hal yang sama kembali terulang. Sosok Nini Raga Setan, sang sesepuh Kelompok Bulan Sabit Darah ini kembali hidup kembali seolah tak terjadi apa-apa. Malahan sosok nya kini telah berjumlah delapan orang.
Ini memang kehebatan seorang Nini Raga Setan. Semakin dia sering terbunuh, maka semakin banyak sosok dirinya yang akan menjadi lawan tangguh bagi semua lawannya.
Salah satu sosok Nini Raga Setan menyeringai lebar menatap ke arah Panji Tejo Laksono yang ngos-ngosan mengatur nafasnya.
"Hehehehe..
Kau memang hebat anak muda. Baru kali ini setelah sekian tahun lamanya ada pendekar yang sanggup membuat ku mengeluarkan sosok tubuh hingga 8 orang. Selain si tua bangka Anubhawa dari Gunung Gajahmungkur dan Padmanaba dari Gunung Mahameru, kau orang ketiga yang melakukannya", ucap sosok Nini Raga Setan yang berdiri di ujung kanan.
"Meskipun aku kalah dari Padmanaba, tapi dia juga tidak berhasil untuk membunuh ku.
Jadi semua perlawanan mu sia sia saja hahahaha", ujar sosok Nini Raga Setan yang ada di sisi tengah sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Aku adalah sosok yang tidak bisa mati. Dewi Durga sudah memberkati ku untuk hidup selamanya.
Jadi jangan harap kau bisa melenyapkan ku, bocah keparat!!", sambung sosok Nini Raga Setan yang ada di nomer dua dari kiri.
Saat itu juga, Panji Tejo Laksono kembali mendengar ucapan Roh Naga Api terngiang di telinganya.
"Keturunan Lokapala..
Tidak perlu takut dengan perempuan iblis itu. Cukup 2 kali lagi kau membunuh perempuan itu dan dia akan mati untuk selamanya. Kelemahannya terletak pada nyawa. Kau sudah membunuh nya 7 kali, nyawa yang ada di tubuhnya tinggal 2 lagi".
"Kenapa kau baru mengatakan nya? Aku hampir putus asa menghadapi perempuan tua ini", gumam Panji Tejo Laksono.
"Hehehehe..
Aku masih ingin melihat kau bertarung dengan sungguh-sungguh, Keturunan Lokapala. Gunakan saja ilmu yang kau dapat dari tanah asing itu dengan ajian pemberian ayah mu. Bersama dengan Pedang Naga Api mu, kau akan sanggup menghabisi nyawa perempuan iblis itu", sambung suara Roh Naga Api yang kembali terngiang di telinga Panji Tejo Laksono.
Meskipun telah letih setelah beberapa kali mengeluarkan tenaga dalam yang banyak, Panji Tejo Laksono pun segera merapal mantra Ajian Dewa Naga Langit yang mampu mengembalikan seluruh tenaga dalam nya yang nyaris terkuras habis. Cahaya biru kemerahan pun segera muncul dan menyebar ke seluruh tubuh sang pangeran muda. Rasa segar seolah tenaganya terisi kembali membuat nafas sang pangeran muda kembali teratur seperti sedia kala.
Melihat perubahan warna air muka Panji Tejo Laksono yang kembali segar, sosok 8 Nini Raga Setan terlihat gusar. Tak seperti bayangannya bahwa Panji Tejo Laksono yang sudah kepayahan setelah menghadapi nya akan menyerah dan putus asa, kini terlihat sang pangeran muda justru terlihat jauh lebih bertenaga seperti saat pertama kali mereka bertarung.
'Bocah tengik ini entah mendapatkan tenaga darimana, tapi sepertinya usaha ku dengan mengorbankan 7 nyawa ku sia-sia.
Aku harus membunuh nya dalam sekali serangan. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mati konyol di tangan pendekar kemarin sore ini', batin Nini Raga Setan.
Kedelapan sosok Nini Raga Setan pun segera menyebar ke delapan arah penjuru mata angin. Dia hendak mengeluarkan ilmu pamungkas nya yang bernama Ajian 8 Inti Pembunuh. Hawa dingin yang sanggup membekukan setiap apapun yang di lalui nya langsung menyebar saling sambung menyambung diantara kedelapan sosok Nini Raga Setan bersamaan dengan cahaya hijau kehitaman yang tercipta di tubuh kedelapan sosok ini.
Sedangkan tubuh Panji Tejo Laksono langsung berselimut cahaya kuning keemasan sebagai pertanda bahwa dia telah merapal Ajian Tameng Waja. Berikut nya, di sekeliling tubuh nya tercipta delapan bola sinar merah menyala berhawa panas yang sanggup membuat udara di sekitar tempat itu seperti neraka saking panasnya. Satu bola sinar merah menyala yang terbesar dengan cepat membungkus delapan bola sinar merah yang lebih kecil.
"Matilah kau bocah keparat..!!"
Teriak keras Nini Raga Setan bersamaan dengan hantaman tangan mereka kearah depan. Enam belas cahaya hijau kehitaman meluruk cepat kearah Panji Tejo Laksono dari segala penjuru.
Panji Tejo Laksono tak tinggal diam. Dengan cepat ia mengangkat Ilmu Sembilan Matahari tahap akhir ini dengan tangan kiri. Setelah diatas kepala, sang pangeran muda dari Kadiri ini segera menebas bola besar sinar merah menyala ini dengan Pedang Naga Api di tangan kanannya.
Chhrrrraaaaaassss...
Blllaaaaaarrr!!!
Akibat tebasan Pedang Naga Api, delapan bola kecil cahaya merah menyala ini segera melesat cepat ke segala penjuru, memapak serangan kedelapan sosok Nini Raga Setan.
Dhhhuuuaaaaarrrrrrrrr!!!!
Ledakan mahadahsyat terdengar dari benturan kedua ilmu kedigdayaan tinggi ini. Suara keras nya sampai terdengar hingga tapal batas Kotaraja Kahuripan. Burung burung hutan kecil ini ketakutan dan bergegas menyelamatkan diri. Asap tebal dan debu beterbangan menutupi seluruh tempat pertarungan Nini Raga Setan dan Panji Tejo Laksono hingga Dyah Kirana, Song Zhao Meng dan Ki Jatmika yang lawannya tiba-tiba lenyap seperti menghilang di telan bumi, langsung melindungi tubuh mereka masing-masing dari gelombang kejut besar yang tercipta dari ledakan mahadahsyat ini.
Saat asap tebal menghilang bersama debu yang tertiup angin, Ki Jatmika menatap ke arah tempat Panji Tejo Laksono bersama dengan Dyah Kirana dan Song Zhao Meng. Sebuah pemandangan menakjubkan tercipta di sana. Satu lobang besar dengan kedalaman hampir dua tombak dan lebar sekitar 8 tombak menganga lebar layaknya sebuah kawah gunung berapi.
Tubuh Nini Raga Setan hancur lebur. Menyisakan satu kepala yang hangus seperti baru saja terbakar api. Sedangkan di tengah lobang besar ini, Panji Tejo Laksono nampak berlutut dengan satu dengkul menyangga tubuh dan kedua tangannya memegang gagang Pedang Naga Api yang menancap di tanah. Tubuh sang pangeran muda ini terlihat masih memancarkan cahaya kuning keemasan.
Ki Jatmika berdecak kagum melihat itu semua.
'Pendekar muda ini luar biasa'