Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Lawan Lama Ayah


Zhao Wei yang kesal bergegas menemui Gubernur Zhao Yun di tempatnya. Putra kedua sang Gubernur dari istri ketiga ini memang terkenal sebagai pendukung utama dalam upaya upaya Zhao Yun untuk merebut hak sebagai Kaisar Kekaisaran Song. Dia hampir mirip dengan Zhao Yun dalam hal kelicikan dan pintar sekali menjilat.


Gubernur Zhao Yun pun sangat menyayangi putra keduanya ini, hingga menyerahkan sebagian besar kekuatan militer Provinsi Chenliu di bawah kendali Zhao Wei. Dan di bawah kepemimpinan Zhao Wei, militer Provinsi Chenliu berkembang pesat hingga memiliki kekuatan 100.000 ribu prajurit. Itu artinya kekuatan militer Provinsi Chenliu sama dengan sepertiga bagian dari kekuatan militer Kekaisaran Zhao.


Kasim Tong Guan yang menjadi tangan kanan utama Kaisar Huizong, sudah lama mengamati gerak-gerik Gubernur Zhao Yun. Beberapa mata-mata istana Kekaisaran Song juga di tempatkan di sekitar wilayah Chenliu untuk berjaga jaga. Jika sampai Gubernur Zhao Yun bersekutu dengan beberapa gubernur wilayah lain, maka bisa dipastikan bahwa akan ada perang saudara di Kekaisaran Song.


"Ayah,


Yang mengacaukan rencana kita adalah seorang lelaki bernama Thee Jo, orang dari pulau selatan yang ada dalam rombongan Putri Meng Er. Dari yang ku dengar, dia menjadi utusan negara nya untuk bertemu dengan Kaisar Song. Kita harus melenyapkannya dan merampas Stempel Giok Naga itu segera sebelum Huang Lung sampai di istana Kaifeng", lapor Zhao Wei sembari menghormat pada Gubernur Zhao Yun.


"Hemmmmmmm...


Sudah ku duga sebelumnya bahwa pemuda itu bukan hanya sekedar pendekar biasa. Kita jangan bertindak gegabah, putra ku", ujar Gubernur Zhao Yun sambil mengelus jenggotnya yang sebagian telah memutih.


"Apa maksud ucapan mu ayah? Bukankah dia adalah penghalang bagi rencana kita?


Kau tinggal perintah saja, maka para prajurit Chenliu akan segera menangkap Thee Jo", Zhao Wei tak mengerti jalan pikiran ayahnya.


"Duta besar sebuah negara adalah orang penting, Pangeran Wei..


Kita tidak boleh mencelakai orang itu dengan alasan apapun atau selamanya nama baik kita akan tercoreng di belahan dunia manapun. Terlebih lagi kita butuh pengakuan negara nya jika sewaktu-waktu nanti kita berkuasa di Kekaisaran Song ini", ucap Gubernur Zhao Wei sembari menatap ke arah wajah putra keduanya ini.


"Lantas apa kita akan berdiam diri saja dan membiarkan Stempel Giok Naga sampai di Istana Kekaisaran Song? Aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi, Ayah.


Hauw Tian mati, dan Ketua Sekte Macan Besi Pang He pasti meminta penjelasan tentang hal ini", Zhao Wei sedikit kesal dengan sikap Gubernur Zhao Yun.


"Anak bodoh !


Kalau kita tidak bisa bertindak, bukan berarti orang lain tidak bisa memberinya pelajaran.


Pang He tidak mungkin kita libatkan lagi karena akan membuat semua orang tahu bahwa kita bersekutu dengan Sekte Macan Besi. Kita harus mencari orang lain untuk menghadapi si Thee Jo ini.


Ahh, aku punya sebuah ide. Ketua Gunung Wu Tang punya sebuah janji kepada ku. Ku dengar besok dia akan ada di Kuil Shaolin untuk sembahyang pada ketua biara yang baru saja meninggal. Kita bisa memanfaatkan kesempatan ini", Gubernur Zhao Yun tersenyum licik.


"Apa maksud ayah? Zhao Wei bodoh tidak mengerti", ujar Zhao Wei yang semakin tidak mengerti maksud ucapan ayahnya.


"Anak bodoh, kau harus banyak belajar..


Pergilah ke Kuil Shaolin hari ini juga. Temui Chan San Fung di sana. Berikan surat yang aku tulis untuk nya dan kau lihat saja apa yang akan terjadi", usai berkata demikian, Gubernur Zhao Yun menepuk tangan dua kali dan seorang pelayan segera datang sambil membawa sebuah kertas dan alat tulis. Tak lama kemudian, sebuah surat dengan stempel merah sudah di terima oleh Zhao Wei.


"Dengan surat itu, Thee Jo akan mendapat sebuah pelajaran berharga ", imbuh Gubernur Zhao Yun sambil menyeringai lebar.


"Aku mengerti Ayah. Kalau begitu, sekarang juga aku akan berangkat ke Kuil Shaolin untuk menemui Chan San Fung", Zhao Wei menghormat pada Gubernur Zhao Yun dan segera bergegas meninggalkan tempat itu.


Sementara itu, Panji Tejo Laksono sedang asyik menikmati sarapan pagi bersama Huang Lung, Luh Jingga dan para pengikutnya pagi itu. Berita penyusupan tadi malam sudah sampai di telinga Putri Meng Er, hingga pagi itu dia mendatangi tempat peristirahatan Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan bersama Jenderal Liu King dan Chen Su Bing.


"Kak Thee...


Aku dengar kau semalam mengejar penyusup yang mencoba untuk membuat kerusuhan. Apa kau baik baik saja?", tanya Putri Song Zhao Meng dengan penuh kekhawatiran. Matanya nanar menatap sekujur tubuh Panji Tejo Laksono yang duduk dengan tenang di meja makan.


Belum sempat Panji Tejo Laksono menjawab, terdengar celetukan ketus dari mulut Luh Jingga, " Pasti sok perhatian pada Gusti Pangeran".


Panji Tejo Laksono segera menoleh ke arah Luh Jingga sembari meletakkan jari telunjuk tangan kanannya ke depan mulut.


"Ssstttt, kau tidak boleh bicara seperti itu Luh. Bagaimana pun dia adalah salah seorang Putri Kaisar Huizong", bisik Panji Tejo Laksono segera.


Seperti yang kau lihat aku baik baik saja. Tuan Putri tidak perlu cemas berlebihan pada ku", imbuh Panji Tejo Laksono sembari tersenyum simpul.


"Huhhhhh, aku tahu pelayan mu itu tidak suka pada ku. Tapi aku tidak mempermasalahkan itu semua.


Karena keamanan di Istana Kota Chenliu ini begitu buruk, aku sudah memutuskan siang ini juga kita berangkat ke Kaifeng. Aku ingin mampir ke Kuil Shaolin untuk sembahyang pada Budha. Kau tidak keberatan bukan?", Putri Song Zhao Meng menatap ke wajah tampan Panji Tejo Laksono dengan senyum manis nya.


"Kau adalah pemimpin rombongan ini, tentu saja aku tidak keberatan", ujar Panji Tejo Laksono sembari tersenyum.


Setelah cukup lama mereka berbincang, Putri Song Zhao Meng mohon pamit untuk persiapan berangkat menuju ke arah Kuil Shaolin. Setelah kepergian putri Kaisar Song itu, Huang Lung alias Putri Wanyan Lan mendekati Panji Tejo Laksono.


"Pendekar Thee,


Kenapa kau setuju begitu saja dengan omongan Putri Meng Er? Bukankah itu akan memperlambat perjalanan kita ke Kaifeng?", tanya Huang Lung seraya menatap wajah Panji Tejo Laksono seakan tak suka dengan rencana Putri Song Zhao Meng.


"Kuil Shaolin terletak di barat Zhengzhou, Kakak Thee..


Ini juga berarti kita yang tinggal melangkah menuju ke arah Kaifeng, harus berputar ke barat. Apa kau tidak merasa bahwa Putri Song Zhao Meng sengaja memperlambat perjalanan kita ke Kaifeng?", imbuh Huang Lung.


"Aku tidak bisa menolak omongan Putri Meng Er, Saudara Huang.


Masuknya kita ke istana Kaifeng juga dengan bantuan nya. Lebih baik kita tidak merusak suasana hati nya karena anak buah ku sudah tahu bagaimana lamanya waktu untuk bisa bicara dengan Kaisar Huizong. Aku minta kau mengerti", mendengar penjelasan dari Panji Tejo Laksono, Huang Lung menghela nafas panjang seakan berat hati namun ia juga tidak berani untuk menolak.


Siang itu juga, rombongan Putri Song Zhao Meng dan Panji Tejo Laksono meninggalkan Kota Chenliu. Meski Gubernur Zhao Yun berusaha keras untuk menahan kepergian mereka, namun Putri Song Zhao Meng bersikeras untuk pergi siang hari itu.


Gubernur Zhao Yun menatap kepergian mereka dengan tatapan mata yang aneh. Mata yang berkilat menyimpan sejuta dendam meski dengan bibir yang tersenyum.


'Sampai di Kuil Shaolin, kalian akan menerima pelajaran berharga'.


Setelah meninggalkan Kota Chenliu, rombongan itu bergerak menuju ke Kuil Shaolin yang di sebelah barat. Pemandangan alam yang indah tersaji di depan mata mereka semua.


Setelah melakukan perjalanan 2 hari semalam tanpa mengalami hambatan yang berarti melewati wilayah Zhengzhou dan Luoyang, akhirnya mereka tiba di wilayah kaki Gunung Song yang merupakan gunung suci bagi seluruh masyarakat Tionghoa. Bagaimana tidak, puluhan tempat peribadatan suci mereka ada di tempat ini. Puluhan kuil dan pagoda seakan menjadi bukti bahwa tempat ini adalah tempat keramat.


Di kaki tempat Kuil Shaolin berada, rombongan Panji Tejo Laksono dan Putri Song Zhao Meng menghentikan langkah. Dari penduduk sekitar, mereka tahu bahwa Kuil Shaolin tengah berkabung setelah pimpinan lama biara umat Budha tersebut baru saja meninggal dunia.


Karena itu, Putri Song Zhao Meng memutuskan untuk meninggalkan pasukan pengawal pribadi mereka di sebuah penginapan besar di kaki tempat Kuil Shaolin berada. Selain untuk menghormati para biksu yang ada disana, dalam suasana berkabung seperti ini tidak pantas membawa begitu banyak prajurit. Oleh karena itu, Putri Song Zhao Meng hanya mengajak Jenderal Liu King, Chen Su Bing, Cai Yuan, Qiao Er dan 2 orang tangan kanan Jenderal Liu King sebagai pengawal. Huang Lung pun hanya mengajak Ah Gao dan Ah Li untuk menemani nya. Sedangkan Panji Tejo Laksono mengajak Luh Jingga, Demung Gumbreg, Tumenggung Ludaka, Tumenggung Rajegwesi dan Rakryan Purusoma untuk ikut masuk ke dalam Kuil Shaolin.


Kedatangan Putri Song Zhao Meng dan Panji Tejo Laksono di sambut oleh seorang biksu tua yang bernama Biksu Hong Ki dan kedua muridnya, Biksu Hong Jian dan Biksu Hong Yi. Ya, dia adalah salah biksu Budha yang pernah menantang adu ilmu Panji Watugunung alias Prabu Jayengrana di Istana Katang-katang beberapa puluh tahun yang lalu. Dia berhasil pulang dengan selamat ke Negeri Tiongkok dan tak pernah melanglang buana lagi usai kekalahan nya dari Panji Tejo Laksono.


"Amitabha...


Selamat datang di Kuil Shaolin, Tuan Putri Song Zhao Meng. Mohon maaf jika sambutan kami ala kadarnya karena kami tengah berdukacita", ujar Biksu Hong Ki sembari membungkuk hormat khas seorang biksu pada Putri Song Zhao Meng.


"Kau terlalu sungkan, Biksu..


Aku hanya ingin sembahyang pada Budha di Kuil Shaolin ini. Oh iya ini aku membawa beberapa teman. Mohon biksu juga mengijinkan mereka masuk ke Kuil Shaolin untuk menemani ku", jawab Putri Song Zhao Meng dengan sopan.


Biksu Hong Ki segera mengedarkan pandangannya ke arah belakang Putri Song Zhao Meng. Betapa terkejutnya Biksu Hong Ki melihat wajah Panji Tejo Laksono yang ada di belakang Putri Song Zhao Meng.


"Kau... kau...


Bagaimana kau bisa sampai di tempat ini?"