
Panji Tejo Laksono melompat ke atas kuda nya di ikuti oleh seluruh perwira tinggi prajurit Panjalu yang ikut dengannya. Tiupan keras sangkakala yang terbuat dari tanduk kerbau pilihan tadi seketika menata taktik pertahanan para prajurit Panjalu yang sudah di susun tadi malam. Hadirnya sang pangeran muda di medan palagan, membuat para prajurit Panjalu membuka jalan bagi Panji Tejo Laksono dan para perwira tinggi prajurit Panjalu. Begitu sang pangeran muda dan para pengikutnya sampai di depan barisan paling depan, tatanan gelar perang prajurit Panjalu kembali menutup seperti semula.
Padang rumput di selatan Kotaraja Daha terhampar luas dengan rumput yang tampak menguning akibat musim kemarau panjang yang terjadi. Ini membuat beberapa pohon jati dan mahoni yang tumbuh di beberapa tempat terlihat meranggas seolah enggan berdaun lagi.
Genderang perang, tabuhan bende dan suara terompet tanduk kerbau yang digunakan sebagai penyemangat bagi para prajurit Panjalu yang hendak berperang seketika berhenti kala Panji Tejo Laksono mengangkat tangan kanannya ke atas.
Dari arah berlawanan, para prajurit pemberontak pimpinan Mpu Gandasena, Juru Panewu, Pendekar Kapak Iblis, Begawan Tanpa Wajah dan beberapa orang pendekar tersohor di dunia persilatan terlihat mulai mendekati tempat mereka bersiaga. Tak terlihat Mpu Kepung selaku pimpinan utama kelompok ini karena dia dan Mpu Sena memimpin pasukan mereka dari arah Kadipaten Anjuk Ladang. Salah satu pimpinan kelompok ini yang cukup menarik perhatian adalah Adipati Karang Anom, Windupati. Dia menaiki kereta perang dengan pakaian kebesarannya sebagai seorang kepala daerah.
Simbol simbol kebesaran Kadipaten Karang Anom yang berupa bendera segitiga kuning dengan jahitan benang hijau bergambar seorang kepala gajah dan ratusan bendera hitam dengan tulisan huruf Jawa Kuno M yang merupakan singkatan dari Mardika atau merdeka terlihat menyembul dari ribuan orang prajurit yang sedang berjalan beriringan menuju ke arah Panji Tejo Laksono dan para prajurit Panjalu bersiaga.
Begitu sampai pada titik jarak tembak panah, seorang pemanah sepuh yang pernah menjadi andalan Prabu Jayengrana dengan keahlian memanahnya yang luar biasa, Tumenggung Rajegwesi, segera melepaskan tembakan anak panah nya ke arah para prajurit pemberontak setelah mendapat perintah dari Panji Tejo Laksono.
Shhhrrrrriiiiiiingggggggg...!!!
Chhreepppppph!!
Anak panah yang dilepaskan oleh Demung Rajegwesi langsung menancap dua tombak di depan pasukan Mpu Gandasena. Melihat itu, Mpu Gandasena segera tarik tali kekang kudanya dan memberikan isyarat kepada pasukannya untuk berhenti.
Dari pihak Istana Kotaraja Daha, Panji Tejo Laksono menjalankan kudanya perlahan ke tengah padang rumput itu. Di belakangnya, Tumenggung Ludaka membawa sebuah bendera putih sebagai tanda bahwa mereka ingin bicara baik-baik. Dari pihak Mpu Gandasena, sang pimpinan utama kelompok ini maju bersama dengan seorang lelaki tua berjanggut putih panjang dengan mengenakan pakaian layaknya seorang pertapa namun dia menutupi seluruh wajahnya dengan sebuah topeng separuh wajah yang terbuat dari kayu dengan cat warna merah. Mpu Gandasena membawa sendiri bendera putih sedangkan lelaki tua bertopeng separuh wajah yang ternyata adalah Begawan Tanpa Wajah ini hanya berkuda mengawal sang pimpinan utama pemberontak dari Karang Anom.
Begitu mereka berempat bertemu di tengah, Panji Tejo Laksono langsung angkat bicara.
"Apa maksud dari semua ini, Mpu Gandasena? Mengapa kau membawa ribuan orang prajurit ke Kotaraja Daha?", tanya Panji Tejo Laksono dengan cepat.
"Pangeran Panji Tejo Laksono, kebetulan sekali kita berhadapan langsung sekarang.
Aku kemari sebagai pendukung Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa. Tujuan ku hanya ingin agar Gusti Prabu Jayengrana secepatnya mengangkat Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa sebagai Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Aku terpaksa menggunakan jalan ini karena aku melihat kelicikan mu mencari muka di hadapan masyarakat Panjalu agar Gusti Prabu Jayengrana memilih mu sebagai penerusnya.
Kalau kau bersedia untuk mundur dari perebutan hak kekuasaan atas tahta Kerajaan Panjalu seperti yang dilakukan oleh Pangeran Mapanji Jayagiri, maka aku tidak perlu meneruskan usaha ku untuk memaksa Gusti Prabu Jayengrana. Tapi jika kau menolaknya, akan ku pastikan bahwa Kotaraja Daha akan mendapatkan masalah besar", ancam Mpu Gandasena sembari menyeringai lebar.
"Bajingan tua!
Itu hanya alasan mu saja agar kau bisa mendapatkan kekuasaan yang lebih tinggi dengan menempatkan Gusti Pangeran Mapanji Jayawarsa sebagai raja boneka.
Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, jangan dengarkan mulut busuk pemberontak tua ini!", sahut Tumenggung Ludaka dengan penuh amarah.
"Phhuuuiiiiiihhhhh...
Tumenggung Ludaka, sebaiknya kau tidak ikut campur dalam urusan ini. Cacing kecil seperti mu, sebaiknya diam saja. Pangeran Panji Tejo Laksono, apa jawaban mu?!!", Mpu Gandasena menatap tajam ke arah Panji Tejo Laksono.
"Hak atas tahta Kerajaan Panjalu, bukan aku yang memutuskan. Ada Dewan Saptaprabu yang mengurusi semuanya. Selama Dewan Saptaprabu tidak menyurutkan ku untuk berhenti dari salah satu calon penerus Kanjeng Romo Prabu Jayengrana, aku tidak akan bergeming sedikitpun meskipun diancam dengan kekuatan bersenjata", tegas Panji Tejo Laksono segera. Tumenggung Ludaka tersenyum lebar sementara Mpu Gandasena mendengus gusar dengan jawaban itu.
"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku harus menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendak.
Begawan Tanpa Wajah, ayo kita kembali dan hancurkan mereka semua!!", Mpu Gandasena segera menarik tali kekang kudanya. Seketika kuda nya berbalik arah dan berlari pelan menuju ke arah para pasukannya. Begawan Tanpa Wajah pun segera mengikuti langkah sang pimpinan tanpa mengendurkan kewaspadaan nya pada Panji Tejo Laksono dan Tumenggung Ludaka.
Begitu sampai di barisan prajuritnya, Mpu Gandasena segera mencabut keris di pinggangnya. Lalu dengan lantang dia berteriak,
"Serbuuuuu....!!!!"
Puluhan ribu orang prajurit nya langsung bergerak menuju ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.
Melihat itu, Panji Tejo Laksono pun segera mencabut keris pusaka di pinggang nya. Setelah melihat para prajurit pemberontak separuh lebih telah memasuki jarak tembak panah mereka, dia segera memberikan isyarat kepada para penabuh bende perang.
Dhiieeeeeeeenggggh!!
Isyarat ini langsung di tanggapi oleh para prajurit yang berada di barisan paling depan. Mereka semua segera berjongkok. Rupanya di belakang mereka, para prajurit pemanah telah bersiap siap. Mereka langsung menarik tali busur panah nya sekuat tenaga.
"Tembaaaaakkkkkkkkkk!!!!"
Teriakan keras Tumenggung Rajegwesi segera membuat seluruh prajurit pemanah melepaskan pegangannya pada tali busur panah mereka masing-masing.
Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!!
Ribuan anak panah melesat tinggi ke udara dan meluncur turun ke arah para prajurit pemberontak. Seorang lelaki bertubuh gempal yang memegang kapak besar dengan tangan kanan nya yang merupakan salah satu dari sekian pendukung kelompok pemberontak ini, lelaki yang memiliki julukan sebagai Pendekar Kapak Iblis, melihat hujan anak panah segera mengangkat kapak besar nya untuk berlindung dari hujan anak panah ini.
"Awas anak panah!!!!", teriak si Pendekar Kapak Iblis dengan lantang. Beberapa orang prajurit berkuda yang mendengar peringatan itu segera meraih tameng besi yang tergantung di sisi pelana kuda tunggangan mereka.
Thhrraaanggg thhhrrriiiiinnnnngggg!!
Chhreepppppph chhreepppppph!!
Aaaarrrgggggghhhhh auuuggghhhhh!!!
Beberapa orang prajurit yang berhasil berlindung di balik tameng besi mereka, selamat dari hujan anak panah yang dilepaskan oleh para prajurit pemanah Panjalu. Namun ratusan orang lainnya yang terlambat menyadari peringatan dari Pendekar Kapak Iblis, harus menerima kenyataan pahit dengan tewas bersimbah darah setelah anak panah menembus tubuh mereka.
Mereka yang selamat dari hujan anak panah itu langsung menerjang maju ke arah Panji Tejo Laksono dan para prajurit Panjalu. Perang saudara yang terjadi karena nafsu keserakahan beberapa orang punggawa istana negara ini pun segera terjadi.
Bunyi denting senjata beradu, diikuti oleh teriakan keras memilukan hati dan potongan tubuh manusia serta darah segar yang muncrat keluar dari luka yang tercipta seketika menjadi pemandangan yang terjadi di padang rumput selatan tapal batas Kotaraja Daha. Ratusan nyawa manusia melayang menjadi korban perang.
Endang Patibrata langsung melompat tinggi ke udara saat dua tombak prajurit pemberontak meluncur cepat dengan tusukan sekuat tenaga. Dengan lincah, dia mendarat turun dua tombak di belakang penyerangnya. Dua orang prajurit itu segera memutar tubuhnya dan melompat ke arah Endang Patibrata sembari menusukkan tombaknya ke arah pinggang putri Lurah Wanua Pulung ini.
Whhhuuuggghhhh whhhuuuggghhhh!!
Chhhrrraaaaaaasssssshhh chhraasshh!!
Dua kepala prajurit pemberontak ini seketika menggelinding ke tanah. Tubuh keduanya tumbang dengan darah segar muncrat keluar dari pangkal leher yang sudah tak berkepala lagi.
Setelah menghabisi nyawa dua orang prajurit pemberontak ini, Endang Patibrata meneruskan sepak terjangnya dengan melompat ke arah kerumunan para prajurit pemberontak yang sedang mengepung Dyah Kirana.
Shhrreeettthhh..
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!!!
Satu orang lagi tumbang terkena tebasan pedang Endang Patibrata. Sang putri Lurah Wanua Pulung ini segera beradu punggung dengan putri angkat Resi Ranukumbolo dari Pertapaan Gunung Mahameru ini.
"Kangmbok Kirana, kau baik-baik saja?", tanya Endang Patibrata sembari melirik ke arah baju putih Dyah Kirana yang penuh dengan percikan darah.
"Aku tidak apa-apa, Nimas Patibrata..
Para pemberontak ini dari tadi terus saja mengepung ku sejak tadi", ucap Dyah Kirana sembari mengusap peluh yang membasahi dahinya.
"Hehehehe salah mu sendiri, kenapa kau begitu cantik?
Ayo Kangmbok Kirana, kita cepat habisi mereka. Kita harus bisa mendukung Kangmas Pangeran Panji Tejo Laksono untuk memenangkan perang ini", Endang Patibrata tersenyum simpul dan ini memantik semangat Dyah Kirana.
Keduanya langsung menerjang maju ke arah para prajurit pemberontak. Dua orang langsung tersungkur bersimbah darah setelah menerima tebasan pedang dari dua perempuan cantik itu. Melihat dua orang perempuan cantik itu membantai kawan-kawan mereka dengan cepat, seorang pendukung pemberontak yang bertubuh besar langsung melompat ke atas Endang Patibrata dan Dyah Kirana sembari mengayunkan palu godam yang menjadi senjata andalan nya ke arah kepala dua orang perempuan cantik itu. Dia adalah Si Palu Langit dari Gunung Jati, salah satu pendekar yang direkrut oleh Adipati Windupati sebagai kekuatan tambahan.
Whhhuuuggghhhh!!!
"Modar kalian iblis betina!!"
Ayunan cepat palu godam itu terlihat jelas oleh Endang Patibrata. Putri Lurah Wanua Pulung ini segera berkelit sembari menyambar tangan Dyah Kirana yang baru saja menghindari tusukan tombak dari salah satu prajurit pemberontak yang mengepung mereka. Mereka berdua berhasil menghindari gebukan palu godam itu.
"Terimakasih Nimas Endang Patibrata..", ucap Dyah Kirana segera.
"Simpan terimakasih mu, Kangmbok Kirana. Kita atasi dulu mereka. Ayo jangan buang waktu terlalu lama", setelah berkata demikian, Endang Patibrata langsung melesat cepat kearah pria berbadan besar itu. Si Palu Langit dari Gunung Jati yang tubuhnya seperti raksasa ini menatap bengis ke arah Endang Patibrata sembari kembali mengayunkan palu godam nya ke arah putri Lurah Wanua Pulung ini.
"Haaaaaaaarrrrrrgghhhhh...!!
Setan betina, mampus kau!!!", sumpah serapah terdengar dari mulut Si Palu Langit dari Gunung Jati sembari mengayunkan palu godam nya.
Whhhuuuggghhhh!!
Meskipun hanya tenaga kasar dan sedikit tenaga dalam yang dimiliki oleh pendekar bertubuh besar ini, namun itu cukup membuat Endang Patibrata harus berjungkir balik menghindar. Kesempatan ini di manfaatkan oleh Dyah Kirana yang langsung melompat ke arah sang pria bertubuh raksasa ini sambil menyabetkan Pedang Bulan Sunyi nya ke arah lengan kanan si prajurit.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!
Auuuggghhhhh!!
Si pendekar bertubuh besar dengan kepala botak itu mengaduh keras saat tebasan pedang Dyah Kirana merobek lengan kanan atasnya. Dia langsung membekap lukanya yang segera mengeluarkan darah segar.
Endang Patibrata memanfaatkan kesempatan ini dengan memutar tubuhnya dan meloncat ke arah punggung si pendekar bertubuh raksasa sembari menancapkan pedangnya ke arah leher dengan kedua tangan.
Jllleeeeeppppphhh!!!
Aaaarrrgggggghhhhh!!!!
Tubuh besar si lelaki bertubuh raksasa ini langsung bergetar hebat. Saat Endang Patibrata mencabut pedang dari tengkuknya, dia langsung roboh ke tanah. Darah segar langsung menggenang di bawah lehernya dan dia pun mati seketika.
"Kita impas sekarang, Kangmbok Kirana..
Kita tidak boleh berhenti bertarung sebelum mereka mundur dari tempat ini", ujar Endang Patibrata sembari mengusapkan pedang nya yang berlumuran darah segar ke baju si Palu Langit dari Gunung Jati yang sudah terbujur menjadi mayat.
Keduanya segera melesat cepat kearah timur dimana Demung Gumbreg sedang mengamuk, mengayunkan pentung saktinya ke segala arah. Pria bertubuh tambun itu terlihat marah setelah kuda kesayangannya di tusuk tombak oleh seorang prajurit pemberontak.
Di sisi lain, Tumenggung Ludaka terlihat seperti sedang kerepotan karena menghadapi salah satu jagoan pemberontak yang berjuluk Pendekar Kapak Iblis. Perwira sepuh ini telah menderita beberapa luka akibat pertarungan sebelumnya hingga gerakannya tak selincah biasanya.
Tubuhnya merunduk saat tebasan kapak besar dari lawan menyambar cepat. Tangan kanannya langsung mengibas cepat kearah lawan. Dua pisau belati kecil langsung melesat ke arah pria berewokan itu.
Shhhrriinggg shhhrriinggg!!
Pendekar Kapak Iblis seketika menarik gagang kapak besar nya hingga bilah lebar kapak itu segera menjadi tameng pelindung dari serangan senjata rahasia dari Tumenggung Ludaka.
Thhrraaanggg thhhrrraanngggg!!
Sembari menyeringai lebar, dia menatap tajam ke arah Tumenggung Ludaka.
"Apa hanya segini kemampuan beladiri perwira tinggi prajurit Panjalu? Melemparkan pisau pisau pemotong buah?
Kau benar-benar tidak pantas untuk menjadi seorang perwira", ejek Si Pendekar Kapak Iblis. Tumenggung Ludaka berdiri tegak sambil menyeka luka di pipi kirinya yang mengeluarkan darah.
"Kau jangan sombong dulu,
Ini baru saja dimulai!!!"