
Tumenggung Landung segera menoleh ke arah lain agar Demung Gumbreg tidak melihat wajahnya yang ingin tertawa tapi ia tahan sekuat tenaga. Demung Gumbreg segera mengedarkan pandangannya pada kawan-kawan nya untuk mengetahui siapa pelaku yang mengganggu tidurnya.
"Ini pasti ulah mu ya Lu?", tuduh Gumbreg sambil menatap ke arah Tumenggung Ludaka. Yang di tuduh langsung mendelik kereng pada perwira bertubuh tambun itu.
"Enak saja main tuduh sembarangan. Mana buktinya Mbreg? Aku bukan pelakunya", ujar Tumenggung Ludaka membela diri. Mendengar jawaban itu, Demung Gumbreg segera mengalihkan pandangannya pada Tumenggung Rajegwesi yang duduk di sebelah Rakryan Purusoma.
"Nah kali ini pasti tidak akan salah lagi. Kau pelakunya kan, Rajegwesi?", Demung Gumbreg menunjuk ke arah Tumenggung Rajegwesi. Pria bertubuh kekar dengan kumis tebal itu mendengus keras sebelum berbicara.
"Kalau menuduh harus punya bukti, Mbreg. Aku dari tadi tidak bergerak sedikitpun dari tempat duduk ku, jadi mana mungkin aku pelakunya?", jawab Tumenggung Rajegwesi segera. Dalam hati Gumbreg, ia membenarkan omongan Rajegwesi yang memang duduk berseberangan dengan dipan kayu tempat tidurnya.
"Hemmmmmmm...
Ludaka bukan, Rajegwesi juga bukan. Ini pasti kau pelakunya, Purusoma?", Gumbreg melotot ke arah Rakryan Purusoma. Pria berambut gondrong dengan jambang lebat dan kumis tipis ini langsung membantah omongan Gumbreg.
"Kakang Gumbreg tidak boleh asal tuduh. Kakang Rajegwesi bisa menjadi saksi bahwa dari tadi aku hanya asyik membakar ketela pohon ini. Apa Kakang mau?", Rakryan Purusoma mengulurkan sebuah ketela pohon bakar yang di bakar setengah gosong pada Gumbreg. Perwira bertubuh tambun yang masih kesal ini pun menampiknya.
"Mereka bertiga bukan pelakunya, kali ini aku tidak akan salah lagi. Pasti kau yang menendang kaki dipan ku, Ndung..
Kau jangan coba-coba untuk berkelit", tunjuk Gumbreg pada Tumenggung Landung yang masih berlagak mencabuti bulu jenggot nya y yang mulai memanjang.
"Kau harus punya saksi yang melihat kejadian itu, Mbreg. Berdasarkan Kitab Hukum Kutara Manawa, untuk mengadili perkara seseorang di perlukan bukti yang cukup dan saksi yang kuat untuk menyatakan seseorang itu bersalah.
Nah coba tanya mereka dulu, apakah mereka melihat aku yang melakukannya. Setelah itu baru nanti kau boleh menuduh ku", ujar Tumenggung Landung sembari tersenyum tipis. Mendengar jawaban itu, Demung Gumbreg segera menoleh ke arah Rakryan Purusoma, Tumenggung Rajegwesi dan Tumenggung Ludaka. Rakryan Purusoma menggelengkan kepalanya pertanda bahwa dia tidak tahu, Tumenggung Ludaka mengangkat kedua bahunya sedangkan Tumenggung Rajegwesi nampak menguap sebagai tanda bahwa dia sedang mengantuk.
"Kalian ini sekongkol untuk mencelakai ku ya?
Benar benar keterlaluan. Teman macam apa kalian ini yang suka menjahili kawan sendiri?", omel Demung Gumbreg pada kawan-kawannya. Saat hendak melanjutkan omelan nya, terdengar suara dari pintu pondok kayu.
"Ada apa ini? Kenapa malam begini masih ribut?"
Semua orang segera menoleh ke arah pintu pondok kayu tempat mereka berkumpul termasuk Siwikarna dan Jaluwesi yang duduk bersila di lantai kayu pondok itu. Begitu melihat kedatangan Panji Tejo Laksono di tempat itu, semuanya segera berjongkok dan menyembah pada sang pangeran muda dari Kadiri.
"Eh ada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono.. Gak ada apa-apa kog Gusti, ini kami ini sedang bercanda.. Iya kan Lu sedang bercanda?", Gumbreg segera mengedipkan sebelah matanya pada Tumenggung Ludaka.
"Aku mana mungkin bercanda dengan mu Mbreg. Kau ini orangnya kan gampang marah, jadi aku takut bercanda dengan mu", jawab Tumenggung Ludaka asal-asalan. Tumenggung Rajegwesi, Rakryan Purusoma dan Tumenggung Landung berusaha keras untuk tidak tertawa.
"Ah kau ini, nanti di kira Gusti Pangeran kita sedang bertengkar...
Eh Gusti Pangeran, tumben banget keluar malam hari begini? Belum mengantuk ya?", Demung Gumbreg berusaha mengalihkan perhatian Panji Tejo Laksono dengan mencari bahan pembicaraan yang lain.
"Ah sumpek Paman..
Mereka berempat ribut terus urusan yang menemani ku. Coba kau bayangkan rasanya Paman, mereka ingin satu ranjang semua dengan ku. Tubuh ku cuma satu, bagaimana bisa bersama keempat orang wanita itu dalam waktu yang sama?", gerutu Panji Tejo Laksono sedikit lirih.
"Ya itu resiko punya istri banyak Gusti Pangeran, harus pintar-pintar mengatur waktu bersama dengan mereka semua. Rasa keadilan untuk mereka itu loh yang paling penting", ujar Gumbreg sok bijak.
"Huh sok tua kau Mbreg.. Berani sekali sok menggurui Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Kau ini mengurusi Juminten saja tidak beres, sok-sokan menasehati Gusti Pangeran ", sahut Tumenggung Ludaka yang duduk di sampingnya.
"Lha ya jelas tua aku to Lu..
Wong aku ini abdi setia Gusti Prabu Jayengrana dari masih seorang kepala prajurit biasa sampai menjadi seorang Maharaja Panjalu yang di segani oleh para raja di Nusantara ini. Aku ini melihat Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono tumbuh besar dari masih bayi. Jadi wajar kalau aku menasehati nya sebagai orang yang lebih tua", Demung Gumbreg tak mau kalah.
"Sudah jangan ribut untuk urusan sepele seperti ini.. Kalian semua sebaiknya segera beristirahat. Besok pagi kita atur taktik yang pas untuk menghadapi para prajurit Rajapura", ujar Panji Tejo Laksono menengahi perdebatan antara Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg.
Keempat orang perwira tinggi prajurit Panjalu itu segera menghormat sambil berkata, " Sendiko dawuh Gusti Pangeran".
Usai berkata demikian, Panji Tejo Laksono meninggalkan pondok kayu tempat para perwira tinggi prajurit Panjalu itu beristirahat dan kembali ke pondok kayu tempat bermalam nya.
Hujan gerimis yang tidak juga berhenti membuat suasana malam hari itu menjadi semakin dingin. Saat pagi menjelang tiba, suasana pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tebal turun menyelimuti seluruh kawasan Hutan Koncar yang letaknya bersebelahan dengan Kota Kadipaten Rajapura di sisi timur.
Pagi hari itu, suasana ramai sudah terasa di sekitar pondok kayu tempat bermalam para perwira prajurit Panjalu. Di tenda tenda perkemahan para prajurit, juga terlihat kesibukan. Para prajurit perbekalan nampak sibuk menyiapkan makanan untuk kawan kawan seperjuangan mereka sementara para prajurit garis depan sibuk menyiapkan senjata mereka masing-masing. Para pasukan pemanah pun juga nampak menata anak panah mereka dalam wadah yang disiapkan untuk berperang. Para prajurit bertombak pun juga terlihat sibuk mengasah bilah tombak mereka.
Demung Gumbreg terlihat mengawasi jalannya pekerjaan para prajurit perbekalan di bantu Rakryan Purusoma. Sedangkan Tumenggung Ludaka dan Tumenggung Rajegwesi sibuk menata persiapan para prajurit terutama para prajurit berkuda. Kesibukan benar benar terasa di tepi Hutan Koncar.
Dari dalam hutan, saat waktu matahari sepenggal naik di langit timur, Panji Tejo Laksono yang bangun pagi pagi sekali, nampak keluar sembari memanggul seekor babi hutan liar yang cukup besar di ikuti oleh Gayatri yang menenteng beberapa ekor ayam hutan. Begitu sampai di dekat para prajurit perbekalan memasak, Panji Tejo Laksono menurunkan babi hutan besar itu di samping Demung Gumbreg.
"Di dalam sana masih ada beberapa ekor, Paman Gumbreg..
Perintahkan orang mu untuk mengambilnya. Lumayan untuk menambah tenaga sebelum berperang", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum tipis. Mendengar perintah dari sang pangeran muda, Demung Gumbreg segera mengutus 8 orang prajurit perbekalan yang berbadan besar untuk mengambil babi hutan liar yang sudah di kumpulkan.
Sementara itu, Panji Tejo Laksono dan Gayatri melangkah menuju ke arah pondok kayu tempat bermalam mereka sembari menenteng beberapa ekor ayam hutan yang mereka dapat tadi pagi.
Pagi itu, Panji Tejo Laksono dan keempat calon istri nya menikmati ayam hutan bakar hasil masakan Gayatri bersama Wanyan Lan dan Mapanji Jayagiri. Wanyan Lan yang sudah sadar tadi pagi, kini sudah tidak bisa menyamar lagi sebagai prajurit karena Panji Tejo Laksono memintanya untuk bergabung bersama dengan keempat orang calon istri nya. Wanyan Lan pun langsung menyetujui permintaan dari Panji Tejo Laksono. Sedangkan Mapanji Jayagiri nampak begitu gembira dengan keputusan Panji Tejo Laksono.
Setelah cukup sarapan pagi, pasukan Panji Tejo Laksono bergerak tanpa suara ke arah Kota Rajapura dari sisi timur. Pergerakan sunyi ini memang di siapkan sebagai serangan dadakan yang akan membuat pertahanan Rajapura kacau.
Seorang anggota Pasukan Lowo Bengi yang berlari cepat dari sisi selatan Hutan Koncar langsung menyembah pada Panji Tejo Laksono begitu mereka bertemu di jarak 300 depa dari tembok kota Rajapura.
"Kabar apa yang kau bawa?", tanya Panji Tejo Laksono pada anggota Pasukan Lowo Bengi ini segera. Putra sulung Prabu Jayengrana itu nampak begitu gagah dan berwibawa memakai baju perang nya. Keempat calon istri nya yang menyiapkan dandanan sang pangeran tadi pagi.
"Mohon ampun Gusti Pangeran..
Di sisi Selatan, pasukan Panjalu di bawah pimpinan Senopati Agung Narapraja sudah sampai. Sepertinya mereka berniat untuk menggempur Kota Rajapura hari ini", ujar sang anggota Pasukan Lowo Bengi sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.
"Bagus sekali..
Dengan begini, pasukan Paman Senopati Narapraja akan membuat konsentrasi mereka tertuju pada mereka. Saat itu kita juga akan menjebol pertahanan para prajurit Rajapura. Kau kembali ke tempat mu. Begitu para prajurit Panjalu menyerang tembok kota, cepat kau kemari untuk melapor", perintah Panji Tejo Laksono segera. Si anggota pasukan Lowo Bengi itu segera menghormat pada Panji Tejo Laksono sebelum melesat cepat kearah yang di maksud.
Sementara itu, para perwira prajurit Panjalu pimpinan Panji Tejo Laksono langsung menata diri dan pasukan mereka di balik rimbun pepohonan Hutan Koncar yang ada di timur Kota Kadipaten Rajapura.
Thhhhuuuuuuuuuttttttthh...!!!
Bunyi terompet tanduk kerbau terdengar nyaring. Ini menjadi pertanda bahwa para prajurit Panjalu di bawah pimpinan Senopati Agung Narapraja sudah bergerak menggempur pertahanan para prajurit Rajapura yang ada di balik tembok kota. Mendengar suara terompet tanduk kerbau itu, Panji Tejo Laksono langsung mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat kepada para prajurit Panjalu di bawah pimpinan nya untuk maju.
Namun saat para prajurit Panji Tejo Laksono mulai mendekati tembok Kota Kadipaten Rajapura, seorang lelaki bertubuh gempal dengan rambut beruban panjang dengan kumis tebal melesat turun dari atas tembok kota Rajapura.
"Hai Wong Panjalu,
Kalian mau kemana ha??!"