Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Sandyakala di Langit Seloageng


Seorang lelaki paruh baya bertubuh gendut dengan pakaian yang cukup bagus berwarna coklat tua segera berjalan mendekati mereka. Dia adalah sang pemilik rumah makan. Bersamaan dengan itu, rombongan prajurit Pakuwon Tumapel datang ke tempat itu. Rupanya ada seseorang yang melaporkan kepada para prajurit Pakuwon Tumapel mengenai keributan yang terjadi di rumah makan yang bernama Warung Sekar Sari ini.


Dari arah paling depan, melompat turun dari atas kuda seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tipis dan tatapan mata tajam. Menilik dari penampilannya, dia adalah pimpinan utama di rombongan pasukan Jenggala ini. Ya, dia adalah Bekel Yasanegara, kepala pasukan Pakuwon Tumapel. Dia segera berjalan mendekati mereka.


"Siapa yang mengacau di tempat ini? Cepat katakan pada ku", ucap Bekel Yasanegara sembari mengedarkan pandangannya ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan nya.


"Mohon ampun Gusti Bekel.. Ini adalah ulah lelaki itu. Mereka yang mengawali keributan di tempat hamba.


Sedangkan yang mereka ganggu adalah sanak keluarga ku yang baru saja datang. Ilmu kanuragan yang dimiliki oleh para kerabat ku ini cukup mampu untuk mengatasi masalah yang di buat oleh lelaki itu", ucap sang pemilik rumah makan ini segera. Mendengar penjelasan itu, Bekel Yasanegara segera menoleh ke arah lelaki paruh baya bertubuh gendut ini.


"Apa benar yang kau katakan, Ki Sumo? Ingat jangan mencoba untuk mengelabuhi kami", ujar Bekel Yasanegara segera.


"Untuk apa hamba berbohong, Gusti Bekel?


Kalau Gusti Bekel masih tidak percaya, boleh saja bertanya kepada para pelayan di tempat hamba juga para penonton yang melihat pertarungan tadi", sahut Ki Sumo sang pemilik rumah makan itu yang berusaha untuk meyakinkan Bekel Yasanegara tentang apa yang baru saja ia katakan. Lelaki bertubuh gempal itu segera merogoh kantong baju nya dan menyelipkan sekantong kepeng perak kecil di balik baju Bekel Yasanegara.


Hemmmmmmm...


"Baiklah, aku percaya pada mu Ki Sumo. Masalah ini serahkan saja pada ku. Lain kali jangan membuat keributan lagi. Kalau tidak, kalian semua akan aku tangkap dan penjarakan di penjara Istana Pakuwon Tumapel.


Prajurit,


Angkat mayat ini dan buang ke hutan sana. Yang lainnya, ikut aku kembali ke istana", setelah berkata demikian, Bekel Yasanegara segera bergegas berjalan meninggalkan mereka. Setelah itu, dia melompat ke atas kuda nya dan meninggalkan halaman rumah makan itu bersama para prajurit Pakuwon Tumapel seraya membawa mayat Danarjati. Ki Sumo langsung menarik nafas lega setelah melihat kepergian mereka.


"Huuffffftttt...


Dasar para pejabat serakah. Kalau ada duit saja, urusan apa pun langsung beres", gerutu Ki Sumo sambil menoleh ke arah Panji Tejo Laksono dan kawan-kawan.


"Terimakasih atas bantuan mu, Ki..", Gayatri segera menghampiri Ki Sumo.


"Itu sudah biasa di sini, Nyi..


Mari kita masuk ke dalam. Biar para pelayan ku yang membersihkan rumah makan ku. Kalian tidak perlu repot-repot untuk membantu", ujar Ki Sumo yang melihat Tumenggung Ludaka dan Naratama sedang mengumpulkan serpihan kayu yang berserakan dimana-mana.


Mereka semua segera masuk ke dalam rumah makan termasuk Demung Gumbreg yang ikut serta usai para pekatik yang di pekerjakan oleh Ki Sumo di suruh untuk menjaga kereta kuda. Rupanya Ki Sumo tidak mengajak mereka untuk beristirahat di rumah makan melainkan di sebuah bangunan yang menjadi tempat tinggal nya tepat di belakang rumah makan itu. Sesampainya di beranda rumah, mereka segera duduk bersila di lantai serambi setelah menggelar sebuah tikar pandan.


"Menilik dari gaya bicara kalian, sepertinya kalian semua adalah orang Panjalu. Benar apa yang ku bilang?", tanya Ki Sumo setelah semuanya duduk.


"Benar Ki..


Kami rombongan pedagang kain keliling yang berasal dari Panjalu. Apa ada sesuatu yang harus kami ketahui?", Gayatri menatap wajah sepuh Ki Sumo segera.


"Tidak ada, sebaiknya kalian berhati-hati saja di wilayah Jenggala ini", ujar Ki Sumo sembari tersenyum.


Setelah berbasa-basi sebentar, Ki Sumo menghidangkan beberapa makanan kepada mereka. Setelah menikmati makan pagi bersama, Sriati membantu Luh Jingga dan Dyah Kirana menata barang dagangan mereka. Sedangkan Naratama sibuk memandikan kuda tunggangan nya di sebuah sungai kecil yang terletak tak jauh dari rumah makan Ki Sumo.


Tumenggung Ludaka yang sedari tadi hanya diam tanpa bicara melihat sebuah kalung berliontin perak dengan gambar bulan purnama dengan gambar kelelawar di tengahnya saat mereka hendak kembali ke kereta kuda usai membayar makanan dan ganti rugi atas kerusakan yang terjadi di rumah makan. Segera Tumenggung Ludaka berbicara pelan.


"Diantara cahaya bulan purnama, aku berlari menembus awan. Ku kabarkan angin lewat kepak sayap ku ..."


"Tanpa peduli aral melintang. Untuk kejayaan Negeri Panjalu, sinar segala kegelapan di Tanah Jawadwipa", sambung Ki Sumo segera.


Heeemmmm...


"Jadi kau juga anggota Pasukan Lowo Bengi rupanya..", ujar Tumenggung Ludaka segera.


"Benar, Ki.. Kalau boleh aku tahu tahu, siapa Kisanak ini sebenarnya? Kenapa bisa tahu tentang syair rahasia Pasukan Lowo Bengi?", tanya Ki Sumo sembari menatap ke arah Tumenggung Ludaka.


"Dia ini Tumenggung Ludaka. Dulu adalah pimpinan utama Pasukan Lowo Bengi saat Gusti Prabu Jayengrana masih memegang kendali atas Pasukan Garuda Panjalu, Ki. Aku Demung Gumbreg yang juga turut membantu saat Pasukan Lowo Bengi baru pertama kali di bentuk.


Lha kamu sendiri bergabung dengan Pasukan Lowo Bengi saat kepemimpinan siapa?", sahut Demung Gumbreg segera.


"Saya bergabung saat Pasukan Garuda Panjalu selaku induk Pasukan Lowo Bengi di pimpin oleh Senopati Muda Jarasanda, Kisanak.


Ah ternyata saudara sendiri. Saya Ki Sumo, salam hormat saya Gusti Tumenggung Ludaka, Gusti Demung Gumbreg", Ki Sumo segera menghormat pada Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg.


"Terimakasih atas penghormatan mu, Ki Sumo..


Perkenalkan ini adalah Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono, putra sulung Prabu Jayengrana Maharaja Panjalu", ucap Tumenggung Ludaka sambil tersenyum.


Ki Sumo terkejut bukan main mendengar ucapan itu. Ia benar benar tidak menyangka bahwa yang bersama mereka saat ini adalah calon raja Panjalu selanjutnya. Ki Sumo nya segera menyembah pada Panji Tejo Laksono


"Sembah bakti hamba Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono".


"Sudahlah, jangan menarik perhatian orang. Duduklah kembali dengan tenang. Ingat, keberadaan kami disini tidak boleh di ketahui oleh para prajurit Jenggala", sambut Panji Tejo Laksono. Ki Sumo segera kembali duduk bersila.


"Kanjeng Romo Prabu Jayengrana mendengar berita dari telik sandi yang bertugas di Jenggala, bahwa ada pergerakan besar prajurit Jenggala yang mulai berkumpul di sekitar perbatasan Seloageng dan Kanjuruhan.


Kemarin aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa ada banyak sekali prajurit Jenggala yang melakukan latihan peperangan di Utara hutan kecil barat Kota Pakuwon Tumapel ini, Ki Sumo.


Aku hanya ingin memastikan siapa yang sudah mengirim pesan itu ke Panjalu sekaligus menanyakan sejauh mana pengetahuannya tentang rencana Jenggala menyerang ke Panjalu", jawab Panji Tejo Laksono.


"Gusti Pangeran tidak perlu mencari lagi. Hamba lah orang yang mengabarkan berita itu lewat merpati tempo hari.


Saat ini ratusan ribu prajurit Jenggala sedang bersiap untuk menggempur pertahanan Panjalu. Dua bagian besar berada di wilayah Kadipaten Hujung Galuh dan Kadipaten Kanjuruhan, sedangkan menurut kabar yang hamba terima, pasukan Jenggala terbagi menjadi tiga bagian", Ki Sumo mengeluarkan selembar kain putih yang bergambar trisula lalu menyerahkannya kepada Tumenggung Ludaka.


"Apa ini Ki Sumo?", Tumenggung Ludaka mengernyitkan keningnya melihat gambar trisula di kain putih itu.


"Ini adalah isyarat rahasia yang di pegang oleh setiap kepala pasukan Jenggala. Seorang kawan anggota Pasukan Lowo Bengi mengantar benda itu kemari dengan tubuh penuh luka. Dia tewas setelah mengatakan "Trisula Dewa Siwa".


Dari situ hamba menyimpulkan bahwa pasukan Jenggala terdiri dari beberapa bagian. Karena senjata trisula memiliki 3 ujung, maka hamba yakin bahwa pasukan Jenggala terbagi menjadi tiga bagian. Hanya saja sampai saat ini, hamba dan kawan-kawan telik sandi yang lain masih belum menemukan ujung trisula ketiga ada dimana", urai Ki Sumo menerangkan tentang gambar trisula di lembaran kain putih di tangan Tumenggung Ludaka.


Panji Tejo Laksono, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg serta Gayatri terkejut bukan main mendengar cerita Ki Sumo.


"Ini masalah besar, Kangmas Pangeran. Kita harus segera pulang secepatnya ke Kadiri dan mengabarkan berita ini kepada Gusti Prabu Jayengrana", ujar Gayatri segera. Wajah cantik nya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam tentang masalah ini.


"Aku tahu itu, Dinda Gayatri..


Ki Sumo, aku berterima kasih kepada mu untuk semua bantuan yang kau berikan. Jika suatu saat nanti, kau ingin mundur dari Pasukan Lowo Bengi dan ingin hidup selayaknya orang biasa, cari aku di Istana Kadipaten Seloageng.


Aku pamit pulang ke Kadiri", ujar Panji Tejo Laksono yang langsung membuat Ki Sumo menghormat pada nya.


"Selamat jalan, Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono. Berhati-hati lah selama perjalanan pulang ke Panjalu", sahut Ki Sumo sembari tersenyum tipis.


Usai berpamitan kepada Ki Sumo, menjelang sore hari itu juga, rombongan Panji Tejo Laksono bergerak meninggalkan Kota Pakuwon Tumapel. Mereka tidak mau membuang waktu lagi untuk segera sampai di wilayah Panjalu. Sriati dan Naratama yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti saja langkah mereka.


*****


Matahari telah tenggelam di langit barat. Sandyakala itu seperti terletak di atas langit Kadipaten Seloageng jika di lihat dari timur. Ratusan kelelawar mulai bergerak keluar dari goa tempat tinggalnya untuk mencari makanan sedangkan para burung-burung siang semuanya telah kembali ke sarang mereka masing-masing setelah seharian mencari penghidupan untuk anak-anaknya.


Dari arah timur, bergerak puluhan kapal jung besar tanpa bendera berlayar di Sungai Kapulungan atau yang kini di kenal sebagai Sungai Brantas. Di dermaga Wanua Sembon yang berada di selatan Kota Kadipaten Seloageng, puluhan kapal jung besar ini berlabuh. Dari dalamnya, turun ribuan orang memakai jarit berwarna merah yang merupakan ciri khas prajurit Jenggala. Di dermaga kecil dan sepi ini, hanya sedikit orang saja yang menatap heran kearah mereka namun tidak berani untuk bertindak.


Seorang wanita cantik berpakaian serba hitam dengan topeng separuh wajah dengan gambar bulan sabit terbalik berwarna merah darah menyambut kedatangan salah seorang diantara orang yang turun dari kapal jung besar itu. Sebuah pedang aneh dengan gagang pedang terbuat dari tulang belulang manusia yang ujungnya terdapat tengkorak kepala manusia bertanduk tersandang di punggungnya.


"Selamat datang di tempat ini, Pimpinan Ketiga..", ujar perempuan cantik berbaju hitam itu sembari membungkuk hormat kepada lelaki tua berjanggut panjang itu segera. Dia adalah Nyi Dadap Segara.


"Apa kau sudah mengatur persiapan kita untuk menyerbu Istana Kadipaten Seloageng?", tanya lelaki bertubuh gempal dengan janggut panjang yang tak lain adalah Ki Samparjagad, pimpinan ketiga Kelompok Bulan Sabit Darah.


Ya, kedatangan mereka kali ini adalah untuk menyerbu Istana Kadipaten Seloageng sesuai dengan perintah Malaikat Bertopeng Emas, sang pimpinan utama Kelompok Bulan Sabit Darah. Ini terjadi berdasarkan laporan mata-mata mereka yang mengabarkan bahwa Istana Kadipaten Seloageng sedang kosong karena Panji Tejo Laksono tidak berada di istana. Tujuan utama mereka dengan membawa anggota yang berpakaian mirip dengan prajurit Jenggala, adalah untuk mengobrak-abrik seisi Istana Kadipaten Seloageng dan menculik istri Panji Tejo Laksono. Ini juga nantinya yang akan menjadi pemicu utama dalam perang antara Panjalu dan Jenggala karena pihak Panjalu pasti tidak terima jika mendengar salah satu wilayah yang menjadi tanah lungguh salah seorang pangeran di serbu oleh para prajurit Jenggala.


"Ki Samparjagad tenang saja, aku sudah membereskan Lurah Wanua Sembon ini juga para Jagabaya dan anak buah nya. Selepas sandyakala itu hilang, kita langsung bisa bergerak menuju ke arah Istana Kadipaten Seloageng", lapor Nyi Dadap Segara segera.


"Baguslah kalau begitu..


Untuk jumlah orang yang berhasil dihimpun berapa orang, Nyi Dadap Segara? Dari berita yang ku dengar, istana Kadipaten Seloageng setidaknya di jaga oleh 2 ribu prajurit",Ki Samparjagad berjalan sembari bertanya kepada Nyi Dadap Segara yang berjalan di sampingnya.


"Aku berhasil mengumpulkan 500 orang pendekar berilmu tinggi, Pimpinan Ketiga.


Ditambah dengan anggota yang kau bawa, setidaknya ada 1500 orang di pihak kita", jawab Nyi Dadap Segara seraya berjalan dengan tenang nya.


"Itu sudah cukup.. Orang orang yang aku bawa adalah orang orang pilihan. Mereka akan mudah jika hanya menghadapi 2 orang sekelas prajurit biasa.


Sepertinya hari sudah mulai gelap. Ayo kita berangkat ke istana Kadipaten Seloageng dan kita obrak-abrik tempat itu!", ujar Ki Samparjagad segera. Tubuh lelaki tua itu langsung melayang seperti terbang. Dan sekejap kemudian dia sudah melesat cepat kearah Kota Kadipaten Seloageng diikuti oleh ribuan orang berpakaian layaknya prajurit Jenggala namun mengenakan topeng separuh wajah dengan gambar bulan sabit terbalik berwarna merah darah.


Empat orang prajurit penjaga gerbang Kota Kadipaten Seloageng arah selatan tak menyangka bahwa malam ini mereka akan bernasib naas. Empat orang bertopeng separuh wajah dengan gambar bulan sabit terbalik berwarna merah darah diam diam menyelinap di belakang mereka dan mereka dengan cepat langsung menggorok leher para prajurit penjaga gerbang kota sambil membekap mulutnya. Keempat orang itu segera menyeret tubuh keempat orang prajurit penjaga gerbang selatan kota ke balik semak-semak yang tumbuh di dekat pintu masuk. Mereka berempat pun segera melepas topeng separuh wajah nya dan mengganti pakaian mereka hingga terlihat seperti para prajurit Kadipaten Seloageng.


Begitu rombongan pasukan Kelompok Bulan Sabit Darah memasuki pintu gerbang kota, keempat orang penjaga gerbang kota palsu ini segera membuka pintu gerbang kota. Dengan gerakan cepat, rombongan pasukan ini segera menyerbu ke arah Istana Kadipaten Seloageng yang terletak di sisi timur kota.


Para prajurit penjaga gerbang istana Kadipaten Seloageng yang sedang bertugas, langsung terkejut melihat kedatangan para prajurit Jenggala yang menyerbu ke arah mereka. Dia segera meraih tabuh kentongan secepat mungkin dan memukul kentongan yang ada di dekat nya.


Thoongg thoongg thoongg..!!!


Keributan besar segera terjadi di dalam istana Kadipaten Seloageng setelah bunyi titir kentongan itu terdengar bertalu-talu.


Ayu Ratna yang masih terjaga di Keputren Istana Kadipaten Seloageng langsung bergegas keluar dari dalam bilik nya setelah mendengar suara kentongan. Permaisuri pertama Panji Tejo Laksono itu segera mendekati para prajurit penjaga gerbang Keputren Istana yang nampak bersiap siaga.


"Ada apa ini, Prajurit??"