Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Dukungan


Gorawangsa alias Si Pendekar Pedang Pencabut Nyawa dari Padepokan Gunung Bromo, memang sangat terkenal di kalangan masyarakat dunia persilatan Kerajaan Jenggala.


Tindakannya yang kejam dan sering tidak berperikemanusiaan membuatnya begitu di takuti oleh siapapun yang berurusan dengan nya. Ratusan nyawa pendekar dunia persilatan baik dari golongan hitam maupun putih sudah menjadi korban keganasan nya. Dia hanya memandang kepeng perak dan emas sebagai tuan nya.


Sepekan yang lalu, seorang lelaki menawarkan 200 kepeng emas kepadanya untuk sebuah tugas pembunuhan ketika dia berada di wilayah Kadipaten Kanjuruhan yang berbatasan langsung dengan Seloageng. Lelaki itu hanya meminta Gorawangsa untuk menyamar sebagai penabuh gamelan agar lebih mudah untuk melakukan tugasnya. Gorawangsa segera menyetujui permintaan lelaki itu, dan mengikuti sang lelaki menemui Rara Pujiwati sang pimpinan kelompok tayub dari Kadipaten Karang Anom yang akan menghibur di acara penobatan Adipati baru Seloageng.


Segala persiapan untuk rencana mengacaukan acara penobatan Adipati baru Seloageng di susun dengan cermat dan hati-hati oleh Maheswara agar berjalan sesuai dengan keinginan nya.


Menjelang hari penobatan, Kota Kadipaten Seloageng terus berhias. Ratusan umbul umbul di pasang di setiap sudut kota. Hiasan penjor dan janur kuning terpasang hampir di setiap depan rumah warga Kota Kadipaten Seloageng yang ikut berbahagia dengan pengangkatan Panji Tejo Laksono sebagai Adipati baru Seloageng.


Para Kraman atau Lurah di setiap wilayah menyuruh semua warga untuk ikut serta dalam kegiatan ini dengan gugur gunung sebagai bentuk baru Kadipaten Seloageng dalam menyambut pemimpin baru. Selain itu, pada hari penobatan, di pendopo masing masing kelurahan diadakan selamatan sebagai wujud doa mereka bersama atas kedatangan sang pangeran muda dari Kadiri yang menjadi pimpinan wilayah mereka. Bahkan di beberapa wanua yang ada di sekitar Kota Kadipaten Seloageng, para Kraman atau Lurah menyembelih kerbau sebagai wujud dukungan mereka terhadap Panji Tejo Laksono.


Serombongan orang berkuda nampak mendekati Kota Kadipaten Seloageng dari arah barat. Mereka adalah rombongan dari Kadipaten Gelang-gelang yang dipimpin oleh Patih Dyah Suwanda yang menjadi tamu undangan Kadipaten Seloageng untuk hadir dalam acara penobatan Panji Tejo Laksono. Bagaimanapun juga, Gelang-gelang masih punya kekerabatan dekat dengan Seloageng karena Panji Tejo Laksono adalah cucu kandung Bupati Sepuh Panji Gunungsari.


Saat memasuki tapal batas Kota Kadipaten Seloageng, mereka berpapasan dengan rombongan lain yang datang dari selatan. Rombongan besar pasukan itu adalah rombongan dari Tanah Perdikan Lodaya yang dipimpin langsung oleh Pangeran Merdeka dari Lodaya, Pangeran Arya Tanggung. Tanah Perdikan Lodaya sendiri juga berkerabat dekat dengan Gelang-gelang, karena sang permaisuri Penguasa Tanah Perdikan Lodaya, Dewi Anggraeni, adalah putri dari Bupati Sepuh Panji Gunungsari yang juga merupakan bibi dari Panji Tejo Laksono.


Patih Dyah Suwanda langsung melompat turun dari kudanya begitu tahu siapa yang berpapasan dengan rombongan nya. Segera dia berjalan mendekati penguasa Tanah Perdikan Lodaya itu dan langsung menghormat pada Pangeran Arya Tanggung yang masih ada di dalam kereta kuda.


"Rupanya rombongan dari Gelang-gelang. Apakah kamu adalah Patih baru Kanjeng Romo Bupati Panji Gunungsari?", tanya Pangeran Arya Tanggung setelah membuka pintu kereta kuda.


"Benar sekali, Gusti Pangeran.. Hamba Suwanda, Patih baru Kabupaten Gelang-gelang menghaturkan hormat kepada Gusti Pangeran Arya Tanggung, Penguasa Bumi Perdikan Lodaya", jawab Patih Dyah Suwanda dengan penuh hormat.


"Hemmmmmmm, sepertinya Kanjeng Romo Adipati Gunungsari tidak salah pilih orang untuk membantunya menata Kabupaten Gelang-gelang..


Kalau kau tidak keberatan, sebaiknya kita bersama-sama menuju ke Istana Kadipaten Seloageng", ucap Pangeran Arya Tanggung segera.


"Tentu saja kami tidak keberatan, Gusti Pangeran..


Silahkan rombongan Lodaya berjalan lebih dulu. Orang-orang hamba akan mengikuti di belakang", balas Patih Dyah Suwanda sembari mempersilahkan Pangeran Arya Tanggung berjalan lebih dulu. Pangeran Arya Tanggung segera memberikan isyarat kepada kusir kereta kuda nya untuk bergerak dan rombongan Tanah Perdikan Lodaya pun bergerak sesuai dengan perintah nya. Kini rombongan itu semakin banyak karena rombongan dari Gelang-gelang ikut mengiringi perjalanan mereka.


Satu persatu tamu undangan lainnya pun turut hadir di Kota Seloageng. Selain Tanah Perdikan Lodaya dan Gelang-gelang, utusan Adipati Singhapura dan Karang Anom juga sudah sampai di Kota Seloageng. Ini menjadi semakin ramai saat sore harinya, rombongan Tumenggung Sindupraja, Tumenggung Ludaka dan Demung Gumbreg yang mewakili Istana Kotaraja Kadiri hadir pula di Seloageng.


Panji Tejo Laksono sedang duduk menikmati keindahan sore hari di ruang pribadi Adipati Seloageng bersama Ayu Ratna dan Gayatri. Mereka terlihat asyik berbincang dengan santai.


"Kangmas Pangeran Tejo Laksono..


Besok pagi Kangmas Pangeran akan dinobatkan sebagai Adipati Seloageng. Lantas siapa yang akan di tunjuk sebagai Yuwaraja Panjalu selanjutnya setelah Kangmas Pangeran menjadi Adipati?", tanya Ayu Ratna sembari mengulurkan secangkir wedang jahe hangat pada suaminya.


"Siapa Yuwaraja Panjalu selanjutnya adalah hak dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana untuk menentukan pilihan, Dinda Ayu..


Seloageng menjadi tanah lungguh ku juga atas pertimbangan dalam dalam mendiang Kanjeng Eyang Adipati Tejo Sumirat. Ini adalah taktik politik yang memang harus di lakukan agar antara aku ataupun Dhimas Jayawarsa yang kini mendapatkan tanah lungguh di Bojonegoro, memiliki kekuatan yang sama dalam menentukan pilihan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana. Aku sangat menghargai niat baik Kanjeng Eyang Tejo Sumirat dalam menata ruang untuk masa depan ku", jawab Panji Tejo Laksono sambil menerima uluran cangkir wedang jahe dari permaisuri pertama nya ini.


"Ini berarti Kangmas Pangeran Tejo Laksono masih memiliki kesempatan untuk menjadi seorang Yuwaraja Panjalu meski sudah menjadi Adipati Seloageng?", sahut Gayatri yang duduk di samping kanan nya.


"Benar Dinda Gayatri..


Seloageng punya merupakan wilayah yang cukup besar di timur Panjalu. Juga sangat subur dengan sumber daya alam yang melimpah. Ini bisa digunakan untuk membangun sebuah pasukan yang bisa kita gunakan sebagai kekuatan jika diperlukan.


Dari arah pintu gerbang ruang pribadi Adipati, terlihat Pangeran Arya Tanggung, Patih Dyah Suwanda, Raden Windusegoro putra Adipati Windupati dari Karang Anom dan Adipati Anom Singhapura, Damar Sasongko beriringan menuju ke arah ruang pribadi Adipati Seloageng dimana Panji Tejo Laksono dan kedua istrinya berada.


Panji Tejo Laksono langsung berdiri dari tempat duduknya begitu melihat kedatangan mereka. Dua istrinya segera beringsut mundur dari tempat mereka berada.


"Selamat datang di Istana Kadipaten Seloageng. Mohon maaf jika penyambutan kedatangan kalian semua tidak selayaknya", ujar Panji Tejo Laksono sambil tersenyum simpul begitu keempat orang penting itu memasuki pendopo ruang pribadi Adipati Seloageng.


"Salam hormat ku, Nakmas Pangeran..


Maaf jika kedatangan ku mengganggu waktu istirahat mu", ujar Pangeran Arya Tanggung segera setelah Panji Tejo Laksono menyambutnya.


"Paman Pangeran jangan begitu. Aku masih keponakan paman. Mari silahkan duduk semuanya", jawab Panji Tejo Laksono dengan ramah.


Mereka berlima segera duduk bersila di lantai pendopo ruang pribadi Adipati Seloageng. Pangeran Arya Tanggung duduk di sisi kanan bersama dengan Raden Damar Sasongko sedangkan Patih Dyah Suwanda duduk di sisi kiri sang pangeran muda bersama dengan Raden Windusegoro.


"Mohon maaf sebelumnya, aku penasaran dengan maksud kalian semua menemui ku disini.


Paman Pangeran, bisa tolong jelaskan apa tujuan dari kalian semua kemari?", Panji Tejo Laksono membuka pembicaraan dengan mereka.


"Nakmas Pangeran memang orang yang berterus-terang, paman suka dengan sifat mu yang seperti ini hehehe..


Begini Nakmas Pangeran, kedatangan kami kemari selain untuk menghadiri acara penobatan mu, juga sebagai dukungan untuk mu. Tanah Perdikan Lodaya akan sangat gembira jika nanti Nakmas Pangeran Panji Tejo Laksono yang terpilih sebagai Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Ini karena Nakmas Pangeran adalah orang yang pantas untuk menggantikan Kangmas Prabu Jayengrana memimpin Panjalu di kemudian hari", ujar Pangeran Arya Tanggung segera.


"Itu benar, Gusti Pangeran..


Pengalaman Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono di Medan perang beberapa kali sudah membuktikan bahwa Gusti Pangeran bisa memimpin dengan baik. Gusti Bupati Sepuh sangat bangga dengan apa yang Gusti Pangeran lakukan. Sebagai pesan dari beliau, jika ada waktu Gusti Pangeran diminta untuk berkunjung ke Gelang-gelang", timpal Patih Dyah Suwanda sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


"Kami dari Kadipaten Singhapura juga mendukung penuh rencana Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sebagai Yuwaraja Panjalu selanjutnya. Rakyat Singhapura siap memberikan bantuan kepada Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono jika diperlukan", ujar Adipati Anom atau putra mahkota Kadipaten Singhapura Raden Damar Sasongko segera.


"Begitu pula dengan kami di Karang Anom, Gusti Pangeran. Seluruh rakyat Karang Anom dan para punggawa istana Karang Anom mendukung penuh pengangkatan Gusti Pangeran Panji Tejo Laksono sebagai Yuwaraja", imbuh Raden Windusegoro sembari menghormat pada Panji Tejo Laksono.


Mendengar perkataan mereka semua, Panji Tejo Laksono tersenyum penuh arti.


"Aku menghargai niat baik kalian semua untuk mendukung ku sebagai Yuwaraja. Tapi penentuan siapa Yuwaraja Panjalu selanjutnya itu ada pada Kanjeng Romo Prabu Jayengrana. Aku tidak berhak untuk meminta agar aku yang dipilih oleh beliau.


Tapi aku meminta pada kalian, siapapun yang di pilih oleh Kanjeng Romo Prabu Jayengrana kelak, kalian harus mendukungnya seperti kalian semua mendukung ku", ujar Panji Tejo Laksono yang di sambut dengan anggukan kepala dari keempat orang penting di wilayah mereka masing-masing itu.


Selanjutnya mereka semua berbincang tentang banyak hal hingga malam menjelang tiba.


Sementara itu, rombongan penari tayub dari Kadipaten Karang Anom yang di sewa oleh Maheswara memasuki wilayah Kota Kadipaten Seloageng tepat saat matahari mulai terbenam di ufuk barat. Diantara mereka, terdapat seorang lelaki bertubuh kekar dengan rambut panjang yang di gelung asal-asalan. Dia adalah Gorawangsa, Si Pendekar Pedang Pencabut Nyawa yang di sewa oleh Kelompok Bulan Sabit Darah untuk menghabisi nyawa Panji Tejo Laksono. Lelaki itu nampak tertegun sejenak saat memasuki Kota Kadipaten Seloageng.


Melihat salah satu dari anggota rombongan nya berhenti, Rara Pujiwati sang pimpinan kesenian tayub nampak geram karena dia membuat pergerakan rombongan itu terhenti. Dengan kesal ia mendelik tajam ke arah Gorawangsa, sambil berkata dengan nada ketus, "Hei jangan berhenti sembarangan begitu. Waktu kita tidak banyak".


Mendengar hardik keras Rara Pujiwati, Gorawangsa yang memang tak banyak bicara, langsung membungkuk hormat kepada Rara Pujiwati sambil kembali melangkah. Dalam hati ia menggerutu,


'Kalau bukan karena bayaran kemarin, tak sudi aku kau perintah'.