
"Paman Jarasanda,
Salam hormat mu telah ku terima. Sekarang katakan pada ku, apa yang membawa mu sampai di tempat ini? Apa kau sedang mengemban tugas dari Kanjeng Romo Prabu Jayengrana?"
Pertanyaan beruntun terdengar dari mulut Mapanji Jayagiri. Mendengar pertanyaan itu, Senopati Muda Jarasanda tersenyum simpul sembari menghormat pada Mapanji Jayagiri. Dia tahu bahwa putra ketiga Prabu Jayengrana ini sangat memuja ayahandanya.
"Hamba kemari memang atas perintah dari Gusti Prabu Jayengrana, Gusti Pangeran Jayagiri..
Ini berkaitan erat dengan desas-desus bahwa Kadipaten Rajapura sedang berupaya untuk mengumpulkan kekuatan yang tujuan akhirnya adalah memberontak terhadap Kadiri", jawab Senopati Muda Jarasanda segera.
Hemmmmmmm...
"Sudah ku duga sebelumnya.. Tempo hari aku pernah menghadapi para atasan prajurit Kadipaten Rajapura. Kalau tahu akan memberontak terhadap kekuasaan Kanjeng Romo Prabu Jayengrana di Daha, sudah ku habisi mereka semua.
Paman Jarasanda, libatkan aku dalam tugas yang paman terima. Aku akan patuh pada perintah paman", ujar Mapanji Jayagiri tanpa ragu-ragu.
"Tapi Nakmas Pangeran, kita harus secepatnya pulang ke Kadiri. Aku takut Gusti Ratu Ketiga akan marah besar jika kita tidak pulang tepat waktu", sergah Resi Tandi segera.
"Aku tahu itu Guru..
Tapi mempertahankan kedaulatan Kadiri atas wilayah nya adalah tugas penting yang harus di emban oleh setiap ksatria dan putra putra Kanjeng Romo Prabu Jayengrana. Dan aku tidak bisa berdiam diri begitu saja. Urusan Ibunda Ratu Ketiga, biar nanti aku yang akan menghadapi nya sendiri", ucap Mapanji Jayagiri dengan penuh keyakinan.
Semua orang tersenyum tipis mendengar ucapan dari putra ketiga Prabu Jayengrana ini. Maka siang itu, di susunlah rencana untuk mendapatkan berita dan kabar terbaru dari perbatasan Kalingga oleh Senopati Muda Jarasanda dan Tumenggung Landung. Adipati Aghnibrata mendukung penuh rencana ini dan dengan cepat menata para prajurit Kadipaten Kalingga untuk membantu segala keperluan yang di butuhkan.
Sementara itu, berita terkait upaya Kadipaten Rajapura sedang melakukan upaya pemberontakan terhadap kekuasaan Kadiri telah sampai di tangan Senopati Agung Narapraja. Maka hari itu juga, para prajurit Panjalu yang sudah di persiapkan sebelumnya pun berangkat menuju ke arah Kadipaten Rajapura untuk menumpas para pemberontak Rajapura yang di pimpin oleh Adipati Waramukti.
Dalam pasukan itu, terdapat pula Pangeran Mapanji Jayawarsa yang di tugaskan sebagai pimpinan utama Pasukan Kerajaan Panjalu. Mereka bergerak menuju ke arah barat.
"Paman Senopati Narapraja,
Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai di Kadipaten Rajapura?", tanya Mapanji Jayawarsa sambil terus berkuda di samping Senopati Agung Narapraja.
"Setidaknya kita butuh waktu sekitar dua pekan jika perjalanan kita tidak terganggu, Gusti Pangeran.
Tapi jika ada gangguan maka akan lebih lama", jawab Senopati Agung Narapraja sembari menghormat pada Mapanji Jayawarsa. Pria paruh baya bertubuh gempal ini nampak berwibawa seperti layaknya seorang bangsawan sepuh yang berpengalaman dalam bidang peperangan.
"Huhhhhh.. Hanya sebuah Kadipaten kecil saja berani sekali menganggu kewibawaan Pemerintah Panjalu. Aku tidak akan membiarkan mereka berbuat seenaknya. Pasukan kita pasti akan mudah ******* kroco kroco itu secepat mungkin.
Bukankah begitu Paman Senopati?", kembali Mapanji Jayawarsa menatap ke arah Senopati Narapraja.
"Walaupun hanya sebuah Kadipaten kecil, kita tidak bisa meremehkan kekuatan mereka begitu saja Gusti Pangeran..
Rajapura memiliki banyak perwira tangguh dan berilmu tinggi. Lagi pula, aku dengar mereka di bantu oleh para pendekar golongan hitam. Ini tentu saja tidak boleh gegabah menghadapi mereka ", ucap Senopati Agung Narapraja sembari menghormat usai berkata demikian.
"Alah, Paman Senopati Narapraja terlalu meninggikan mereka. Aku percaya pada kemampuan para prajurit Panjalu..
Sesampainya di sana, kita segera serbu saja mereka dan pancung kepala Adipati Waramukti. Aku tidak mau berlama-lama di tempat itu", kata Mapanji Jayawarsa sembari menggebrak kuda nya untuk melangkah lebih dulu di depan Senopati Narapraja. Perwira tinggi prajurit Panjalu ini hanya geleng-geleng kepala melihat sikap Mapanji Jayawarsa yang terlihat bertolak belakang dengan sikap Prabu Jayengrana. Dia begitu angkuh, sombong dan merasa paling benar dari yang lainnya. Ini yang membuatnya menjadi berbeda diantara keempat putra Prabu Jayengrana yang lain seperti Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayagiri dan Panji Mandala Seta. Panji Tejo Laksono cenderung tegas dan berwibawa sangat mirip dengan sikap Prabu Jayengrana ketika masih muda. Mapanji Jayagiri walaupun sedikit bandel dan manja, namun ia patuh pada perintah pada setiap perkataan sang Maharaja Panjalu karena sangat mengidolakannya. Sedangkan Panji Mandala Seta, putra dari Dewi Srimpi lebih suka menjauh dari segala hiruk pikuk urusan istana, gemar belajar dan berguru kepada beberapa orang resi di seputar Kotaraja Kadiri namun tak pernah melanggar aturan yang di tetapkan oleh ayahanda nya.
Maka persaingan untuk menjadi putra mahkota kerajaan Panjalu hanya mengerucut pada Panji Tejo Laksono, Mapanji Jayawarsa dan Mapanji Jayagiri. Namun, sepertinya tinggal menyisakan dua calon saja karena Mapanji Jayagiri sudah di rencanakan akan di jodohkan dengan putri Prabu Langlangbumi yang tak lain karena semua anak Raja Tatar Pasundan itu semuanya perempuan hingga untuk meneruskan tahta Kerajaan Galuh Pakuan, Mapanji Jayagiri adalah satu-satunya orang dari kerabat istana Galuh Pakuan yang masih berhubungan dekat.
Tujuan diikutkan nya Mapanji Jayawarsa dalam upaya memadamkan api pemberontakan di Rajapura adalah untuk menguji sejauh mana kemampuan Mapanji Jayawarsa untuk menjadi pemimpin. Ratu Kedua Kerajaan Panjalu, Ayu Galuh sangat antusias dengan cara ini hingga dia pun menempatkan beberapa pengawal pribadi yang berilmu tinggi untuk mengawal putra nya dalam tugas ini.
Pasukan Panjalu terus bergerak menuju ke arah Kadipaten Rajapura.
"Meng Er, setelah melewati hutan ini seharusnya kita sudah sampai di Lin'an bukan?", tanya Panji Tejo Laksono sambil menikmati makanan kering yang menjadi bekal perjalanan mereka setelah meninggalkan Kota Hefei. Kini mereka tengah asyik menikmati makan siang di tepi sungai kecil yang terletak di tepi jalan yang membelah hutan bambu yang luas.
"Belum Kakak Thee..
Selepas hutan bambu ini kita akan sampai di tepi Sungai Xijin. Kita masih harus melakukan perjalanan satu hari lagi untuk sampai ke Lin'an melewati Lembah Tanpa Nama. Itu jalur yang tercepat.
Tapi sebaiknya kita tidak melewati jalan itu karena aku dengar akhir akhir lembah itu di kuasai oleh para perampok ganas yang menamakan dirinya sebagai Ikatan Sepuluh Cincin. Kita harus memutar jalan saja lewat Gunung Dao. Tapi akan memakan waktu lebih lama sekitar 2 hari perjalanan", jawab Song Zhao Meng sembari tersenyum tipis.
"Kita tidak boleh membuang waktu lagi, Meng Er. Sebaiknya kita tetap melewati jalan di Lembah Tanpa Nama untuk sampai ke Lin'an tepat waktu. Sebentar lagi musim semi akan berakhir dan itu menjadi satu-satunya kesempatan agar aku bisa pulang ke Tanah Jawadwipa secepatnya. Kalau tidak, bisa bisa aku harus menunggu sampai 6 purnama lagi", Panji Tejo Laksono meletakkan piring yang menjadi wadah makanan nya usai berkata demikian.
Usai makan siang, rombongan Panji Tejo Laksono kembali melanjutkan perjalanan. Setelah melewati hutan bambu, menjelang sore hari rombongan itu tiba di tepi Sungai Xijin. Karena hari sudah mulai gelap, maka Panji Tejo Laksono memerintahkan kepada para pengikutnya untuk mulai mendirikan tenda sebagai tempat bermalam bagi mereka.
Suasana malam ini terasa begitu indah dengan munculnya bulan purnama yang terlihat bulat sempurna di langit timur. Tumenggung Ludaka mengatur giliran jaga malam antara para prajurit Panjalu yang mengiringi perjalanan Panji Tejo Laksono. Malam itu berlalu dengan cepat dan segera di gantikan oleh pagi bersamaan dengan kokok ayam jantan yang bersahutan.
Selepas menyeberangi Sungai Xijin, rombongan Panji Tejo Laksono terus bergerak menuju ke arah Lembah Tanpa Nama sebelum memasuki wilayah Kota Lin'an dari arah Utara.
Lembah Tanpa Nama adalah suatu tempat yang indah. Terletak di kaki gunung Dao yang tinggi menjulang, lembah itu nampak hijau dengan lebatnya pepohonan yang tumbuh subur. Berbagai bebungaan dengan aneka jenis dan warna, lembah ini nampak indah. Namun di balik keindahan alam tempat ini tersimpan sebuah bahaya yang mengerikan. Tempat ini adalah markas dari sebuah kelompok perampok yang sadis dengan nama Ikatan Sepuluh Cincin. Kelompok ini dipimpin oleh 10 tetua yang mengenakan sebuah cincin perak dengan ukiran kepala tengkorak manusia. Tetua utama atau bisa di sebut sebagai Ketua Ikatan Sepuluh Cincin mengenakan sebuah cincin emas dengan gambar ukiran serupa. Dia adalah Lin Kai Sang, yang di dunia persilatan Tanah Tiongkok dikenal sebagai Setan Seribu Nyawa.
Saat itu Lin Kai Sang tengah duduk di kursi kayu kediamannya saat seorang lelaki berpakaian serba hitam tergesa-gesa mendekati nya.
"Ketua, ada rombongan orang yang memasuki wilayah kita. Apa sebaiknya kita bergerak sekarang?", tanya si lelaki yang merupakan salah satu dari sekian banyak anggotanya itu.
"Berapa banyak jumlah mereka? Kelihatan orang kaya tidak?", Lin Kai Sang menatap ke arah anak buah nya itu segera.
"Kelihatannya mereka rombongan dari Istana Kaifeng. Ada bendera bergambar naga emas di salah satu kereta kuda dalam rombongan itu, Ketua", jawab si anak buah Ikatan Sepuluh Cincin ini dengan cepat.
Heeemmmmmmmmm...
"Orang orang Istana Kaifeng rupanya...
Siapapun orangnya aku tidak peduli. Selama mereka membawa banyak barang berharga, itu sepadan jika mesti melawan orang orang kekaisaran. Kumpulkan semua orang ! Kita cegat mereka di tebing batu!", perintah Lin Kai Sang segera.
Mendengar perintah itu, sang anak buah pun dengan cepat bergegas mengumpulkan semua anggota Ikatan Sepuluh Cincin. Setelah semuanya terkumpul dengan jumlah kurang lebih sekitar 200 orang di halaman kediaman Lin Kai Sang, mereka segera bergegas menuju ke arah tebing batu yang merupakan jalur sempit di Lembah Tanpa Nama.
Rombongan Panji Tejo Laksono terus bergerak melintasi jalan yang membelah Lembah Tanpa Nama. Mereka bergerak penuh kewaspadaan karena sudah mendapat peringatan sebelumnya tentang adanya kemungkinan cegatan perampok di tempat ini. Saat mendekati tebing batu, tiba-tiba..
Shrrriiiiiingggg shhhhriiiiinggggg !!!
Beberapa anak panah melesat cepat kearah rombongan Panji Tejo Laksono. Tumenggung Ludaka yang ada di barisan paling depan langsung mencabut pedang pendek nya sembari berteriak keras, "Awas ada serangan!"
Teriakan keras Tumenggung Ludaka langsung membuat para prajurit Panjalu yang mengiringi perjalanan Panji Tejo Laksono dengan cepat bersiap untuk menghadapi kemungkinan serangan dengan mengangkat tameng mereka. Sementara para perwira tinggi lainnya seperti Demung Gumbreg, Rakryan Purusoma dan Tumenggung Rajegwesi langsung mencabut senjata mereka masing-masing untuk bertahan.
Thrrraaannnnggggg thrrraaannnnggggg!!
Chhreepppppph chhreepppppph !!
Anak panah yang melesat ke arah mereka langsung tertahan oleh tameng yang mereka gunakan, sementara para perwira menangkis dengan cepat hingga beberapa anak panah bermentalan berbelok arah. Dari arah tebing batu yang mengapit jalan itu, muncul ratusan orang berpakaian serba hitam dengan senjata terhunus dan langsung mengepung rombongan Panji Tejo Laksono. Salah seorang diantara mereka, melayang turun dari atas tebing batu bagai terbang dan mendarat di atas sebuah batu besar yang ada di tepi jalan.
Panji Tejo Laksono yang ada di belakang Tumenggung Ludaka langsung menggerakkan kudanya untuk maju dan menatap tajam ke arah sosok lelaki paruh baya bertubuh kekar yang mengenakan pakaian serba hijau itu sembari berkata,
"Mau apa kalian?!".