Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api

Kembalinya Pendekar Pedang Naga Api
Dewi Lembah Wilis


Sisa-sisa anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang masih hidup, serentak mulai bergerak mundur sesuai arahan Bidadari Bertopeng Perak. Badragenta yang menderita luka ringan, melompat paling dulu meninggalkan tempat itu.


Para murid Pertapaan Gunung Mahameru yang hendak mengejar mereka langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar suara teriakan keras dari Resi Ranukumbolo.


"Tak perlu dikejar. Biarkan saja..!!


Cukup jauh dari Pertapaan Gunung Mahameru, Bidadari Bertopeng Perak pimpinan terakhir Kelompok Bulan Sabit Darah yang masih hidup, sebentar-sebentar menoleh ke arah belakang. Dia rupanya gentar menghadapi kepandaian ilmu kanuragan tingkat tinggi Panji Tejo Laksono yang mampu menghabisi nyawa tiga orang petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah sekaligus. Si Hantu Misterius, Sang Pendeta Darah dan Malaikat Bertopeng Emas bukanlah pendekar kroco yang bisa di bunuh dengan mudah. Ketiganya memiliki nama besar di dunia persilatan Tanah Jawadwipa wilayah timur. Namun tiga orang itu nyatanya tak berdaya menghadapi Panji Tejo Laksono. Tentu saja ini membuat Bidadari Bertopeng Perak pun ketakutan setengah mati.


Meski kegelapan malam itu begitu pekat, namun tak menghalangi langkah kaki Bidadari Bertopeng Perak untuk terus berlari sejauh mungkin dari Pertapaan Gunung Mahameru.


Namun saat memasuki tapal batas wilayah Wanua Karang Pulut, tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya. Sesosok bayangan berdiri di tengah jalan seolah menghadang laju pergerakan Bidadari Bertopeng Perak dan para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa.


Meski hanya dengan penerangan bulan separuh yang menggantung di langit barat, namun mata Bidadari Bertopeng Perak langsung mengenali siapa sosok yang berdiri di tengah jalan itu.


"K-kau ba-bagaimana mungkin bisa mendahului kami???", ucap Bidadari Bertopeng Perak sembari mundur selangkah tanpa sadar. Rasa takutnya benar-benar tidak bisa di sembunyikan.


Ya, sosok yang menghadang laju pergerakan Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa tak lain dan tak bukan adalah Panji Tejo Laksono. Begitu melihat pergerakan mundur para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa, sang pangeran muda segera merapal mantra Ajian Halimun nya. Hanya dalam waktu singkat, dia muncul di tengah jalan dari balik kabut putih tipis yang tiba-tiba muncul di sana.


"Jangan kira aku akan melepaskan mu semudah itu, Bidadari Bertopeng Perak. Atau kau mau aku panggil dengan nama Putri Uttejana saja?", ucap Panji Tejo Laksono sembari tersenyum sinis ke arah Bidadari Bertopeng Perak.


"Bajingan!!


K-kau ini manusia atau setan sebenarnya ha? Darimana kau tahu bahwa aku Putri Uttejana?", ujar Bidadari Bertopeng Perak segera.


"Sejak saat kita bertemu pertama kali di Pakuwon Carat, aku sudah tahu kalau kau adalah seorang pendekar. Meskipun kau mencoba untuk menyembunyikan pancaran tenaga dalam mu, itu tetap tidak bisa mengelabui ku.


Dan tadi aku langsung tahu bahwa itu adalah kau, meski kau mengenakan topeng perak itu", ujar Panji Tejo Laksono dengan tenang.


Huhhhhh...


"Lantas apa mau mu sebenarnya? Ingin membunuh ku? Istana Kotaraja Kahuripan tidak akan melepaskan mu jika kau berani melakukannya..", Bidadari Bertopeng Perak alias Putri Uttejana mencoba untuk mengancam Panji Tejo Laksono dengan nama besar Istana Kotaraja Kahuripan.


"Hehehehe...


Jika aku ingin membunuh mu, maka itu semudah membalikkan telapak tangan. Apa kau tidak percaya?", setelah berkata demikian, tiba-tiba saja Panji Tejo Laksono menghilang dari pandangan mata semua orang. Sekejap kemudian dia sudah muncul di hadapan Bidadari Bertopeng Perak dan dengan cepat mencengkeram leher perempuan cantik itu.


Melihat itu, Badragenta dan para pengikut Kelompok Bulan Sabit Darah yang tersisa langsung mengepung Panji Tejo Laksono.


"Lepaskan Putri Uttejana!!


Kalau sampai kau berani untuk mencelakakan nya, jangan harap kau bisa lolos dari kepungan kami!!", ancam Badragenta sembari mengacungkan pedangnya kearah sang pangeran muda dari Kadiri ini.


"Membunuh para petinggi Kelompok Bulan Sabit Darah aku tidak kesulitan. Terlebih lagi hanya kroco kroco kecil seperti kalian.


Mundur!! Kalau tidak, akan ku patahkan leher putri Kahuripan ini!!"


Ucapan Panji Tejo Laksono langsung membuat semua pengikut Kelompok Bulan Sabit Darah saling berpandangan sejenak. Mereka tahu bahwa mereka bukan lawan sepadan untuk Panji Tejo Laksono. Perlahan mereka mundur beberapa langkah ke belakang.


"Aaa...pa ma..mau mu se-sebenarnyaaa??", nafas Putri Uttejana tersengal-sengal karena cengkeraman tangan kanan Panji Tejo Laksono menekan kuat tenggorokannya. Meski dia sekuat tenaga berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Panji Tejo Laksono, namun usahanya sia-sia belaka.


"Apa sekarang kau sudah bisa tahu cara bersikap di hadapan ku?", Panji Tejo Laksono mendelik tajam ke arah Putri Uttejana.


"Iya iya.. Ta-tapi lepaskan dulu cekikan muh.. A-aku tidak bernafasss...", ucap Putri Uttejana dengan nafas yang hampir putus. Panji Tejo Laksono segera melepaskan cekikan nya. Putri Uttejana pun langsung bersimpuh di hadapan sang pangeran muda sambil ngos-ngosan mengatur nafasnya.


Hooosshhh hooosshhh..


"Dengarkan aku bicara, Putri Uttejana.. Camkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya.


Aku ingin membuat perjanjian dengan mu. Seterusnya sampai kapanpun, tidak akan ada lagi upaya Kelompok Bulan Sabit Darah untuk mengganggu ketentraman di Panjalu. Baik dengan mempengaruhi pihak Istana Kotaraja Kahuripan ataupun upaya kalian sendiri.


Jika sampai itu terjadi, maka aku tidak akan pernah melepaskan mu lagi setelah ini. Kau mengerti sekarang?", Panji Tejo Laksono mendelik kereng pada Putri Uttejana yang masih terduduk di tanah.


"A-aku mengerti hooosshhh hooosshhh..


Tapi jika Istana Kotaraja Kahuripan yang bergerak sendiri, kau jangan menyalahkan ku ataupun Kelompok Bulan Sabit Darah", ucap Putri Uttejana sembari bangkit dari tempat duduknya.


"Kalau itu murni tindakan Istana Kotaraja Kahuripan, aku tidak akan menyalahkan kalian. Tapi aku sendiri yang akan memimpin pasukan Panjalu untuk menghancurkan para prajurit Jenggala yang mencoba untuk masuk ke wilayah Panjalu", tegas Panji Tejo Laksono segera.


Kaget Putri Uttejana mendengar ucapan terakhir ini. Dia langsung menerka-nerka siapa sebenarnya sosok lelaki yang ada di depan nya itu.


"Memimpin pasukan Panjalu? Si-siapa kau sebenarnya?", tanya Putri Uttejana di sela keterkejutannya.


"Siapa aku, itu tidak penting..!!


Bukankah telik sandi mu adalah jawara mencari tahu tentang seseorang? Apakah mereka tidak pernah menyebut nama Panji Tejo Laksono?", selesai berkata seperti itu, kabut asap putih tipis menutupi seluruh tubuh Panji Tejo Laksono.


"Panji Tejo Laksono?


Bukankah itu nama putra sulung Prabu Jayengrana dari Pan...", belum sempat Putri Uttejana menyelesaikan omongannya, dia sudah tidak melihat adanya Panji Tejo Laksono di tempat itu.


Hemmmmmmm...


"Kita boleh berurusan lagi dengan orang ini. Semuanya, kita kembali ke markas persembunyian kita!!", setelah itu, Putri Uttejana memimpin sisa-sisa Kelompok Bulan Sabit Darah bergerak menuju ke arah utara.


Para penghuni Pertapaan Gunung Mahameru yang sempat di bingung kan dengan menghilangnya Panji Tejo Laksono secara tiba-tiba, langsung kaget begitu melihat kemunculan sang pangeran muda ini di tengah-tengah mereka.


Sementara yang masih sehat, membantu memadamkan api yang membakar beberapa bangunan Pertapaan Gunung Mahameru. Mereka bahu membahu memindahkan air dari telaga untuk memadamkan api.


Gardika si Pendekar Harimau Putih yang sedang membalut luka di lengan kiri nya pun segera bergegas mendekati Panji Tejo Laksono yang baru saja muncul.


"Pendekar muda..


Aku benar-benar kagum pada kepandaian ilmu beladiri mu. Jika aku sendiri yang menghadapi tiga orang itu, pasti aku sudah tewas hanya dalam 20 jurus. Kau sungguh-sungguh hebat", puji Gardika tulus. Dia benar-benar mengagumi sosok lelaki yang menjadi mantu Resi Ranukumbolo ini.


"Heh Gardika, jangan samakan kau dengan putra mantu ku ini...


Asal kau tahu, dia bukan pendekar biasa", sahut Resi Ranukumbolo sembari tersenyum simpul.


"Bukan pendekar biasa? Apa maksud mu, Penyihir Tua?", Gardika menggaruk kebingungan dengan omongan kawan karibnya ini. Lelaki paruh baya berjanggut pendek putih dengan kumis tipis seperti kumis harimau itu segera menatap ke arah Resi Ranukumbolo.


"Kanjeng Romo, ijinkan aku membantu memadamkan api sebelum menjalar ke seluruh tempat", potong Panji Tejo Laksono yang melihat para murid Pertapaan Gunung Mahameru kewalahan memadamkan api yang terus berkobar meski sudah di siram air. Angin semilir yang berhembus semakin menambah besarnya api.


Resi Ranukumbolo langsung mengangguk setuju.


Panji Tejo Laksono segera memejamkan matanya sesaat sebelum kedua tangan nya bersilangan di depan dada. Tiba-tiba saja, angin kencang berhembus seperti melawan angin semilir hingga arah api yang hendak membakar bangunan di sebelahnya yang terbuat dari kayu dan daun alang-alang kering itu berbelok arah. Dengan cepat, Panji Tejo Laksono segera menurunkan kedua tangan nya sejajar pinggang lalu segera mengangkat kedua tangan nya ke atas kepala sambil berteriak lantang.


"Kitiran Sewu...


Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat!!!!"


Tiba-tiba saja, air di telaga terangkat ke udara dan dengan sekali gerakan tangan Panji Tejo Laksono, air telaga itu langsung meluncur ke arah api yang berkobar hebat.


Byyuuuuuurrrrrrr!!


Seketika api yang berkobar ini langsung padam seluruh nya setelah seluruh air telaga jatuh ke atas bangunan yang terbakar.


Melihat itu, Resi Ranukumbolo segera menoleh ke arah Gardika yang melongo melihat apa yang terjadi di depan mata nya.


"Hei Macan Tua, tutup mulut mu. Nanti ada lalat masuk loh", seloroh Resi Ranukumbolo yang membuat Gardika segera tersadar dari ulah konyol yang dia lakukan.


"Brengsek!!


Kau ini benar-benar tidak bisa melihat orang senang ya, Penyihir Tua? Selalu saja kau membuat ku kesal.Aku sampai tidak tahu harus berkata apa lagi melihat kedigdayaan mantu mu ini.


Ngomong-ngomong, tadi kau mau memberi tahu aku apa soal mantu mu ini?", tanya Gardika si Pendekar Harimau Putih. Mendengar pertanyaan itu, Resi Ranukumbolo segera mendekat ke samping telinga Gardika.


"Dia adalah putra sulung Prabu Jayengrana dari Panjalu", bisik Resi Ranukumbolo sembari tersenyum lebar.


"HAAAAAAHHHHHHHH???!!!


Putra sulung Prab... hemmmmppppphhhfff", belum selesai Gardika bicara, Resi Ranukumbolo segera membekap mulutnya.


"Ssstttttt jangan keras-keras suaramu, tolol!


Kau ingin mencelakai putra mantu ku ya?", bisik Resi Ranukumbolo sembari melotot ke arah Gardika.


"Kau bisa jaga rahasia tidak?", imbuh sang pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru itu segera. Gardika segera mengangguk mengerti. Melihat jawaban kawan karibnya itu, Resi Ranukumbolo segera melepaskan bekapan tangannya.


"Kau benar benar beruntung bisa punya mantu seperti dia, kawan.. Aku salut pada mu", ucap Gardika yang di sambut senyum lebar oleh sang pimpinan Pertapaan Gunung Mahameru.


Malam itu, semua orang di Pertapaan Gunung Mahameru bekerja keras menyingkirkan semua mayat para anggota Kelompok Bulan Sabit Darah. Tanpa menguburkannya, mereka melemparkan mayat-mayat itu termasuk mayat Pangeran Ganeshabrata si Malaikat Bertopeng Emas ke jurang dalam di sebelah selatan tak jauh dari Pertapaan Gunung Mahameru. Menjelang pagi, pekerjaan itu rampung dan mereka pun beristirahat di tempat yang masih utuh.


****


Pagi hari itu, matahari pagi bersinar terang di langit timur seolah memberikan secercah harapan indah bagi semua makhluk hidup di dunia ini.


Meskipun hari masih pagi, namun tidak serta-merta membuat suasana tenang dan damai.


Di suatu tempat di selatan Gunung Wilis, di tepi hutan kecil yang penuh dengan tumbuhan rimbun dan semak belukar lebat, seorang wanita muda cantik berbaju hijau muda sedang menghadapi keroyokan beberapa orang lelaki bertubuh gempal dengan tampang sangar. Namun sepertinya mereka bukanlah lawan tanding yang sepadan untuk gadis muda ini. Terbukti beberapa orang yang lain sudah meringkuk di tanah sambil mengerang kesakitan.


Dhhaaaassshhh dhhaaaassshhh!!


Aaauuuuggggghhhhh!!


Satu orang lelaki berewokan bertubuh gempal itu langsung jatuh terjengkang sembari memegangi perutnya yang baru saja kena tendang si perempuan cantik itu. Salah seorang lelaki berwajah sangar dengan bekas luka di pipi kanan nya yang terus mengamati jalannya pertarungan itu terlihat marah besar.


"Brengsek! Melawan seorang perempuan saja tidak becus!!", maki si lelaki yang sepertinya merupakan pimpinan dari para lelaki bertubuh gempal itu.


"Ilmu kanuragan nya hebat Lurah e... A-aku yakin bahwa dia adalah pendekar wanita yang di juluki sebagai Dewi Lembah Wilis", ujar salah seorang diantara lelaki bertubuh gempal itu sembari memegangi mulutnya yang berdarah. Dia baru saja menerima pukulan keras dari wanita cantik itu yang menyebabkan 3 gigi nya rompal.


"Peduli setan!!


Mau Dewi Gunung Wilis, Dewi Gunung Kembar ataupun Dewi Tak Punya Gunung pun aku tidak peduli!! Aku sendiri yang akan menghabisi nya!!" , teriak si lelaki berwajah codet itu sembari melesat cepat kearah perempuan cantik itu. Golok besar di tangan kanannya segera terayun cepat kearah si perempuan cantik itu.


Melihat itu, si perempuan cantik yang di juluki sebagai Dewi Lembah Wilis ini tersenyum tipis sembari mundur selangkah ke belakang. Lalu dengan cepat ia bergerak seperti sedang menari dengan memegang pedang di tangan kanannya.


Mata lelaki bertubuh gempal berwajah codet itu langsung membeliak lebar tatkala ia melihat jurus yang sedang di peragakan oleh perempuan muda cantik berbaju hijau muda itu.


Tarian Badai Laut Selatan.